
"Selamat pagi Pa," sapa Qania pada Pak Setya yang sudah duduk menunggu mereka untuk sarapan.
Kemarin Qania pulang ke rumah Pak Setya atas permintaan mertuanya itu, sekaligus karena Qania ingin mencari bahan untuk Tugas Akhirnya mengingat mertuanya memiliki banyak buku dan juga seorang pengacara hebat.
"Pagi Kek," sapa Arqasa yang sudah lengkap dengan atribut sekolahnya.
"Pagi para kesayangan Kakek, yuk sarapan dulu," ajak Pak Setya.
Qania dan Arqasa pun langsung duduk dan Qania mulai mengisi piring Arqasa dengan nasi goreng sementara Pak Setya sudah terlebih dahulu mengambil makanannya sendiri. Mereka menikmati sarapan masing-masing dengan diam.
Setelah sarapan ketiganya langsung menuju ke mobil yang sudah disiapkan oleh Pak Anwar. Hari ini Qania ikut ke kantor untuk belajar pada mertuanya. Terlebih dahulu mereka mengantar Arqasa ke sekolah PAUD.
Qania ikut turun mengantarkan Arqasa hingga ke depan kelasnya.
"Belajar yang rajin biar cepat pintar ya sayangnya Mami," ucap Qania sambil mengelus rambut Arqasa.
"Siap Mi."
"Anak pintar. Mami pergi dulu ya, kasihan Kakek sudah menunggu," ucap Qania kemudian menciumi kedua pipi Arqasa hingga membuat anaknya itu mendengus kesal sebab diperhatikan oleh beberapa temannya.
"Hahaha, jangan marah. Kamu anak Mami jadi Mami akan terus menciumi," ucap Qania seraya meninggalkan Arqasa setelah anaknya itu menyaliminya.
Di dalam mobil Pak Setya dan Qania mengobrol. Sesekali Pak Setya melirik kebelakang karena Qania duduk di belakang Pak Anwar.
"Besok sudah mau balik lagi kesana ya Nak," ucap Setya memulai perbincangan.
"Iya, Pa. Aku harus mengurus Tugas Akhir sama magammng yang akan dimulai minggu depan Pa," jawab Qania.
"Kalau ada kendala nanti jangan sungkan minta bantuan Papa. Kamu anak Papa satu-satunya, ingat itu ya," ucap Pak Setya yang terdengar lirih.
Deggg ...
Qania tersentak mendengar ucapan mertuanya itu. Bagaimana pun juga jika nanti ia bisa membuktikan bahwa Tristan itu adalah Arkana maka sang mertua masih memiliki anak. Ia pun berusaha untuk merubah suasana lirih ini.
"Hahaha, Papa sangat peka rupanya. Aku memang akan merepotkan Papa mulai minggu depan. Jadi Papa harus siap setiap kali aku menghubungi Papa," ucap Qania.
"Tentu saja. Kapanpun itu, oke!"
"Oke Pa."
Keduanya pun berbincang-bincang seputar perkuliahan Qania hingga terhenti ketika ada yang menelepon Papa Setya.
Qania pun diam dengan pikirannya. Ia dilema, disatu sisi ia sangat ingin mengatakan tentang keberadaan Tristan. Namun disisi lain ia pun tidak ingin kecewa jika nanti Tristan bukanlah Arkana. Meskipun Tristan mengatakan kesediaannya untuk menjadi Arkana, namun Qania tidak ingin membuat orang lain mengubah identitas hanya untuk kepentingan pihak lainnya.
Mobil kini sudah terparkir di kantor, Qania dan Papa Setya pun sudah berada di dalam ruangan Setya Wijaya. Qania terlihat sibuk mulai mempelajari beberapa kasus lama yang Papa Setya berikan kepadanya. Kadang ia menemukan kesulitan namun juga ada yang menurutnya mudah dan gampang dipahami.
"Berkas-berkas itu mana bisa kau pahami jika hanya dibaca sekali," ucap Papa Setya sambil melirik Qania yang terlihat kesulitan memahami berkas yang ia berikan.
"Iya Pa. Huuhh, gini amat ya dunia kerja. Beda sama pengajaran saat kuliah. Kalau gini bisa nggak Qania kuliah aja terus Pa, nggak usah kerja," keluh Qania yang mana membuat Papa Setya tertawa.
"Kamu ada-ada saja Nak. Terus siapa yang membantu Papa mengurus pekerjaan?" tanya Setya dengan masih tersisa tawanya.
"Arkana lah."
Baik Papa Setya maupun Qania sama-sama terdiam setelah nama itu terucap. Tatapan Papa Setya menyendu, ia merasa sedih dan senang karena ternyata Qania masih belum bisa melupakan Arkana.
__ADS_1
Papa Setya berdiri dari kursinya kemudian duduk di samping Qania.
“Masih belum bisa melupakannya?” tanya lirih Papa Setya.
Qania membalas tatapan itu tak kalah sendunya lalu menganggukkan kepalanya. “Dia bukan untuk dilupakan Pa. Dan tak akan pernah dilupakan. Dia terlalu indah untuk hilang dari ingatanku,” jawab Qania dengan suara serak menahan isak tangis.
Meskipun berusaha kuat di depan menantunya, nyatanya ia tak mampu membendung air matanya.
“Terima kasih Nak, terima kasih karena masih mengingatnya. Papa bersyukur memiliki menantu sepertimu dan Papa yakin Arka lebih bahagia karena mendapatkan cinta yang begitu besar darimu. Terima kasih Nak,” Isak Papa Setya.
Qania yang melihat mertuanya itu menangis segera memeluknya. “Pa, tidak perlu berterima kasih. Arkanaku itu memang patut mendapatkan cinta seperti ini dariku karena aku adalah istrinya. Sampai kapanpun aku akan selalu menjadi istrinya. Tidak akan ada yang bisa menggantikannya di hati Qania, Pa. Arkanaku terlalu indah, bahkan sangat indah untuk terus kukenang. Tiada hari yang kulalui tanpa memikirkannya. Aku merasa seolah selalu bersamanya meskipun tidak melihatnya. Keberadaannya di hati dan pikiranku sudah cukup membuatku semangat menjalani hidup ini. Papa tidak perlu mengucapkan terima kasih padaku Pa,” ucap lirih Qania. Ia sebenarnya sudah ingin menumpahkan tangis, namun ia kembali berpikir jika ia menangis maka siapa yang akan menjadi penguat untuk mereka berdua.
Sekretaris Papa Setya yang berdiri di ambang pintu sedari tadi namun tidak mereka sadari itu pun turut menitikkan air mata. Perlahan ia kembali menutup pintu ruangan itu lalu kembali ke mejanya.
“Qania, Tante salut padamu karena rasa cintamu yang begitu besar pada Arka. Padahal kau itu masih muda dan sangat cantik serta penuh pesona. Tante yakin tak banyak pria yang tidak tertarik padamu, namun sampai saat ini Tante tak pernah melihat kau bersama pria lain atau mendengarnya. Semoga kau, Pak Setya serta anakmu Arqasa bisa menemukan kebahagiaan kalian, Aamiin.” Tante Kinanti mengusap air matanya lalu kembali pada pekerjaannya.
Di dalam ruangan itu, kini Papa Setya sudah menghentikan tangisnya. Tangis merindu, tangis terharu dan tangis bahagia. Ia begitu bahagia karena dihadiahkan menantu yang begitu hebat untuk menggantikan anaknya. Tak ada ragu baginya menyerahkan seluruh hartanya untuk menantu dan cucunya. Dalam hati ia terus bersyukur karena Qania lah yang menjadi menantunya.
“Maafkan jika Papa begitu cengeng,” ucap Papa Setya.
“Enggak kok Pa. Kita sama-sama tahu bagaimana sakitnya kehilangan orang yang sangat kita cintai. Papa jangan ragu membagi kesedihan denganku. Ingat Pa, aku ini anak Papa. Jangan sembunyikan masalah dariku. Aku memang tidak bisa membantu banyak tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik untuk Papa. Jangan memaksakan diri dan melampiaskan semuanya pada pekerjaan Pa. Aku tidak mau Papa sakit jika terlalu letih bekerja. Tunggu saja aku, tidak lama lagi aku akan menyelesaikan studiku. Jadi, setelah aku kembali maka Papa harus lebih banyak istirahat. Biar aku yang melanjutkan semua ini,” ucap Qania sembari tersenyum manis.
“Baikla, baiklah. Papa percaya padamu dan Papa akan mengandalkanmu. Terima kasih sayang, Papa janji setelah ini apapun masalah yang Papa hadapi dan apapun yang Papa rasakan akan Papa bagi denganmu. Kau adalah anak Papa. Cepatlah menyelesaikan kuliahmu dan bantu Papa mengurus semua harta kekayaanmu ini. Papa sudah sangat membutuhkan tenagamu,” setelah mengucapkannya, Papa Setya tertawa diikuti oleh Qania.
“Ingat ya Pa, aku mau gaji tinggi lho untuk kinerjaku nanti,” gurau Qania semakin membuat Papa Setya tertawa.
Di luar ruangan terlihat Papa Zafran sedang berbicara dengan Tante Kinanti.
“Pak Zafran,” sapa tante Kinanti.
“Hai, apakah tadi kau sudah mengatakan pada Setya kalau aku akan datang?”
Pak Zafran tersenyum mengangguk. “Terima kasih. Mungkin itulah bukti bahwa ia benar-benar mencintai Arkana bahkan hingga Arka sudah tidak lagi berada di sisinya. Semoga puterimu juga akan tumbuh seperti Qaniaku,” ucapnya dengan tetap menampilkan senyuman penuh kharismanya.
“Aamiin Pak, aamiin. Terima kasih,” ucap Tante Kinanti senang.
“Kalau begitu saya akan masuk ke dalam, permisi,” ucap Pak Zafran seraya meninggalkan Kinanti yang sedang mengagumi Bupati itu.
Sangat-sangat mengagumkan Bupati itu. Ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Qania tumbuh seperti Papanya. Oh semoga anakku bisa seperti Qania, aamiin. Doa tante Kinanti dalam hati.
“Ekhmmm ….”
Pandangan Setya dan Qania teralih pada sosok yang sedang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum menatap mereka.
“Hei sejak kapan kau datang dan kenapa tidak mengabari?” tanya Papa Setya seraya berdiri untuk menyambut besannya itu.
“Aku sudah menghubungi sekretarismu tapi katanya kau sedang menjadi anak kecil yang tidak mendapatkan permen,” ledek Papa Zafran.
“Maksudnya?” tanya Papa Setya tak paham karena ia tidak tahu kalau tadi sekretarisnya itu melihat dirinya yang menangis.
“Jangan memendam semuanya sendiri. Sekarang kita bukan hanya sahabat tapi sudah menjadi keluarga. Jika bersedih maka bagilah denganku, oke,” ucap Papa Zafran sambil merangkul Papa Setya.
“Jadi Kinanti melihat semuanya?” tanya Papa Setya merasa malu.
“Hu’um, lain kali jangan menangis di kantor. Ingat umur,” ledek Papa Zafran.
__ADS_1
Papa Setya hanya mendengus sementara Qania terkekeh sambil berjalan menghampiri kedua Papa hebatnya itu. Ia turut berpelukan merasakan hangatnya kasih sayang kedua pria kesayangannya itu.
“Hei, ayo duduk,” ajak Papa Setya dan ketiganya pun bersama-sama duduk di sofa. “Sekarang katakan apa yang membuat Bupati kami ini datang ke tempat ini, apakah tidak memiliki kesibukan di kantor bupati?” tanya Papa Setya.
“Ini hampir waktunya makan siang. Aku tentu saja ingin makan siang disini, makan gratis dari uang pengacara sekaligus pengusaha hebat di Sulawesi ini,” ucap Papa Zafran sambil menaik turunkan alisnya.
“Baiklah. Karena aku orang kaya raya dan Bupati ini tidak memiliki uang maka aku akan bersedia. Qania tolong beritahukan tante Kinanti untuk memesankan makanan sekaligus untuk semua karyawan karena hari ini Papa sedang berbaik hati untuk bersedekah. Oh ya, makanan untuk kita berempat dengan Tante Kinanti pesankan lebih dulu ya,” pinta Papa Setya dengan lembut.
“Siap Pa,” ucap Qania seraya berdiri lalu keluar menemui tante Kinanti.
Tante Kinanti begitu bersemangat memesan makanan tersebut. Para karyawan pun saling bersorak karena akan mendapatkan makanan gratis. Qania yang melihatnya pun turut bersorak, bahkan lebih heboh dari yang lainnya. Qania hanya ingin menciptakan kesan pada para karyawan kalau dirinya itu bukanlah pribadi yang sombong dan mudah bergaul, hingga membuat para karyawan tak canggung padanya. Namun ia tetap memancarkan aura pemimpin hingga para karyawan tetap menghormatinya. Setalah itu ia kembali lagi ke ruangan Papa Setya.
“Papa bikin heboh satu kantor,” ucap Qania begitu membuka pintu ruangan. Ia pun ikut duduk di sofa sambil duduk menunggu makanan. Sesekali ia mengecek ponselnya menunggu kabar dari Tristan. Ia hanya sekadar membaca tanpa berniat membalas. Ingin tersenyum pun ia tahan agar tidak dicurigai oleh kedua Papa ini.
Sementara Tristan yang kini sedang berada di dalam kamar hotel itu merasa kesal karena Qania hanya membaca saja chatnya tanpa membalas.
“Ternyata centang dua biru itu memang nyesekin ya,” gumamnya.
Kembali ke kantor Setya Wijaya, makanan yang dipesankan untuk mereka sudah datang dan kini mereka sedang sama-sama menikmati makanan tersebut. Entah mengapa melihat Qania yang sedang menikmati makanan itu membuat Papa Zafran merasa ingin mengerjainya.
“Oh ya Set, itu Arkana kan anak tunggal ya. Emang waktu kamu pindah ke kota Y dulu kamu nggak nikah lagi gitu?” tanya Papa Zafran namun ia justru melirik Qania.
“Ya enggak lah, aku setia sama Ayumi,” jawab Papa Setya sambil menikmati makanannya juga.
“Oh aku kira kamu menikah lagi dan memiliki anak lelaki,” ucap Papa Zafran lalu ia menyeringai.
“Kamu kenapa bertanya seperti itu?” tanya Papa Setya yang merasa pertanyaan Papa Zafran ini agak aneh.
“Enggak sih, soalnya aku kemarin kayak melihat seseorang mirip Arka gitu di hotel kamu ….”
Uhukk..
Qania langsung tersedak makanannya. Bahkan ia tidak berhenti terbatuk hingga mukannya memerah. Sampai-sampai ia tidak bisa memegang dengan benar gelas yang diberikan oleh Papa Setya. Berbeda dengan Papa Setya yang panik, Papa Zafran pun kini menyeringai. Sepertinya umpan telah dimakan oleh ikan. Sekarang ia hanya perlu mencari tahu yang sebenarnya.
“Pelan-pelan saja makannya Nak. Bisa bahaya lho kalau tersedak,” ucap Papa Setya prihatin.
“Lagian kamu kenapa Nak? Kamu terlalu cepat makan atau ada yang membuatmu terkejut?” tanya Papa Zafran.
Qania menatap Papanya itu namun dari sorot mata Papa Zafran justru tidak memperlihatkan guratan kekhawatiran melainkan sebuah tatapan mengintimidasi. Qania bahkan kembali kesulitan menelan salivanya.
A-apa Papa melihat aku bertemu Tristan kemarin? Pikir Qania.
Qania kembali menatap Papa Zafran dengan tatapan mencari tahu namun Papanya malah tersenyum misterius lalu mengangkat kedua bahunya.
Rasakan kamu. Main rahasia-rahasiaan dengan Papa, ledek Papa Zafran dalam hati.
“Enggak kok Pa. Ya udah yuk makan lagi,” ucap Qania mengalihkan.
Papa Setya menurut saja namun Qania masih bisa melihat Papa Zafran menggeleng kecil sambil bergumam tak jelas.
Semoga Papa tidak melihat wajah Tristan, semoga. Semoga Papa hanya mengerjaiku saja atau … oh ya ampun Qania bagaimana kau bisa lupa kalau Papamu itu adalah seorang Bupati. Dia pasti bisa menyelidiki ini lewat orang-orangnya. Bukan tidak mungkin dia juga mengirim orang untuk mengawasiku di kota Y. Oh tidak, pasti setelah ini Papa akan mengirim orang untuk mengawasiku di kota Y. Oh ya ampun aku harus bagaimana ini?
“Nak, kenapa makanannya cuma diaduk-aduk?” tanya Papa Setya membuat Qania yang sedang membatin itu terkejut.
“Ah kenapa Pa?”
__ADS_1
“Dia hanya sedang merindukan Arkananya. Bukan begitu Qania?” tanya Papa Zafran dengan tatapan meledek.
Qania tak menjawab malah langsung melanjutkan makannya. Papa Setya dibuat bingung sementara Papa Zafran dalam hati terus menertawakan tingkah puterinya itu.