Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pertemuan di Mall


__ADS_3

Sesuai kesepakatan Qania dan Elin, mereka hari ini akan pergi ke mall untuk membeli hadiah dan beberapa keperluan untuk pesta pernikahan Ghaisan sementara Arkana membantu di rumah Elin. Kedua gadis itu bercanda ria di atas motor yang dikendarai oleh Elin hingga tak terasa mereka sudah sampai di parkiran mall.


Keduanya pun bergegas masuk mencari toko khusus perlengkapan pria karena mereka akan mencari hadiah untuk Ghaisan lebih dulu barulah hadiah untuk Syifa. Saat tengah asyik berjalan sambil mengobrol, tak sengaja Elin menabrak seseorang yang juga tengah asyik mengobrol tanpa melihat ke depan.


“Awww, punya mata nggak sih lo” umpatnya sambil berusaha berdiri dibantu oleh orang yang sedang bersamanya.


“Beb lo nggak apa-apa kan? Mana yang sakit?” tanyanya khawatir.


Merasa familiar dengan suara tersebut, Elin yang tengah berusaha berdiri pun menegakkan kepalanya.


Degg….


“Fadly” gumam Elin.


Pria dan wanita yang baru saja bertabrakan dengan Elin adalah Adel dan Fadly kekasihnya. Sementara Qania yang sedang memegang tangan Elin pun mengalihkan pandangannya.


Qania sangat syok begitu melihat pasangan di depannya itu.


“Sampah tetaplah sampah” cibir Qania kemudian melangkah mendekati dua orang yang tengah saling memberi perhatian tanpa melihat orang di depannya.


Plakkkkk……


Fadly meringis karena mendapat tamparan secara tiba-tiba, ia pun merasa geram dan langsung menoleh kepada orang yang menamparnya.


“Kenapa, mau marah? Mau balik nampar? Mau bunuh gue? Mau protes? Bilang” bentak Qania yang sudah sangat kesal.


“Qania, Elin” gumam Fadly.


“Kenapa? Terkejut? Mendadak lupa ingatan? Atau apa?” teriak Qania dengan nada membentak.


“Aku terkejut” ucap Elin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Fadly yang sangat syok kedapatan tengah berselingkuh pun tidak bisa berkata apa-apa sementara Adel tengah tersenyum senang menikmati drama di depannya ini.


“Sayang, aku bisa jelasin” bujuk Fadly sambil melangkah mendekati Elin namun langkahnya dicegah oleh Qania.


“Jangan dekati Elin dan jangan pernah lo sentuh dia dengan tangan kotor lo” ucap Qania dingin dengan tatapan mata membunuh yang ia layangkan kepada Fadly.


“Qan lepasin gue, gue mau ngomong sama Elin” teriak Fadly dan itu mengundang perhatian orang-orang yang berada di dekat mereka.


“Gue udah nututin semua keburukan saudaramu dari Elin agar hubungan kalian tidak terhalang, bahkan Ghaisan yang menjadi korban penusukan Fandy pun bungkam demi kebahagiaan adiknya, begitu juga dengan Arkana yang diam menutupi tindakan lo yang memukuli dia di mall karena membela si brengsek Fandy dan sekarang elo di depan mata kita kedapatan berselingku. Waw, lo sungguh waw Fadly” Qania bertepuk tangan dengan memberikan senyum meremehkan.


“Tunggu Qan, apa maksud kamu?” Tanya Elin bingung dengan ucapan Qania.


“Iya Lin, asal kamu tahu kakakmu itu bukan terkena serangan dari musuhnya melainkan ia ditusuk belati oleh Fadly dan waktu itu Arkana juga kena bogem dari Fadly karena berusaha membela Fandy. Ghaisan meminta kami tutup mulut demi hubunganmu, tapi tidak kali ini” cerita Qania membuat Elin semakin syok.


“Sayang” panggil Fadly lirih.


“Jangan pernah panggil dia sayang dengan mulut penuh kebohongan lo” bentak Qania dan kini suaranya semakin lantang.


“Qania stop ikut campur urusan kami dan jangan menyela ucapan gue” ucap Fadly balik membentak.


“Kenapa gue nggak boleh ikut campur hah? gue bahkan menyesal karena gue udah kenalin sahabat gue ke elo yang nggak ada bedanya sama kakak lo, sama-sama brengsek” bagai kerasukan setan, Qania terus saja menyerang Fadly dengan kata-katanya yang penuh dengan penekanan dan makian.


“Sayang apa yang kamu lihat ini nggak seperti yang kamu pikirin” Fadly mencoba meminta belas kasihan dari Elin.


“Hahaha, sudah kedapatan malah mengelak. Oh ya gue beri tahu satu rahasia, elo sama cewek ini sudah menjalin hubungan dari tiga bulan yang lalu bukan?” ungkap Qania membuat Elin semakin syok, ia menutup mulutnya dengan tangannya dan air matanya kembali menetes.


“Lo, bagaimana bisa?” gumam Fadly sangat terkejut.


“Terkejut?” Tanya Qania menyindir Fadly.


“Qan bagaimana bisa kamu tahu sebanyak ini?” Tanya Elin dengan isak tangisnya.


Qania yang melihat Elin sangat terpukul semakin geram kepada dua manusia di depannya itu.


“Karena gue yang udah buat kalian jadian maka gue juga yang bakalan misahin kalian. Gue nggak mau sahabat gue sakit hati lebih jauh jika dia tahu alasan apa yang membuat pacarnya ini selingkuh” ucap Qania dengan aura yang begitu dingin sedang matanya menatap sengit kepada Fadly.

__ADS_1


“Haha Qania, jangan sok tahu kamu. Jangan jadi provokator” ejek Fadly.


“Oh begitu, lo nuduh gue memprovokasi Elin? Oke biar gue jelasin disini biar semuanya dengar. Elin sahabat gue tersayang, lo mau tahu kenapa pacar kebanggan elo ini selingku? Itu karena elo nggak bisa ngasih dia kesucian elo padahal sudah lama ia menunggu dan lo nggak mau memberikannya. Itu yang membuat dia lari kepada wanita sialan di sebelahnya itu. Wanita itu lah yang sudah memenuhi hasrat terpendam cowok lo selama tiga bulan ini, ah simpelnya mereka sering tidur bersama selama elo nggak ada” ungkap Qania membuat Adel dan Fadly malu.


“Fadly kita putus” bentak Elin kemudian tangisnya pecah.


“Siapa yang mutusin dan siapa juga yang nangis” nyinyir Adel.


Tiba-tiba saja Qania kembali tersulut emosi saat mendengar ucapan Adel padahal tadi ia sudah sangat terpukul melihat keadaan sahabatnya itu. tanpa di duga Qania berjalan dan langsung menjambak rambut Adel.


Plakk…


Plak…


“Dua tamparan buat wanita murahan kayak lo. Ah sial kenapa gue malah ngotorin tangan gue sih” gerutu Qania sambil menepuk-nepuk tangannya seolah tengah membersihkan debu.


Adel sangat kesal karena mendapat dua tamparan sekaligus dari gadis yang selalu ingin ia singkirkan dan kalahkan itu pun langsung merengek pada Fadly.


“Kalau lo nggak balas tamparan Qania, jangan harap lo bisa dapat jatah dari gue” bisiknya pada Fadly penuh ancaman.


Fadly yang sudah kecanduan dengan berhubungan intim pun langsung bergegas menarik rambut Qania yang tengah berjalan menghampiri Elin.


“Beraninya lo nampar Adel” bentak Fadly yang sudah mengangkat tangannya.


“Hahaha, kenapa nggak jadi tampar? Lin, kamu udah lihat sendiri kan gimana cowok kamu mati-matian membela wanita itu, kamu bisa simpulkan sendiri jawabannya” ucap Qania sambil memandang remeh kepada Fadly dan terbit senyuman sinis di bibir Qania.


Fadly yang tersadar pun segera melepaskan rambut Qania dan menurunkan tangannya.


“Sayang ku moho…”,.


“Jangan pernah bicara apapun ke gue, mulai sekarang kita adalah dua orang asing” tukas Elin membuat Fadly mengerang frustasi.


Merasa kesal karena Qania sudah merusak hubungannya membuat Fadly gelap mata dan langsung maju untuk menyerang Qania. Baru saja ia akan menampar pipi Qania, sebuah tangan kekar menghalanginya.


“Banci, beraninya sama cewek” cibirnya.


“Yang jelas gue adalah orang yang bakalan gantiin posisi lo di hati Felin” ucapnya kemudian menghempaskan tangan Fadly dengan kasar.


Siapa lagi kalau bukan Prayoga, ia tidak sengaja melihat pertengkaran Qania dan Fadly saat ia tengah menemani mamanya berbelanja di mall.


“Yoga” panggil Elin lirih.


“Tenang Fel, ada gue disini” ucapnya stay cool.


“Makasih saudaraku yang paling tampan” ucap Qania sambil merangkul pundak Prayoga.


“Sama-sama my sista” jawab Prayoga.


Prayoga membawa Elin dan Qania dalam rangkulannya untuk berjalan meninggalkan Fadly dan Adel, namun baru beberapa langkah mereka pun langsung terhenti karena teriakan Fadly.


“ELIN BERHENTI DAN BALIK KE AKU KALAU KAMU TIDAK MAU KITA PUTUS”,.


Elin pun diam kemudian berbalik dan berjalan ke arah Fadly membuatnya merasa menang kali ini. Berbeda dengan Qania dan Prayoga yang menatap datar pada Elin sementara Adel ia sedang tersenyum kecut karena menahan malu dilihati banyak orang dan ia juga mendengar orang-orang menggunjingnya akibat ucapan Qania tadi.


‘Sialan lo Qania, awas saja lo setelah ini giliran pacar lo yang tampan itu bakalan gue rebut. Dia pasti gak bakalan nolak gue, hahahaha’,.


Elin tersenyum sangat manis kepada Fadly dan Fadly pun membalas senyum itu tak kalah manisnya.


“Aku tahu kamu bak…”,.


Plakkkk…..


“Jangan terlalu pede jadi laki-laki bro. oh ya apa tadi kamu bilang, putus? Emang kita pernah jadian? Emang kita saling kenal gitu?” ejek Elin sambil menampilkan senyum dan tatapan penuh ejekan.


Fadly terdiam sambil memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh Elin dan juga rasa sesak di dadanya ketika Elin berkata seperti itu kepadanya.


Lain halnya dengan Qania, ia sangat hapal dengan sifat Elin yang akan berbicara seperti itu jika ia diputuskan pacarnya. Bukan hanya sekali ini Qania mendengar dan melihat Elin mengatakan itu saat diputuskan pacarnya.

__ADS_1


Qania tersenyum penuh kemenangan sambil menatap kepada Fadly dan Adel, kemudian ia berjalan pergi setelah Elin datang. Ketiganya pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa berbicara apa pun.


“Oke girls, gue nganterinnya sampai disini aja ya. Kasihan nyokap gue di dalam lagi nungguin” ucap Prayoga sambil berusaha menatap datar pada Elin.


“Makasih Yoga” ucap Elin lirih.


“Sama-sama beb, jangan nangis lagi ya entar kamu kelihatan makin cantik kalau lagi nangis” gombal Yoga.


“Eh emang ya, orang tuh kalau mau bujukin orang nangis dibilang jadi jelek tapi ini kok malah bilangnya makin cantik” gerutu Elin.


“Yaiyalah makin cantik, saat kamu nangis kayak gini kan berarti peluang gue makin besar” gumam Prayoga.


“Lo ngomong apa sih, bisa gak suaranya dibesarin dikit?” Tanya Elin sambil menatap Prayoga yang memiliki tubuh tegap dan tingginya sebelas dua belas dengan Arkana itu.


“Nggak ngomong apa-apa kok” elak Prayoga.


“Nggak ngomong tapi mulutnya komat-kamit” ketus elin.


Prayoga hanya cekikikan sementara Qania diam saja sambil tersenyum melihat perdebatan dua orang yang saling menyukai namun belum bisa meresmikan hubungan mereka itu.


 


*


*


 


Saat ini Qania dan Elin saling menatap satu sama lain kemudian beralih menatap ke motor Elin. Rencana mencari hadiah untuk pernikahan Ghaisan dan Syifa pun gagal karena pertemuan yang menyakitkan tadi. Melihat kondisi Elin yang sedang kacau dan sangat terpuruk itu membuat Qania memberanikan diri untuk menyetir karena kondisi Elin yang kacau tidak memungkinkan ia untuk menyetir dengan baik.


Awalnya Elin ragu, namun karena Qania meyakinkannya dengan embel-embel “Gue ini pacarnya pembalap nomor satu di provinsi kita, masa ia gue nggak bisa Cuma bawa motor matic doang” makanya Elin setuju karena ia juga berpikir pasti Arkana sudah mengajari Qania menyetir motor dan mobil.


“Ya udah deh, aku percaya kamu kan pacarnya Arkana si pembalap itu. mustahil kamu nggak bisa nyetir motor matic doang” ucap Elin sedikit mengejek.


“Kau meragukanku sista?” Tanya Qania pura-pura kesal.


“Sama sekali tidak sista, aku mengakui kemampuan tunanganmu itu dalam hal menyetir motor” jawab Elin sambil memberikan kunci motornya pada Qania.


“Hei yang sedang aku bahas itu kemampuanku bukan si brengsek itu” pekik Qania tak terima.


“Brengsek brengsek gitu tapi lo demen dan lo cinta mati bahkan lo bucin baday” ledek Elin kemudian keduanya sama-sama tertawa.


“Lo nih kalau ngomong dihh”,.


“Suka bener”,.


Keduanya pun kembali tertawa, sambil menarik motor |Elin dari parkiran dan membelokkannya. Prayoga yang sebenarnya masih berada disana namun tidk menampakkan diri ikut senang melihat bagaimana kedua gadis itu bisa dengan mudah merubah mood mereka dari yang tadinya tegang menjadi sedih kemudian menjadi tawa.


“Gue kira Cuma Qania doang yang gampang mengendalikan situasi hatinya di waktu yang bersamaan, ternyata sahabatnya juga bisa. Qania, Qania, elo memang yang terbaik tapi sayang lo udah punya tambatan hati, tapi satu hal dari awal kok gue nggak pernah ngerasain jatuh cinta yak e Qania? Apa karena gue terlalu rendah dan dia terlalu tinggi atau emang dia buakn tipe gue?” gumam Prayoga sambil menatap Qania dan Elin yang tengah beradu argument itu.


Di belakang Prayoga juga ada seorang pria yang tengah menatap lekat ke arah dua gadis yang tengah tertawa itu.


“Sampai kapan pun gue nggak bakalan ngelepasin elo Lin. Sejarah antara Fandy dan Qania mungkin akan terulang lagi, tapi kali ini gue pastikan gue lah yang akan jadi pemenang dan cowok tadi bakalan jadi pecundang” Fadly mengepalkan kedua tangannya saat melihat Prayoga tengah tersenyum manismenatap dua gadis yang sedang ia perhatikan juga.


Prayoga kembali masuk untuk menemui ibunya yang tengah menunggu di salah satu toko di dalam mall itu setelah memastikan Qania dan Elin pergi. Saat ia berbalik, tak sengaja ia melihat keberadaan Fadly membuatnya mendapat ide. Ia pun berjalan sambil bersiul melewati Fadly dengan langkah yang sangat pelan.


“Jangan-jangan kau menolak cintaku, jangann-jangan kau hiraukan pacarmu, putuskan lah saja pacarmu, lalu bilang I love you, padaku”,.


Prayoga sengaja menyanyikan sepenggal lagu itu untuk memanas-manasi Fadly yang sedang menatap sinis kepadanya.


“Brengsek” makinya.


Prayoga melewatinya begitu saja dan sengaja menabrak bahu Fadly membuatnya mengumpati Prayoga yang berlalu secepat kilat tanpa mempedulikan sumpah serapah yang diucapkannya. Tingkat kejahilan, keusilan dan ketengikan para penghuni fakultas teknik memang tidak diragukan lagi. Jadi jangan heran dengan sikap Prayoga yang tidak pikir panjang langsung menabuh genderang perang kepada Fadly. Ia tidak merasa takut dengan tatapan mata membunuh yangt dilayangkan Fadly kepadanya, justru hal itu menjadi kesenangan tersendiri untuknya.


 


 

__ADS_1


...☘☘☘☘☘☘☘☘...


__ADS_2