Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pulang


__ADS_3

Suasana nampak haru saat para warga berkumpul di rumah pak kadus pagi menjelang siang ini karena para mahasiswa itu akan segera kembali ke kota dan mungkin tidak akan datang lagi ke tempat mereka. Banyak anak-anak yang bersedih ditinggal Qania yang selalu menemani mereka belajar dan juga bermain.


Begitu pun dengan para mahasiswa yang selama ini sudah dianggap sebagai keluarga warga di dusun itu dan menyambut baik kedatangan mereka dua bulan lalu. Qania memeluk beberapa anak bersamaan lalu berganti dengan anak-anak yang lain.


Disana juga ada para siswa dan guru-guru SD yang turut mengantar kepulangan mahasiswa tersebut. Nampak Cila si bocah centil itu menangis sesenggukan karena terus di cuek oleh Witno.


“Pak guru, kenapa pak guru pulangnya cepat sekali? Cila kan belum gede” rengeknya.


Witno meringis mendengar ucapan bocah yang sialnya sangat imut di matanya. Sementara teman-temannya hanya bisa tertawa tanpa suara melihat wajah frustasi Witno.


“Pak guru” panggil Cila sambil menggoyang-goyangkan lengan Witno.


“Cila, pak guru memang sudah harus pulang karena tugas pak guru disini sudah selesai” ucap Witno berusaha menenangkan bocah imut itu yang tidak mau melepaskan genggamannya.


“Tapi pak guru janji ya jangan pacaran sama kakak-kakak disana. Ingat, Cuma Cila yang akan jadi pacar pak guru, oke” tandasnya membuat Witno menganga saking terkejutnya dengan ucapan bocah imut itu.


“Gila Wit, elo ditembak dan diancam sama anak kelas empat SD, ck,ck,ck” ledek Baron sambil berkacak pinggang.


“Hei om, jangan karena Cila masih kelas empat SD om sampai remehin Cila ya” gertaknya membuat Baron kesal karena dipanggil om.


“Dengerin itu om” ejek Raka dengan tawanya.


Alhasil suasana haru tadi berubah menjadi suasana kocak penuh tawa karena bocah imut yang bernama Cila itu.


“Ternyata pesona Witno sangat kuat sehingga anak SD pun sampai tertarik kepadanya” ujar Manda membuat Witno menatap sengit ke arahnya sementara yang ditatap malah tersenyum mengejeknya.


“Pak guru” panggil Cila membuat Witno membuang napas kasar sambil mengelus wajahnya dengan kasar.


“Ada apa lagi Cila?” Tanya Witno kesal.


“Janjinya mana?” tanyanya sambil mengacungkan jari kelingkingnya yang mungil itu.


‘Bocah gendeng, edan, bisa-bisanya dia memaksaku untuk berjanji padanya. Haduh gue merasa seperti pedofil sungguhan’ Witno menggerutu di dalam hatinya.


“Pak gur…”,.


“Iya, iya, pak guru janji” ucap Witno yang akhirnya menyerah dan menyambut jari kelingking bocah itu dengan jari kelingkingnya.


“Cieee jadian nieee” ledek Prayoga.


“So sweet” teriak Elin.


Witno hanya bisa mengumpat dalam hati, bisa-bisanya ia dipecundangi gadis kecil yang masih duduk di kelas empat SD itu, pikirnya. Ia juga melakukan itu karena agar bocah itu berhenti merengek kepadanya, toh dia masih bocah yang belum mengerti apa-apa dan pasti ketika bocah itu beranjak dewasa Witno mungkin sudah memiliki anak.


“Yes, Cila sudah punya pacar sekaligus calon suami. Jangan nakal ya Witno” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Witno membuat pria itu lagi-lagi terkejut.


‘Apa tadi, dia manggil gue Witno? Apa dia gadid dewasa yang bereinkarnasi di tubuh bocah itu.Hah gue semakin frustasi dibuatnya’ gerutu Witno dalam hati.


“Ya sudah, karena hari sudah mulai siang mari kita berangkat” ajak bu Lira yang sedari tadi hanya tertawa menyaksikan drama Witno dan Cila.


Semuanya pun bergantian saling menjabat tangan, hingga tiba giliran Witno dan Cila. Bocah imut itu sudah berderai air mata menatap Witno yang akan meninggalkannya dihari mereka resmi berpacaran. Witno yang melihatnya menjadi iba dan langsung menunduk dan memeluk bocah yang mengaku sebagai pacar dan calon istrinya itu.


“Jangan sedih, belajar yang rajin dan cepatlah dewasa agar bisa menikah denganku. Oke” hibur Witno yang entah kenapa ia tiba-tiba berbicara seperti itu kepada bocah yang selalu mengusiknya itu.


Bagai gayung bersambut, Cila langsung tersenyum dan menatap Witno dengan penuh cinta.


“Makasih kakak, Cila janji akan belajar yang rajin agar bisa segera lulus sekolah. Cila juga akan makan yang banyak biar cepat gede dan bisa menikah dengan kakak” ucapnya bersemangat membuat Witno terkekeh.


Cup…

__ADS_1


“Itu salam perpisahan bee” Cila malu-malu setelah berhasil member ciuman di pipi Witno.


Witno yang mendapat serangan tiba-tiba itu menjadi terdiam sambil memegangi pipinya yang dicium oleh Cila. Pipi pria itu memerah, jantungnya berdegup kencang seolah ia habis melakukan lari marathon.


“Kauu..” geram Witno namun dalam hati entah mengapa ia merasa lucu.


“Kak, foto yuk” ajak Cila membuat Witno mendesah pelan.


“Ya sudah, aku buru-buru. Kemarikan ponselmu” ucap Witno dengan cepat.


“Cila nggak punya ponsel, kakak saja yang memotret kita dengan ponsel kakak, biar kakak ingat denganku. Kalau aku jangan ditanya, karena wajah kakak sudah memenuhi seluruh pikiran dan hatiku” bocah itu berkata bagai gadis dewasa saja.


Witno yang tidak ingin membuat teman-temannya kesal karena lama menunggu pun langsung menurutu keinginan kekasih ciliknya itu. beberapa kali mereka mengambil gambar kemudian menyudahinya.


“Kakak pamit dulu, daa Cila” ucap Witno dengan sangat lembut.


“Kak” panggil Cila manja.


“Apa lagi?” Tanya Witno mulai kesal.


“Ciuman perpisahannya mana, biar aku bisa mengingatnya jika aku rindu” jawabnya tanpa malu.


Witno memutar bola matanya jengah, jika tidak dituruti bocah ini pasti akan terus berbuat ulah. Akhirnya Witno memeluk sekali lagi bocah yang berdiri disampingnya yang tengah berjongkok langsung menarik kepala Cila dan mengecup puncak kepala bocah tersebut.


Cila tersenyum penuh kemenangan setelah membuat kekasihnya itu kesal bukan main kepadanya.


“Cepatlah pergi, kasihan teman-temanmu menunggu. Aku akan merindukanmu, aku akan menjaga hatiku dan kau pun harus melakukan hal yang sama denganku” ucapnya panjang lebar membuat Witno gemas dan mengacak-acak rambut panjang bocah itu kemudian mencubit kedua pipinya.


“Baiklah kakak pergi, sampai jumpa lagi Cila” ucap Witno kemudian berdiri dan melangkah menuju ke motornya.


Semuanya saling melambaikan tangan melepas sebelas orang yang akan meningalkan mereka itu.


Qania yang dibonceng oleh Abdi menikmati perjalanannya sambil mengingat kembali masa-masa ia bersama teman-temannya berada di dusun itu dari awal mereka datang. Saat melewati tempat dimana ia pernah singgah dan berciuman dengan Arkana, Qania pun tersenyum merasa lucu. Tak lupa pula bayangan dimana ia hampir dilecehkan oleh Juna turut hadir dalam ingatannya membuat Qania merasa sesak.


‘Sebentar lagi Arkana Wijaya, sebentar lagi kita akan bertemu dan tidak akan menjalani cinta jarak jauh yang sangat menyiksa ini.


 


*


*


 


Suara bising kendaraan akhirnya bisa mereka dengarkan kembali saat sudah memasuki pusat kabupaten dimana mereka tinggal. Formasi mereka saat pergi berbeda dengan saat pulang dimana sekarang Abdi bersama Qania tetap, Prayoga tetap bersama Elin dan Baron sendirian. Yang awalnya Manda bersama Witno sekarang ia bersama Banyu pacarnya dan Witno sendirian. Ikhlas dan Raka masih bersama menaiki motor Raka.


Pertama-tama mereka mengantar Qania dulu karena yang lainnya ingin tahu dimana rumah Qania sebab besok mereka harus mengurus laporan KKN mereka. Saat sampai di depan rumah Qania, Elin meminta Prayoga menghentikan motornya.


“Kenapa beb?” Tanya Prayoga.


“Gue mau turun lah” jawab Elin.


“Kita kan nganter Qania dulu” cegah Prayoga.


“Ya antar saja, gue mau pulang. Duluan ya Qan, udah capek banget” ucap Elin sambil melirik Qania yang masih duduk di atas motor bersama Abdi.


“Beb” panggil Witno.


“Teman-teman semua jangan lupa nanti mampir ke rumahku juga, oke” ucap Elin kemudian berjalan ke rumahnya.

__ADS_1


“Jadi itu rumah Elin? Kalian tetangga?” Tanya mereka serempak.


“Bukannya sudah pernah aku kasih tahu ya?” Tanya Qania.


“Enggak” jawab mereka kompak sambil menggelengkan kepala mereka.


Qania hanya membuka mulutnya membentuk huruf O dan kemudian turun dari motor Abdi lalu berjalan ke rumahnya.


“Pak Roni, bukain dong gerbangnya” pinta Qania dengan sopan.


“Wah neng Qania udah pulang” teriaknya saking bahagia kemudian bergegas membuka pintu gerbang pagar rumah itu.


“Teman-teman mau mampir dulu nggak?” Tanya Qania.


“Nggak deh Qan, gue udah capek banget” tolak Manda.


“Gue mampir ah, mau kenalan sama mama mertua” ucap Raka membuat Ikhlas yang berada di boncengannya menepuk keras helm Raka.


“Ya sudah Qan, kita balik dulu. Sampai ketemu jam sepulu besok” ucap Baron kemudian menyalakan mesin motornya.


Qania menunggui hingga semua teman-temannya pergi barulah ia masuk ke dalam rumah.


“Akhirnya sampai juga di rumah. Assalamu’alaikum, ma, pa” panggil Qania sambil berjalan memasuki rumahnya.


“Loh kok sepi sih? Ini kan sudah waktunya makan malam” gumam Qania sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.


“Eh non Qania sudah pulang” teriak bi Eti yang baru saja datang dari kamarnya dan hendak keluar menuju ke pos pak Roni.


“Hai bi, kok rumah sepi sih?” Tanya Qania.


“Oh itu, nyonya sama tuan sedang pergi perjalanan dinas sementara adik sedang pergi bersama nak Arkana” jawab bi Eti.


“Wah, sejak kapan mereka akrab bi?” Tanya Qania merasa terkejut mendengar adiknya pergi bersama tunangannya.


“Semenjak non Qania nggak ada di rumah mereka sering pergi bersama” jawab bi Eti membuat Qania mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Oh gitu ya bi. Ya sudah, Qania ke kamar dulu” pamitnya.


Setelah Qania pergi, bi Eti juga langsung keluar menemui suaminya yaitu pak Roni.


Qania membuka pintu kamarnya, ia tersenyum karena kamarnya masih sama seperti dua bulan lalu, mungkin karena tidak ada yang menempati jadi tidak ada tatanan yang berubah dan juga pasti selalu dibersihkan.


“Ahh, akhirnya kasur empukku kita menyatu lagi” ucap Qania saat ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


Qania yang sudah sangat lelah berjalan gontai untuk mematikan lampu kamarnya dan menyisakan lampu tidur yang temaran sebab selama dua bulan di desa ia sudah terbiasa dengan keadaan kamar yang redup. Setelahnya, Qania kemudian menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan dalam hitungan detik Qania pun tertidur dan tentu saja ia sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya tetapi ia tidak membersihkan dirinya dulu alias tidak mandi, katanya sudah biasa.


 


*


*


 


Arkana membuka pintu kamar, kemudian ia menutup kembali pintunya. Dengan malas ia berjalan ke tempat tidurnya dan langsung berbaring sambil menutup matanya karena rasa kantuk sudah menyerangnya.


“Qania, aku merindukanmu. Sangat, sangat, dan sangat merindukanmu” racaunya di dalam mimpi.


 

__ADS_1


...☘☘☘☘☘☘...


__ADS_2