Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pria Kemayu


__ADS_3

Seperti yang telah disepakati, sehari setelah Qania keluar dari rumah sakit dan memilih untuk tinggal lebih aman di rumah Pak Erlangga selagi Papa Setya kembali ke kota mereka karena ia juga memiliki pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan oleh Nisha ataupun Rizal.


Bu Maharani pun sempat memintanya untuk tinggal saja di rumahnya, namun karena ini adalah misinya bersama Pak Erlangga dan hanya mereka berdua yang tahu alasan dari semua alasan yang membuat Qania mau melakukan ini pun maka Qania lebih memilih untuk tinggal di rumah Pak Erlangga.


Sepulangnya dari mengantar Papa Setya pagi tadi, Qania berdiam diri di dalam kamar dan menyibukkan diri membaca dokumen itu dan juga ia menyalin file di flashdisk ke dalam ponselnya agar nanti bisa ia lihat dengan mudah.


Qania memperhatikan foto yang ada di dokumen tersebut. Ia terus mengingat dimana ia pernah melihat wajah ini.


“Ayolah Qania, kau adalah seorang pengingat yang baik. Tidak mungkin kau segampang ini melupakan sesuatu,” gumamnya sambil berusaha keras mengingat wajah yang membuatnya tidak senang.


Uh


Qania mencoba berdamai dengan kekurangannya kali ini. Biarlah, toh suatu saat pasti ia akan mengingatnya jika berjumpa dengan orang ini. Atau mungkin akan terbawa sampai ke dalam mimpi.


Mimpi?


“Oh ya ampun pria ini adalah pria yang pernah datang ke dalam mimpiku. Pantas saja aku tak asing dengan wajahnya,” pekik Qania kemudian ia menutup mulutnya.


“Tunggu dulu, jika pria ini adalah Pak Angga berarti dalam mimpi itu sebenarnya aku sudah mengetahui endingnya akan seperti apa. Dan juga aku sudah menemukan dua jawaban dari empat orang itu. Arjuna meminta maaf di dalam mimpi dan ternyata ia sudah tiada. Dan akhirnya aku mengetahui bahwa yang ada di makam Arkana itu sebenarnya adalah dirinya. Pantas saja beberapa kali aku mendapatkan mimpi yang aneh. Lalu tentang Arkana? Dan gadis kecil penolongku itu siapa?”


Begitu banyak pikiran dan tanda tanya besar yang kini membuat Qania semakin bingung. Bukannya terselesaikan satu eh ini malah terbuka satu kasus justru malah ada permasalahan baru untuk Qania.


Qania pun mencoba mengesampingkan hal tersebut dan mulai membaca dokumen itu lagi. Terlalu banyak hal yang ia dapatkan dan itu membuatnya tak bisa berhenti menggerutu.


“Pak Jayadi? Siapa orang ini?” gumam Qania begitu membaca satu dokumen tentang orang tersebut.


Qania mendapatkan ide, namun ia tak tahu harus memulai darimana. Haruskah semua berkas ini ia serahkan kepada Pak Erlangga? Namun jika ia segera menyerahkan ini ia takutnya misi sebenarnya untuk dirinya sendiri tidak akan terselesaikan. Jadi Qania memutuskan biar dirinya dan Papa Setya saja yang menyelesaikan semua kasus ini.


Setelah Qania menyimpan kembali semua dokumen tersebut, ia teringat akan janjinya bersama Tristan. Jika saja Tristan tidak meneleponnya saat ini maka ia pasti akan lupa saking banyaknya pikiran dan masalah yang tengah ia hadapi.


Tristan bersandar di kursinya, ia baru saja menyelesaikan beberapa masalah yang berkaitan dengan bisnis tuan Alvindo dan Pak Handoko. Ia memutuskan untuk segera menyegarkan pikirannya dengan mendengarkan suara Qania.


“Assalamu’alaikum calon makmum,” ucapnya dan ia bisa mendengar Qania mendengus sebelum menjawab ucapan salamnya.


“Wa’alaikum salam. Jangan terlalu tinggi berekspektasi,” ucap Qania.


“Itu bukan hanya sebuah ekspektasi melainkan akan menjadi sebuah realita,” ujar Tristan. Meskipun pada kenyataannya Qania tetap saja bersikap ketus dan mengucapkan bahasa yang sedikit menciutkan hatinya namun itu tetap saja membuat Tristan tersenyum senang.


“Terserah kamu saja lah,” ucap Qania tak ingin berdebat panjang.


“Haha. Oh ya, sekarang sudah pukul tiga sore. Kita ke salon jam berapa sayang?” tanya Tristan.


Di tempatnya, pipi Qania bersemu merah mendengar panggilan sayang dari Tristan. Mendadak jantungnya berdegup kencang serta ia merasakan tangannya begitu dingin.


“Setelah Ashar. Kita akan bertemu di tempat tinggal lamaku,” jawab Qania.


“Siap sayang. Kalau begitu sampai ketemu nanti ya,” ucap Tristan benar-benar sangat senang.


Tanpa menjawab Qania langsung memutus sambungan teleponnya membuat Tristan yang sedang tersenyum mendadak berwajah masam mendengar panggilan yang diputus sepihak.


“Qania, Qania. Nggak peduli Lo itu bicara ketus, Lo selalu mendominasi pikiran gue. Saat gue kerja fokus aja nih Lo masih sempat-sempatnya muncul dipikiran gue. Entah itu senyuman manis Lo, ucapan nyelekit Lo, umpatan Lo dan apapun itu pasti selalu saja datang dan pergi di pikiran gue. Hmm, gue bisa gila kalau nggak bisa miliki elo,” gumam Tristan sambil memutar kursi kerjanya.


Namun sayang, lamunan indah itu harus terputus begitu ponselnya berdering dan itu adalah telepon dari Marsya.

__ADS_1


“Tris,” ucap Marsya yang sedang duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit.


“Hallo Sya. Gimana kabarmu? Maaf aku nggak pamitan kemarin. Aku harus segera pulang karena memang benar disini sangat banyak masalah,” ucap Tristan, walaupun ia tak berselera untuk berbicara namun ia tetap menghargai Marsya.


“Hah ... maafin Papa ya Tris. Karena masalah ini kamu jadi kerepotan. Dan maafin aku juga, kalau seandainya aku dengar ucapan kamu waktu itu mungkin nggak akan ada kejadian kayak gini. Maafin aku Tris,” isak Marsya.


“Aku udah maafin kamu kok Sya. Nggak usah nyalahin diri. Fokus kamu sekarang hanyalah pemulihan supaya bisa segera kembali,” ucap Tristan berusaha legowo.


“Makasih Tris. Mungkin beberapa hari lagi aku akan pulih dan mungkin bisa pulang. Kalau kontrolnya biar disana aja,” ucap Marsya menyeka air matanya kemudian ia tersenyum senang.


“Iya Sya. Oh ya, aku mau lanjutin pekerjaan dulu ya. Salam sama Om Alvin. Aku juga harap Om Alvin bisa cepat pulang Sya. Banyak banget masalah disini. Kalau Pak Handoko nggak buat masalah semua pasti baik-baik saja disini,” ucap Tristan kemudian mendesah frustrasi.


“Apakah sefatal itu Tris?” tanya Marsya terkejut.


“Ya. Tapi kamu nggak usah pikirin. Aku pasti akan menanganinya. Seperti yang aku bilang tadi, kamu fokus saja sama kesembuhan kamu. Aku tutup dulu ya Sya. Bye.”


Marsya melihat ponselnya yang sudah menampilkan layar gelap. Kemudian ia melirik ke arah papanya yang sedang sibuk dengan laptopnya sementara Tante Bendelina sedang keluar.


Dari raut wajah papa memang sepertinya ini masalah besar. Semoga Tristan bisa mengatasinya, batin Marsya.


Tristan memijat pelipisnya. Ia sebenarnya masa bodoh jika bisnis mereka hancur karena perbuatan pak Handoko tidak bisa ia maafkan dan bahkan Tristan pun berencana semakin menghancurkan bisnisnya. Namun ia kembali lagi disini bukan hanya kehidupan pak Handoko melainkan ada Marsya dan Papanya. Tristan tidak setega itu pada mereka yang sudah membantunya hingga menjadi seperti saat ini.


“Hahh ... apa jadinya jika Qania tahu aku membantu Pak Handoko,” gumam Tristan merasa frustrasi sendiri.


 


. . .


 


“Oh ya Nak, kemarin ada orang yang menitipkan ini untuk kamu,” ucap bapak pemilik kontrakan menyerahkan sebuah paket di kardus ukuran kecil.


Qania menerimanya lantas bertanya, “Dari siapa Pak?”


“Nggak tahu juga sih, mungkin di dalam ada petunjuk Nak. Bapak masuk dulu ya, mau siap-siap ke Masjid,” ucapnya dan Qania pun pamit ke kontrakannya.


Sesampainya di dalam kamar, Qania langsung membuka paket tersebut dan di dalamnya hanya ada sebuah kertas yang bertuliskan satu alamat dan ...


“Jayadi? Aku merasa familiar dengan nama ini. Siapa?” gumam Qania.


“Baiklah, akan kusimpan saja dulu. Mungkin ada kaitannya dengan kasus ini,” ucap Qania kemudian menyimpan selembar kertas tersebut ke dalam tasnya.


Qania melangsungkan ibadah Ashar di kontrakannya kemudian setelah ia selesai menyimpan peralatan sholatnya, terdengar bunyi klakson motor. Ia pasti sudah tahu kalau itu adalah Tristan.


Qania sedikit merapihkan penampilannya sebelum keluar bersama Tristan. Ia melihat Tristan menaiki motor sport yang sama persis dengan milik Arkana membuatnya terhenti sejenak. Qania terpaku, ia seolah sedang melihat Arkananya. Kilas balik kenangan saat-saat Arkana menjemputnya dengan menggunakan motor berputar bak film di hadapannya. Tanpa sadar Qania menyunggingkan senyuman dan juga air mata.


Tristan yang melihatnya tentu saja paham dengan situasi ini. Ia bahkan sengaja membeli motor ini karena ia ingat dulu Qania pernah memakai motor Arkana saat bersamanya.


Gue tahu ini salah, tapi gue pingin membuat kenangan sendiri bersama Qania. Gue cuma mau saat Qania naik motor kayak gini yang dia ingat adalah Tristan, bukan lagi Arkana. Gue bakalan berusaha dan gue bakalan buat Qania sepenuhnya memberikan ruang buat gue sebagai Tristan. Gue emang nggak nolak jika diminta menjadi Arkana, tapi gue nggak bisa bohong kalau gue juga pingin dilihat dari sisi Tristan. Maaf gue egois Arkana, tapi Lo udah lewat dan sekarang giliran gue.


Qania buru-buru menyadarkan dirinya, ia tak ingin terbawa suasana. Ia harus bisa mengendalikan dirinya yang sebenarnya sudah tidak bisa terkendali. Ia tahu itu bukan mayat Arkana, bagaimana bisa ia mengendalikan diri begitu melihat Tristan dengan gaya yang sama seperti Arkana.


Baiklah, karena kau sudah membuatku terkejut dan sudah membuatku mengingat Arkanaku, maka sebentar lagi giliranmu akan segera tiba. Rasakan saja pembalasanku nanti, gumam Qania sambil berjalan mendekati Tristan.

__ADS_1


“Ayo jalan,” ucap Qania yang tanpa diminta sudah naik lebih dulu dan menyadarkan Tristan dari lamunannya.


“Baik Nona. Kita ke salon yang mana?” tanya Tristan mulai menyalakan mesin motornya.


“Langganan kamu aja,” jawab Qania kemudian tanpa diminta ia melingkarkan tangannya di perut Tristan.


Sontak saja hal itu semakin membuat Tristan degdegan. Senyuman terus mengembang di bibirnya.


Gue nggak nyangka jatuh cinta itu sebahagia ini, gumam Tristan dalam hati.


Ia pun melajukan motornya menuju ke salon sambil bersenandung.


Apapun itu, gue Tristan, gue bahagia saat ini. Sangat bahagia, batinnya.


Lain halnya dengan Qania yang saat ini tengah mengubah-ubah ekspresi wajahnya. Kadang ia tersenyum masam, ingin tertawa dan juga mengumpat tanpa suara kepada Tristan.


Hei Tristan Anggara, jangan senang dulu. Ini baru awal. Dan asal kau tahu, aku sengaja melakukan ini karena aku merindukan dia dan juga ingin mengerjaimu saja. Hahh ... bagaimana kalau aku semakin mengerjainya seperti yang kulakukan dulu pada Arkana ya? Eh tapi nggak deh, untung di dia dong. Lebih baik sekarang fokus buat gunting rambutnya, batin Qania.


Tak lama motor itu berhenti di depan salon khusus pria, Tristan dan Qania pun turun. Mereka disambut dengan ramah oleh seorang pria gemulai. Tristan merasa risih, namun ini adalah nasib yang harus ia terima.


Salon ini bukanlah tempat ia bisa menggunting rambutnya melainkan ia hanya ingin menemukan salon terdekat agar bisa segera menggunting rambutnya dan setelah itu ia bisa menikmati waktu berdua dengan Qania. Siapa sangka justru harus bertemu dengan pria kemayu seperti ini. Mendengar suaranya saja sudah membuat Tristan bergidik. Belum lagi gombalan serta sentuhannya di kepala dan bahu Tristan yang membuatnya ingin segera lari dari tempat ini.


Qania hanya bisa menahan tawa melihat tampang menyedihkan Tristan. Ia yakin betul bahwa ini bukanlah tempat yang menjadi langganannya.


“Mas ganteng mau rambutnya model seperti apa?” tanyanya dengan suara khasnya.


Tristan berbalik bertanya kepada Qania. “Sayang, menurutmu modelnya kayak gimana?”


Qania berpikir sejenak kemudian ia mendapatkan ide.


“Mbak, kalau kayak gini bisa nggak?” tanya Qania sambil memperlihatkan foto Arkana di ponselnya.


“Oh tentu saja nona cantik,” ucapnya bersemangat kemudian mulai melakukan pekerjaannya sedangkan Tristan tidak tahu apa yang Qania perlihatkan kepada pria jadi-jadian ini.


Qania duduk bersantai menunggu urusan Tristan dengan rambutnya itu selesai. Padahal rambut Tristan tidaklah begitu gondrong namun karena niatnya dari awal maka cara satu-satunya yang terpikir olehnya hanyalah ini.


Sambil menunggu Tristan, Qania terpikir akan alamat seseorang yang diberikan kepadanya tadi. Sebuah paket yang dikemas dengan baik namun hanya berisi selembar kertas saja.


Apa aku ajak Tristan mencari alamatnya ya? Batin Qania.


Tak terasa sambil melamun justru Tristan telah selesai. Qania terpaku melihat tampilan Tristan dari pantulan cermin. Ia seolah melihat Arkananya. Arkananya dalam waktu lima tahun kebelakang. Ternyata jika digunting seperti ini justru wajah Tristan masih terlihat muda dari biasanya. Degupan jantung Qania semakin terasa, mungkinkah? ....


“Sayang gimana?” tanya Tristan membuyarkan lamunan Qania.


Qania tersenyum, “Lumayan. Kamu sebaiknya keramas dulu deh,” ucap Qania mencoba mencari cara agar Tristan tidak melihatnya mengambil beberapa helai rambutnya.


“Nggak usah deh. Aku bersihin aja,” tolak Tristan. Ia sudah tidak ingin berlama-lama di tempat ini.


“Ya udah. Mbak tolong antar dia ke toilet,” ucap Qania padahal ia bisa melihat di dekat mereka ada wastafel yang juga bisa Tristan gunakan.


Pria kemayu itu dengan senang hati mengantarkan Tristan namun Tristan pun merasa sedikit aneh hanya saja ia tak ambil pusing. Dengan cepat Qania mengambil beberapa helai rambut Tristan dan memasukkannya ke dalam kantung plastik kecil.


Baiklah, kita akan membuktikannya. Semoga saja kenyataan seperti apa yang aku ekspektasikan, batin Qania.

__ADS_1


__ADS_2