Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Aku Membencimu Sampai Seumur Hidupku


__ADS_3

Qania sangat semangat menjawab setiap pertanyaan dosen penguji. Bahkan mendadak ia menjadi begitu cerdas melebihi dari yang sebelumnya. Entah bawaan dia terus mempelajari skripsinya atau karena ia tak sabar untuk segera ke rumah sakit dan melihat hasil dari tes DNA itu.


Kurang dari satu jam Qania sudah bersiap menuju ke rumah sakit. Waktu skripsinya pun lebih cepat dari yang ia bayangkan dan beberapa temannya datang untuk memberikan hadiah. Mereka melakukan foto bersama dan mengajak Qania untuk makan siang namun Qania menolak karena ia ingin segera ke rumah sakit.


“Nanti malam aku traktir. Ntar kalian tentuin lokasinya dimana terus kasih kabar ya. Sekarang aku nggak bisa karena ada urusan penting,” ucap Qania kemudian ia naik ke atas motor dimana Abang ojeknya sudah menunggu.


“Oke,” sahut teman-temannya bersamaan.


“Bang rumah sakit XX ya,” ucap Qania.


“Sip.”


Jika Qania berada di jalan, maka Tristan harus merelakan keinginannya untuk memberikan kejutan pada Qania karena mendapat telepon jika Marsya belum bertemu dokter karena dokter itu sedang ada jadwal operasi dan Marsya memintanya untuk segera datang.


Marsya menunggunya di parkiran. Ia tak sengaja melihat Qania turun dari motor dan bergegas berlari ke dalam rumah sakit. Marsya cuek saja dan ia memilih menunggu Tristan.


“Permisi sus, saya Qania Salsabila. Tadi saya mendapat telepon kalau hasil tes DNA yang saya minta sudah keluar,” ucap Qania dengan napas tersengal-sengal.


“Sebentar ya Mbak saya periksa dulu,” ucapnya. Suster itu nampak sedang menelepon. “Mbak Qania silahkan ikut dengan saya.” Ucapnya setelah mengakhiri panggilan telepon.


Qania mengangguk namun semakin ia berjalan, semakin terasa kegugupannya. Jantungnya berdebar kencang, tangannya menjadi begitu dingin karena berkeringat.


“Silahkan masuk,” ajak suster tersebut dengan sebelah tangannya membuka pintu.


Tristan memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Ia pun keluar dan melihat mobil Marsya. Ia langsung menghampirinya karena tadi Marsya berkata bahwa ia menunggu di dalam mobil.


Tok ... Tok ... Tok ...


Tristan mengetuk kaca pintu mobil dan Marsya pun langsung tersenyum. Ia membuka pintu mobilnya lalu menutupnya kembali.


“Tris, maaf jika aku mengganggu pekerjaanmu,” ucap Marsya dengan manja.


“Nggak apa-apa. Yuk masuk,” ajak Tristan.


Marsya pun berjalan berdampingan bersama Tristan. Sedikit mengobrol tentang pekerjaan, Marsya menanyakan kabar perkembangan restoran dan kafe milik Papanya dan Tristan pun menjelaskan jika keadaannya mulai pulih.


Brukkk ...


Karena asyik mengobrol, Marsya tak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga tubuhnya mundur beberapa langkah.


“Maaf Mbak saya yang salah. Saya yang jalan sambil nunduk.”

__ADS_1


Suara itu tentu saja langsung mengalihkan perhatian Tristan.


“Qania!”


Qania mengangkat kepalanya dan menatap orang yang menyebut namanya itu.


“Tristan,” gumamnya.


“Kamu kok bisa ada di rumah sakit? Bukannya—“


Ucapan Tristan terhenti karena ia sadar ada Marsya disini. Tak mungkin ia mengatakan tahu tentang keberadaan Qania. Marsya akan curiga padanya.


Namun lain halnya dengan Marsya yang belum menanggapi keterkejutan keduanya, ia sibuk memungut amplop putih yang tak sengaja jatuh dari tangan Qania.


“Ini milikmu?” tanya Marsya menatap intens Qania.


“Ya, tolong berikan,” jawab Qania datar.


“Tentu. Tapi tunggu dulu, aku ingin melihat isinya? Kamu sakit? Kamu terlihat lesu. Maaf jika aku lancang ya, tapi aku masih menganggapmu teman terlepas dari semua yang sudah terjadi antara kita,” ucap Marsya lembut namun terlihat serius.


“Tidak perlu. Aku tidak sedang sakit. Tolong berikan,” jawab Qania masih datar.


“Tidak sakit gimana? Itu wajahmu terlihat pucat. Kamu menabrak ku dan aku melihatmu seperti sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Mana bisa aku percaya kalau kamu tidak sakit,” ucap Marsya. Tanpa bisa dicegah Qania ia pun membuka amplop putih itu.


“Qania! Maksudnya apa ini hah? Kenapa kau melakukan tes DNA terhadap tunanganku? Kau mau apa?” bentak Marsya.


“Maksudnya?” tanya Tristan bingung.


“Nih kamu lihat sendiri Tris, Qania melakukan tes DNA padamu. Aku tidak tahu siapa ini, tapi disini antara kau dan Setya Wijaya tidak memiliki kecocokan sama sekali,” ucap Marsya memberikan surat itu kepada Tristan.


Tristan pun membacanya kemudian ia menatap tajam pada Qania yang hanya diam saja.


“Tris ayo. Aku sudah waktunya kontrol,” ucap Marsya menarik tangan Tristan.


“Kamu masuk saja dulu, Sya. Aku ingin bertanya pada Qania dulu,” ucap Tristan dengan suara terdengar menahan amarah.


“Ishh ... ya udah deh. Jangan lama,” ucap Marsya kesal kemudian ia melirik tajam pada Qania sebelum masuk ke ruangan dokter.


“Kita perlu bicara,” ucap Tristan. Tanpa menunggu kesediaan Qania ia sudah menarik paksa tangan Qania untuk mengikutinya. Ia bahkan tidak peduli Qania merintih kesakitan akibat cengkraman tangannya yang sangat kuat.


Tristan membawa Qania ke taman rumah sakit yang terlihat sunyi. Ia menghempaskan tangan Qania dengan kasar. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kesal dan marah pada Qania.

__ADS_1


“Apa maksudnya ini Qania? Sejak kapan? Kapan kau melakukan ini?” tanya Tristan geram.


“Aku hanya ingin memastikan,” jawab Qania singkat.


“Memastikan apa?! Memastikan aku ini Arkana Wijaya atau bukan?! Begitu maksudmu?” tanya Tristan bersungut-sungut.


“Ya. Kalau iya memangnya kenapa? Salah? Berdosa?” balas Qania dengan membentak.


“Tentu saja salah. Kau tidak meminta persetujuanku lebih dulu. Kau menipuku. Kenapa melakukan ini. Tanpa menjadi Arkana pun aku sudah sangat mencintaimu. Harusnya kau paham itu. Aku, meskipun aku ini Tristan tapi aku juga mencintaimu. Walau wajah ini sama tapi kami adalah dua orang berbeda. Arkanamu sudah mati dan sadarlah kalau aku ini adalah Tristan. Tidak sepantasnya kamu melakukan ini padaku. Apa yang ingin kau buktikan hah? Aku benar-benar kecewa padamu. Padahal tanpa kamu minta pun aku selalu siap jika harus berganti identitas di hadapan keluargamu. Aku siap menggantikan posisi Arkana yang sudah mati itu dan aku rela menjadi dia biar kamu dan keluargamu senang. Ingat Qania, kamu sendiri yang sudah menyaksikan Arkanamu di kubur!”


Plakk ...


Tristan tersenyum masam sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Qania.


“Kenapa? Kenapa menamparku? Apa kau marah atau malu? Apa kurang cukup aku terus mengejarmu dan siap mengikuti semua keinginanmu? Apa kau tahu aku ini juga lelah ditarik ulur olehmu. Aku lelah. Tapi karena aku benar-benar mencintaimu aku terus bertahan meski kau selalu menghancurkanku. Kau terlalu egois. Kau terlalu mementingkan hatimu sendiri dan tidak melihat posisi orang lain terhadapmu. Aku kecewa padamu Qania, sangat kecewa. Kau, baru semalam kau mengatakan ingin agar aku menjadi diriku sendiri. Oh, apa jangan-jangan ucapanmu semalam mengarah kesini? Iya? Jika kau mengetahui sesuatu hal, sesuatu hal itu adalah hasil tes DNA ini kan? Hebat Qania, hebat. Selama ini kau sangat pandai bermain peran. Rupanya kau mendekatiku hanya untuk mencari tahu kebenaran ku. Aku ini Tristan Anggara bukan Arkana Wijaya yang sudah mati itu!!”


Plakk ...


Sekali lagi Qania menampar wajah Tristan dengan keras.


“Ya, aku mendekatimu karena aku ingin mengetahui kebenaranmu. Memang salah jika aku ingin mendapat kepastian? Tidak ada orang yang benar-benar mirip di dunia ini. Aku tidak percaya itu,” jawab Qania. Matanya berkaca-kaca, ia sebenarnya sangat menyesal sudah menampar Tristan. “Maaf, dua kali tanganku melayang di pipimu,” lirih Qania.


“Kau tega Qania. Pantas saja kau selalu mengingatkanku agar tidak terlalu berekspektasi. Rupanya ini adalah jawabannya. Bisa kutebak jika selama ini yang kau lakukan padaku adalah semua karena hanya ingin melakukan tes ini. Kau tidak pernah tulus padaku. Lalu setelah tahu hasilnya bisa aku pastikan bahwa kau memang benar-benar akan menghilang dari hidupku. Kau sangat munafik Qania,” bentak Tristan, matanya memerah menahan amarah dan juga rasa kecewa.


“Cukup! Kau sama sekali tidak tahu seperti apa perasaanku. Kau tidak tahu bagaimana rasanya bertahun-tahun menangisi pusara yang ternyata mayat yang kau tangisi di dalamnya bukanlah suamimu melainkan jasad milik orang lain. Kau tidak tahu bagaimana rasanya berharap saat dulu kau sempat putus asa karena harapan itu tidak ada. Arkanaku, makam itu, disana bukanlah jasadnya. Bukan Arkanaku, bukan suamiku. Salah jika aku melakukan ini padamu karena kau begitu mirip dengannya? Salah jika aku berharap seperti itu? Kau tidak tahu ribuan malam yang aku lalui sambil menangisi pria yang bukanlah suamiku. Kau tidak pernah merasakan saat kau menyerah dengan keadaan lalu datanglah secercah harapan. Silahkan marah padaku. Silahkan membenciku. Silahkan kecewa dan silahkan tuduh aku sebagai seorang yang munafik. Maaf. Hanya itu yang bisa aku katakan. Aku memang akan pergi darimu. Aku akan mencari Arkanaku entah dia masih hidup atau sudah tiada!”


Qania menumpahkan segala perasaannya namun ia sama sekali tidak menangis. Matanya berkaca-kaca namun ia tetap berusaha untuk tidak menangis. Sudah cukup untuknya selalu menangis selama ini. Ia ingin menjadi wanita kuat. Ia pun meninggalkan Tristan dengan menyetop taksi yang baru saja akan pergi setelah mengantar penumpang.


“Silahkan! Silahkan pergi dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku. Mulai hari ini aku tidak lagi mengenalmu! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Aku membencimu sampai seumur hidupku!” teriak Tristan yang masih bisa didengar oleh Qania.


Air mata yang sedari tadi ia tahan pun tumpah setelah mendengar ucapan Tristan barusan. Ia duduk sambil menyeka air matanya. Tak peduli lagi dengan Tristan dan langsung meminta supir taksi untuk mengantarnya pulang.


Qania ingin pulang ke kontrakannya, membereskan semua barangnya karena ia akan ikut pulang bersama Papa Setya besok setelah persidangan. Tak ada lagi yang ia harapkan di kota ini.


Sesampainya di kontrakan, ia mengatur semua barangnya dan mengirim pesan kepada Lala agar kembali saja ke kontrakan ini. Motornya pun ia hadiahkan kepada bapak pemilik kontrakan karena sudah sangat baik padanya selama ini. Hampir dua jam Qania berada di kontrakannya kemudian ia berpamitan pada beberapa tetangga yang mengontrak disana dan juga keluarga pemilik kontrakan. Tak lama berselang, taksi pesanannya datang. Para tetangga membantu Qania membawa barangnya, hanya tiga koper tapi mereka sangat antusias membantu.


“Kalau jalan-jalan ke kota ini jangan lupa kunjungi kami ya.”


“Iya Qania, jangan lupa mampir.”


Qania tersenyum lalu menjawab, “Pastilah. Jangan lupain Qania ya. Ntar datang lagi kok kalau mau wisuda dan juga kalau Lala udah selesai. Besok Lala pindah kesini juga kok,” jawab Qania kemudian ia masuk ke dalam taksi, membuka jendelanya dan membalas lambaian tangan tetangga yang selama ini sangat baik dan peduli padanya.

__ADS_1


Aku akan merelakannya. Aku tak tahu dihatiku ini cinta atau hanya obsesi karena ia begitu mirip dengan Arkana. Aku akan meninggalkannya dan memulai hidup baruku dengan Arqasa. Melupakan Tristan dan mungkin aku juga bisa menemukan keberadaan Arkana. Mungkin dia hanya sebuah kebetulan yang menyenangkan. Kebetulan wajahnya mirip dengan Arkana dan kebetulan aku menemukannya disini saat aku memang mencoba untuk melupakan kepedihanku dengan berada jauh dari kota yang penuh dengan kenanganku bersama Arkana dan di tempat ini pun aku menemukan Arkana walaupun sebenarnya bukan dirinya. Terima kasih Tristan, aku pasti tidak akan bisa melupakanmu dan semua kenanganmu. Berbahagialah dengan Marsya. Wajah itu mungkin milik Marsya sedangkan wajah Arkana adalah milikku. Aku tidak ingin serakah dan egois. Aku sadar betul kalau memang aku terobsesi dengan wajah Tristan meskipu aku tahu benih cinta itu mulai tumbuh tapi sekali lagi, membawanya hanya akan menambah lukaku dan melukainya. Aku pergi dan pamit Tristan, semoga kamu selalu bahagia.


 


__ADS_2