
“Ekhhmmm…” seorang pria berdehem di dekat Qania dan Arkana.
Arkana dan Qania langsung melepaskan pelukan mereka dan menoleh ke asal suara.
“Papaa..” pekik Arkana, sementara Qania masih menghapus jejak air mata di pipinya.
“Dasar anak muda nggak tahu tempat, kalau tahu gitu papa nggak akan usulin pertunangan tapi pernikahan” Setya terkekeh karena berhasil membuat keduanya gugup.
“Ihh papa rese ah”..
“Hahaha. Eh tunggu, itu kenapa calon mantu papa nangis hah? Kamu apain dia?” tanya Setya serius kemudian ikut duduk di samping Qania.
“Papa Setya terima kasih, hikksss” Qania memeluk Setya kemudian menangis lagi.
“Hei kamu kenapa nak?” tanya Setya bingung, ia melirik ke Arkana namun yang dilirik hanya mengangkat kedua bahunya.
“Terima kasih” ucap Qania lagi kemudian melepaskan pelukannya sambil menghapus air matanya.
“Ada apa hemm?” tanya Setya dengan lembut.
“Nggak, Qania Cuma mau berterima kasih karena sudah merestui hubungan Qania sama Arkana. Qania merasa beruntung mendapatkannya” ungkap Qania.
“Aku yang beruntung memiliki kamu Qania” sanggah Arkana.
“Papa harap kalian akan terus seperti ini sampai kalian tua dan menutup mata. Papa sayang kalian berdua” ucap Setya kemudian membawa kedua anak tersebut kedalam dekapannya.
“Aamiin pa” ucap keduanya bersamaan.
….
“Ma.. mama” Qania mengetuk pintu kamar mamanya.
“Sebentar sayang” sahut Alisha dari dalam, ia baru saja selesai berpakaian setelah mandi.
“Ada ap..aa?” saat Alisha membuka pintu Qania langsung memeluknya dan menangis lagi tentunya.
“Hei kamu kenapa sayang? Apa Arkana menyakitimu? Mana anak itu hah?” tanya Alisha panik.
Qania menggeleng dalam dekapan sang ibu, sementara Zafran yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap langsung terkejut mendapati putrinya tengah menangis sambil memeluk mamanya.
“Ma, Qania, masuk dulu. Bicarakan di dalam” panggil Zafran yang sudah duduk di sofa.
Qania melepaskan pelukannya dan berjalab bersama Alisha untuk ikut duduk bersama Zafran.
“Ada apa? Kenapa kamu pulang-pulang langsung menangis seperti ini?” tanya Zafran dengan sorot mata yang tajam.
“Arkana apain kamu sayang?” tanya Alisha lembut.
“Dia..diaa… haahh.. hikkssss” Qania tak sanggup berkata-kata, dia kembali menangis.
“Sayang ada apa?” tanya Zafran panik.
“Minum dulu nih, baru kamu jelasin” kata Alisha sambil menyodorkan segelas air putih yang ada di atas meja.
__ADS_1
Qania langsung menegaknya sampai habis, kemudian menenangkan dirinya.
“Jadi, ada apa sayang?” tanya Zafran.
“Arkana pa..”
“Iya, dia kenapa?”
“Dia… Qania mau nikah aja pa sama dia, hikksss” Qania kembali menangis.
“Hahh? Emang dia apain kamu sayang, kasih tahu papa?” geram Zafran.
“Dia nggak apa-apain Qania pa, tapi apa yang dia lakuin buat Qania yang bikin Qania ingin menikah saja” jawab Qania membuat Zafran dan Alisha menghembuskan napas lega.
Bagaimana tidak, sang putri datang dengan tangisannya dan menyebutkan nama kekasihnya. Dan parahnya lagi ia langsung minta dinikahkan, siapa yang tidak panik, ah Qania.
“Lalu?” tanya Alisha.
“Ternyata selama ini Arkana yang selalu jagain Qania dari jauh ma, pa. Arkana yang udah nyelamatin Qania dari kasus yang dulu hampir melecehkan Qania. Arkana lah ojek yang Qania ceritain waktu itu, dia juga dan teman-temannya yang udah nyelamatin Qania. Dia.. dia.. dia sangat menyayangi Qania ma, pa. Qania nggak tahu lagi gimana cara buat ungkapin semua perlakuan Arkana ke Qania. Qania sangat-sangat beruntung memiliki Arkana” cerita Qania.
“Jadi selama ini dia yang selalu melindungi kamu dari belakang nak?” tanya Zafran, ia begitu kagum dengan anak dari sahabatnya itu.
“Iya pa, makanya Qania minta di nikahkan saja dengan Arkana. Qania takut kehilangan dia pa” cicitnya.
“Jadi mama teleponin nih papanya Arkana buat ngasih tahu kabar gembira ini?” tanya Alisha.
“Nggak nyesal nih? Nikah dulu atau kuliah dulu?” tanya Zafran memastikan.
“Nikah deh pa” jawab Qania.
“Loh yang benar yang mana sayang?” tanya Alisha, ia sudah gemas ingin menggoda putrinya itu.
“Ahh nggak tahu deh, Qania pusing” ucapnya kemudian berdiri dan meninggalkan kedua orang tuanya.
“Heih anak itu bikin panik saja” ucap Zafran.
“Benar pa, mama kirain ada apa” sambung Alisha.
“Tapi papa senang, kita nggak salah jodohin mereka” ungkap Zafran.
“Tapi mama rasa kita nggak ngejodohin mereka pa, mereka saling memilih” kata Alisha.
“Iya juga sih ma, tanpa kita pertemukan mereka sudah bertemu. Bahkan kita sempat lupa sama perjodohan mereka” ucap Zafran.
“Iya pa. Eh udah mau magrib, sebaiknya kita siap-siap pa” ucap Alisha yang mendengar suara dari masjid.
“Iya ma, papa mau siap-siap ke masjid” kata Zafran kemudian bergegas untuk mengganti pakaiannya.
…….
Saat ini Qania dan keluarganya tengah berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam. Adiknya yang biasanya cuek sekarang ikut hadir di sana.
“Tumben nggak ngegame di kamar” cibir Qania.
__ADS_1
“Emangnya kakak pacaran mulu” balas Syaquile.
“Ih apaan sih kamu Syaq, kakak nggak pacaran mulu. Kakak juga belajar dan pastinya kakak pintar nggak kayak kamu” sanggah Qania.
“Ih kakak nggak baik loh puji diri sendiri” kata Syaquile.
“Dari pada nggak ada yang muji, weekk” dan terjadilah aksi ledek-ledekan kakak beradik ini.
“Hei kalian ini, nggak pagi, nggak siang, nggak malam selalu saja seperti ini. Giliran nggak ketemu sehari aja saling nyariin” Alisha memijat pelipisnya melihat kelakuan kedua anaknya yang kini sudah sama-sama beranjak dewasa.
Syaquile saat ini sudah duduk di bangku kelas dua SMA, namun karena hobi bermain game membuatnya kurang bergaul dan cuek pada lawan jenisnya. Hanya pada kakaknya saja ia begitu cerewet, pada Arkana pun hanya sesekali mengobrol jika tak ada Qania atau pun sedang menunggu Qania.
“Oh iya, besok pagi kita ke makam mbak Ayu ajak mas Setya” kata Alisha.
“Jam berapa ma?” tanya Qania yang masih menjahili Syaquile.
“Jam sembilan” jawab Alisha.
“Oke” kata Qania dan Zafran serempak.
“Aku nggak ikutan” sambung Syaquile.
“Iyalah, kamu kan sekolah” kata Qania sambil mengacak rambut Syaquile.
“Kakak..” teriaknya namun Qania sudah berlari ke atas menuju kamarnya.
“Apaa” ledek Qania dari atas.
“Aku aduin sama kak Arkana biar dia tahu kakak orangnya rese dan malas mandi. Biarin supaya nggak jadi tunangan” ancam Syaquile.
“Wohooo.. tapi kakak nggak takut” kata Qania kemudian berjalan ke kamarnya.
“Kalian ini, mama pusing kalau kalian ribut gini” kata Alisha lalu menghembuskan napas panjang.
“Hmm kakak sebentar lagi diambil orang ma, biarin aja aku ngajak dia berantem. Nanti aku bakalan kesepian” kata Syaquile kemudian berlari ke kamarnya karena tak ingin ketahuan menitikkan air matanya.
“Ah benar juga ma, sebentar lagi kita akan kehilangan putri kita” lirih Zafran.
“Mama sampai nggak sadar pa kalau anak-anak kita sudah besar” sahut Alisha, matanya sudah berkaca-kaca.
“Hmm, mari kita masuk ke kamar ma. Sepertinya kita harus membuatkan Syaquile adik supaya dia nggak kesepian” goda Zafran membuat Alisha memukul lengannya.
“Ingat umur pa” kata Alisha, namun pipinya merah merona.
“Masih muda gini kok ma, ayolah..” bujuk Zafran.
“Ih papa apaan sih” kata Alisha kemudian meninggalkan Zafran di ruang keluarga yang sedang tertawa.
“Hei ma, tunggu papa dong” teriak Zafran yang kemudian berlari mengejar Alisha yang sudah menaiki tangga.
“Tau ah papa, udah tua masih aja mesum. Kita itu sekarang udah waktunya nimang cucu, bukan anak” oceh Alisha.
“Iya ma, iya” kata Zafran mengalah.
__ADS_1
..............