
Syaquile bingung harus mulai dari mana untuk bertanya kepada sang kakak. Dari tadi ia ingin terus bertanya namun ia urungkan. Ia takut itu hanya halusinasi saja. Tapi sudah dua kali dia melihatnya, tidak mungkin hanya sebatas ilusi saja, kan.
Ia menatap Qania, saat ditatap balik ia mengalihkan pandangannya. Begitu terus sampai Qania bosan melihat adiknya yang duduk di bangku di sampingnya dengan gelagat anehnya.
"Bicara ya bicara saja, Dek," tegur Qania.
"Hehe, kelihatan ya Kak?" tanya Syaquile sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sangat. Ya udah ngomong aja," ujar Qania.
"Aku mau nanya, Kak," ucap Syaquile ragu-ragu.
"Mau nanya apa? Lala udah punya pacar atau belum? Mau nanya hubungan kakak sama Raka? Atau soal Tristan?" cecar Qania.
"Hampir benar semua, kecuali soal Lala," ucap Syaquile yang tiba-tiba tersenyum saat teringat kekasihnya itu.
"Ekhmmm ... sepertinya sedang musim semi nih," goda Qania.
"Apa sih, Kak," elak Syaquile dengan pipi yang memerah.
"Udah nggak usah malu sama Kakak. Ya udah kamu mau nanya apa?" alih Qania.
"Engg ... i-itu Kak, siapa Tristan?" tanya Syaquile, ia masih bingung antara menanyakan Tristan atau Arkana.
"Oh dia, kenalan kakak. Nggak sengaja kenal sih. Aku bantuin dia ngurus proyek," jawab Qania.
"Bukan kekasih kakak?"
"Bukan adikku sayang. Kenapa kamu jadi tertarik ngebahas dia?" tanya Qania.
"Ya soalnya aku kaget aja sama si ojek online itu, Kak. Gini-gini kan aku ada di pihaknya kak Raka," ucap Syaquile.
"Iya deh, sesama gamers."
"Tapi tetap kok Kak, posisi kak Arkana nggak bakalan keganti oleh siapapun. Kak Arka itu kakak ipar terbaik aku selamanya. Dan aku nggak bakalan lupain dia, dia punya tempat tersendiri di hati aku, Kak," ungkap Syaquile lirih.
Qania tersenyum getir, bagaimana bisa ia mencoba menggantikan Arkana sementara di hati keluarganya pun mereka enggan menggantikan Arkana. Ia juga senang karena keluarganya terutama adiknya masih ingat dan bahkan masih begitu sayang pada suaminya.
"Kamu benar, Dek. Kakak bahkan nggak berniat gantiin dia. Tapi ada yang terus memaksa untuk masuk ke kehidupan kakak, dan dia adalah Raka. Pria gila yang tidak punya malu untuk terus mendekati kakak meskipun sudah ditolak berkali-kali," tutur Qania lirih.
"Oh iya Kak, ada satu hal penting lainnya yang sebenarnya ingin aku tanyakan sedari tadi," ucap Syaquile kembali dilema.
"Hmmm," gumam Qania.
"A-aku nggak tahu aku hanya berhalusinasi atau hanya sekedar ilusi ku saja Kak. Tapi sudah dua kali aku bertemu dengan pria di rumah sakit ini yang wajahnya ... wa-wajahnya sama dengan kak Arka. A-aku nggak bohong kalau-" ucapan Syaquile terhenti karena Qania langsung memotongnya.
"Dia Tristan," potong Qania.
"A-apa? Jadi dia Tristan yang kakak maksud teman itu? Tapi bagaimana bisa wajahnya sama dengan kak Arka?" pekik Syaquile.
"Ya mana kakak tahu. Kakak juga sampai pingsan waktu pertama kali lihat dia. Tapi ya dia itu Tristan bukan Arkana," ucap Qania.
__ADS_1
"Jadi bukan kak Arka, ya. Terus Mama, Papa, om Setya udah pada tahu?" tanya Syaquile.
"Ya nggak lah, Dek. Dan kakak harap kamu nggak kasih tahu ke mereka, aku nggak mau bikin hancur hati papa Setya," pinta Qania.
"Tentu, Kak. Tapi dari yang aku dengar tadi dia cinta sama kakak, gimana denganmu, kak?" selidik Syaquile.
"Kakak nggak tahu, Dek. Mau bilang kakak cinta sama dia, tapi tiap kali kakak bersama dia kakak justru menganggapnya sebagai Arkana. Mau dibilang nggak ada rasa juga, kakak kalau udah bareng dia ya nyaman. Kakak bingung dan belum bisa mastiin perasaan kakak," jawab Qania jujur.
"Kakak jangan sampai jadiin dia pelampiasan, Kak. Kalau dia cinta beneran sama kakak tapi kakak malah nganggap dia sebagai kak Arka, kan dia pasti ujung-ujungnya akan sakit hati," nasihat Syaquile.
"Itu yang selalu kakak pikirin, Dek. Kakak takut ini hanya pelampiasan doang. Dan parahnya dia itu udah berulang kali nyatain perasaannya ke kakak. Kadang kakak sendiri terbawa suasana sama dia dan saat kakak ingin membalasnya kakak teringat lagi dia bukan Arkana, dan kakak urungkan. Sejauh ini yang kakak rasain sama dia hanya sebatas perasaan kakak yang mengira dia Arkana. Kakak nggak tahu kedepannya bakal gimana," ungkap Qania.
"Kakak yang sabar ya, Kak. Aku tahu ini nggak mudah karena berhadapan dua sosok yang sama tapi berbeda. Jangan sampai kalian saling menyakiti. Dan pasti kak Raka lah yang paling tersakiti dalam situasi ini. Aku harap kalian bertiga bisa menemukan solusi untuk permasalahan ini," harap Syaquile.
"Iya Dek. Doain kakak, ya," ucap Qania.
"Pasti, Kak."
Baru saja keduanya selesai membahas tentang Tristan, kedua orang tua mereka bersama Setya memasuki ruangan tersebut. Dengan cepat kakak-beradik itu mengubah ekspresi wajah mereka.
"Sayang, gimana keadaan kamu Nak?" tanya Alisha lembut sambil membelai rambut Qania. "Sudah tidur rupanya cucuku ini," ucap Alisha membelai rambut Arqasa yang tertidur di samping Qania.
"Alhamdulillah baik, Ma. Tinggal kaki dan tangan aku yang masih sakit," jawab Qania.
"Kata dokter itu akan sembuh beberapa hari lagi kok Nak, sabar ya," ucap Zafran.
"Kalian dari mana?" tanya Syaquile.
"Dari kantor polisi. Supir truk itu udah di tahan sama polisi," sahut Setya.
"Tapi Qania-" ucapan Setya terpotong oleh Qania yang langsung menyergahnya.
"Pokoknya aku nggak mau tahu, Papa harus bebasin dia sekarang dan kasih dia bonus sebagai ganti rugi karena Papa menjarain dia," pinta Qania.
"Iya baiklah. Sudah pandai rupanya bicara tentang hukum," ledek Setya.
"Iyalah, kan mau nerusin Papa," balas Qania.
Mereka pun tertawa bersama, sesuatu hal yang paling membuat Qania bahagia. Ia tak henti-hentinya berucap syukur dalam hati melihat kebahagiaan keluarganya.
Akan terasa lengkap jika kamu ada bersama kami, Arkanaku sayang.
"Oh iya Nak, kamu ikut pulang aja sama kita. Kamu istirahat sekaligus pemulihan di rumah saja ya," ucap Zafran setelah mereka menydahi tawa mereka.
"Ya nggak bisa dong, Pa. Aku harus balik KKn lagi, aku mau cepat selesaikan kuliah dan balik ke rumah," tolak Qania.
"Tapi Nak, kondisi kamu sekarang nggak mengizinkan," timpal Alisha.
"Papa dan Papa mertua kan banyak uangnya. Bisa dong nyewa orang buat bantuin kegiatan KKN aku disana. Dua bulan doang nggak bakalan ngabisin pendapat seminggu kalian," bujuk Qania.
Zafran, Alisha dan Setya menghela napas berat. Keras kepala putri mereka memang tiada duanya.
__ADS_1
"Boleh ya," bujuk Qania dengan wajah dibuat sememelas mungkin.
"Ya sudah, pokoknya nanti kami tanggung semuanya. Yang penting kamu sembuh dulu," ucap Zafran mengalah.
"Yey, makasih banyak. Aku sayang kalian," sorak Qania.
Ketiga orang tua itu hanya menghela napas melihat Qania bersorak.
Tiba-tiba saja Qania teringat akan bahan-bahan yang dikirimkan oleh Tristan untuk kegiatan KKNnya, ia pun langsung berniat menelepon Zakih.
"Cari apa, Kak?" tanya Syaquile saat melihat kakaknya seperti orang yang sedang mencari sesuatu.
"Ponsel kakak," jawab Qania.
"Nggak usah dicari Kak, ponselnya udah hancur," ucap Syaquile.
Qania terbelalak kaget, bagaimana bisa ia baru menyadari ponselnya saat ini. Untung saja itu adalah ponsel keduanya, sementara ponselnya yang berisi kenangannya bersama Arkana berada di dalam tasnya yang ada di lokasi KKN.
"Yah, gimana mau hubungi si Zakih," gumam Qania.
"Kenapa sih Kak?" tanya Syaquile.
"Kakak itu mau menghubungi teman Kakak, tapi nggak ada ponselnya. Gini aja deh, kamu minta nomor Mae ke Lala," jawab Qania.
Syaquile pun menuruti permintaan kakak ya, namun belum juga mendapat balasan dari Lala. Syaquile sendiri tahu kalau saat ini Lala sedang sibuk mengurus nilainya di kampus.
"Qania," panggil Setya.
"Iya Pa," sahut Qania.
"Siapa Tristan?" tanya Setya.
Qania dan Syaquile terkejut dan saling menatap.
"Re-rekan kerja Pa," jawab Qania gugup.
"Rekan kerja?" ulang Alisha, Zafran dan Setya bersamaan.
"Iya, jadi dia itu seorang pengusaha kuliner di kota ini. Dia punya banyak kafe dan restoran, dan aku dulu selalu mengikuti seminarnya tentang berbisnis. Nah kemarin-kemarin juga aku bantu dia saat dia mengalami masalah di proyek pengaspalan jalan. Gitu aja kok," jawab Qania sedikit berbohong dan Syaquile sangat ingin tertawa.
"Tapi kata tukang ojek itu dia cinta sama kamu," tutur Zafran.
"Ya biarin aja dia cinta sama aku, Pa. Aku sih enggak, dia kan udah umur tiga puluh tahun dan aku nggak tertarik sama yang usianya terpaut cukup jauh denganku," celetuk Qania.
"Ya nggak apa-apa kamu sama dia, lagian cuma beda lima tahun doang kok. Dan dia juga bisa bantuin kamu nantinya mengelola bisnis Papa, sesuai bidangnya," ucap Setya memberi dukungan.
Kali ini Qania dibuat tidak bisa berkata apa-apa dengan keinginan sang mertua. Ia hanya sedikit meringis mendengarnya.
Andai papa Setya tahu gimana si Tristan itu, pasti detik ini juga kalian akan langsung menintaku untuk menerimanya. Sayang sekali aku nggak mau lagi berhubungan dengan orua itu. Aku udah pernah ngerasain gimana sakitnya saat Arkana di rebut paksa oleh Susan dan Syeril. Rasanya itu sangat menyakitkan dan aku nggak mau melakukan itu pada Marsya. Aku nggak mau jadi perusak hubungan orang, aku benar-benar nggak bisa. Maaf Tristan, tapi aku juga seorang wanita. Aku nggak mau menyakiti hati wanita lain. Kamu baik-baik saja ya sama Marsya. Aku akan mendoakan kebahagiaan kalian. Jangan rusak yang sudah ada, karena belum tentu yang baru ini akan lebih membahagiakan dirimu. Maaf jika setelah ini kita mungkin nggak akan pernah beremu lagi Tristan, tapi aku akui kalau aku sempat merasakan perasaan itu untukmu, sebagai seorang Tristan Anggara, bukan Arkana Wijaya.
Je t'aime aussi Tristan Anggara. Je t'aime.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗