
Qania dan Arkana turun dari motor setelah motor tersebut terparkir rapih di parkiran kampus.
Keduanya duduk di bangku yang ada di parkiran sambil tangan keduanya saling bergenggaman.
Qania menciumi berkali-kali punggung tangan Arkana, mengekspresikan perasaannya yang membuat senyum terus terlukis di wajah Arkana.
Saat Qania melirik kearah tangannya, ia terkejut karena tidak menemukan benda berharganya. Dengan kasar Qania menghempaskan tangan Arkana.
“Sayang gawat” Qania nampak sangat panik.
“Apanya yang gawat?” tanya Arkana ikutan panik.
“Cincin, cincin tunangan aku hilang” jawab Qania sambil menahan tangis.
‘Emang dia nggak nyadar kalau cincin itu tergantung di lehernya?’ pikir Arkana.
Arkana tersenyum membuat Qania memelototinya.
“Kamu tuh ya, aku lagi panik kamu malah senyum-senyum. Kamu gila?” sentak Qania.
“Nggak sayang, aku Cuma heran sama kamu” jawab Arkana mencoba menormalkan ekspresi wajahnya.
“Heran?”,.
“Iya, emang kamu nggak nyadar kalau kamu pakai kalung?” tanya Arkana menatap penuh cinta pada Qania.
“Eh?”,.
Qania menyentuh lehernya.
‘Ini sejak kapan?’ Qania bertanya-tanya dalam hati.
“Coba deh kamu keluarin kalungnya” pinta Arkana sambil menggenggam salah satu tangan Qania.
Qania menurutinya dan ia langsung menarik kalung tersebut. Ia menutup mulutnya dengan tangannya saat melihat kalung tersebut ternyata disana lah cincin yang sedang dicarinya.
‘Ini sejak kapan?” pikir Qania, ia mencoba menerka.
“Aku yang pasangin semalam, kalung itu pemberian mama aku. Aku sengaja meletakkan cincin tunangan itu di kalung tersebut supaya posisinya tepat di atas jantung kamu”,.
Arkana menjeda ucapannya.
“Aku ingin setiap jantungmu bertedak ia selalu mengingatkanmu akan diriku, dia selalu mengingatkanmu tentang kerinduanku padamu. Dan aku mau selalu dekat di hatimu, di jantungmu karena aku ingin kamu tahu bahwa setiap detak jantungmu itu adalah kehidupanku. Aku ingin kamu tahu kalau kita selalu dekat di hati, meskipun kita berjauhan. Aku ingin…”,.
“Sstttt….” Qania meletakkan jari telunjukkan di atas bibir Arkana.
“Sudah cukup, jangan buat aku nggak bisa melangkah meninggalkanmu. Ku mohon jangan siksa aku seperti ini. Sikapmu ini membuatku ingin disini saja, disisimu. Tolong jangan beratkan langkahku” isak Qania.
Arkana membawa Qania kedalam dekapannya.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku” lirih Arkana, ia mengecup puncak kepala Qania sambil memejamkan kedua matanya, menghirup aroma rambut yang dalam waktu dua bulan tidak bisa ia nikmati.
“Aku tahu, hanya saja aku belum terbiasa berjauhan denganmu dalam waktu yang lama. Maafkan aku juga” tutur Qania sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
Suasana menjadi hening karena keduanya larut dalam pikirannya masing-masing.
Tadi sebelum mereka ke kampus, Arkana mengajak Qania ke kafe untuk menghabiskan waktu bersama. Keduanya saling memeluk, berciuman, berpelukan dan menangis bersama sebelum akhirnya Arkana mengantar Qania ke kampus.
“Ekhmmm….”,.
Qania dan Arkana sontak melepaskan pelukan mereka dan berusaha mencari asal suara tersebut.
“Disini” ucap Baron yang berdiri di belakang mereka.
“Duh yang lagi salam perpisahan” ledek Prayoga.
“Issshhh…” Qania mendengus mengetahui bahwa orang tersebut adalah teman-temannya.
“Hahaha, peace Qan” ucap Prayoga sambil mengangkat dua jarinya ke atas.
“Hallo Ka” sapa Baron.
“Hai Bro” balas Arkana.
“Bukannya mau ganggu kalian nih ya, tapi di grup gue baca kalau mereka udah pada ngumpul, tinggal kita bertiga doang nih” ucap Prayoga sambil mengetik di ponselnya.
“Abdi udah disana?” tanya Qania.
“Udah Qan” sahut Prayoga.
“Kalian satu lokasi?” tanya Arkana.
“Iya, gue, Prayoga, Qania sama Abdi” jawab Baron.
“Pasti bro” sahut keduanya.
“Ya udah kita duluan, nyusul ya Qan” ucap Baron.
“Iya, aku dua menit lagi” sahut Qania malu-malu.
“Kita ngerti deehh” ledek Prayoga.
Qania merona karena digoda oleh teman-temannya.
Saat Baron dan Prayoga sudah pergi, dengan cepat Arkana membawa Qania kedalam pelukannya. Ia mencium lama puncak kepala Qania, kemudian mengecup kening Qania dengan mesra dan cukup lama.
“Kamu masuk gih, aku balik dulu. Hati-hati” ucap Arkana sambil menangkup pipi Qania dan mendongakkannya.
Qania hanya bisa mengangguk, ia begitu berat berpisah namun harus.
“Jangan kangen dulu, ntar kamu nangis di depan teman-teman kamu lagi. Kan malu” ledek Arkan, padahal dalam hati ia menjerit.
‘Andai gue bisa hentiin waktu’,.
“Aku masuk dulu, kabarin aku kalau udah sampai di rumah. Kamu hati-hati ya” ucap Qania sambil menatap intens kedua mata Arkana.
“Tentu, kamu juga hati-hati dan kabarin aku kalau udah mau jalan” ucap Arkana kemudian mengecup kening Qania lalu melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Rindukan akau nanti” seru Qania saat ia mulai berjalan menunggalkan Arkana yang menatap sendu kearahnya.
“Kamu juga ya” teriak Arkana.
Qania mengangguk pasti kemudian berlari meninggalkan Arkana menuju tempat perkumpulan. Ia menyeka air mata yang terus mengalir dari kedua sudut matanya.
“Oh Tuhan, semoga aku bisa bersabar menunggunya dengan rindu yang akan datang menyiksaku. Baru saja dia hilang dari pandanganku, kenapa dada ini sudah terasa begitu sesak? Gue cemen banget sih” gumam Arkana kemudian naik ke atas motornya dan menghidupkan mesin motornya lalu melajukan motor tersebut untuk meninggalkan area kampus.
🌻
🌻
“Lima menit lagi kalian akan berkumpul, saya harap kalian sudah berbaris bersama jangan pisah barisan. Saya akan mengunjungi kalian seminggu sekali, dan saya harap kalian bisa menyelesaikan mata kulaih kalian ini dengan baik. Ibu titip kelompok kalian padamu Abdi” ucap bu Lira setelah mereka berkumpul.
“Ibu tinggal dulu, kalian bersiaplah untuk upacara pelepasan. Kalian saling akrablah karena tadi kan sudah kenalan” tambah bu Lira.
“Baik bu” sahut mereka serempak.
“Ya sudah ibu pamit” ucap bu Lira kemudian pergi.
Kesepuluh mahasiswa mahasiswi tersebut bergegas bergabung ke tempat perkumpulan setelah panitia KKN memanggil mereka.
Sambutan untuk acara pelepasan pun dimulai dan rektor langsung mengambil alih memberi pidato wejangan untuk mereka.
"Dan akhirnya dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahiim saya melepas mahasiswa saya sekalian untuk pergi menuju ke lokasi KKN. Saya harap kalian bisa mengabdi di masyarakat dan menjaga nama baik almamater kalian" ucap pak Bram mengakhiri sambutannya.
Seluruh mahasiwa berhamburan kearah parkir untuk menuju ke lokasi mereka masing-masing.
"Elin kamu bawa motor sendiri?" tanya Qania saat di parkiran.
"Iya nih Qan" jawab Elin sambil tersenyum ragu, sejujurnya ia takut mengendarai motor dalam jarak yang cukup jauh.
"Jangan" cegah Qania.
"Yog, kamu sama siapa?" tanya Qania pada Prayoga.
"Gue sama Abdi, lo kan sama Baron" jawab Prayoga.
"Bisa nggak kamu boncengin Elin pakai motornya. Abdi biar sendiri aja, kasihan kan cewek nyetir jauh banget" pinta Qania.
"Gimana Di?" tanya Prayoga pada Abdi.
"Ya udah lebih baik gitu" sahut Abdi.
"Oke" ucap Prayoga setuju.
Dengan malu-malu Elin naik diboncengi Prayoga yang baru kenal tadi dengannya. Untung saja sifat Prayoga sama kayak teman-teman Qania yang lain yang mudah akrab dan berbaur serta kocak juga sehingga Elin tidak canggung dengannya.
"Yuk jalan" ajak Abdi.
Delapan motor rombongan kelompok Qania akhirnya meluncur menuju ke lokasi KKN mereka.
Sepanjang jalan Qania sibuk memotret pemandangan dan juga teman-temannya di motor lain.
__ADS_1
'*Selamat tinggal untuk sementara Arkana Wijaya, aku merindukanmu, sangat merindukanmu' batin Qania.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘*...