
Arkana mengajak Qania untuk kembali ke rumah setelah menghabiskan waktu di pantai dan juga menyumbangkan darah mereka pada banyaknya nyamuk disana.
Arkana menghidupkan mesin motornya, kemudian Qania naik dan Arkana langsung melajukan motornya menyusuri jalan yang sudah mulai terlihat ramai dengan lamppu-lampu jalan yang menerangi untuk membantu pencahayaan dari bulan.
Jalanan dipenuhi kendaraan karena mala mini adalah malam minggu dimana para remaja, dewasa dan orang tua pasti ada yang akan keluar rumah untuk menghabiskan malam akhir pekan.
“Sayang singgah makan yuk” ajak Arkana.
“Makan apa sayang?” Tanya Qania.
“Nasi goreng pakai ayam bakar lalapan mau nggak?”,.
“Sangat mau” ucap Qania lalu mengeratkan pelukannya pada Arkana.
Tak berselang lama keduanya sudah sampai di warung makan yang menyediakan menu yang mereka inginkan itu. Arkana dan Qania masuk dan langsung memesan makanan, lalu mencari tempat duduk untuk keduanya.
Qania memicingkan penglihatannya akan dua sosok yang tidak asing baginya yang saat itu juga tengah duduk tidak jauh dari mereka.
“Benar, itu mereka” gumam Qania.
“Bentar ya sayang, aku mau kesana dulu” pamit Qania.
Tanpa menunggu persetujuan Arkana, Qania langsung mendekati dua sosok tersebut.
Dooorrrrrr……
Teriakan Qania sukses mengejutkan dua sosok yang tengah berpegangan tangan dengan mesra itu dan sepertinya juga tengah menunggu makanan. Arkana yang juga sedikit terkejut langsung menyusul Qania.
“Udah balikan nih Ro?” Tanya Qania menggoda.
“Iya dong” jawab Fero bangga namun Cika malah tertunduk malu.
Dua sosok itu adalah Fero dan Cika yang juga tengah bermalam mingguan.
“Traktir, traktir” sorak Qania.
“Ya ampun Qan, pacar lo lebih kaya dari gue. Minta deh ke dia” celetuk Fero membuat Cika tertawa begitu pun dengan Arkana.
“Yang baru balikan kan kalian, jadi kalian yang traktir kita. Kapan lagi, ya kan sayang” ucap Arkana meminta dukungan dari Qania.
Dengan cepat Qania mengangguk dan langsung menarik kursi di sebelah Cika lalu mendaratkan bokongnya diikuti oleh Arkana yang duduk di sebelah Fero.
“Ya udah deh” ucap Fero pasrah.
Sorakan terdengar dari Arkana dan Qania.
Tak beberapa lama kemudian pesanan mereka datang dan keempat orang tersebut langsung menyantapnya sambil sesekali bercerita.
Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan bersama.
“Kita ke taman dekat kafe guys” ajak Arkana.
“Boleh, sekalian malam perpisahan” ucap Fero lesuh.
“Iya nih, hemm bakalan rindu berat gue” timpal Arkana ikutan lesuh.
Qania dan Cika yang mendengar penuturan kedua lelaki itu juga menjadi lemas karena benar apa yang dikatakan mereka, pasti aka nada rindu yang teramat sangat saat mereka terpisahkan oleh jarak.
__ADS_1
“Ayo” ajak Qania dan Cika hampir bersamaan.
Mereka pun keluar dan menuju tempat dimana mereka memarkirkan motor, kemudian melajukan motor mereka kearah taman di dekat kafe milik Arkana.
Tidak sampai sepuluh menit mereka pun sampai di kafe untuk memarkirkan motor mereka dan akan berjalan kaki menuju taman.
“Kalian double date nggak ngajak-ngajak” celetuk Rizal yang berjalan keluar dari kafe.
“Eh hai Zal, maaf kita nggak sengaja ketemu tadi” sahut Fero.
“Kalian nggak mau masuk dulu?” Tanya Rizal.
“Nggak, kita mau ke taman depan noh” jawab Arkana.
“Cieee, Fero udah ada gandengan” ledek Gea yang sedang berjalan keluar dari arah kafe.
“Iya dong sayang, akhirnya” timpal Rizal.
Cika hanya tersenyum malu-malu, meski pun sudah pernah berkenalan waktu di himpunan tetap saja Cika merasa canggung. Untung ada Qania, pikir Cika.
“Akhirnya ya Ge, isu tentang keabnormalannya si Fero bisa terbantahkan” ceplos Qania lalu tertawa.
“Iya Qan, gue kira dia sukanya sama batangan” timpal Gea.
‘Ya Tuhan dua gadis ini menginjak-injak harga diriku’ Fero hanya bisa membatin.
Wajah Fero nampak masam mendengar dua gadis yang tengah mengolok-oloknya dan mempertanyakan ke lelakiannya itu.
“Sabar bro, ini ujian” hibur Rizal namun dengan nada meledek.
“Bee, Qania itu nggak geser. Bahkan dia paling pintar sekampus, bukan sejurusan loh bee tapi sekampus” tegas Cika, ia juga ikut menggoda Fero.
“Lihat Ro, pacar lo kayaknya udah kompak sama dua gadis itu” ucap Rizal yang membuat Fero mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal.
“Iya Ro, sepertinya mereka akan menjadi geng tiga gadis meresahkan” timpal Arkana yang diangguki oleh Rizal.
“Hahh jangan ngajak Cika, dia masih polos” pekik Fero.
Qania, Gea, Arkana dan Rizal tergelak mendengar ucapan Fero, sementara Cika hanya bisa tersenyum malu-malu.
“Ya ampun Cik, nggak apa-apa kok kalau lo mau tertawain si Fero. Nggak usah jaim sama kita-kita” celetuk Gea mencoba memprovokasi Cika.
“Iya Cik, santai aja kamu. Kayak kita nggak saling kenal aja, kita kan udah lama saling mengenal dan dekat” sambung Qania.
“Hei kalian dua gadis yang sangat meresahkan, tolong jangan mengotori pikiran suci cewek gue” ujar Fero meras frustasi dan kesal namun tidak bisa melakukan apa-apa.
Rizal dan Arkana memegangi perut mereka karena terus menertawakan kefrustasian Fero.
“Sudah bee” tegur Cika lembut.
“Iya, kita ke taman yuk bee” ajak Fero, ia sudah tidak tahan berlama-lama disana karena Gea pasti akan membuatnya semakin frustasi. Namun Fero tidak marah karena baginya mereka hanya menggodanya dan ia juga merasa senang karena tidak ada yang mengacuhkan Cika bahkan Gea langsung terlihat akrab padahal gadis itu sangat pemilih dalam kategori pertemanan.
“Zal, Ge, gue nitip kafe ya. Gue mau menghabiskan malam perpisahan ini karena besok Qania bakalan berangkat buat KKN” ucap Arkana sambil menepuk pelan bahu Rizal.
“Sama Zal. Ge, gue juga mau malam perpisahan sama Cika” timpal Fero.
“Iya nggak apa-apa, kita ngerti kok” ucap Gea sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
“Yey, akhirnya gue balas dendam juga” sorak Rizal yang mendapat tatapan dari semua teman-temannya itu.
“Balas dendam?” Tanya Gea bingung.
“Iya sayang, kemarin waktu kita LDRan mereka berdua nih ledekin aku mulu. Apalagi tuh si Arka sama Qania yang suka pamer kemesraan di depan aku. Dan akhirnya aku bisa balas dendam sayang, ntar kita pamer kemesraan di depan mereka” ucap Rizal menjelaskan kepada Gea, dan kekasihnya itu langsung tersenyum mengerti.
“Iya sayang, tentu aku akan bantuin kamu balas dendam” sahut Gea.
“Benar-benar pasangan yang serasi dan kompak, sama-sama geser” umpat Fero sambil menggeleng-gelengkan kepalanya merasa pusing dengan pasangan yang menurutnya geser itu.
Qania dan Arkana tidak lagi menyahuti Gea dan Rizal, mereka malah memilih pergi untuk menghindari perdebatan dan celotehan yang tidak berujung itu.
Arkana menggenggam tangan Qania begitu posesif, membuat Qania merasa senang. Ia sama sekali tidak terganggu dengan keposesifannya Arkana, karena baginya itu cara Arkana menunjukkan perasaannya dan juga mempertegas siapa Qania bagi Arkana.
“Sayang, kita kan udah dapat izin buat menghabiskan waktu berdua nih. Kira-kira kita pulang nanti jam berapa?” Tanya Arkana sambil mendorong Qania yang tengah duduk di ayunan.
“Kok udah mikirin jam pulang sih? Emang kamu udah capek?” Tanya Qania, ada rasa tidak rela di hati Qania.
“Bukan gitu sayang, kalau aku sih maunya sampai pagi sama kamu. Tapi aku mikirin kamu loh ini sayang, kamu nggak bisa istirahat nantinya sebelum berangkat” ucap Arkana menjelaskan.
“Iya juga sih sayang, tapi nggak apa-apa aku kan udah biasa” ucap Qania.
“Baiklah, malam ini semua menjadi hak tuan putriku” ucap Arkana membuat Qania tertawa.
“Gombal” ledek Qania.
“Tapi kamu suka kan”,.
“Iya aku sangat suka”,.
Arkana kembali mendorong Qania yang sedang tertawa karena merasa geli saat ayunan itu melambung tinggi.
🌺
🌻
Setelah menghabiskan waktu di taman, Arkana mengajak Qania untuk jalan-jalan tanpa arah dan tujuan, karena Qania mengatakan kemana pun asal berdua.
Arkana tersenyum saat Qania makin mengeratkan pelukannya, ia sangat senang namun sedetik kemudian ia merasa sedih karena besok ia dan Qania akan berpisah selama dua bulan.
Jika saja tempat yang dituju Qania itu dekat maka Arkana bisa sering-sering mengunjunginya, tapi sayangnya tempat itu berada jauh bahkan hampir di ujung kabupaten. Dan yang di khawatirkan Arkana lagi yaitu ada atau tidaknya signal disana, karena meski pun tidak bertemu setidaknya mereka masih bisa berkomunikasi.
“Sayang” panggil Qania sambil menoleh menatap wajah Arkana dari samping.
“Iya sayang” jawab Arkana melirik sekilas pada Qania lalu kembali menatap lurus kearah jalanan.
“Aku rindu” tutur Qania lemas.
“Hei belum juga pergi sudah rindu” kekeh Arkana, padahal ia pun sama.
“Ya aku rindu, pokoknya aku rindu” tegas Qania, tidak ingin di bantah.
“Iya aku juga sayang, dan besok hingga dua bulan kedepan aku bakalan merindukanmu setiap detikku, setiap hembusan napasku dan setiap kali jantungku berdetak aku pasti akan selalu merindukanmu” ungkap Arkana membuat Qania tercengang.
‘Sebegitunya kah perasaanmu padaku’ Tanya Qania dalam hatinya.
‘Belum berpisah aku sudah merindukanmu, bagaimana besok? Bagaimana dua bulan kedepan? Memikirkannya saja aku seakan ingin berteriak’ batin Arkana.
Sepanjang perjalanan keduanya saling diam dengan pikirannya masing-masing, namun bahasa tubuh mereka saling mengerti. Qania memeluk erat tubuh Arkana dari belakang sedangkan Arkana dengan tangan kirinya menggenggam tangan Qania yang berada di atas perutnya itu. Sesekali Arkana mengecup tangan Qania penuh kasih sayang, seakan tangan itu akan lepas dari genggamannya jika tidak ia pegang terus.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...