Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Di Kantor Setya Wijaya


__ADS_3

“Qan kamu yakin nggak mau ikut ke acara ulang tahun kak Fadly nanti malam? Dia ngundang kamu loh” tanya Elin saat mereka sudah sampai di depan rumah mereka masing-masing.


“Ntar aku kabarin deh, aku ada urusan penting nih” jawab Qania.


“Oke deh, aku masuk dulu” ucap Elin berpamitan.


“Aku juga” sahut Qania.


Qania masuk dan mendapati papa dan mamanya tengah asyik menonton tv setelah makan siang. Setelah mencium tangan kedua orang tuanya Qania langsung masuk ke kamarnya.


Qania duduk di sofa sambil memikirkan rencananya.


“Aku akan ajak Baron untuk menemui om Setya, tapi kayaknya om masih di kantor. Itu sepertinya lebih baik, daripada aku ke kafe dan mungkin saja bertemu dengan Arkana” ucap Qania.


“Aku akan menanyakan ke papa, mungkin papa tahu alamat kantor papa Arkana” ucap Qania kemudian bergegas turun.


Qania duduk disebalah papanya namun masih ragu-ragu untuk bertanya.


“Ada apa nak? Kamu sudah makan siang?” tanya mamanya.


“Udah tadi ma, aku makan di mall bareng Elin” jawab Qania.


“Pa, boleh nanya?” tanya Qania gugup.


“Tanya ya tinggal tanya Qania” jawab papanya masih fokus ke layar tv.


“Emm papa tahu alamat kantor papanya Arkana?” tanya Qania canggung.


“Tentu saja, ada apa?” tanya papanya.


“Qania harus ketemu om Setya pa, kerja praktek Qania merupakan gedung terbaru om Setya” jawab Qania berbohong.


“Kapan kamu kesana? Biar papa antar” ucap papanya.


“Sebentar pa, dan aku nggak usah diantar soalnya aku perginya sama Baron” jawab Qania.


“Oke, nanti papa kirimin lewat sms soalnya takut kamu lupa jalan” ucap papanya.


“Papa kenal sama papanya Arkana?” tanya mamanya penasaran.


“Kenal ma, nanti papa ceritain” jawab papanya seperti sedang menutupi dari Qania.


“Ya sudah, Qania mau siap-siap dulu pa, ma. Nanti Baron keburu datang” pamit Qania dan diiyakan oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


Di kamarnya Qania baru saja selesai menghubungi Baron dan ia setuju untuk menjalankan rencana Qania.


Tak berselang lama Baron sudah sampai di rumah Qania, setelah berpamitan keduanya pergi menuju ke alamat yang dikirimkan oleh papanya.


Qania dan Baron berhenti di sebuah gedung besar berlantai sepuluh, setelah memarkirkan motornya Baron dan Qania langsung menuju ke arah resepsionis.


“Selamat siang mbak” sapa Qania.


“Siang dek, ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis itu.


“Bisa ketemu dengan om Setya?” tanya Qania.


“Oh pak Setya sedang ada meeting di luar dek, apakah sudah ada janji sebelumnya?”...


“Oh gitu ya mbak, belum ada janji sih” jawab Qania menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Mohon maaf dek, jika belum buat janji kami tidak bisa mengizinkan anda untuk masuk” jawabnya tegas namun masih terlihat ramah.


Qania dan Baron pergi dengan lemas karena kecewa tak bisa bertemu dengan om Setya sementara waktu mereka semakin sedikit. Saat Baron hendak menyalakan mesin motornya, mata Qania menangkap sosok yang tak asing baginya baru saja keluar dari mobil.


“Om Setyaa...” teriak Qania sambil berlari menghampirinya.


Papa Arkana menoleh dan terkejut melihat Qania.


“Qania mau ketemu om, ada hal penting” ucap Qania.


“Ayo masuk, kita bicara di ruangan om” ajaknya.


“Sama teman Qania ya om” pinta Qania dan dijawab anggukan oleh papa Arkana.


Qania memanggil Baron dan mereka mengikuti langkah papa Arkana menuju ruangannya, sementara para pegawai menyapa pemilik perusahaan tersebut dengan penuh hormat.


Saat mereka baru masuk ke ruangan papa Arkana, di bawah terjadi keributan tepatnya di meja resepsionis. Seorang wanita tengah memaksa si mbak resepsionis untuk masuk, siapa lagi kalau bukan Susan.


“Maaf nona, kalau tidak memiliki janji anda tidak bisa bertemu dengan tuan Setya” tolak resepsionis itu.


“Apa kau tidak tahu saya ini calon menantunya hah? Besok saya akan menikah dengan anaknya dan setelah saya menikah kamu orang pertama yang akan saya pecat” ancam Susan.


“Si..silahkan masuk nona, tuan ada di dalam. Tolong maafkan ketidaktahuan saya” mohon resepsionis itu.


“Gitu dong, nggak perlu ada adegan pengancaman” ketus Susan yang kemudian melenggang pergi.


Di ruangan Setya Wijaya.

__ADS_1


“Jadi ada apa Qania sampai datang kemari? Oh iya om minta maaf atas apa yang terjadi padamu dan Arkana, sungguh di luar kuasa om. Om sangat ingin kamulah yang menjadi menantu om, sekali lagi maafkan om ya” ucapnya penuh rasa bersalah.


“Yang lalu biarlah berlalu, ada hal penting yang harus saya sampaikan pada om Set..ya” ucapan Qania terhenti karena pintu tersebut tiba-tiba dibuka oleh Susan.


“Selamat siang papa mertua” sapa Susan belum melihat kehadiran Qania.


“Berani sekali kamu masuk tanpa sopan santun ke ruangan saya” bentak Setya.


Susan hanya tersenyum remeh kemudian berjalan masuk, hingga ia melihat Qania juga berada disana.


“Ngapain dia disini? Apa jangan-jangan dia melihat kejadian tadi dan melaporkan pada om Setya” pikir Susan semakin gugup.


“Lo ngapain disini?” tanya Susan dengan sinisnya, sebenarnya untuk menutupi rasa gugupnya namun hal tersebut dapat dibaca oleh Qania.


“Apa urusanmu? Ini bukan kantor milikmu dan siapa pun berhak berada disini jika memiliki kepentingan” jawab Qania ketus.


“Kamu keluar karena saya ada urusan dengan Qania dan kawannya, sekarang” usir om Setya dengan penuh penekanan.


“Aku tetap disini” ucap Susan bersikeras.


“Ya sudah om, sebaiknya file yang akan kita bahas saya kirimi lewat email saja, saya merasa sumpek berada disini. Sepertinya om perlu menggananti AC ruangan ini” ucap Qania dengan menyindir Susan.


Susan geram namun ia tidak bisa membalas sindiran Qania. Dalam hatinya ia lega karena Qania datang bukan untuk melaporkan kejadian tadi.


“Oh iya ini alamat email om, maaf untuk ketidaknyamanan ini” ucapnya seraya menyerahkan secarik kertas yang sudah ia tuliskan alamat emailnya.


“Kami permisi dulu om, jangan lupa pelajari proposal kami ya om. Saya sangat berharap om mau kerja sama” ucap Qania kemudian menyalimi tangan papa Arkana begitu pun dengan Baron.


“Pamit dulu om” ucap Baron.


“Iya, kalian hati-hati. Secepatnya saya akan memberi kabar” ucap om Setya dengan senyum ramahnya.


Susan hanya bisa memendam kekesalannya dalam hati karena tidak ingin dimarahi oleh calon mertuanya itu.


Setelah Qania dan Baron pergi, Susan langsung mengutarakan maksud kedatangannya.


“Jadi papa mertua, saya hanya ingin mengingatkan bahwa besok adalah hari pernikahan kami. Jika sampai gagal, kalian tahu apa akibatnya bagi usaha kalian dan reputasi keluarga kalian” ancam Susan.


“Tentu saja” jawab Setya acuh.


“Oke saya pergi dulu, jangan lupa siapkan pesta terbaik besok” ucap Susan kemudian melenggang pergi.


........

__ADS_1


__ADS_2