Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Belajar mengendarai


__ADS_3

Arkana baru saja keluar dari warung makan setelah membayar makanannya dengan Qania. Qania yang menunggu di depan warung tersebut langsung tersenyum melihat Arkana sudah keluar sambil bersiul.


“Sayang aku boleh minta tolong nggak?” Tanya Qania saat naik ke atas motor.


“Boleh sayang, mau minta tolong apa sih?” Tanya Arkana yang mulai melajukan motornya di jalan raya.


“Aku pingin belajar mengendarai motor sayang” jawab Qania dengan suara pelan, ia masih merasa ragu.


“Tentu boleh sayang, aku dengan senang hati ngajarin kamu. Tapi kok tiba-tiba sih?”


“Aku hanya ingin belajar saja sayang, jadi kalau nanti tiba-tiba aku ada urusan dan kamu lagi nggak bisa nganterin aku, aku kan bisa sendiri”


“Benar juga, tapi bukan pakai motor ini ya sayang. Kita ke kafe pinjam motor matic karyawan aku dulu”


“Makasih sayang” Qania semakin mempererat pelukannya.


 


💐Di lapangan


Arkana menghentikan motor matic milik Pia, setelah tadi Pia dengan senang hati meminjaminya.


“Sayang, demi keamanan dan keselamatan kamu yang baru akan belajar mengendarai motor, kita belajarnya di sini saja. Selain luas, di sini juga aman dari kendaraan yang lainnya” ucap Arkana kemudian turun dari motor diikuti oleh Qania.


“Siap sayang” jawab Qania sambil member hormat membuat Arkana tertawa.


“Ya sudah kamu naik dan aku akan duduk di belakang kamu” pinta Arkana.


Qania menurutinya, dengan semangat ia menaiki motor tersebut dan Arkana juga ikut duduk di belakangnya.


“Pertama yang harus kamu lakukan itu kamu harus memasukkan kuncinya terus putar ke arah ini, kemudian tangan kanan kamu ini pegang gas dan juga rem seperti ini” ucap Arkana memberi instruksi pada Qania. “Mesinnya hidupkan?”


“Iya sayang, terus gimana lagi?” Tanya Qania kegirangan.


“Kamu lepas perlahan jari kamu yang menyentuh rem, kemudian pelan-pelan kamu tarik gasnya”


“Oke sayang. Bismillah, huhh” Qania menarik perlahan gas motor tersebut dengan rasa teramat gugup. “Arrrrrrggg” terik Qania namun ia masih terus menarik gasnya sehingga motor tersebut melaju dengan kecepatan tinggi.


Hampir saja motor itu menabrak tiang gawang, untung saja Arkana dengan cepat mengambil alih setir motor tersebut dan menghentikannya di pinggir lapangan yang teduh.


“Sayang kamu kenapa?” Tanya Arkana panic.


“Aku takut” cicitnya.


“Kan ada aku dibelakang kamu sayang. Lagian kamu sih, kan aku bilang pelan-pelan narik gasnya” Arkana membelai rambut Qania, menyalurkan semangat.


“Aku takut, aku gugup sayang” lirih Qania.


“Tadi saja begitu semangat” cibir Arkana.


“Aku nggak tahu bakalan semenakutkan ini” bantah Qania.


“Iya, iya. Kamu tenangin diri dulu, baru kita lanjut lagi”


“Hmm, aku haus” ucap Qania sambil menatap Arkana.


“Ayo kita cari minum, sepertinya di warung depan ada minuman dingin” Arkana memperhatikan warung yang ada di dekat lapangan yang tepat berada di hadapannya.


“Aku tunggu di sini saja ya”


“Ya sudah, aku beli dulu”

__ADS_1


“Oke”.


Beberapa jam kemudian..


“Yeee.. aku bisaaa” teriak Qania, saat ini ia tengah membawa motor itu berputar-putar di lapangan sambil membonceng Arkana.


“Nah bisa kan, aku bilanh juga apa” ucap Arkana sambil mengacak rambutQania.


“Makasih ya”


“Iya. Kita pulang dulu, Pia pasti udah mau balik soalnya jam kerjanya sudah hampir selesai. Besok kita  belajar di sini lagi, dam besok aku nggak akan diboncengin lagi, kamu bawa motornya sendiri” ucap Arkana saat motor sudah berhenti.


“Kok gitu?” Tanya Qania yang turun dari motor, berganti posisi dengan Arkana.


“Ya supaya kamu makin pintar, kalau ada aku kamu pasti akan ngandalin aku di belakang kamu. Aku mau lihat apa kamu berani bawa motor sendiri” jawab Arkana kemudian menstater motor itu dan membawanya ke jalan raya untuk kembali ke kafe.


“Baiklah” ucap Qania dengan lemas.


“Nanti kalau kamu udah bisa sendiri, kita langsung ke jalan raya”


“Apa nggak berbahaya sayang?” Tanya Qania panic.


“Kan ini jalan yang kamu harus lewati, memangnya kamu hanya mau naik motor di lapangan saja?” Tanya Arkana meledek.


“Ihh, kamu benar juga sih” Qania pasrah.


“Tenang sayang, selagi kamu focus dan nggak gugup aku yakin kamu bisa” hibur Arkana.


Qania tidak menjawab, ia hanya memeluk Arkana dan menyandarkan kepalanya di punggung Arkana, Qania merasa cukup lelah dengan pelajaran awalnya ini.


Karena lapangan itu tak begitu jauh dari kafe, mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai di kafe. Dan benar saja, Pia sudah duduk menunggu mereka di bangku dekat parkiran.


“Santai aja Qan, aku baru lima menitan kok selesai kerja” jawab Pia dengan ramah.


“Thanks ya, ini kuncinya. Besok gue pinjam lagi ya, dan uang bensinya akan aku masuki ke gaki kamu nanti” ucap Arkana yang memberikan kunci motor pada Pia.


“Wah makasih banyak boss” ucap Pia dengan girang.


“Oke, kita masuk dulu” ucap Arkana sambil menggandeng Qania masuk.


“Bye Pia” ucap Qania sambil melambaikan tangan dan Pia pun melakukan hal yang sama.



Arkana, Rizal dan Fero tengah duduk di sofa yang selalu mereka tempati saat di kafe Arkana. Mereka tengah berbincang sambil sesekali tertawa. Rizal yang sangat suka melucu itu membuat perut sahabatnya sakit karena terus tertawa. Di tengah obrolan jenaka itu, ponsel Rizal berbunyi dan itu adalah panggilan dari Gea.


“Bentar ya guys, gue jawab dulu telepon dari Gea” izin Rizal.


“Oke” jawab mereka kompak.


Rizal kemudian pergi ke luar kafe untuk mengobrol dengan Gea yang saat ini tengah berada di luar kota, ia tengah mengunjungi neneknya di desa. Menjalani LDR membuat Rizal dan Gea hanya bisa menghabiskan waktu mereka melalui telepon, sms, chat atau pun video call.


“Gue serasa jadi nyamuk nih” gumam Fero.


“Makanya pacaran, lo betah banget jadi jones” ledek Arkana.


“Memangnya kamu nggak punya pacar?” Tanya Qania.


“Dia nggak suka cewek sayang, dia doyannya emak-emak” ledek Arkana diiringi tawa.


“Sialan lo” umpat Fero merasa kesal.

__ADS_1


“Upss, sorry bro. eh gue lupa lo kan suka sama batangan, hahaha” Arkana tertawa lepas setelah meledek teman jonesnya ini.


“Arka lo benar-benar ya. Ini penghinaan bro, ya kali gue suka sejenis” Fero sangat kesal pada sahabatnya ini.


Dari semua sahabat dekat Arkana, memang hanyalah Fero yang masih setia menjomblo sejak SMA Karen patah hati ditinggal kekasih masa kecilnya.


“Sayang kamu jahat banget sih sama Fero, dia kasihan tahu” Qania membela.


“Hahaha, sorry bro” ucap Arkana namun masih terus tertawa.


“Lo gila ya? Qan, lo bawa deh cowok lo ke RSJ kali aja ada yang salah sama otaknya” ucap Fero kesal karena Arkana terus menertawakannya.


“Kayaknya Fero benar deh sayang, aku juga merasa kalau kamu itu sedikit gila. Yuk kta ke RSJ sekarang” Qania ikutan sama Fero.


“Kamu kok di pihak Fero sih sayang” Arkana merajuk namun hanya pura-pura.


“Iya soalnya kam…”


Qania belum sempat melanjutkan perkataannya, sebuah panggilan video dari Cika mengalihkannya.


“Siapa yang VC sayang?” Tanya Arkana yang sudah berhenti tertawa.


“Cika sayang” jawab Qania, “Aku jawab dulu ya”.


Fero menegang saat Qania menyebutkan nama Cika.


“Ah tidak, yang nama Cika bukan Cuma dia doang. Cika gue kan udah pindah entah ke belahan dunia mana” Fero menepis pikirannya.


“Hallo Cik, tumben VC” sapa Qania.


“Iya nih Qan, kita bakalan ngadain rapat dua hari lagi sebelum pendaftaran KKN, kita kan udah mau lepas jabatan” jawab Cika yang terlihat sedang berbaring di tempat tidurnya.


“Oh iya Cik, aku sampai lupa. Gimana persiapan kalian, oh iya kamu kan sekretaris, kamu udah nentuin jadwalnya?” Tanya Qania sambil memegangi kepalanya.


“Udah Qan, semua laporan dari divisi dan juga bendahara udah masuk ke aku dan aku tinggal print aja” jawab Cika.


“Good job, aku sama Abdi ngandellin kalian loh” ucap Qania dengan bangga.


“Kita saling mengandalkan Qan, Abdi sama kamu juga bakalan aku kasih hasil printnya besok sebelum kita adakan rapat nanti, biar kalian ada persiapan buat semua pertanyaan mereka, hehehe”


“Wah kamu memang the best Cik, thank you sista” ucap Qania sambil tersenyum senang.


“Your welcome my sista. Oh iya kamu lagi dimana sih?” Tanya Cika karena mendengar keramaian.


“Oh aku lagi di kafe sama Arkana. Oh iya aku mau kenalin kamu sama teman aku, dia jones lo sama kayak kamu” ucap Qania yang juga meledek Fero dan Cika.


Fero menatap kesal pada Qania begitu pun dengan Cika, karena Cika sama sekali tidak tertarik dengan hal yang berbau pacaran, katanya ia masih ingin bebas sendirian.


“Apaan sih Qan” ketus Cika.


“Kenalan doang kok, please” ucap Qania yang langsung menyerahkan ponselnya pada Fero.


Dengan malas Fero mengambil ponsel Qania dan menatap ke arah ponsel itu.


“Fero..”


“Cika..”


Hening…..


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...

__ADS_1


__ADS_2