Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Setelah Sekian Lama


__ADS_3

"Jadi bagaimana kelanjutan proyek ini, Pak?" Tanya Hamdan, inspektor dari Tristan.


"Saya sebenarnya tidak paham dengan hal seperti ini. Sebaiknya pekerjaan hari ini kita hentikan dulu. Oh ya, apa kamu memiliki kenalan seorang insinyur teknik?" Tanya Tristan.


"Tidak Pak. Saya pikir gadis tadi adalah kenalan anda. Kenapa tidak meminta bantuan darinya saja?" Usul Hamdan.


"Tidak, kami tidak dekat. Lagi pula dia sudah pergi," sahut Tristan lemas.


"Sekarang kau katakan pada mereka untuk pulang saja, saya juga akan pulang. Nanti akan saya kabari jika ada sesuatu," imbuh Tristan.


Hamdan mengangguk, kemudian ia mengarahkan para pekerja untuk berkemas dan akan libur bekerja sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Awas saja kau Meldi, beraninya kau korupsi dan meninggalkan proyek ini," geram Tristan dengan kuat mencengkram setir mobulnya.


..........


Qania menggeliat, sapuan lembut di wajahnya membuat tidurnya terusik. Meskipun berat untuk membuka mata, Qania tetap mencobanya karena ia ingat mereka sekarang sedang berada di lokasi KKN dan yang ia khawatirkan ada orang jahat yang sedang mengganggunya. Traumanya akan kejadian bersama Juna membuat ia langsung waspada.


Namun begitu Qania membuka matanya, pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya tersaji di depan matanya. Mata indah itu membulat dengan sempurna saat pria tampan dengan senyuman manisnya tersuguhkan di depan kedua netranya.


"K-kau ...."


"Iya, ini aku. Memang siapa lagi?" Ucapnya masih tersenyum. Tangannya membelai rambut panjang Qania yang terurai.


"Ar-Arkana? Eh maaf, Tristan Anggara," lirih Qania.


"Siapa Tristan Anggara, hmm?" Tanyanya sambil membelai rambut Qania penuh sayang


"Pria mana yang namanya berani keluar dari mulut istriku saat suaminya sedang bersamanya, hemm?" imbuhnya masih terus mengelus rambut Qania.


"Su-suami?" Tanya Qania tergagap.


"Apakah kau melupakan Arkana Wijayamu ini, nyonya Wijaya?" sindirnya.


...Degggggg.......


Qania terkejut begitu pria di depannya ini menyebutkan namanya. Ingin rasanya ia bersorak namun hatinya menolak karena ia sangat sadar bahwa suaminya itu sudah lama meninggalkannya.


"Jangan bercanda, suamiku sudah tiada," elak Qania.


'Ya Tuhan, meskipun ini hanya mimpi aku sudah sangat bahagia karena bisa melihat wajah suamiku. Tapi Engkau pun tahu isi hatiku yang menginginkan ini adalah suatu kenyataan.'


Arkana tersenyum, ia menghentikan aktivitasnya membelai rambut Qania.


"Apakah kau menginginkan aku mati? Sudah tidak mencintaiku, hemm? Sudah mendapatkan penggantiku? Apa pria brengsek bernama Tristan Anggara itu yang sudah merebut hatimu? Kalau iya, akan ku buat dia tidak bisa merasakan keindahan dunia lagi. Beraninya dia menyukai istri dari Arkana Wijaya, cari mati," cecar Arkana geram dengan sorot mata tajam menatap ke arah Qania.


Bukannya marah, Qania malah tersenyum senang dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya. Ia langsung menghambur ke pelukan Arkana.


"Ini benar dirimu. Aku yakin ini adalah suami, Arkana Wijaya. Kemana saja, hah? Aku sangat merindukanmu. Aku sangat tersiska hidup tanpamu selama lima tahun ini. Kau kejam Arkana, kau membuatku hampir gila karena kehilangan dirimu. Hikss ... kemana saja kau, dasar brengsek!" Qania mengeluarkan isi hatinya, ia mencengkram erat punggung Arkana dengan isak tangisnya yang semakin menjadi.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku pun sama tersiksanya sepertimu. Kau tahu sendiri aku tidak bisa hidup tanpamu, aku tidak bisa tanpa melihatmu. Tapi untukmu aku terus berjuang agar bisa menemuimu dan memelukmu. Maafkan aku, aku juga hampir gila karena terus memikirkanmu, maafkan aku sayang," balas Arkana, ia pun terisak dalam dekapan Qania.


Lama keduanya saling memeluk mencurahkan rasa cinta dan rindu mereka, sampai akhirnya Arkana melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Qania.


"Ingin jalan-jalan denganku?" Tanya Arkana sembari menghapus air mata Qania dengan kedua ibu jarinya.


Qania tersenyum kemudian mengangguk.


Arkana mengecup setiap inci di wajah Qania, begitu pun dengan Qania yang membalas perlakuan Arkana. Keduanya pun kembali berpelukan cukup lama sampai akhirnya mereka saling melepaskan pelukan tersebut.


"Aku ganti baju dulu, dan kau keluarlah dulu," pinta Qania.


"Aku tidak," bantah Arkana.


"Sayang ayolah, aku tidak akan lama," rengek Qania.


"Kau adalah istriku dan aku berhak atas setiap inci tubuhmu. Dan aku pun sudah beberapa kali melihat tubuh polosmu. Cepatlah sebelum kesorean," ucap Arkana bersikeras.


Alhasil Qania berganti pakaian di depan Arkana dengan wajah tertunduk malu. Yang benar saja, baru juga bertemu masa aku langsung bertelanjang di depannya, pikir Qania.


Wajah Arkana memerah melihat tubuh istrinya itu, ia pun memalingkan wajahnya untuk menormalkan perasaannya.


"Sabar Bung, dia milikmu," gumam Arkana menahan sesak.


Keduanya pun berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri desa tersebut. Qania terus saja mengucap syukur dalam hati karena suaminya yang teramat sangat ia rindukan kini terpampang nyata di depannya dan bukan hanya sekedar halusinasi belaka. Ia terus mencuri pandang ke arah Arkana dengan senyum manis yang tak pernah surut dari bibirnya.


Dengan terus berbincang hangat, keduanya menyusuri jalan di desa tersebut. Sesekali terdengar tawa keduanya, teriakan kesal Qania dan juga ledekan Arkana yang tidak pernah absen saat bersama Qania. Dan Qania sangat menyukai itu.


Namun saat keduanya sedang memandang air sungai dari atas jembatan penghubung antar desa, seorang pria bersama beberapa temannya datang.


"Arkana Wijaya," serunya.


Qania dan Arkana berbalik, Qania menutup mulutnya dengan tangan saat melihat siapa yang datang.


"Kita bertemu lagi Qania." Pria itu tersenyum kecut.


"Ar-arjuna," ucap Qania terbata.


"Kau rupanya masih sangat mengenaliku."


"Mau apa kau kemari?" Tanya Arkana dengan sorot mata yang begitu tajam.


"Tentunya untuk mengambil Qania darimu dan memusnahkan mu dari dunia ini," jawabnya lantang.


"Sayang berlindung di belakangku. Biar aku menghadapi pria sialan ini," perintah Arkana.


Qania yang ketakutan melihat wajah Arjuna pun langsung mematuhi perintah Arkana.


"Tolong tetap baik-baik saja untukku," lirih Qania.

__ADS_1


Arkana tersenyum mengangguk, kemudian ia berusaha menangkis serangan dari Juna dan terus berusaha agar tidak mengenai Qania.


Perkelahian sengit tidak bisa dihindari, baik Arkana maupun Arjuna sama-sama dalam posisi seimbang dengan luka lebam di beberapa bagian tubuh mereka.


Juna terjatuh di atas aspal begitu tendangan keras Arkana mengenai perutnya. Arkana pun mendekati Qania yang berdiri di dekat jembatan dan hendak memeluk istrinya itu.


"Arkana awas ...." Teriak Qania.


Baru saja Arkana akan menoleh, tendangan kuat menghantam tubuhnya hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke sungai. Dan disaat yang bersamaan para warga datang dan langsung meringkus Arjuna dan teman-temannya yang tadi sudah berhasil di lumpuhkan oleh Arkana.


"Arkanaaaaaaa ....."


"Qania, Qan. Bangun Qan," panggil Mae khawatir saat melihat wajah gelisah Qania dengan keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya.


Sekali lagi Mae berusaha membangunkan Qania hingga ia pun akhirnya tersadar.


"Arkana ...," panggil Qania.


"Qan, kamu mimpi ya?" Tanya Mae khawatir.


"Mimpi?" Tanya balik Qania dengan suara lemas.


Qania mengedarkan pandangannya, ia tadi sedang di jembatan tapi sekarang ia sudah berada di dalam kamar.


'*Apa mungkin tadi aku pingsan dan warga membawaku kesini? Arkana, dimana Arkana? Apakah para warga sudah menemukannya? Dan ....'


Deggg*....


Qania langsung tertampar kenyataan begitu ia melihat baju yang ia kenakan masih sama sebelum ia bertemu dengan Arkana.


'A-apakah tadi hanya mimpi?'


"Qan, Lo kenapa? Jangan bikin gue khawatir Qan. Lo udah tidur berjam-jam dan saat Lo bangun Lo jadi kayak gini. Ada apa Qan?" Tanya Mae yang merasa takut.


"Aku hanya mimpi buruk, aku tidak apa-apa kok," kilah Qania.


"Hmmm ... syukurlah. Oh iya kamu mandi gih sana, udah mau magrib," pinta Mae.


"Apaa? Berarti aku udah tidur hampir tiga jam dong," pekik Qania kemudian bergegas turun dari tempat tidur dan mengambil handuk serta baju ganti kemudian ia keluar untuk menuju ke kamar mandi.


Qania terisak di dalam kamar mandi ketika ia teringat akan mimpinya.


"Hikss ... aku sempat bahagia tapi ternyata itu hanyalah sebuah mimpi. Tapi mengapa baru sekarang Arkana, kenapa baru sekarang kau datang ke mimpiku? Lima tahun aku menunggumu untuk menghiasi mimpiku, tapi tidak pernah kau datang menyapaku. Apakah kau sudah lolos seleksi dan mendapatkan bidadari disana? Kau sudah melupakanku? Tapi meskipun begitu aku sangat bersyukur karena kau sudah menyapaku dan membuat aku merasa bahagia meskipun hanya lewat mimpi."


Qania pun memutuskan untuk langsung mandi karena tidak ingin yang lain menunggunya. Ia sudah lama tertidur dan tidak enak jika berlama-lama di dalam kamar mandi. Biar bagaimana pun ia juga sudah berpengalaman dalam hal KKN.


... 🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2