Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Kebejatan Juna


__ADS_3

“Juna, lo bilang sama gue apa yang udah lo lakuin sama Qania hah?” bentak Denis sambil mencengkram kerah baru Juna.


“Nis, gue ini sahabat lo, harusnya lo percaya sama gue” elaknya.


“Untuk kali ini gue nggak percaya sama elo Jun, gue tahu elo selama ini memiliki niat buruk sama Qania dan elo pura-pura di depan gue kalau elo udah ngelupain masalah lo sama Qania. Dan hari ini gue lihat sendiri ternyata sahabat gue nggak lebih dari seorang sampah”,.


“Hari ini jug ague mundur dari proyek dan elo silahkan cari pengganti gue, gue kecewa sama lo” umpat Denis kemudian melangkah ke kamar sebelah dan mengemasi pakaiannya.


“Nis tunggu, lo jangan giniin gue Nis” baru saja Juna melangkah keluar, kakinya langsung dicegat oleh Ghaisan dan itu membuatnya jatuh ke lantai dengan posisi tengkurap.


“Sial, masih punya kekuatan juga lo” umpat Juna kemudian berusaha berdiri namun Ghaisan sudah lebih dulu naik di atas punggungnya dan menjambak rambutnya hingga Juna menoleh ke arahnya.


Bughhh…


“Ini balasan untuk kamu yang sudah buat Qania ketakutan”,.


Bughhhh….


“Ini untuk air mata Qania”,.


Bughhhhhh….


“Ini untuk trauma yang harus ia alami karena perbuatanmu”,.


Bughhhh….


“Dan ini untuk perbuatan kamu terhadap Qania yang ingin melecehkannya”,.


“Hentikaaaaan” teriak Denis yang tidak tega melihat kondisi juga dengan lebam yang memenuhi wajahnya.


Juna terbaring tak sadarkan diri setelah mendapat pukulan bertubi-tubi dari Ghaisan, setelah melihat Juna yang tidak sadar barulah Ghaisan beranjak dari atas tubuh Juna.


“Saya mayor Ghaisan Yudistira, jika kau ingin melaporkan perbuatan saya silahkan. Saya akan melayani kalian di persidangan” ucap Ghaisan dingin membuat Denis ternganga.


“Ma..mayor?” ucap Denis gagu


“Iya, saya mayor Yudis”,.


“Maafkan saya dan Juna mayor, saya janji hal ini tidak akan terulang kembali. Dan saya tidak akan melaporkan ini kepada polisi atau pun menuntut anda karena saya sadar ini sepenuhnya kesalahan Juna” ucap Denis penuh permohonan.


“Jauhkan temanmu itu dari Qania jika ingin selamat. Salah langkah sekali saja maka kalian tidak akan selamat dari saya, saya akan selalu mengawasi kalian” ancam Ghaisan.


“Tapia pa hubungan anda dengan Qania, mayor? Maaf jika saya lancang bertanya.


“Dia adik saya” ucap Ghaisan kemudian menyeret Qania yang tengah menangis itu keluar dari rumah.


“Oh shit! Selamat bro, elo udah cari mati” umpat Denis frustasi.


Ghaisan memapah Qania dan memberikan jaketnya pada Qania untuk menutupi bajunya yang sobek.


“Terima kasih Ghai” ucap Qania lirih.


“Jangan pikirkan itu, ayo masuk” ajaknya.


Syifa yang melihat Ghaisan tengah memapah seseorang langsung keluar dari mobil dan membantu Ghaisan.


“Dia siapa?” Tanya Syifa sambil menatap Qania lekat.


“Dia Qania, tolong bantu aku membuka pintu belakang” pinta Ghaisan dan langsung dilakukan oleh Syifa.


Setelah Qania duduk di belakang Ghaisan, Syifa pun turut duduk di samping Qania.


‘Qania? Kenapa rasanya namanya nggak asing ya?’ pikir Syifa.


“Kamu lagi KKN di dusun ini?” Tanya Ghaisan sambil bersiap menjalankan mobilnya.


“Iya” jawab Qania berusaha menyudahi tangisnya.


“Kamu tinggal dimana?” Tanya Syifa.


“Di rumah pak kadus” jawab Qania sambil tersenyum ramah kepada Syifa.


Ghaisan memutar mobilnya ke arah rumah pak kadus, pantas saja tadi ia lewat rumah itu sangat ramai, ternyata mahasiswa KKN tinggal di rumah pak kadus.


“Oh ya Ghai, aku KKN seposko sama Elin” ucap Qania mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi.


“Ghai?” beo Syifa.


“Iya sayang, Qania itu manggil aku Ghai, katanya biar sama seperti karakter di serial naruto” sahut Ghaisan.


“What? Sayang? Kakak pacarnya kak Ghaisan?” pekik Qania.


Syifa hanya mengangguk malu-malu.


“Waah selamat, selamat. Ternyata seorang mayor Ghaisan Yudistira bisa juga ya punya pacar, aku pikir Cuma tahu perang dan mengurus tugas Negara doang” kekeh Qania.


“Bukan lagi pacaran Qan, minggu depan kita bakalan nikah” ceplos Ghaisan membaut Qania terkejut namun sesaat kemudian ia bersorak bahagia.


“Wah selamat kak, tapi siap-siap aja ditinggal karena urusan Negara” ucap Qania sambil menatap iba pada Syifa.


“Panggil saja Syifa, terima kasih Qania. Ya benar juga, harus siap ditinggal kapanpun” timpal Syifa membuat keduanya tertawa.


‘Ku pikir akan sulit mengakui di depan Qania, tapi kok lidahku malah terasa ringan saat mengatakan hubunganku dengan Syifa padanya. Apakah memang aku benar-benar jatuh cinta pada Syifa dan perasaanku padanya melebihi perasaanku ke Qania? Tapi jika memang begitu aku sangat bersyukur’,.


Ghaisan tersenyum melihat kedua gadis itu yang langsung akrab dan saling berbagi cerita.


“Memang ya, kata orang memang benar. Kalau dua wanita sudah bertemu meski pun baru saja kenal tapi mereka cepat akrab bahkan sudah langsung bergibah” ledek Ghaisan.


“Biarin” ucap keduanya bersamaan.


Ghaisan tertawa melihat kekompakan dua wanita itu.


‘Jadi ini yang namanya Qania, pantas saja Yudis dulu dengan mudahnya jatuh cinta padanya, dia sangat ceria dan menyenangkan’ batin Syifa.


*

__ADS_1


*


Ghaisan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah pak kadus membuat Elin yang sedang berada di halaman dan tengah berdebat dengan Prayoga mengalihkan pandangannya.


“Kok mobilnya kayak kenal ya?” gumam Elin.


“Gila nih pak kadus, tamunya orang-orang kaya semua” ceplos Prayoga.


Elin terus memperhatikan mobil tersebut hingga sosok pria keluar dari mobil tersebut. Elin tersenyum senang dan langsung berlari ke arahnya.


Bughhh….


Elin langsung menghamburkan diri memeluk Ghaisan, membuat Prayoga geram sekaligus cemburu.


“Apa itu pacar Felin?” gumam Prayoga dengan raut wajah yang begitu sedih.


“Hei kau menyakitiku adik kecil” ucap Ghaisan sambil membalas pelukan Elin dengan erat.


“Rindu kakak, gimana kondisi kakak setelah kejadian dua dua bulan lalu?” Tanya Elin dengan air mata yang keluar dari kedua sudut matanya.


“Seperti yang kau lihat, kakak baik-baik saja” jawab Ghaisan. “Kakak juga merindukan adikku satu-satunya ini” lirih Ghaisan.


“Ekhmmm”,.


Deheman Syifa membuat Elin melepaskan pelukannya dan melirik Syifa sekilas kemudian beralih ke gadis di sebelahnya dan itu membuat Elin syok.


“Qania?” gumam Elin.


“Elin, hiksss” Qania langsung menghambur memeluk Elin dengan tangisnya yang pecah.


“Qan, hei kamu kenapa?” Tanya Elin ikutan menangis.


“Bawa dia masuk” pinta Ghaisan dan langsung dituruti oleh Elin.


Elin membawa Qania yang masih memeluknya dari samping dengan keduanya berderai air mata membuat perhatian semua orang beralih kepadanya.


“Qaniaaaa” pekik semua temannya yang melihat Qania menangis begitu pun dengan Elin.


“Lo kenapa Qan? Arka ngapain elo?” Tanya Baron panic.


“Kurang ajar tuh si Arkana, gue kira dia baik” umpat Prayoga.


“Udah ayo bawa Qania masuk dulu” ajak Abdi menggantikan Elin memapah Qania.


“Gue kira lo baik Arka, tapi lo udah buat Qania menangis” gumam Raka, dadanya terasa sesak.


Abdi, Prayoga, Baron, Elin, dan Raka ikut masuk ke kamar untuk mengetahui penyebab Qania menangis.


“Qan kamu kenapa? Arka apain kamu?” Tanya Elin saat keduanya sudah duduk di atas tempat tidur.


“Mana tuh si Arkana?” Tanya Baron geram.


“Sebaiknya lo diam deh, biarin Qania yang ngomong” hardik Abdi.


“Kenapa Arkana?” Tanya Qania mencoba meredakan tangisnya.


“Hahaha, jadi bajingan itu menggunakan nama Arkana untuk mengelabui kalian?” tawa getir Qania.


“Maksud lo?” Tanya mereka serempak.


“Dia hampir saja di lecehkan oleh pria bernama Juna di rumah buk Jum” ucap Ghaisan yang baru saja masuk ke dalam kamar diikuti oleh Syifa.


“JUNA?” Tanya mereka serempak.


“Dia, dia hampir saja, dia, dia, hiksss” Qania bingung dan juga takut saat kembali teringat kejadian itu.


“Kurang ajar” geram Baron sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Ayo kita beri dia pelajaran, laki-laki kurang ajar, bangsat” umpat Prayoga yang sudah tersulut emosi.


“Sudah, sebaiknya kalian tenangkan Qania. Dia sudah dibawa ke rumah sakit oleh temannya karena sudah saya buat sekarat” ucap Ghaisan kemudian berjalan keluar menggandeng tangan Syifa.


“Qan, maafin kita yang nggak tahu elo dalam bahaya tadi” cicit Abdi.


“Aku nggak apa-apa, untung ada Ghai yang datang nyelamatin aku” ucap Qania lirih sambil berusaha tersenyum.


Sementara Raka yang tengah memperhatikan wajah Qania yang sebenarnya tengah ketakutan itu mengepalkan kedua tangannya. Ia memicingkan matanya saat melihat lebam di pipi Qania.


“Qan bilang sama gue dia apain elo? Dia tampar elo?” Tanya Raka yang berjalan mendekati Qania.


Semua pandangan tertuju pada pipi Qania yang memang terlihat lebam, membuat ketiga saudaranya itu geram.


“Gue harus beri pelajaran sama tuh orang, harus” geram Prayoga sambil berjalan keluar kamar.


“Qan, elo tunggu disini. Gue nggak peduli dia mati sekalian, dia harus membayar akibat dari tangannya yang sudah melukai wajahmu itu” ucap Raka dengan aura yang begitu dingin.


“Kalian mau kemana?” Tanya Abdi berteriak.


“Mau nyusul Juna keparat” sahut keduanya.


“Jangan, dia sudah mendapatkan pelajaran. Sekarang tugas kita menjaga Qania dan membuatnya tenang” cegah Abdi membuat keduanya kembali masuk ke dalam kamar.


Abdi, Baron, Prayoga dan Raka duduk di lantai sementara Elin dan Qania duduk di atas tempat tidur.


“Ceritain gimana kejadiannya” ucap Abdi dingin.


 


Flash back on…..


 


Qania bersenandung sambil mengingat wajah Arkana saat berjalan keluar dari halaman warung bu Jejen, saat ia akan berbelok tiba-tiba saja seseorang membekap mulutnya sampai ia tak sadarkan diri.


“Arghhh” Qania meringis saat merasakan kepalanya sakit, ia mengedarkan pandangannya namun merasa asing dengan kamar yang tengah ia tempati ini.

__ADS_1


“Aku dimana?” Tanya Qania pada dirinya sendiri.


“Oh kamu sudah bangun sayang” ucap Juna yang baru saja masuk dan berjalan mendekati Qania.


“Mau apa kau?” Tanya Qania gugup sambil berjalan ke arah samping dan berusaha turun dari tempat tidur.


“Menikmatimu, membawamu terbang melayang dan menikmati indahnya surga dunia” jawab Juna dengan tatapan penuh napsu pada Qania.


“Menyingkirlah, aku mau pulang” ucap Qania menekan rasa takutnya.


“Hahaha, tidak semudah itu baby”,.


“Minggir atau aku akan teriak” ancam Qania.


“Silahkan, mau sampai urat lehermu putus pun tidak ada yang akan mendengar” cibir Juna.


Qania berusaha berpikir ditengah ketakutannya, bayangan tentang kejadian bersama Fandy melintas di ingatannya membuatnya semakin takut.


“Menurutlah dan kau tidak akan ku sakiti” ucap Juna berusaha menjangkau Qania.


“Jangan mendekat” bentak Qania.


“Semakin melawan semakin aku tertantang”,.


Bughhhh…


Qania melesatkan tendangan tepat mengenai perut Juna dan itu membuat Juna sedikit meringis.


“Lumayan” ejek Juna sambil mengibas debu di bajunya.


Qania kini berusaha menampar wajah Juna namun karena tubuhnya yang mungil ia tidak bisa menjangkau wajah Juna, alhasil Juna malah mencengkram kuat lengan Qania.


‘Ini sangat sakit, tapi jika aku mengeluh dia pasti akan semakin menyakitiku’,.


Qania menatap nyalang kepada Juna, berusaha terlihat kuat agar Juna tidak meremehkannya.


Qania meludah ke atas dan tepat mengenai wajah Juna.


“Menjijikan” hardik Qania.


Plakkk…


Juna dengan beringas menampar wajah Qania membuatnya jatuh di atas tempat tidur dengan posisi terletang.


“Kurang ajar, beraninya kau meludahi wajahku” bentak Juna membuat Qania menangis karena pipinya sangat sakit.


“Kau kejam Juna” bentak Qania.


“Siapa yang kejam sayang, kau atau aku? Aku yang sudah merendahkan diriku untuk memintamu menjadi kekasihku tapi kau dengan kejamnya menolakku. Jadi terimalah buah dari perbuatanmu itu” ucap Juna seperti seorang psikopat.


“Aku menolakmu dan bahkan tidak pernah memberikan harapan padamu. Mengapa kau begitu berharap?” bentak Qania dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Juna terlihat geram dan juga tersenyum sinis sambil merangkak naik ke tempat tidur dan mengungkung tubuh Qania.


“Apa kau tidak bisa melihat cintaku Qania?” Tanya Juna dengan tatapan memelas.


‘Orang ini bisa merubah ekspresi wajahnya disaat yang bersamaan’ batin Qania.


“Aku tidak menyukaimu jadi jangan mimpi untuk mendapat balasan dariku” hardik Qania.


Plakk..


Plak..


Dua tamparan keras mendarat di pipi Qania membuatnya meringis kesakitan.


“Kau rupanya menginginkan cara yang kasar Qania” ucap Juna dengan tatapan membunuh kepada Qania.


“TOLOOOONGGG”,.


“TOLOOONGG, ku mohon jangan, hiksss”,.


“Inilah akibatnya jika menolakku, mari kita nikmati bersama sayang. Ini nggak akan sakit kok, aku akan bermain lembut denganmu”,.


“Jangan ku mohon jangan”,.


“Hikss jangan sentuh aku, pergi kamu pergi, ku mohon jangan”,.


“Jangan membuatku kesal Qania, kau tinggal menurut dan menikmati saja apa susahnya sih” bentaknya.


Saat Jubna berhasil menyobek baju Qania, serangan datang dari belakang membuat hati Qania merasa lega karena ada yang datang menolongnya dan orang itu adalah Ghaisan.


 


Flash back off…


 


“Terus gimana ceritanya kalian tahu Arkana yang bawa aku?” Tanya Qania.


“Itu tadi ada dua anak kecil yang nganterin belanjaan kamu Qan dan bilang kamu mau pergi sama Arkana” jawab Elin yang baru saja mengehentikan tangisnya saat mendengar cerita Qania.


“Gue bilang juga apa, Arkana nggak mungkin lah datang kesini tanpa menyapa kita dan meminta izin untuk membawa Qania” sela Baron.


“Ghaisan itu siapa?” Tanya Prayoga yang dari tadi penasaran dengan sosok Ghaisan yang berpelukan dengan Elin.


“Calon suaminya Elin” ceplos Qania mebuat Prayoga terbelalak dan Elin tersentak.


“Hehehe, peace” kekeh Qania sambil mengacungkan dua jarinya.


‘Gimana gue nggak jatuh cinta sama elo Qan, meski pun elo tengah sedih dan takut lo masih bisa tertawa dan bercanda, fix gue nggak bisa move on’ batin Raka.


“Siapa yang menanyakan saya?”,.


 

__ADS_1


...***...


 


__ADS_2