Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Tiga Tamparan


__ADS_3

Tatapan tak suka ditunjukkan oleh Rosa dan teman-temannya begitu melihat Qania kembali masuk ke kelas dan duduk dengan tenang di kursinya. Rosa berniat mendekati Qania namun ia terhenti begitu Julius masuk dan menatap sinis.


Bertepatan dengan duduknya Julius di kursinya, pak Erlangga datang memasuki ruang kelas dan langsung memberikan mata kuliah tanpa membahas kasus Qania.


Sampai akhir mata kuliah tersebut pun tak Erlangga sama sekali tidak membahas kasus Qania dan itu membuat Rosa semakin geram.


“Pak Erlangga” panggil Rosa ketika pak Erlangga akan melangkah keluar dari ruang kelas.


Yang dipanggil pun menghentikan langkahnya dan menoleh pada sumber suara.


“Ada apa Rosa?” tanya pak Erlangga.


“Eh itu Pak, apa kasus Qania tidak diproses karena kasusnya itu sudah mencemarkan nama baik fakultas kita loh, masa dia tenang-tenang aja nggak diberi hukuman? Saya saja waktu itu diberikan hukuman masa dia nggak kasih” protes Rosa.


Pak Erlangga tersenyum sambil menatap Rosa, lalu ia menggeleng kemudian keluar dari kelas dengan berjalan penuh wibawa membuat Rssa terbelalak dan teman-temannya menjadi syok karena pak Erlangga sama sekali tidak memberi hukuman kepada Qania justru malah meninggalkan mereka tanpa memberi jawaban apapun selain menggeleng.


Qania tersenyum sambil memasukkan alat tulisnya ke dalam tasnya. Baru saja Qania akan berdiri dan berjalan untuk keluar kelas, Rosa tiba-tiba menarik rambutnya hingga kepala Qania tertarik ke belakang.


“Lo sogok pakai apa pak Erlangga sampai tidak memberikan Lo hukuman?” tanya Rosa yang meremas kuat rambut Qania.


“Shhh, lepasin rambut aku Rosa” ringis Qania.


“Lepasin? Jangan mimpi” ucap Rosa semakin kuat menarik rambut panjang Qania yang diikat tinggi itu.


“Guys pegangin tangan Qania” suruh Rosa kepada Evi dan Vera yang berada di dekatnya.


Evi dan Vera pun langsung menuruti keinginan Rosa, keduanya memegang tangan Qania dan mengunci pergerakannya.


“Dasar pelakor, pasti kamu sudah menjanjikan tubuhmu kepada pak Erlangga sehingga kamu tidak mendapat hukuman” maki Rosa yang kembali menarik dengan kuat rambut Qania sehingga kepalanya mendongak ke atas.


Ekor mata Qania menatap ke arah Julius mencoba memohon pertolongan, namun Julius malah membuang muka dan pergi begitu saja.


Rosa yang menyadari kemana arah tatapan Qania pun menyeringai begitu melihat Julius pergi tanpa membantu Qania.


“Hahaha, jangan harap Julius mau nolongin Lo janda sialan” ejek Rosa.


‘Sebenci itu kamu kepadaku Julius? Baiklah aku yang akan menyelesaikan ini sendiri',.


Rosa melepaskan tangannya dari rambut Qania kemudian menatap penuh ejekan pada Qania.


Plakkk....


Satu tamparan keras mendarat ke pipi mulus Qania, dan Rosa begitu senang karena bisa membalaskan tamparan Qania waktu itu.


“Itu balasan karena Lo pernah nampar pipi gue” ucap Rosa.


Qania masih diam menatap Rosa yang sedang mengoceh tidak jelas, mengeluarkan uneg-uneg nya terhadap Qania.


“Sudah selesai?” tanya Qania dingin dan nada bicara serta tatapannya pun begitu datar.


“Belum, masih belum. Gue belum puas sebelum rasa sakit hati gue terlampiaskan ke elo” jawab Rosa.


“Kalau belum saya pun ingin bertanya, apakah tidak ada di ruangan ini yang ingin menolong saya? Atau tidak adakah diantara kalian yang ingin membela saya?” tanya Qania dengan suara yang lantang.


Tidak ada satu pun yang menjawab. Kembali Qania bertanya hal yang sama.


“Siapa juga yang ingin membela pelakor sepertimu” seru salah satu mahasiswa.


“Iya, gue pun nggak mau belain pelakor. Entar kalau gue baikin dia malah rebut pacar gue ntar.


“Apalagi gue. Gue rasa yang dibilang sama Rosa itu benar deh, nih pelakor udah kasih sogokan ke pak Erlangga sampai-sampai dia nggak dapat hukuman atas kasusnya itu”,.


“Jangan-jangan emang benar kalau Qania udah ngasih tubuhbya ke pak Erlangga?”,.


Hati Qania meringis mendengar jawaban dari teman-teman sekelasnya. Tidak ada satupun dari mereka yang membelanya yang ada justru mereka mengolok-olok dirinya.

__ADS_1


“Hahaha, Lo dengar sendiri kan kalau di kelas ini nggak ada yang mau belain elo. Udah selesai tanya-tanya?” cibir Rosa.


“Hahaha, siapa juga yang mau belain pelakor” timpal Evi.


“Iya, gue mah dibayar pun ogah” sambung Vera.


‘Rasanya aku ingin memberikan pelajar pada mulut mereka, tapi aku sedang tidak ingin bertengkar. Ayo Qania, pikirkan cara lain untuk membungkam mulut mereka’,.


“Diam Lo? Udah nggak punya nyali?” ejek Rosa.


“Sebaiknya Lo lakuin apa yang ingin Lo lakuin ke gue sebelum kesabaran gue habis. Telinga gue udah sakit dengerin Lo ngoceh nggak jelas” ucap Qania membuat Rosa meradang.


“Oh Lo udah siap menerima hukuman Lo dari kita-kita ya? Bagus, mari kita mulai hukumannya” ucap Rosa menyeringai.


Karena Qania diam saja, Rosa pun melanjutkan aksinya.


“Gue udah nampar Lo, udah jambak rambut Lo dan gue juga nggak mau nambah kasus gue di fakultas. Jadi sepertinya hukuman sosial yang paling pantas buat pelakor macam elo” ucap Rosa sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.


‘Gawat! Aku bukannya takut dia nyebarin kabar kalau aku pelakor ke media sosial. Yang aku khawatirin itu jangan sampai masalah ini sampai ke telinga kedua Papaku itu. Tamat riwayat mereka kalau Setya Wijaya dan Zafran Sanjaya sampai tahu masalah ini',.


Rosa pun mengeluarkan ponselnya dan masuk ke aplikasi sosial media, ia berencana akan membuat story untuk mempermalukan Qania.


“Hallo guys, kalian lihat nggak wanita yang sedang dipegangi oleh dua sahabat gue. Kalian tahu nggak dia itu siapa? Dan kenapa dia sampai dipegang kayak gitu? Tenang gue bakalan kasih tahu. Dia itu adalah seorang pe..”,.


Brakkkkk.....


Ponsel Rosa terlempar ke lantai dan hancur diikuti oleh ringisan Rosa karena sebuah tendangan mendarat tepat di pergelangan tangannya.


“Brengsek, siapa yang udah nendang tangan gu..e” Rosa membulatkan matanya begitu melihat sosok pria tampan yang sedang berdiri dengan tatapan membunuh kepadanya.


“Gila, dia cakep banget” pekik Rosa tanpa sadar masih terus memandangi pria itu.


Kedua teman Rosa pun sama, mereka terbengang melihat pria tampan di depan mereka.


Sementara Qania yang tadinya menundukkan kepalanya pun terkejut ketika mendengar suara ponsel Rosa yang jatuh dan hancur di lantai, ia pun segera mengikuti arah pandang Rosa dan dua temannya itu.


Pria tersebut adalah Syaquile, adik Qania. Ia tersenyum kepada kakaknya itu dan langsung menghampiri dan mendekap tubuh Qania.


Qania yang juga sudah merindukan adik satu-satunya itu pun membalas pelukannya. Hal itu membuat semua yang ada di ruangan menjadi terbengang termasuk Julius yang baru saja kembali lagi untuk melihat Qania.


Julius menunduk saat melihat Qania berada dalam pelukan seorang pria.


“Kakak merindukanmu anak nakal. Kenapa bisa disini, hemm?” tanya Qania setelah melepaskan pelukannya.


“Nanti aku ceritain kak”,.


“Oh ya, mengapa mereka melakukan itu kepada kakak?” tanya Syaquile sambil menatap Rosa, Evi dan Vera secara bergantian.


Yang ditatap saat ini masih terbengang menatap Syaquile.


“Biasa, hanya orang-orang yang memiliki sifat iri” jawab Qania yang kemudian kembali memeluk Syaquile dan itu mengundang cibiran dari teman-teman sekelasnya.


“Gila, si pelakor ternyata punya yang baru juga”,.


“Hei tampan, mendingan elo sama gue daripada sama janda itu” ucap Rosa yang sudah sadar dari kekagumannya terhadap Syaquile, ia pun berjalan mendekati Syaquile.


“Iya, daripada sama janda kegatelan sekaligus pelakor mendingan sama kita-kita aja” timpal Vera.


Evi pun tak mau kalah, ia juga berjalan menghampiri Syaquile yang sedang memeluk Qania.


Syaquile melepaskan pelukannya dan menatap ketiga gadis yang mendekatinya itu dengan tatapan tajam.


“Pelakor? Janda kegatalan?” ulang Syaquile penuh penekanan.


Ketiganya mengangguk yang mana tanpa mereka sadari tangan pria itu sudah terkepal, ia sudah sangat geram dengan ketiga gadis yang mengatai kakaknya di hadapannya itu.

__ADS_1


Plakkk...


Plakkk...


Plakkk...


Tiga tamparan keras Syaquile layangkan pada pipi ketiga gadis tersebut. Bukan hanya ketiganya, tetapi teman-temannya sekelas, Julius dan Qania pun sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Syaquile.


“Beraninya Lo menghina dan mengatai kakak kandung gue dihadapan gue. Cari mati Lo?” bentak Syaquile dengan matanya melotot menatap ketiga gadis yang kini tercengang mendengar ucapannya.


Glukk...


Rosa, Evi dan Vera menelan salivanya dengan susah payah mendengar ucapan Syaquile. Ucapannya yang mengatakan bahwa Qania adalah kakak kandungnya lebih mengejutkan teman-teman Qania daripada tamparannya tadi.


“Ka..kakak?” ucap Rosa terbata saking gugupnya.


“Syaq udah, kamu itu laki-laki masa main tangan sama perempuan sih. Kakak nggak suka, kamu jangan ulangi lagi” nasihat Qania.


“Maaf” cicit Syaquile sambil memegangi kedua telinganya dan memasang wajah memelas.


Qania tersenyum, ia sangat suka dengan sikap manis adiknya ini.


Bukan hanya Qania, teman-temannya pun turun meleleh karena sikap manis pria tampan dan tinggi itu. Terdengar bisik-bisik mereka yang mengagumi serta memuji-muji Syaquile.


‘Jadi dia adiknya Qania. Hahh gue pikir tadi dia itu pacar Qania. Pantas saja Qania menganggap gue ini seperti adiknya, postur tubuh kami pun tidak jauh berbeda’ batin Julius.


“Dengar kalian semua, jika ada yang berani menghina kakakku lagi maka kalian akan berurusan bukan hanya denganku. Kalian harus tahu kalau orang dibelakang kakakku adalah orang hebat yang bisa menghancurkan kalian dalam sekali kedipan mata kakak. Gue nggak ngancam tapi itu adalah fakta. Di Sulawesi tidak ada yang berani mengusik ketenangan menantu satu-satunya keluarga pengacara hebat Setya Wijaya SH. LL.M” ucap Syaquile lantang kemudian menatap sinis kepada seluruh mahasiswa yang berada di ruangan itu sebelum membawa Qania keluar.


Seketika ruangan itu menjadi sepi begitu Syaquile mengatakan siapa orang hebat dibelakang Qania. Mereka tentu saja tahu orang yang disebutkan oleh Syaquile adalah salah satu pengacara terbaik yang namanya sering dibawa-bawa oleh pak Erlangga, dekan fakultas mereka setiap kali memberi contoh salah satu pengacara sukses.


“Gawat, kita salah mencari musuh. Ternyata Qania bukan orang sembarangan. Hanya penampilannya saja yang terlihat biasa saja tetapi ternyata dia menyembunyikan dukungannya dibelakang kita. Pantas saja pak Erlangga tidak berani menghukumnya” ucap salah satu dari mahasiswa yang ada di ruangan tersebut.


Mereka meradang dengan apa yang baru saja mereka dengar dan juga panik karena memikirkan nasib mereka kedepannya, bagaimana jika sampai Qania membawa kasus ini ke jalur hukum, tentu saja mereka tidak akan menang dari Qania.


Suara berisik mereka yang saling menyalahkan terdengar dalam ruangan tersebut. Tak terkecuali Rosa dan dua temannya itu. Sedangkan Julius, pria itu langsung tersadar dari keterkejutannya dan mengikuti kemana Syaquile membawa sang kakak.


...*****...


Syaquile membawa Qania ke kantin, ia memesankan kakaknya dan dirinya makanan dan juga minuman. Sementara Qania duduk manis sambil memperhatikan adiknya.


Syaquile datang dan duduk sambil menatap lirih pada kakaknya itu. Ia masih geram dengan perlakuan teman sekelas Qania yang membully kakaknya.


“Dek” panggil Qania.


“Iya kak, ada apa?” tanya Syaquile.


“Kenapa bisa disini? Kenapa nggak bilang kalau mau datang?” Tanya Qania beruntun membuat adik tampannya itu terkekeh.


“Aku ada studi banding di kampus ini kak, sengaja aku nggak kasih tahu kakak biar jadi kejutan dan kakak bakalan kaget wih adik ganteng ku tiba-tiba muncul. Eh tahunya malah ada kejadian seperti tadi. Aku nggak suka ya kak dan aku bakalan laporin ini ke dekan kakak. Kakak nggak usah jadi orang baik mau membela mereka karena aku nggak akan tinggal diam. Aku bukan kakak dan aku sudah mengatakan pada kak Arkana kalau aku yang bakalan jagain kakak. Jadi jangan coba-coba halangin aku kak” ucap Syaquile panjang lebar yang membuat Qania terbengang karena kini adiknya semakin cerewet dan terkesan sedikit sadis.


“Perasaan yang ngambil jurusan Hukum itu kakak deh bukan kamu. Kenapa sekarang kamu yang makin banyak bicaranya ya?” ledek Qania.


“Nggak ada hubungannya kali kak dengan jurusan kita” kesal Syaquile karena kakaknya justru meledeknya yang sudah sangat serius membahas kasus pembullyan kakaknya itu.


“Silahkan” ucap Bu kantin yang datang membawa pesanan makanan Qania dan Syaquile.


“Makasih Bu” ucap Qania dan Syaquile bersamaan.


Kakak beradik itu pun langsung menyantap makanan mereka masing-masing.


Sementara itu di bangku lain ada Julius yang sedang memperhatikan interaksi kakak beradik itu.


“Maaf Qania, gue yang salah karena sudah membuat elo jadi bahan pembicaraan. Gue udah salah karena nyebarin video elo. Gue masih belum terima Qan, gue masih nggak senang saat Lo nolak gue. Gue masih ingin mendapatkan cinta Lo. Maafin gue Qan” lirihnya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2