
Sekitar pukul dua belas malam Qania dan Arkana sampai di rumah Qania namun keduanya masih terus tertawa.
“Sayang udah dong, aku malu tahu” rengek Arkana.
“Hahaha, ngapain malu sayang. Menurut aku itu lucu” ucap Qania menyeka air matanya.
“Lucu apanya, yang ada itu bikin aku malu. Bikin kamu capek juga kan” lirih Arkana.
“Hei sayang aku nggak malu, aku nggak capek juga. Bagi aku itu sangat menyenangkan” Qania mengelus bahu Arkana untuk meyakinkan lelaki itu.
🍀 Beberapa saat yang lalu……..
Tadi saat mereka tengah menikmati momen kebersamaan di atas motor uang tengah melaju di atas aspal itu, tiba-tiba saja motor Arkana mati.
Arkana dan Qania terpaksa turun dan mendorong motor keluar dari jalur jalan raya. Arkana mengecek mesin motornya sementara Qania duduk selonjoran di pinggir jalan sambil mengamati apa yang tengah Arkana lakukan.
“Sayang ke bengkel aja” ajak Qania.
“Ini udah hampir tengah malam sayang, nggak ada bengkel yang buka” sahut Arkana masih memperhatikan mesin motornya.
“Emang kamu ada bawa peralatan untuk memperbaiki motor?” tanya Qania lagi.
“Kamu lihat motor aku modelnya kayak gini ya mana bisa bawa peralatan” jawab Arkana menghela napas.
Sekitar sepuluh menit Arkana terus mengecek motornya namun tidak ada yang bermasalah karena motor itu sangat terawat.
“Sayang” panggil Arkana ragu-ragu.
“Iya sayang, gimana motornya?” tanya Qania yang sudah mulai mengantuk.
“Sebenarnya motor ini nggak apa-apa sayang” Arkana menggantung ucapannya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lalu?” tanya Qania menatap penuh rasa penasaran.
“Itu sayang, bensinnya habis, hehe” jawab Arkana malu-malu.
Qania terdiam sesaat kemudian tawa pecah dari mulutnya.
“Hahaha, pantas saja, hahaha” Qania tidak berhenti tertawa sementara Arkana membuang muka karena merasa malu.
Qania yang melihat kekasihnya itu sudah malu dan merasa canggung langsung menghentikan tawanya. Ia berdiri dan berjalan mendekati Arkana.
“Yuk sayang” ajak Qania.
Arkana hanya menatap menelisik maksud dari ajakan Qania. Qania yang mengerti langsung kembali bersuara.
“Ayo pulang” lanjut Qania.
Arkana menaikkan sebelas alisnya masih enggan bicara.
“Ayo kita dorong”,.
Arkana melotot mendengar penuturan Qania, yang benar saja ia mengajak pujaan hatinya itu mendorong motornya yang berat.
“Nggak, jangan gila sayang. Aku bakalan telepon Fero atau Rizal, mungkin saja mereka masih di kafe” tolak Arkana.
“Sayang ini sudah hampir larut malam, mereka pasti sudah pulang” ucap Qania.
Arkana membenarkan ucapan Qania, karena setelah Arkana memutuskan untuk membantu papanya mengurus hotel, jam kerja di kafe kembali ke jam semula. Mengenai beberapa karyawannya pun ia sudah ia tempatkan di hotel Ayumi milik papanya. Arkana tidak tega jika membuat mereka menjadi pengangguran.
“Nggak usah lama berpikirnya, ayo sayang. Emang kamu mau kita disini sampai pagi? Kamu mau nyuruh aku tidur di pinggil jalan?” tanya Qania, sebenarnya ia sangat ingin merasakan gaya pacaran sambil mendorong motor yang kehabisan bensin.
‘Pasti seru’ pikir Qania.
“Kamu yakin sayang? Pertamina masih jauh” tanya Arkana khawatir.
“Aku yakin, lagian kita beli bensinnya di warung begadang aja. Aku rasa itu hanya beberapa ratus meter dari sini” ucap Qania.
“Ya sudah kalau kamu memaksa” ucap Arkana menurut.
Qania terkekeh mendengar Arkana yang tidak mendebatnya. Ini bukan pertama kalinya, ia sudah beberapa kali mendorong motor bersama Baron dan juga Rey saat motor mereka tiba-tiba mati karena kehabisan bensin atau ada masalah dengan mesinnya.
“Semangat amat” goda Arkana saat Qania dengan semangatnya mendorong motor di belakangnya.
“Kamu tahu sayang, aku udah beberapa kali ngelakuin ini. Ya meski pun tidak seberat motor kamu” cerita Qania membuat Arkana menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Qania.
“Oh ya?” Arkana menatap Qania dengan sebelah alisnya terangkat.
‘Cemburu, gue cemburu’ jerit batin Arkana.
“Iya sayang, pernah sekali sore-sore pulang dari kampus aku dorong motor sama Baron. Pernah juga siang bolong yang panasnya minta ampun itu aku bantuin Rey dorong motor juga karena kehabisan bensin. Hahh, betis aku sampai berotot karena ulah Rey yang lupa ngisi bensin” cerita Qania sambil mengingat kejadian menyebalkan dan juga cukup menggelitik itu.
Arkana menggulum senyum, ia sempat merasa cemburu karena mengira Qania melakukannya bersama mantannya tapi ternyata bersama teman-temannya yang sudah cukup akrab dengannya.
“Nggak usah senyum, aku tahu tadi kamu cemburu dan mengira aku pernah dorong-dorong motor sama mantan aku, kan?” tandas Qania membuat Arkana salah tingkah.
__ADS_1
“Sangat cerdas” puji Arkana kemudian menertawakan kecemburuannya yang belum jelas kebenarannya.
“Ayoo, aku semangat empat lima ini. Sebentar lagi sampai di warung begadang”,.
Arkana yang melihat kekasihnya begitu bersemangat, ia pun menjadi lebih semangat. Keduanya tertawa sambil mendorong motor hingga sampai di warung begadang.
Setelah mengisi beberapa botol bensin, keduanya pun memutuskan untuk pulang karena waktu menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit malam.
🌻
🌻
“Sayang, bagiku tadi itu sangat romantis. Percaya deh, aku tadi sangat senang dan sangat sangat bahagia. Dalam hubungan kita jangan hanya mengajak pasangan kita untuk hidup senang, sesekali ajak susah juga karena dari situ kita akan tahu siapa yang benar-benar tulus dengan kita” ucap Qania serius setelah tadi sibuk menertawai kejadian mereka.
Arkana tertegun mendengar perkataan Qania, senyum terbit di bibirnya.
“Sayangnya aku emang the best, mama nggak salah nyariin aku jodoh” ucap Arkana kemudian membawa Qania ke dalam dekapannya.
“Ekhmmmm….”,.
Arkana dan Qania menoleh kearah suara yang baru saja berdehem. Pandang mereka tertuju pada pintu rumah Qania dimana papanya sedang berdiri di ambang pintu sambil menyaksikan mereka beromantis ria dengan kedua tangannya ia letakkan di pinggangnya.
Arkana melepaskan Qania lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, malu dan canggung bercampur jadi satu
Sementara Qania tertawa melihat wajah malu Arkana dan juga ia merasa gugup karena kedapatan bermesraan.
“Masuk” panggil Zafran memasang wajah datarnya.
Qania menatap Arkana kemudian beralih menatap kearah papanya. Langkah kaki Qania terasa berat karena hatinya begitu enggan meninggalkan Arkana.
Qania yang masuk ke dalam rumahnya sambil melamun itu tidak menyadari bahwa Arkana juga ikut masuk di belakangnya.
Saat Qania berbalik ingin kembali melihat Arkana yang menurutnya masih berada diluar karena ia belum mendengar suara motor Arkana, ia langsung menabrak Arkana dan kepalanya terbentur di dada bidang Arkana.
“Awwwhh..” ringis Qania.
“Pppffffhhtt” papa Qania tertawa melihat kelakuan konyol anaknya.
Sementara Arkana tersenyum, senyuman penuh ledekan menurut Qania.
“Papa ini sakit tahu” gerutu Qania sambil memegangi dahinya.
“Oh papa baru tahu kalau dada Arkana juga bisa terasa sakit, setahu papa selama ini kamu nyaman-nyaman aja tuh bersandar di dada Arka” ledek papanya.
“Papaaaaa….” Qania berteriak kesal.
Kedua pria itu hanya tertawa.
“Qania, masuk ke kamar dan istirahat nak. Dan kamu Arka, kamu tidur di atas di kamar Syaquile soalnya anak itu sedang mengikuti kemah. Ah papa nggak percaya sampai saat ini, anak itu bisa juga berbaur” ungkap papa Qania sambil memijat pelipisnya.
“Oh ya pa? Tapi baguslah” ucap Qania kemudian meninggalkan dua pria itu.
Arkana hanya tersenyum, didikannya untuk merubah sudut pandang Syaquile tentang bersosial dengan teman sebayanya mulai berhasil.
“Kamu tidurlah nak, papa tahu kamu sangat lelah hari ini” ucap Zafran sambil mengusap bahu Arkana.
“Iya pa. Emm pa bolehkah.?” Arkana menggantung ucapannya.
“Hmm, tunggu dia tidur supaya dia tidak menyadarinya. Ingat, papa kasih kamu kebebasan dan kamu harus menjaga kepercayaan papa” jawab Zafran yang mengerti maksud Arkana.
“Terima kasih pa, Arka tidak akan mengecewakan papa” Arkana memeluk Zafran kemudian menyusul Qania naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Syaquile.
🌺
🌺
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Qania mengganti pakaiannya. Ia kemudian berjalan ke tempat tidur.
“Ya ampun aku lupa, tadi pembagian kelompok KKN. Qania bergegas mencari ponselnya yang sedari tadi dalam tas salempangnya dengan mode silent.
Saat Qania melihat ponselnya, ia terkejut karena banyaknya chat dari grup KKN dan juga grup Pengurus Inti HMTS. Qania kembali ke tempat tidurnya dan langsung membuka chat di grup KKN.
Qania mulai mencari foto nama-nama mahasiswa yang sedesa dengannya. Ia mengingat bahwa dusun di desa yang akan ia datangi nomor peserta KKN hanya sampai sepuluh orang saja
Qania sudah mengetahui desa mana yang akan menjadi lokasi KKNnya sewaktu ia datang mendaftar diantar oleh papanya. Ia mengisi daftar nama dan ia tidak tahu siapa saja yang menjadi teman sekelompoknya karena pada saat itu, di dusun yang ia isi barulah namanya belum ada yang mengisi selain dirinya.
Qania terkejut juga senang karena ia sekelompok dengan beberapa teman sejurusannya.
Qania beralih ke grup pengurus inti HMTS, dimana grup tersebut masih ramai. Qania cekikikan membaca chat mereka yang sedang membahas kelompok KKN, ia juga tertawa karena mereka terus menanyakan keberadaannya juga Cika. Hanya saja Cika sudah muncul di grup, mungkin ia sudah lebih dulu pulang.
Grup Pengurus Inti HMTS
“Hai guys, selamat dini hari 😁” Qania.
“Nah ini nih orang yang dicariin udah nongol” Prayoga.
__ADS_1
“Abis malam perpisahan dia 🤣” Cika.
“Emang kamu enggak Cik 🤣” Qania.
“😁😁😁” Cika.
“Aku kok Cuma cewek sendiri sih di kelompok, ntar aku curhat sama siapa, hikkss 😭😭” Qania.
“Mana ada Yoga lagi, si biang onar 🤭😁😁” Qania.
“Woy orangnya ada woy” Prayoga.
“Oh ada toh, gue kira udah pingsan” Abdi.
“Tega bener lu Kirman” Prayoga.
“Qan, lo enak ada Abdi, Yoga sama Baron. Lah gue Cuma sama Yani doang dari jurusan kita, nggak ada cowoknya dari kita, hikksss 😭😭” Cika.
“Kamu masih mending Cik, lah aku sama tiga cowok pembuat onar, haahh” Qania.
“Tau ah” Prayoya.
“Baron kemana?” Abdi.
“Tadi dia lagi ngurus barang-barang yang bakalan dia bawa” Prayoga.
“Lah tuh anak nggak perlu bawa banyak baju, orang dianya jarang mandi 😁😁” Abdi.
“Gue baca bro” Baron.
“Gue pamit bobo” Cika.
“Eh guys ada pemberitahuan grup baru nggak?” Qania.
“Iya ada” Abdi.
“Grup dusun kita” Prayoga.
“Kita ke grup itu yuk” Baron.
“Eh dosen pendamping kita bu Lira 😊😊” Qania.
“Senangnya dosen sendiri, nggak bakalan banyak drama” Prayoga.
“Ke grup bu Lira yuk” Abdi.
Baron, Qania, Abdi dan Prayoga pun bergabung di grup yang sunyi itu.
“Malam” Abdi.
“Hallo” Qania.
“Hadir bu” Baron.
“Absen malam bu” Prayoga.
“Ibu sudah tebak kalian pasti belum tidur” bu Lira.
“Ibu tahu aja” Qania.
“Tidur sana, besok kumpul di kampus jam sembilan” bu Lira.
Qania, Baron, Abdi dan Prayoga langsung membalas iya pada bu Lira dan mengakhiri chat tersebut.
🍀
🍀
Arkana membuka perlahan pintu kamar Qania dan melihat tunangannya itu sudah tertidur lelap. Arkana berjalan mendekati Qania dan menarik bangku di meja rias Qania ke samping tempat tidur Qania.
Arkana mengelus kepala Qania dengan lembut dan penuh kasih sayang lalu mengecup mesra kening Qania. Ia merebahkan kepalanya di samping Qania, sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
Tiba-tiba Arkana teringat akan kalung pemberian dari almarhumah mamanya yang selalu ia bawa karena berada di dalam dompetnya.
Arkana mengeluarkan kalung tersebut kemudian mengambil cincin tunangan di jari Qania, ia kemudian memasukkan cincin itu ke kalung miliknya dan memasangkannya di leher Qania. Arkana mengecup kening Qania sebelum ia tertidur dengan posisi tangannya menggenggam tangan Qania, ia duduk di bangku serta kepalanya menunduk di atas kasur di sebelah Qania.
Semua perlakuan Arkana tidak luput dari pandangan mata Zafran yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kamar Qania yang sengaja tidak di tutup oleh Arkana dan tanpa Arkana sadari. Zafran tersenyum kemudian meninggalkan kamar Qania menuju ke kamarnya.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1