Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Papa Terbike


__ADS_3

Hari senin pun tiba, Qania yang sudah bangun sedari subuh setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang makhluk ciptaan. Qania yang biasanya kembali tidur namun kali ini tidak, ia teringat akan pesan bu Lira semalam yang menyuruhnya datang pagi-pagi untuk mengurus semua administrasinya sebelum mengikuti ujian proposal.


Qania mempersiapkan semua yang ia butuhkan untuk dibawa ke kampus, dan setelahnya ia bergegas mandi.


Waktu menunjukkan pukul enam pagi saat Qania keluar dari kamar mandinya dengan masih mengenakan bathrobenya.


“Wah tumben banget kamu Qania Salsabila mandi sepagi ini” ucapnya pada dirinya sendiri.


Qania memilih pakaian mana yang akan ia kenakan. Tidak biasanya ia begitu lama memilih, namun kali ini ia kesulitan menemukan pakaian yang cocok dengan hatinya.


“Kegiatan hari ini kayaknya bakalan sampai sore deh. Aku harus ngurus administrasi buat ujian lusa yang terbilang dadakan karena dosen wali aku yang super perfect itu, belum lagi aku harus ngurus pendaftaran KKN yang akan dimulai hari senin depan”,.


“Hah semuanya serba mepet. Aku sampai bingung membagi waktunya, kalau besok aku bakalan ngurus KKNnya kapan waktu aku belajar buat ujian nanti. Kalau sebentar setelah urus administrasi ujian, sempat nggak ya?”,.


“Ah tau ah. Nanti di kampus aja deh pikirinnya” ucap Qania sambil menarik baju santai dan mengambil jaket agar tidak kepanasan nantinya saat kesana kemari mengurus keperluannya.


Qania mengenakan pakaiannya, kemudian merias wajah senatural mungkin dengan bedak baby dan lipice secukupnya.


“No eyeshadow, no make up, no maskara, no lipstik dan lain-lain. Aku nggak tahu dan nggak biasa” ucap Qania sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


Qania meraih ponselnya yang berada di atas meja riasnya dan melihat jam.


“WOW! Untuk pertama kalinya aku menghabiskan waktu dari mandi sampai moles wajah dengan waktu yang cukup lama” seru Qania yang melihat waktu sudah hampir pukul tujuh.


Qania menelepon Arkana, namun tidak ada jawaban hingga beberapa kali.


“Pasti masih tidur” gerutu Qania.


“Semalam dia yang janji, dia juga yang lupa. Menyebalkan”,.


Qania melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh tepat, namun Arkana belum juga menghubunginya. Qania akhirnya memutuskan untuk turun sarapan bersama keluarganya, padahal ia sudah janjian akan makan bubur ayam bersama Arkana pagi ini.


“Rencana tinggal rencana deh, apalah daya perutku lapar” racau Qania.


Qania duduk bergabung di meja makan bersama keluarganya yang sudah lebih dulu menikmati sarapannya. Qania langsung memenuhi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.


“Tumben pagi gini udah rapih, mau kemana nak?” tanya Zafran yang baru saja menghambiskan sarapannya.


“Iya pa, Qania harus ke kampus buat ngurusin administrasi ujian proposal” jawab Qania kemudian memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.


“Loh bukannya minggu depan udah turun KKN?” tanya Alisha.


“Iya ma, tapi aku diminta untuk ujian dulu” jawab Qania sambil mengunyah.


“Emang kapan ujiannya?” tanya Zafran.


“Lusa”,.


“Lah kok cepat amat? Emang udah siap gitu?” tanya Zafran terkejut.


Qania mengambil air di gelasnya kemudian menegaknya sampai habis.


“Sebenarnya udah siap dari minggu lalu pa, Cuma kan kemarin Qania sibuk rapat LPJ dan pelepasan jabatan” ucap Qania memberi penjelasan.


“Ohh. Terus kamu ujian ama siapa aja?” tanya Alisha.


“Aku doang sih” jawab Qania santai.


“Loh kok Cuma kamu aja?” tanya Alisha.


“Sebenarnya ini keinginan dosen wali Qania ma, dia ingin Qania bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan dia pinginnya satu beban Qania udah hilang sebelum KKN” jelas Qania.


“Papa setuju, asal kamunya siap” sahut Zafran.


“Aku udah siap dari beberapa bulan yang lalu pa” ucap Qania.


“Good girl” puji Zafran.


“Semuanya, aku pamit ke sekolah ya” ucap Syaquile.


“Di antar kamu?” tanya Zafran.


“Nggak pa, motor aku udah diperbaiki” jawab Syaquile kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan juga kakaknya Qania.


“Hati-hati” ucap mereka kompak dan dijawab anggukan oleh Syaquile.


Setelah selesai sarapan, Qania kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan ponselnya. Saat Qania akan menelepon Arkana, ia mendapat sebuah pesan dari Arkana.


“Maaf sayang aku nggak bisa nemanin kamu hari ini. Aku harus bantuin papa buat urus sidang sama Daren Wilanata yang tempo hari culik papa. Maaf ya sayang, maaf banget. Aku usahain besok aku temui kamu”,.


Qania menghembuskan napas panjang setelah membaca pesan dari Arkana.


“Nggak apa-apa deh, itu lebih penting. Semoga kasusnya cepat selesai, dan Arkana sama papa Setya bisa memenangkan kasusnya” gumam Qania.


“Nggak apa-apa sayang. Besok kita ketemuan”,.

__ADS_1


Balas Qania.


Qania memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya dan memakai tas ranselnya yang sudah berisi berkas-berkas yang akan ia setor ke bagian administrasi jurusannya di kampus.


Qania melangkah keluar kamarnya, menuruni anak tangga dan berniat meminta papa atau mamanya untuk mengantarnya ke kampus.


Saat Qania melewati ruang keluarga, ia melihat kedua orang tuanya tengah asyik menonton berita. Qania berjalan mendekati kedua orang tuanya.


“Ma, pa” panggil Qania.


“Iya sayang, ada apa?” tanya mamanya menoleh kearah Qania yang baru saja duduk di sebelah sang papa.


“Bisa tolong antar Qania ke kampus?” tanya Qania dengan wajah memelas.


“Tentu saja, hari ini papa tidak memiliki jadwal apapun. Papa akan mengantar putri papa kemanapun” jawab Zafran bersemangat.


“Papa lagi hobi balapan sepeda ya?” tanya Qania membuat Zafran mengernyitkan dahinya begitu pun dengan Alisha.


"Maksud kamu apa sayang?" tanya Alisha.


"Ya soalnya papa yang terbike (dibaca terbaik 😁)" canda Qania.


Alisha dan Zafran saling berpandangan, namun sedetik kemudian keduanya tertawa karena berhasil dikerjai sang putri.


"Mama mau nanya, emang kekasih dua puluh empat jam kamu itu kemana?" tanya Alisha.


"Hmm, tadinya Qania akan pergi sama Arkana ma. Tapi tadi Qania dapat pesan darinya, dia nggak bisa temani Qania karena sibuk bantuin papa Setya untuk mengurus kasus penculikan waktu itu" jawab Qania lesu.


"Hei jangan sedih gitu dong, kan masih ada papa yang lagi hobi sepedaan" goda papanya.


"Ah iya, ada papa terbike punya aku" timpal Qania.


"Hari ini papa milikmu, papa akan temani kamu kemana pun" ucap Zafran sambil merangkul sang anak.


"Ya sudah cepat pergi, manfaatkan waktu yang ada" ujar Alisha.


"Oke ma",.


"Kami pamit dulu" ucap Zafran.


Setelah Alisha mencium punggung tangan Zafran dan Qania mencium punggung tangan Alisha, papa dan anak itu bergegas ke mobil.


🌻


🌻


"Woahh bukannya itu mobil bapak Zafran Sanjaya?",.


"Iya, itu mobil ketua DPRD, ngapain ya dia kesini?",.


"Dia pasti ada urusan penting lah",.


"Mungkin ada keluarga atau anaknya yang kuliah disini",.


Dan masih banyak lagi pertanyaan dari mahasiswa dan dosen yang melintas di depan mobil tersebut.


"Papa lihat itu, mobil papa jadi pusat perhatian" protes Qania.


"Ya santai aja" ucap sang papa yang membuat Qania terbelalak.


"Ayolah pa, nggak ada yang tahu kalau papa itu papa Qania disini kecuali teman sekelas Qania" rengeknya.


"Kamu mending turun, biar papa kawalin" Zafran mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin berdebat dengan anaknya yang hobi debat itu.


Terkadang Zafran berpikir kalau anak gadisnya ini lebih cocok masuk ke fakultas hukum atau ilmu sosial politik daripada masuk di fakultas teknik. Bukan karena meragukan kecerdasaan sang anak, tetapi hobi debatnya yang tidak ingin kalah membuat Zafran sampai berpikir seperti itu.


"Papa gila ya?" pekik Qania.


"No debat" ucap Zafran kemudian membuka pintu mobilnya.


Mau tidak mau, Qania turun dari mobil juga sambil memasang wajah cemberut. Zafran berjalan lebih dulu seolah dia yang mahasiswa dan Qania hanya pengikutnya saja.


"Wah benar itu pak Zafran Sanjaya",.


"Dia sama Qania, emang ada hubungan apa pak ketua sama anak teknik itu?",.


"Anaknya kali, tuh mirip",.


"Jangan-jangan Qania selingkuhannya",.


Qania mengepalkan tangannya mendengar ucapan yang mengatainya selingkuhan. Ya kali Qania selingkuh sama papanya sendiri, pikirnya.


"Jangan ngaco kamu, emang nggak ingat sama keromantisan si Arkana Wijaya anak pengacara kondang di kota ini sekaligus pembalap yang sering menjadi juara mewakili kota ini. Arkana kan pacarnya si Qania",.


Qania tersenyum bangga karena ternyata hubungannya dengan Arkana cukup terkenal di kampus.

__ADS_1


Zafran mendekati seorang mahasiswa yang berambut cepak yang tadi mengatakan bahwa Qania anaknya karena wajahnya mirip.


"Untukmu" ucap Zafran seraya memberikan uang seratus ribu.


"U..untuk saya pak?" tanyanya heran bercampur gugup.


"Iya ambillah" pinta Zafran ramah.


"Tapi untuk apa pak?",.


"Dari semua yang menebak, cuma kamu yang benar" ucap Zafran.


"Jadi Qania anak bapak?" tanyanya kaget.


"Ya" setelah Zafran membenarkan, mahasiswa itu langsung mengambil uang tersebut.


"Terima kasih pak" ucapnya sambil mencium punggung tangan Zafran.


"Ih papa narsis banget sih" ketus Qania.


"Iri bilang boss" ceplos Zafran membuat Qania menganga mendengar ucapannya, begitu pun dengan mahasiswa tadi.


"Ah tau ah. Ngomong sama papa mah sama kayak ngomong sama Arkana, ngeselin, nyebelin" gerutu Qania kemudian berjalan meninggalkan sang papa yang tengah tertawa setelah membuatnya kesal.


Dengan terburu-buru Zafran mengejar putrinya yang merajuk itu, sambil membalas sapaan beberapa mahasiswa dan dosen yang berpapasan dengannya.


🌻


🌻


Qania dan Zafran akhirnya menghembuskan napas lega setelah seharian kesana kemari mengurus keperluan administrasi dan bahan yang akan dibawa untuk ujian Qania dan juga mendaftar KKN.


"Makasih banyak papa udah nemenin Qania seharian" ucap Qania saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Sama-sama sayang. Udah jadi tugas papa buat bantuin anak papa" jawab Zafran kemudian mengelus puncak kepala Qania penuh kasih.


"Iya, jangan cuma tebar pesona sama rakyat aja" sindir Qania.


"Ih sewot" ledek Zafran, ia sangat suka memancing kekesalan putrinya itu.


"Pa, ingat umur kalau mau narsis" tegur Qania.


"Bilang aja kamu iri nggak bisa senarsis papa" celetuk Zafran.


"Besok aku mau ngumpulin teman-teman aku di teknik" ucap Qania.


"Buat apa?" tanya Zafran.


"Buat demo di kantor dewan, mau protes sama ketuanya yang narsis abis" jawab Qania kesal.


"Hahahaha, ada-ada saja kamu" tawa Zafran.


Drrttt...


Drrttt...


Drrttt...


"Siapa?" tanya Zafran.


"Arkana pa" jawab Qania setelah melihat siapa yang meneleponnya.


"Angkat aja, jangan lupa di loudspeaker" ucap Zafran dengan smirk di wajahnya.


"Hallo, Assalamu'alaikum",.


"Wa'alaikum salam sayang, kamu dimana?",.


"Aku masih di kampus",.


"Ya udah aku jemput, aku baru aja selesai di kantor papa",.


"Nggak usah, aku sama papa kok dari tadi",.


"Kamu suruh papa pulang aja, biar aku ke kampus jemput kamu",.


"Calon mantu lucknut" umpat Zafran.


"Astaga papa Zafran" Arkana terkejut saat mendengar umpatan tersebut.


Zafran mengambil alih ponsel Qania, ia memarahi Arkana namun tidak sungguh-sungguh marah, sedangkan Arkana terus meminta maaf padanya.


Qania sendiri tidak bisa menahan tawanya saat papanya terus memarahi Arkana dan Arkana terus saja meminta maaf.


"Kalian dua orang dengan kepribadian yang sama, silahkan beradu argumen. Aku bakalan jadi wasitnya, entah siapa yang bakalan menang kali ini" gumam Qania masih cekikikan.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...


__ADS_2