
Tristan POV
Membaca surat keterangan hasil tes DNA itu sontak langsung buat gue jadi geram. Kenapa? Itu pertanyaan yang pertama timbul dibenak gue. Kenapa Qania melakukan ini sedangkan dia tahu sendiri aku ini adalah Tristan Anggara.
Padahal tanpa melakukan itu pun aku bahkan sangat sudi untuk berganti identitas. Gue siap menjadi orang lain demi dia. Tapi ternyata emang dia nggak nganggep semua usaha gue selama ini. Dia ternyata butuhnya Arkana. A-R-K-A-N-A. Sia-sia semua usaha gue selama ini kalau ternyata sebesar dan sehebat apapun yang gue lakuin buat dia tetap saja dia hanya mau Arkana.
Jelas dong gue sakit hati. Kecewa banget malah sama dia sampai gue bilang benci. Entah kenapa kata itu langsung saja keluar dari mulut gue. Gue jadi takut sendiri.
“Tris kamu kenapa? Kenapa nggak datang ke ruangan dokter tadi?”
Pertanyaan Marsya menyentakku. Ya Tuhan, gue lupa kalau ternyata gue tadi datang bersama Marsya.
“Maaf Sya. Tadi ada telepon penting. Gimana kata dokter?” Gue bertanya padanya dan lagi gue semakin pandai berbohong.
“Oh gitu. Ya udah yuk pulang. Eh mampir dulu cari makan,” ucap Marsya kemudian ia menggandeng tangan Tristan.
“Sya, kita kan masing-masing bawa mobil,” ucapku membuat Marsya pun menjadi bingung.
“Kita naik mobil masing-masing aja deh. Aku juga masih ada urusan setelah ini. Oh iya kapan kita mengunjungi Papa?” tanya Marsya lirih dan gue pun baru ingat kalau kami memang berencana kesana.
“Sya, sekarang mendekati jam makan siang. Gimana kalau kita pesan makanan dan bawa kesana buat mengunjungi Om Alvin,” cetusku membuat mata Marsya berbinar.
“Yuk, aku mau,” ucap Marsya dan gue pun langsung bergegas ke mobil gue dan Marsya ke mobilnya.
Posisi mobil Marsya di depan dan gue di belakang. Kita udah mesan makanan di salah satu restoran Om Alvin dan sungguh kami kecewa karena Om Alvin tidak bisa ditemui. Polisi mengatakan besok adalah sidang Om Alvin dan besok bisa menemuinya di pengadilan.
Gue bisa lihat Marsya menitikkan air matanya. Gue tahu apa yang dia rasakan saat ini. Gue langsung rangkul dia. Dia natap gue dan terlihat jelas mata itu mengeluarkan air.
“Sya, besok kita datang ke pengadilan. Aku bakalan temanin kamu. Kuatin hatimu dan mari kita pulang. Aku bakalan antar kamu ke rumah pakai mobilmu. Mobilku biar disini dulu. Oh iya, kita titip saja makanan ini untuk Om Alvin,” ucapku yang membuat Marsya langsung memelukku dari samping.
Gue sangat iba dengan keadaan Marsya sekarang tapi ada sedikit rasa risih berpelukan dengannya. Oh apa yang terjadi dengan gue? Beberapa waktu yang lalu sebelum mengenal Qania gue santai-santai saja kalau Marsya meluk gue? Tapi ini kenapa kayak gini? Apa mungkin karena hati gue cuma buat Qania sekarang?
Sudah, jangan pikirkan wanita itu lagi. Mulai detik ini anggap dia hanya orang asing. Lepaskan dia, ada Marsya yang butuhin gue banget.
“Yuk Sya.”
Marsya nurut aja begitu gue giring menuju ke mobilnya. Gue bukain pintu mobil dan bantu masangin sabuk pengaman buat dia lalu gue putar arah ke kursi kemudi.
Sumpah demi apapun hari ini gue merasa begitu lemas. Gue kalah dan gue kecewa. Apakah ini yang dinamakan patah hati?
Tristan POV end ...
__ADS_1
.... . ....
“Sayang kamu darimana Nak? Papa dengar kamu lebih awal selesai ujian. Kenapa baru sampai di rumah?” tanya Papa Setya yang sedang mengobrol bersama satpam di pintu gerbang.
“Oh iya Pa, aku tadi dari kontrakan buat beresin barang-barang. Sekalian pamitan. Kan besok kita pulang,” jawab Qania.
“Kenapa nggak minta bantuan Papa sih?”
“Nggak perlu Pa. Cuma dikit gini. Oh iya Pa, nanti malam Qania boleh nggak keluar? Teman-teman ngajakin makan buat ngerayain Qania selesai ujian sekaligus malam perpisahan,” tanya Qania.
“Tentu. Sekarang kamu istirahat saja. Kamu sudah makan siang?”
“Sudah Pa. Qania masuk dulu ya Pa,” pamit Qania.
“Iya Nak. Kopernya ditinggal saja disini biar Papa yang bawa kedalam,” ucap Papa Setya.
“Eh, makasih ya Pa,” ucap Qania kemudian ia segera berjalan menuju ke rumah.
Malam hari pun tiba, sesuai dengan kesepakatan bersama teman-temannya, Qania pun berangkat ke sebuah kafe dengan menaiki taksi online. Ia nampak sangat cantik dengan gaya sederhana.
Dua puluh menit akhirnya ia sampai di kafe. Di parkiran ia bertemu dengan Mae yang ternyata baru saja sampai. Qania dan Mae pun berjalan bersama masuk ke dalam kafe. Rupanya di dalam sana sudah ada semua teman-teman mereka dan tinggal keduanya saja yang telat datang.
“Kalian berangkat bareng?” tanya Zakih.
“Duduk dong. Yuk kita pesan makanan. Ada anak sultan yang bakal bayarin semua makanan dan minuman kita malam ini,” ucap Yusuf dan yang lainnya pun bersorak sementara Qania malah tertawa dengan tingkah teman-temannya.
“Ya, pesanlah yang banyak. Jangan pulang kalau nggak kenyang,” ucap Qania menimpali.
Mereka pun memanggil pelayan kafe dan masing-masing menyebutkan pesanan mereka. Sambil menunggu pesanan datang mereka tiada henti mengobrol mulai dari ujian Qania, kepulangan Qania hingga hal-hal yang tidak penting namun menimbulkan gelak tawa.
Di salah satu sudut ruangan ada yang diam-diam tengah mengamati mereka. Ekspresi di wajahnya berubah-ubah mendengar perbincangan mereka yang sampai ke telinganya.
“Kalau begitu saya permisi duluan Pak Tristan. Semoga masalah yang dialami tuan Alvindo tidak benar-benar berdampak pada bisnis kami. Saya sangat berharap padamu,” ucap pria yang bersama Tristan. Pria itu berusia sekitar empat puluh tahun.
“Oh iya Pak silahkan. Saya masih menunggu teman juga tadi ada janji bertemu disini. Saya pun berharap yang sama seperti Anda. Semoga semua tetap berjalan dengan baik,” ucap Tristan meskipun ia menyimpan ragu.
Setelah rekan bisnisnya pergi, Tristan tak melepas pandangannya dari Qania yang tengah menikmati makanannya sambil bercanda. Ada rasa rindu menyelinap di hatinya. Ingin sekali ia menghampiri wanita yang masih menjadi penguasa hatinya itu namun karena teringat terakhir kali ucapannya begitu menyakitkan maka ia cukup tahu diri.
Tristan menahan dirinya dan juga menekan perasaannya.
“Biar aku melihatmu dari jauh saja Qania. Karena rasa itu benar-benar masih sebesar hari kemarin. Ternyata ucapan tak sejalan dengan kenyataan. Kenyataan bahwa dalam hati ini masih menyimpanmu dengan ruangan tanpa cela sedikitpun. Biarlah aku menjadi pengagum dalam diam dan dari kejauhan. Melihatmu baik-baik saja dan dalam keadaan bahagia itu sudah cukup meskipun hatiku terus meronta ingin lebih dari sekadar menatap dari kejauhan.”
Tristan menghela napas. Entah mengapa tangannya tergerak menekan tombol telepon pada nomor Qania.
Qania yang sedang meminum jusnya merasakan ponselnya bergetar dari dalam tas kecilnya. Ia pun bergegas melihat nama pemanggil dan itu membuat raut wajahnya menjadi dingin.
__ADS_1
Mau apa dia? Meminta maaf atau belum puas memakiku? Biar saja lah. Toh aku juga memang salah. Lebih baik memang kami tidak saling menghubungi lagi. Jika pun berjodoh, suatu saat nanti akan ada jalannya meskipun aku pergi jauh, cinta nggak akan kemana-mana, batin Qania.
Tristan melirik ponselnya dan terkejut melihatnya sedang menelepon Qania. Begitu panggilannya berhenti ia pun segera menekan tombol on/off ponselnya.
“Huhh, untung Qania nggak jawab. Mau bicara apa gue kalau dia nanya-nanya,” gumam Tristan.
[Sorry itu hp nggak sengaja kepencet. Jangan GR ya. Kalau bisa Lo hapus aja nomor telepon gue]
Qania mengangkat sebelah alisnya membaca pesan masuk. Ia tak berniat membuka ataupun membalasnya karena ia sudah cukup membacanya saja.
Kekanak-kanakan! Batin Qania.
Qania tidak tahu saja sebenarnya ada yang begitu gusar menunggu balasan darinya.
Bagaimana jika benar Qania menghapus nomor teleponku? Tanya Tristan dalam hatinya.
Satu jam lebib Qania menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan satu jam lebih pula Tristan memantaunya dari kejauhan.
“Qan, kita pasti bakalan rindu. Jangan lupain kita ya. Oh ya, kalau ada lowongan pekerjaan di kantor mertua elo, jangan lupa hubungi gue ya. Gue berharap banget bisa menjadi karyawan dari seorang Setya Wijaya,” ucap Mae dan yang lainnya pun menimpali dengan meminta untuk bisa bekerja di kantor Papa Setya.
“Sweet banget sih. Aku nggak mungkin lah lupain kalian. Dan aku pasti hubungi kalian jika ada lowongan pekerjaan,” ucap Qania sambil mengusap lengan Mae yang terlihat begitu sedih.
“Besok pulang jam berapa Qan? Biar kita bisa ketemu dulu ngasih kenang-kenangan buat kamu?” tanya Lina.
“Ya ampun Lin, nggak usah ih. Aku masih balik juga kan buat wisuda. Nanti aja. Dan besok bakal balik jam empat sore,” jawab Qania.
“Oh hehe, iya ya. Lo kan belum wisuda,” kekeh Lina dan yang lain pun ikut tertawa.
Di sudut sana Tristan terkejut mendengar percakapan mereka.
“Apppaa?! Besok? Pulang?”
Tristan mendadak gusar. Rasa benci sampai seumur hidup itu pun mendadak hilang dan berubah jadi rasa takut kehilangan.
Sial! Kenapa punya mulut bego banget sih? Kenapa coba harus mengatakan seperti itu ke Qania. Kan sekarang jadi siksa sendiri.
Tristan mencoba menghubungi Qania lagi dan lagi. Masih sama tak ada jawaban. Pesannya tak dibalas dan ia masih bisa melihat Qania berpamitan dengan teman-temannya.
Tristan ingin membawa Qania bersamanya. Menahannya untuk malam ini karena besok Qania akan kembali dan entah kapan bisa datang lagi ke kota ini. Ia mengutuk dirinya sendiri yang sudah berucap tanpa dipikir dulu. Jika kemarin-kemarin ia bisa dengan mudah mengajak Qania pergi bersamanya, namun hari ini itu terlihat sangat mustahil.
Sudah hampir sepuluh kali ia menelepon dan beberapa pesan ia kirim namun tidak ada tanggapan. Ia hanya bisa melihat Qania naik ke dalam taksi bersama satu temannya.
“Hahh ... ternyata lebih baik di blokir daripada terhubung tapi tidak mendapat tanggapan,” gerutu Tristan kemudian ia pergi ke kasir dan membayar makanannya lalu bergegas menyusul Qania.
“Sial. Gue kehilangan jejak!” umpatnya memukul kuat setir mobilnya.
Hanya satu tempat tujuan yang akan ia datangi namun sampai di kompleks perumahan itu tidak ada tanda-tanda taksi yang Qania naiki tadi. Tristan pun kembali ke rumahnya dengan perasaan tidak karu-karuan.
__ADS_1
Sedangkan mobil taksi itu memang tadi mengambil arah berbeda sebab Qania meminta agar Mae diantar lebih dulu barulah mengantar dirinya.