
Waktu berjalan begitu cepat hingga tidak terasa sudah tiga minggu mereka merenovasi sekolah tersebut dan baru minggu lalu keluarga Qania yaitu mama, papa dan Syaquile datang berkunjung dengan membawa sembako dan juga buku pelajaran, buku bacaan, alan tulis menulis dan beberapa keperluan petani dan nelayan yang mereka bagikan.
Zafran juga membantu pembangunan sekolah tersebut dan hal itu membuat pihak sekolah semakin senang karena sekolah mereka kini nampak sangat kokoh. Bukan hanya sepuluh mahasiswa itu, tapi Zafran sengaja mendatangkan beberapa pekerja dari kota untuk membantu sehingga pekerjaan begitu cepat selesai sehingga total pekerja menjadi dua puluh orang.
Hanya tinggal membangun perpustakaan dan taman baca di depannya dan itu di targetkan hanya akan dilaksanakan selama lima hari dengan ukuran bangunan empat kali empat meter.
Qania sedikit kecewa karena Arkana tidak bisa datang sebab ia sedang berada di luar kota untuk mengembangkan usahanya. Dalam hati Qania sebenarnya ia sangat bangga dengan kerja keras Arkana namun hati kecilnya begitu sedih saat tidak mendapati kekasihnya itu.
Dan Juna, lelaki itu hilang bak di telan bumi karena sudah tidak pernah lagi muncul.
*
*
Saat ini kesepuluh mahasiswa itu tengah berunding di teras rumah pak kadus untuk membuat perayaan di sekolah untuk meresmikan bangunan baru yang sudah selesai semuanya termasuk ruang perpustakaan dan taman baca itu.
“Penarikan kita tinggal empat hari lagi, kira-kira kita bakalan makan-makan atau ngapain tuh di sekolah?” Tanya Abdi membuka diskusi mereka.
“Nggak usah repot-repot, tadi kepala sekolah bilang mereka yang bakalan siapin makanannya dan besok kita tinggal menikmati doang” ucap Qania.
“Wah bagus dong kalau gitu, makan-makan kita” seru Banyu.
“Yee si gaya batu udah ngomong banyak ya sekarang” ledek Ikhlas.
“Itu semua berkat bergaul dengan kalian” tukas Banyu membuat mereka tertawa.
“Tapi gue suka kok” cicit Manda membuat mereka tertawa kembali dan menggoda keduanya.
“Cinlok”,.
“Pwitt pwitt”,.
“Nikah, kuy nikah”,.
“Apaan sih, nggak jelas tahu” ketus Elin yang merasa kesal karena ia juga sebenarnya ingin merasakan keromantisan dari Fadly seperti yang Arkana lakukan kepada Qania, namun hanya tinggal harapan saja karena selama hampir dua bulan pun Fadly sama sekali tidak menghubunginya.
“Sabar” bisik Qania sambil merangkul Elin.
“Rapat udahan kan? Gue mau nyanyi buat my Felin” celetuk Prayoga sambil mengambil gitar di samping Abdi.
Semuanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Prayoga yang makin hari makin gencar merayu Elin yang sama sekali tidak menanggapinya itu.
Jika dia cintaimu, melebihi cintaku padamu
Aku pasti rela untuk melepasmu
Walau ku tahu ku kan terluka
Jika lah semua berbeda
Kau bukanlah orang yang ku puja
Tetapi hatiku telah memilihmu
Walau kau tak mungkin tinggalkannya
Jadikan aku yang kedua
Buatlah diriku bahagia
Walau pun kau takkan pernah
Ku miliki selamanya
Qania menatap penuh harap kepada Prayoga, ia teringat kembali sore hari setelah kembalinya ia dari sungai bersama Arkana.
Flash back on….
Arkana yang melihat raut kesedihan dan air mata di wajah kekasihnya itu langsung mendekap tubuh Qania untuk memberikan semangat kepada kekasihnya.
__ADS_1
“Aku harus kasih tahu Elin sayang, harus” ucap Qania penuh penekanan.
“Sayang, aku bukannya ingin halangi kamu ya tapi kamu ingat ini kalian lagi jauh dari kota dan bagaimana perasaan Elin jika tahu soal ini. Apa kamu nggak mikirin kalau sampai dia stress dan nekad untuk nyusul Fadly ke kota? Aku lebih memilih diam dan membiarkan Elin tahu dengan sendirinya. Kamu juga bisa bantuin dia biar dekat dengan Yoga atau Yoga yang kamu bantuin buat dekatin si Elin” usul Arkana.
“Kenapa Yoga?” Tanya Qania mendongakkan kepalanya menatap Arkana yang juga menatapnya.
Cup..
Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Qania membuat pipinya merona.
“Kenapa tanya aku, bukannya kamu paling tahu siapa Yoga?” Arkana membalikkan pertanyaan Qania.
Qania menyeringai, ia sangat tahu seperti apa Prayoga dan ia pun setuju dengan rencana Arkana. Ia tidak ingin sahabatnya itu bersedih karena ia merasa ia turut andil dalam kesedihan Elin nanti karena ia lah yang sudah mengenalkan mereka.
“Pulang yuk sayang, udah sore banget dan udah mau magrib. Kita kan mau malam mingguan bareng pasangan baru itu” ajak Arkana.
“Yuk”,.
Qania berdiri dan berbalik untuk menyapa ibu-ibu yang baru datang, matanya tak sengaja menangkap Prayoga yang tengah berdiri tak jauh dari mereka sedang mendengarkan percakapannya bersama Arkana. Begitu Arkana akan berbalik cepat-cepat Prayoga berjalan meninggalkan tempat itu.
Qania menghampiri Prayoga yang tengah sibuk mengupas jagung di halaman belakang rumah pak kadus bersama Baron, ia terlebih dahulu memastikan bahwa hanya ada mereka bertiga disana.
“Yoga, ooh Prayoga” panggil Qania sambil berjalan mendekati kedua saudaranya itu.
“Iya bawel, ada apa?” Tanya Prayoga yang masih sibuk mengupas kulit jagung.
“Enak ya menguping pembicaraan orang” ucap Qania sambil mengambil jagung dan mengupasnya.
Prayoga terkejut dan itu membuat Qania terkekeh sementara Baron diam mendengarkan.
“Nggak usah terkejut gitu, sekarang aku mau nanya serius nih. Emang kamu selama ini Cuma ngisengin Elin atau emang murni mau mendekatinya?” Tanya Qania to the point.
“Emang ya si putrid kampus ini kalau ngomong langsung nggak pake basa basi” tukas Prayoga mencoba menertralkan debaran jantungnya.
“Alah nggak usah mengalihkan, jawab aja. Gue juga dari kemarin-kemarin sebenarnya pengen nanya ini ke elo” sela Baron.
“Gue nggak tahu Qan, tapi emang gue akui gue suka sama dia dan mungkin lebih dari sekedar suka” ucap Prayoga jujur sambil membayangkan wajah Elin dan itu membuatnya tersenyum.
“Jangan mulai deh” sindir Baron.
“Aku juga nggak bakal ngasih tahu dia, aku pinginnya dia sendiri yang melihat kebusukan pacarnya itu. Aku tahu kok kenapa selama ini Fadly masih bertahan, karena dia masih mengincar kesucian Elin yang belum bisa ia sentuh, sama kayak kakaknya yang dulu hampir ngelecehin aku dan untung ada Arkana yang datang nyelamatin aku waktu itu” kenang Qania.
“Terus lo maunya gue gimana Qan?” Tanya Prayoga penuh harap.
“Dekati dia perlahan, rebut hatinya dari sekarang. Pelan-pelan saja, buat dia jatuh cinta sama kamu sebelum dia tahu kebusukan Fadly dan itu bisa menghindari kamu dari kata pelarian, jika dia sudah jatuh cinta ke kamu Yoga sebelum dia tahu kebenaran pacarnya itu, maka selamat, kamu akan jadi pemilik hatinya. Dia mungkin akan bersedih, tapi jika sebelumnya sudah ada kamu kemungkinan ia tidak akan sedih berkepanjangan” jawab Qania sambil mengingat bagaimana Elin begitu sayang kepada Fadly dan Fadly berkhianat kepadanya.
“Yang dikatakan calon makmum gue itu benar Yoga, elo harus dekati dia perlahan dan rebut hatinya. Oh ya elo mau trik dari gue nggak?” seru Arkana yang datang bergabung membuat ketiga orang itu menoleh kebelakang.
“Trik apa Ka?” Tanya Yoga dan Baron bersamaan.
“Trik meluluhkan hati cewek yang patah hati dan tidak di cap sebagai cowok pelarian semata” jawab Arkana sambil melirik Qania.
“Wah kedengarannya menarik” ucap Prayoga antusias.
“Sangat, bahkan itu yang membuat gue awet sama Qania tanpa gangguan para mantan, ets ralat, sangat banyak gangguan tapi kita tetap bertahan sampai saat ini” ujar Arkana.
“Ya udah bagi triknya” pinta Baron tidak sabaran.
“Gini, nanti sewaktu dia udah tahu kebenaran tentang pacarnya itu, elo jauhin dia dan beri dia waktu sendiri untuk meredakan sakit hatinya. Biarkan dia move on dulu, baru lo datang sebagai hero buat dia. Jangan datang di saat dia tengah patah hati, itu bisa saja dia manfaatin elo sebagai pelariannya. Tapi seperti kata Qania, elo harus memiliki tempat terlebih dahulu di hatinya sebelum kebenaran terungkap” terang Arkana.
“Lah terus gimana nanti kalau dia malah marah waktu gue ninggalin dia di saat dia sedang terpuruk?” Tanya Prayoga.
“Kabari saja sesekali atau pantau aja dari jauh, biarkan dia menikmati sakitnya hingga ia terbiasa dan melupakan rasa sakit itu. Biarkan hatinya kosong terlebih dahulu dan disaat itu tiba, kamu datang dan menangkan hatinya” seru Qania.
“Kayak gue sama Qania” celetuk Arkana.
“Gue rasa benar juga sih, kalau gue datang disaat dia sedang kecewa dan sedih entar gue di jadiin pelarian doang dong” ucap Yoga menimbang-nimbang usul Arkana.
“Gue setuju, dijadiin pelarian itu nggak enak bro. Suatu saat kalau dia baikan sama mantannya bisa-bisa kita yang Cuma jadi pelarian ya ditinggalin begitu aja” timpal Baron.
“Iyaps, bairkan hatinya kosong dulu, bairkan dia melupakan dengan sendirinya rasa sakitnya. Setelah itu gue bakalan datang dan rebut hatinya terus gue jadi pemenang dan mantannya adalah pecundang” tandas Prayoga membuat Qania tersenyum puas.
__ADS_1
“Aku bakalan bantuin kamu, tenang aja” ucap Qania sambil mengelus pundak Prayoga.
“Aman lo bro, karena elo teman sekaligus saudaranya calon makmum gue” celetuk Arkana yang melihat tindakan Qania.
“Bisa nggak mode cemburu butanya di off dulu” ledek Baron.
“Kalau sama kalian selalu off kok” kekeh Arkana.
Flash back off…
‘Semoga kamu bisa membuka hatimu buat pria lain Lin, maafin aku udah membuat kamu akan merasakan sakit yang teramat sangat. Aku akan bertanggung jawab untuk rasa sakitmu nanti. Aku akan berusaha membuatmu menyukai Yoga, aku udah kenal banget siapa Yoga dan dia sangat baik untukmu’ gumam Qania dalam hati.
Entah mengapa perasaan Elin menjadi senang saat Yoga menyanyikan lagu untuknya sambil menatap matanya dengan penuh kelembutan.
‘Bisa-bisa gue luluh, oh Yoga tolong jangan baperin gue. Kalau gue baper bisa berabe urusannya’ pekik Elin dalam hati.
“Terpesona, hemm?” Tanya Prayoga membuat Elin tersentak.
“Apa?” Tanya Elin yang tidak jelas mendengar ucapan Prayoga tadi.
Prayoga hanya tertawa, ia meninggalkan Elin dengan senyuman manis terus tersungging di bibirnya.
“Sebentar lagi Felin, sebentar lagi gue bakalan jadi pemenang di hati elo” gumam Prayoga kemudian mengambil air di dapur dan menegaknya hingga habis.
“Kalau grogi emang suka haus ya” sambar Qania membuat Prayoga terkejut.
Uhukk..
Uhukk..
“Qan, elo kalau mau ngomong kasih aba-aba dong biar gue nggak kaget” protes Prayoga.
“Kan memang sengaja” canda Qania.
“Dasar”,.
“Berjuang Yog, ada aku yang mendukungmu bersama Arkana. Oh ya kamu mau tahu nggak tentang Elin?” Qania mengajak Yoga berjalan ke halaman belakang rumah pak kadus dan duduk di bangku di bawah pohon nangka.
“Mau lah Qan, cepat ceritain” ujar Prayoga
Qania pun menceritakan tentang masa kecil mereka, tentang Elin yang manja dan mudah baper. Kata mudah baper itu membuat Prayoga tertawa karena merasa bahwa pasti selama ini Elin sudah dibuat baper olehnya dan diiyakan oleh Qania. Keduanya larut dalam canda tawa hingga tak terasa mereka sudah lama berada di halaman belakang, baru lah saat malam semakin larut keduanya masuk ke dalam rumah dan kembali ke kamar masing-masing.
“Dari mana Qan?” Tanya Elin yang sedang berbaring sambil bermain game offline di ponselnya.
“Dari belakang, cerita-cerita sama Yoga” jawab Qania sambil ikut berbaring di sebelah Elin, sementara Manda sudah tidur lebih dulu.
“Oh ya? Emang kalian cerita apaan? Kok nggak ngajak-ngajak?” Tanya Elin sangat penasaran.
“Ceritain kamu” ucap Qania kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Kok aku?” Tanya Elin.
Namun Qania tidak menjawab, ia sengaja mengeluarkan suara dengkuran untuk membuat Elin kesal sekaligus penasaran.
“Qan, jangan buat aku penasaran” ucap Elin sambil menggoyang-goyangkan tubuh Qania.
“Qan..”,.
“Ih rese deh” gerutu Elin.
Sementara Qania di dalam selimut yang berbaring membelakangi Elin itu tengah tertawa tanpa suara, ia sangat suka mengerjai Elin karena biasanya Elin lah yang sering mengerjainya.
“Jangan senang dulu Qan, ini Felin, aku nggak bakalan lupa dan akan terus penasaran sampai aku tahu apa yang kalian bicarakan” tukas Elin kemudian menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut.
“Hantu kali, penasaran” ucap Qania tanpa mengeluarkan suara sambil cekikikan.
Qania kembali teringat akan cerita Arkana membuatnya sangat kesal kepada Fadly dan semakin benci kepada Adel, mengapa harus gadis itu lagi, pikir Qania. Ia tidak habis pikir dengan Fadly yang dikiranya sangat setia dan bucin kepada Elin sampai tega mengkhianati sahabatnya itu. Qania bertekad, jika seandainya kejadiannya bersama Fandy yang dimana pria itu kembali melakukan hal-hal gila untuk kembali, Qania akan menjadi orang terdepan yang akan menghalangi langkah Fadly, cukup ia saja yang merasakannya.
__ADS_1
...***...