
Qania sudah dengan piyamanya duduk bersandar di atas tempat tidur sambil membaca pesan dari Tristan. Ia saling berbalas pesan dengan Tristan, kadang-kadang wajahnya dihiasi senyuman namun kadang-kadang pula ia mendengus kesal. Hingga akhirnya Qania tertidur tanpa memberitahukan Tristan sehingga pria itu masih terus menunggu balasan pesannya yang tak kunjung datang.
“Qania kemana?” gumam Tristan.
Tristan menatap ponselnya dan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul dua belas kurang tujuh menit.
“Ah mungkin dia sudah tidur. Kalau begitu aku akan mengirimkannya pesan selamat tidur, hehehe.”
Tristan pun mulai mengetik, ia tersenyum geli melihat isi pesannya itu.
“Berasa jadi anak remaja gue, hahaha.”
Baru saja Tristan akan tertidur, dering ponselnya membuat ia harus kembali membuka mata. Awalnya ia sangat bersemangat karena mengira itu adalah telepon dari Qania. Namun setelah membaca nama pemanggilnya itu justru membuatnya lemas.
“Hallo Tris.”
Suara itu, suara yang sangat ia kenali namun langsung saja merusak moodnya yang tadi sangat baik.
“Iya Saya, ada apa? Kenapa jam segini menelepon?” tanya Tristan mencoba menekan rasa tak sukanya, semenjak mengenal Qania perasaan itu berubah, ia hanya melihat Qania seorang saja.
“Kau dimana Tris? Belum juga kembali? Besok kita akan pergi lho,” tanya Marsya yang kini sedang berbaring di tempat tidurnya.
Tristan menghela napas sebelum menjawabnya, “Besok pagi aku akan kembali. Tunggulah dan kau tidurlah karena ini sudah sangat larut.”
“Baiklah. Apa aku perlu menjemputmu di bandara?”
“Tidak perlu Sya, kau di rumah saja. Nanti aku yang akan datang menjemputmu lalu kita akan segera berangkat ke luar negeri.”
“Baik-baik, ikuti pengaturanmu saja. Selamat malam Tris, selamat tidur.”
“Selamat malam kembali.”
Panggilan terputus. Jika Marsya langsung tertidur setelah mendengar suara Tristan maka beda halnya dengan Tristan. Ia kembali duduk bersandar di tempat tidur yang nyaman itu sambil berpikir.
Karena terlalu bahagia ia sampai lupa bahwa besok ia akan pergi ke luar negeri. Ia menjadi gelisah, rasanya ia ingin memutar kembali waktu agar hari itu ia tidak berjanji akan mengantarkan Marsya. Ia sudah tak ingin kemana-mana lagi. Bahkan tadi ia sudah berencana akan memindahkan usahanya di kota ini setelah Qania lulus kuliah.
“Bagaimana caranya mengakhiri ini semua? Apakah gue yang salah? Tapi semua ini gue lakukan atas permintaan Qania. Masa gue harus menyalahkan Qania? Argghh ... kenapa gue jadi bodoh gini sih?!”
“Apa coba yang harus gue lakuin buat meluruskan ini semua? Gue sangat ingin meluruskan ini dengan Marsya, mempercepat untuk mengakhiri semuanya sebelum hubungan ini semakin jauh dan gue semakin mempermainkannya. Tapi kenapa Qania melarang? Apa dia ingin menyakiti Marsya terlalu dalam atau tidak yakin padaku? Tapi dalam masalah ini gue yang ujung-ujungnya bakalan menjadi pihak yang salah. Emang gue akui gue salah dari awal. Sudah memiliki Marsya tapi gue berbelok dan menyukai Qania. Gue juga nggak tahu alasannya apa tapi Qania itu berbeda. Pesonanya selalu mampu menarik gue untuk selalu berada di dekatnya dan bahkan parahnya gue sampai harus ngejar dia sampai sejauh ini.”
“Apa ini yang namanya bucin?”
Tristan menghela napasnya, memikirkan masalah ini membuatnya kesulitan untuk tidur. Ia mencoba menghubungi Qania namun sekali panggilan tak terjawab ia menghentikannya. “Mungkin Qania sudah tidur.”
Tristan ingin membagi masalahnya, tapi kepada siapa? Dia bahkan tak punya sahabat tempatnya berbagi keluh kesah.
Karena terus bergelut dengan pikirannya, ia tertidur hampir pukul tiga subuh.
....
Usai menunaikan ibadah subuh Qania pun kembali duduk di atas tempat tidur. Ia mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan tak terjawab dari Tristan pada pukul satu dini hari.
Ada apa dengannya?
Qania pun memutuskan untuk meneleponnya kembali. Kali ini ia akan bersikap lebih peka, bahkan ia ingin menjadikan dirinya sebagai kekasih yang protektif juga posesif. Ia sudah belajar dari pengalamannya kehilangan pria yang sangat ia cintai, tidak untuk kedua kalinya.
Mengapa tidak diangakt? Batin Qania.
Sekali lagi ia mencoba menghubungi Tristan, namun masih sama. Berbagai pikiran buruk langsung merasuki pikiran Qania. Ia takut hal buruk menimpa Tristan dan sekali lagi ia akan kehilangan prianya.
“Tristan kau dimana?” gumam Qania dengan gelisah.
Qania berusaha menepis bayangan buruk tersebut kemudian berniat untuk turun dan menunggui anaknya pulang dari masjid. Meskipun semalam Arqasa begitu lelah namun ia tidak membuat Qania kerepotan ketika membangunkannya tadi.
Ponsel Qania berdering begitu ia baru saja akan menarik gagang pintu kamarnya. Dengan cepat ia berbalik untuk mengambil ponselnya di atas tempat tidur.
Nama kontak itu sedikit membuat Qania bisa bernapas lega.
“Assalamu’alaikum, kemana saja? Kenapa semalam menelepon? Apa kau baik-baik saja? Kau dimana?”
Tristan yang baru saja bangun dan mendapati ada panggilan tak terjawab dari Qania tadi pun langsung meneleponnya kembali.
Tristan tertawa begitu Qania langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Entahlah, ia sulit mendefinisikan perasaannya saat ini. Yang jelas ia sangat senang subuh ini.
“Oh kau baik-baik saja rupanya,” dengus Qania karena justru pertanyaan penuh kekhawatiran itu di jawab dengan tawa renyah Tristan, namun ada senyuman lega di bibir Qania mengetahui Tristan baik-baik saja.
“Haha, maaf ya sayang. Aku hanya terlalu senang saja. Lucu juga sih, kau langsung menyerangku dengan pertanyaan bertubi-tubi sementara aku belum menjawab ucapan salammu. Wa’alaikum salam sayang, aku baru bangun tidur. Semalam aku menelepon karena ingin memastikan kau sudah tidur atau belum. Aku saat ini baik-baik saja dan masih berada di kamar hotel milik mertuamu,” jawab Tristan dengan suara lembut yang mana membuat Qania merasa tenang serta degdegan begitu Tristan memanggilnya sayang.
__ADS_1
“Hmm syukurlah jika kau baik-baik saja. Jam berapa kau akan kembali?” alih Qania.
“Apakah baru saja mendengar kabarku kau langsung ingin mengusirku dari sini?” gurau Tristan.
“Apa sih, aku hanya ingin tahu saja agar bisa meluangkan waktu untuk mengantarmu ke bandara,” jawab ketus Qania.
“Hahaha, manis sekali. Aku akan menunggumu datang menjemputmu di sini. Pesawatnya nanti pukul delapan. Aku harap sebelum aku pergi kita masih bisa menghabiskan waktu bersama,” ucap Tristan dengan maksud terselubung.
“Tidak usah terlalu bermain kata, bilang saja kalau kau ingin aku berada disana sebelum pukul delapan. Aku akan datang setelah sarapan, kau tunggulah disana,” ucap Qania tanpa memberi tahu langsung saja memutuskan panggilannya.
Tristan tergelak, ia tentu saja tahu panggilan itu diputuskan sepihak karena tidak mungkin menantu satu-satunya Setya Wijaya itu kehabisan pulsa.
“Sangat manis, pagi ini dimulai dengan sesuatu yang manis, perhatiannya. Aku baru tahu kalau Qania itu sangat protektif. Ah, mendadak aku menyukai sifatnya ini. Begitu menyenangkan.”
Sambil bersenandung Tristan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Qania menyimpan kembali ponselnya di atas tempat tidur bersamaan dengan Arqasa yang baru saja datang masuk ke kamar. Qania tertawa melihat langkah sempoyongannya.
“Anak Mami masih ngantuk, hem?” tanya Qania begitu Arqasa mencium tangannya.
“Hemm. Ar mau bobo lagi Mi, masih ngantuk,” ucapnya kemudian menutupi mulutnya dengan tangan karena menguap.
“Uh anak Sholeh Mami.” Qania mengecup pipi Arqasa sambil membantu anaknya melepas pakaian sholatnya lalu menggantinya dengan baju rumahan.
“Silahkan jika anak Mami ingin tidur kembali. Ayo naik, biar Mami boboin,” ajak Qania dan Arqasa pun menurutinya.
Tak butuh waktu lama bagi Qania untuk mengelus punggung Arqasa, bocah itu sudah tertidur nyenyak. Qania menciumi wajah yang sama persis dengan Arkana itu sebelum turun untuk membantu mamanya dan Bi Eti untuk menyiapkan sarapan. Sekalian membawakan bekal untuk sarapan Tristan. Qania sudah memutuskan untuk pergi lebih awal, ia ingin membahas sesuatu hal bersama pria yang kini berstatus sebagai kekasihnya itu.
.........
“Mau kemana Nak? Kamu sudah rapih dan kenapa bawa bekal?” tanya mama Alisha begitu Qania mengemas makanan di tempat bekal.
“Ada urusan Ma, nggak bisa sarapan di rumah. Ar masih tidur, tolong nanti dikasih makan ya Ma kalau dia sudah bangun. Aku buru-buru Ma,” jawab Qania.
Papa Zafran yang sedang membaca koran sesekali melirik ke arah Qania. Ia merasa curiga dengan gelagat anaknya dari kemarin namun tak ingin ia tampakkan jika ia sedang mengawasi Qania.
Biarkan dulu anak ini bermain, nanti juga kalau ada apa-apa dia akan cerita. Dari gelatatnya seperti ada yang dia sembunyikan. Papa Zafran membatin.
Ia pun mengambil ponselnya lalu mengirim pesan kepada orang kepercayaannya
Qania memarkirkan motornya di depan hotel dan membiarkan petugas hotel memarkirkannya dengan benar. Senyuman ramah ia berikan pada staf hotel yang menyapanya. Ia menaiki lift untuk menuju ke lantai lima tempat dimana Tristan menginap. Sambil menenteng bekal yang ia bawa dari rumah, Qania memegangi dadanya yang semakin degdegan saja.
“Huh seperti akan bertemu Arkana saja. Eh?”
Qania keluar dari lift dan berjalan ke kamar Tristan. Ia pun mengetuk pintu kamar itu. Berulang kali ia mencoba menetralkan perasaannya. Pintu terbuka, baik Qania maupun Tristan sama-sama terdiam saling memandang. Jika Tristan terdiam karena terkejut melihat kedatangan Qania, maka Qania terdiam karena melihat Tristan yang hanya mengenakan handuk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
“Ma-maaf,” ucap Qania segera berbalik badan.
Tristan pun tersadar namun ia menyeringai, “Maaf untuk apa, hem?” tanya Tristan kemudian melangkah ke arah Qania dan langsung saja ia memeluk Qania dari belakang sambil menyandarkan dagunya di atas bahu Qania.
Perlakuan Tristan tersebut sontak saja membuat Qania terkejut. “Tolong jangan seperti ini. Disini ada CCTV dan aku tidak ingin ada yang melihat perlakuanmu ini. Tolong jaga sikap di luar ruangan,” pinta Qania, ia khawatir jangan sampai ada staf hotel atau bahkan Papa Setya yang melihat ini.
Tristan tak langsung melepaskan Qania, “Jadi kalau di dalam ruangan boleh-boleh saja?” goda Tristan.
“Apa sih! Aku pulang kalau begitu,” ucap Qania merajuk serta kesal. Namun tak bisa juga ia pungkiri aroma tubuh Tristan begitu membuatnya merasa nyaman dan juga panas dingin.
Mikir apa sih aku, batin Qania.
“Hehe, ayo masuk,” ajak Tristan yang sudah melepaskan pelukannya kemudian berjalan lebih dulu masuk ke kamar.
Qania berbalik, ia pun menyusul di belakan Tristan. Pintu ditutup oleh Qania, sementara Tristan bergegas masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian ia keluar dengan mengenakan kemeja berwarna maroon serta celana dengan warna hitam. Tampilannya cukup membuat Qania terpana, bagai melihat Arkana dalam sosok yang lebih dewasa dari terakhir kalinya mereka bersama.
“Terpesona hem?” goda Tristan yang kini duduk di sofa bersama Qania.
“Kalau iya memang kenapa? Mau protes?”
“Hahaha, baru kali ini aku bertanya pada wanita yang terpesona dan langsung mengakui bahkan menantang. Humm, siapa juga yang mau protes. Aku justru senang jika kau terpesona. Aku bakalan marah kalau kau tidak terpesona pada ketampananku. Pasti ada kemungkinan matamu bermasalah,” ucap Tristan sambil menaik turunkan alisnya.
“Narsis,” cibir Qania namun bibirnya bergetar menahan tawa.
“Narsis pun kau tetap suka kan?”
Qania hanya memasang wajah datarnya sementara Tristan terus terkekeh hingga akhirnya matanya melirik sesuatu yang berada di pangkuan Qania.
“Apakah itu sarapan untukku?” tanya Tristan.
“Tentu saja bukan. Ini sarapanku. Aku belum sempat sarapan di rumah tadi jadi membawa bekal. Tapi jika kau mau kau bisa sarapan bersamaku. Aku akan memberikanmu sedikit, hanya sedikit saja,” jawab Qania.
__ADS_1
Tristan tidak bisa menahan tawanya lagi, ia segera memeluk Qania dari samping sambil berkata, “Menggemaskan sekali kekasihku ini. Aku jadi semakin cinta.”
Pipi Qania bersemu merah. Perlakuan Tristan kepadanya tak jauh berbeda dengan Arkana. Hanya saja Tristan masih kalah narsis dengan Arkananya dulu.
“Mau narsis-narsisan atau mau makan?” tanya Qania dengan nada mengancam, seketika Tristan mengatupkan bibirnya.
“Makan,” jawab Tristan.
Qania mendengus sebelum membuka bekalnya. Aroma masakan itu membuat perut Tristan bersenandung. Qania ingin tertawa namun ia tak ingin membuat Tristan malu. Qania mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia berpura-pura cuek pada Tristan yang juga ingin meminta makanannya.
“Tidak mau membagi makan padaku?” tanya Tristan.
“Oh, kau lapar juga?” tanya Qania balik dengan sengaja.
“Tentu saja aku lapar,” jawab Tristan.
“Tapi aku tidak punya piring dan hanya punya satu sendok. Bagaimana kalau kau pergi mencuci tangan lalu ikut makan denganku. Dan aku tidak mau berbagi sendok denganmu karena itu sama saja secara tidak langsung kita berciuman,” ucap Qania.
Tristan menyeringai, “Bukankah kita sudah beberapa kali melakukannya secara langsung? Kenapa menolak yang tidak langsung? Oh atau kau lebih suka yang langsung ya?” ledek Tristan.
Benar juga katanya, sial!
“Huhh, baiklah aku akan menyuapimu,” ucap Qania mengalah dan Tristan tentu saja tersenyum cerah secerah sinar mentari pagi.
Jika memang keyakinanku ini benar maka ini bukanlah dosa karena dia adalah suami sahku. Namun jika ini tidaklah benar, maka maafkanlah hamba-Mu ini ya Tuhan, batin Qania.
Qania pun mulai menyuapi Tristan. Keduanya makan sambil mengobrol. Tristan pun meminta bergantian untuk menyuapi Qania. Keduanya terliht begitu romantis. Hingga akhirnya makanan itu tak bersisa di dalam rantang. Qania sengaja membawa air mineral dalam botol meskipun di dalam kamar itu sudah disediakan air minum.
“Sekarang sudah makan maka aku ingin membahas sesuatu denganmu,” ucap Qania dengan nada serius.
Tristan menoleh, “Ada apa?”
“Ini tentang hubunganmu bersama Marsya.”
“Aku juga ingin menanyakan ini padamu. Aku harus apa?”
“Apakah benar kau tidak mencintainya?” tanya Qania serius.
“Aku hanya mencintaimu,” tandas Tristan.
“Baiklah. Pergilah bersamanya, temani dia karena dia membutuhkanmu. Tapi setelah itu berilah pengertian padanya jika kau tidak bisa lagi melanjutkan hubunganmu dengannya. Kau tahu, aku ini seorang yang sangat posesif. Aku mudah marah dan cemburu pada pasanganku. Jadi karena kita sudah sepakat untuk bersama dan aku sudah mempercayakan hatiku padamu, tolong jangan kecewakan aku. Karena sekali aku kecewa maka aku akan sangat sulit memaafkan,” ucap Qania penuh ketegasan.
Maaf Marsya, tapi kali ini aku harus melukaimu karena puteraku menginginkannya dan aku menginginkan kebahagiaan puteraku. Serta aku meyakini jika dia adalah takdirku. Maaf tapi aku lebih memilih melihat orang lain terluka demi kebahagiaan anakku.
“Aku menyukai semua ucapanmu barusan. Akan aku pastikan aku tidak akan mengecewakanmu sayangku. Kau bisa memegang ucapanku,” ucap Tristan tersenyum senang.
Jadi dia orang yang posesif dan cemburuan. Baiklah, aku menunggu untuk diposesifkan olehmu serta ingin melihat ketika kau cemburu. Aku suka ini.
“Baiklah aku akan mempercayaimu tapi tidak meyakini. Ayo kita ke bandara, aku sudah memesan taksi tadi dan sekarang sudah berada di dekat hotel,” ajak Qania yang sudah berdiri lebih dulu sambil menenteng tempat bekalnya.
“Baiklah sayang. Oh ya, panggil aku sayang dulu,” ucap Tristan.
“Cepatlah, nanti kau akan ketinggalan pesawat,” alih Qania seraya menarik tangan Tristan namun yang ada Tristan malah menarik kembali tangan Qania hingga tubuh Qania menabrak dada bidang Tristan.
“Tidak ingin memanggilku sayang, hem?” bisik Tristan.
Qania kesulihat menelan ludahnya, posisi ini cukup membuatnya panas dingin.
“Panggil aku sayang,” ucap Tristan.
“Sa-sayang.”
“Dengan mesra dan lembut!”
“Sayang sayang sayang!” Qania meneriakinya karena merasa kesal dan juga menutupi rasa gugupnya.
Tristan langsung memeluk erat tubuh Qania serta mengecup puncak kepala Qania berulang kali.
“Aku pasti akan sangat merindukanmu. Jaga diri saat aku tidak berada di dekatmu. Aku percaya kau pasti bisa menjaga hatimu. Aku tidak akan lama, tolong rindukan aku dan jangan mengabaikanku ketika aku menghubungimu,” ucap lirih Tristan masih mendekap tubuh Qania dengan erat.
“Iya, pasti.”
Meskipun masih ingin memeluk, tapi Tristan melepaskan pelukannya karena ia memang harus segera menuju ke bandara. Tristan menangkup kedua pipi Qania lalu menyatukan dahi mereka sambil memejamkan matanya. Qania pun turut memejamkan matanya saat Tristan mulan menautkan bibirnya di bibir Qania. Cukup lama ia melakukannya dengan penuh kelembutan hingga Qania merasa terbuai.
“Aku mencintaimu Qania, sangat mencintaimu,” ucap Tristan setelah menyudahi ciumannya.
Qania hanya tersenyum tanpa membalas ucapan tersebut. Ia membalasnya namun dalam hati saja.
Aku juga mencintaimu Arkana Wijaya. Maaf tapi aku tidak bisa mengatakan jika aku mencintai Tristan Anggara, karena kamu Arkanaku. Aku sudah terlatih untuk mengucap cinta hanya pada Arkana. Dan jika nanti takdir berkata lain, maka aku akan melatih diriku untuk menyimpan nama Tristan Anggara.
__ADS_1