Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Berbeda


__ADS_3

Qania terus berdiam diri sejak diperjalanan pulang dari rumah sakit dan saat ini ia berada di kamarnya pun masih terus diam. Namun mulutnya yang diam itu menandakan pikirannya yang sedang sibuk bekerja. Lala yang tadi di taksi bersamanya pun mengurungkan niat untuk bertanya karena melihat kondisi Qania yang sepertinya tidak bisa diajak berbicara.


Saat mereka sampai di rumah pun Qania langsung masuk ke kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Lala yang terus mengekorinya itu.


Pertemuannya dengan Tristan Anggara kembali membuka luka lamanya dimana ia kehilangan sosok pria yang sangat ia cintai sepenuh hati untuk selama-lamanya.


“Aku harus mulai darimana? Apa yang harus aku lakukan?” dua kalimat yang akhirnya lolos dari mulut Qania.


Ia meramas kuat rambutnya yang terurai itu, ia sangat tersiksa dengan pikirannya saat ini. Sebagai seseorang yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, Qania memilih untuk tidak gegabah dalam hal ini. Ia menggunakan instingnya sebagai seorang calon pengacara untuk mengusut tuntas kasus siapa sebenarnya Tristan Anggara.


“Apa aku mulai bertanya pada mbak Marsya?”,.


“Tapi apa yang harus ku bicarakan agar dia tidak curiga. Aku semakin bingung dan putus asa”,.


Qania terus berpikir, ia bahkan mengabaikan bunyi ponselnya.


“Ah ayolah Qania berpikir, temukan ide. Kau sudah mendapatkan perlakuan buruk karena blak-blakan mengklaimnya sebagai suamimu sementara kau tahu dia itu si pria angkuh Tristan Anggara”,.


“Tapi ya itu semua juga karena aku terkejut melihatnya yang begitu mirip dengan Arkanaku. Ayolah pikirkan cara untuk bisa mengetahui identitasnya dan mencari kebenarannya”,.


Qania terus bermonolog, ia sampai saat ini masih belum menemukan cara untuk mencari tahu kebenarannya.


“Apa aku hubungi Raka saja ya untuk minta pendapat?”,.


“Ah ya, aku hubungi Raka saja” ucap Qania kemudian mencari ponselnya yang ternyata berada di dalam tasnya.


Qania terkejut melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari papanya, dengan cepat ia mengurungkan niat untuk melepon Raka dan langsung menelepon papanya.


“Assalamu’alaikum Pa” sapa Qania begitu teleponnya tersambung.


“Wa’alaikum salam nak, gimana keadaanmu sekarang?”,.


Terdengar suara papanya begitu cemas, begitu pun dengan Alisha dan juga Setya yang masih berada di rumah Zafran untuk menunggu kabar dari Qania. Sedangkan Arqasa, balita itu sedang tidur siang di kamar neneknya.


“Alhamdulillah udah baikan Pa” jawab Qania merasa bingung karena papanya bertanya tentang keadaannya.


“Kamu masih di rumah sakit nak?”,.


“Udah di kostan kok Pa. Tapi kok Papa bisa tahu kalau aku di rumah sakit?” tanya Qania yang kemudian berbaring karena merasa kepalanya sedikit pusing.


“Tadi papa menelepon nomormu dan katanya yang menjawab kamu berada di rumah sakit karena tadi pingsan saat seminar” jawab papanya, Alisha dan Setya pun masih menunggu Zafran dan Qania akan membahas soal suara pria yang sangat mirip dengan suara Arkana itu.


“Oh iya Pa, itu tadi mungkin Tristan Anggara karena dia yang mengantarkan ponsel Qania ke rumah sakit dan mengurus semua biaya rumah sakit Qania” jawab Qania.


Qania kembali teringat kata-kata kasar yang dilontarkan oleh Tristan kepadanya.


“Qania, Papa ingin bertanya” ucap Zafran hati-hati, ia kemudian menatap Alisha dan Setya bergantian yang raut wajah mereka sangat degdegan.


“Iya Pa, Papa mau tanya apa sama Qania?” tanya Qania tanpa merasa curiga.

__ADS_1


“Kamu tadi pingsan kenapa nak?” tanya Zafran lembut.


Deggg…


Qania begitu terkejut mendengar pertanyaan papanya yang tidak mungkin ia beritahukan kepada orang tuanya apa yang menjadi penyebab ia tak sadarkan diri tadi itu karena bisa saja keluarganya akan segera datang untuk bertemu dengan pria yang dijuluki angkuh oleh Qania itu.


“Hallo nak kenapa diam? Kamu sakit?” tanya Zafran.


“Engg..enggak kok Pa, Qania hanya sedang lemas aja karena tadi Qania nggak sarapan makanya pingsan karena terburu-buru”,.


Qania menggigit bibir bawahnya, bagaimana bisa ia mengatakan hal yang tidak masuk akal kepada papanya. Sangat jelas papanya tahu kalau ia sudah terbiasa tanpa sarapan bahkans sering mengabaikan waktu makan saat menempuh pendidikan di Fakultas Teknik dulu yang sangat menguras tenaga itu.


Sementara di rumah Zafran, ia dan Alisha saling memandang. Ada rasa tidak percaya di hati mereka karena sudah sangat hafal kalau Qania itu tidak akan jatuh pingsan hanya karena tidak makan.


“Lain kali jangan lupa sarapan ya nak” ucap Zafran.


“Iya Pa. Oh ya, anakku mana Pa?” tanya Qania berusaha mengalihkan topik, dan ia memang merindukan putranya terlebih lagi setelah pertemuannya dengan Tristan Anggara.


“Lagi tidur nak. Oh ya tadi papa berbicara dengan seseorang di ponselmu dan suaranya sangat familiar di telinga Papa. Apakah Papa mengenal orang itu?” jiwa penyelidik papanya pun keluar dan tentu saja Qania tahu maksud dari ucapan papanya itu untuk menginterogasinya perihal suara Tristan yang sangat mirip dengan suara Arkana.


“Maksud Papa?” tanya Qania berpura-pura tidak paham.


“Ah sudah nggak usah dibahas, mungkin Papa hanya berhalusinasi saja karena merindukan Arkana makanya suara tadi terdengar sangat mirip dengan suara pria brengsek yang sialnya sangat anak papa cintai itu” kekeh Zafran yang mendapat sikutan dari Setya.


Deggg….


Jantung Qania kembali dibuat seakan berhenti berdetak oleh papanya, kecurigaannya itu nyata adanya. Papanya sudah mendengar suara Tristan dan tentu saja papanya masih sangat hafal dengan suara Arkana.


“Enak saja mengatai anakku pria brengsek” protes Setya tak terima.


“Ya emang, buktinya dulu dia sering menyakiti hati Qania, ditambah lagi nikahin anak gue tanpa izin dari gue dan diam-diam manjat balkon kamar anak gue buat tidur bareng tanpa permisi lagi. Memangnya itu belum cukup untuk mengatakan bahwa anak lu itu brengsek” sungut Zafran.


Alisha hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan dua pria yang sudah menyandang status sebagai seorang kakek itu tanpa ada niat melerainya. Baginya itu merupakan hiburan tersendiri yang cukup manis.


“Tapi anak gue punya alasan dan saking dia menghargai lu dia rela tuh diam-diam menemui istrinya padahal sangat tidak enak kalau harus menahan rasa nyesek yang di bawah itu tuh” bela Setya sambil melirik tubuh bagian bawahnya.


“Ya itu kesalahannya karena tidak mau bicara jujur” tandas Zafran yang juga tidak ingin kalah.


Qania tertawa lirih mendengar perdebatan kedua pria yang dipanggilnya papa itu. memori manis bersama Arkana kembali melintas di benaknya dimana Arkana memanjat balkonnya hanya untuk tidur bersama dan bermesraan berdua bersamanya di dalam kamar.


“Hei sudah-sudah, kenapa kalian jadi berdebar seperti ini sih. Tuh dengar Qania menertawai kalian” lerai Alisha, ia lega mendengar tawa putrinya itu yang memang sedang cekikikan di dalam kamar kostnya karena teringat kenangannya bersama Arkana.


“Eh Papa Setya dan Mama juga rupanya” ucap Qania membuat perhatian mereka teralihkan.


“Iya sayang Papa lagi disini” sahut Setya kemudian melirik sinis kepada Zafran yang juga sedang menatap sengit kepadanya.


“Oh iya Pa, Ma, papa Setya mengenai orang yang tadi berbicara dengan Papa itu mungkin adalah Tristan Anggara. Memang sih suaranya sangat mirip dengan Arkana makanya tadi juga Qania sempat syok. Tapi sayangnya mereka bukan orang yang sama” ucap Qania lesu diakhir kalimatnya karena teringat sikap angkuh Tristan.


‘Mereka bahkan sangat jauh berbeda Pa’,.

__ADS_1


Terdengar desahan dari seberang saluran oleh Qania. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa orang itu bukan hanya memiliki suara yang sama tapi juga semuanya sama dengan Arkana dari segi fisik. Tapi hatinya sungguh berbeda dengan Arkana dan bahkan pikirannya pun jauh berbeda dengan Arkananya.


“Sudahlah ma, pa, kita harus bisa mengikhlaskan Arkana. Jangan buat dia tersiksa di alam sana” ucap Qania berusaha bersikap legowo.


Alisha, Zafran dan Setya saling berpandangan.


“Bukankah dia yang belum bisa mengikhlaskan Arkana?” beo Alisha menatap Zafran dan Setya.


Kedua pria itu kompak mengangguk, kemudian Alisha menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


Sementara di seberang telepon Qania nampak tengah cekikikan karena mendengar obrolan orang tuanya.


“Ya sudah ya Ma, Pa, Papa mertua, Qania sangat lelah hari ini. Qania pamit istirahat ya” ucap Qania berusaha menutupi perasaannya yang semakin sakit teringat akan Tristan Anggara.


“Iya sayang, kamu istirahat ya. Anakmu baik-baik saja disini” ucap mamanya.


“Iya Ma, titip Arqasa ya. Assalamu’alaikum”,.


“Wa’alaikum salam nak” jawab ketiga orang tuanya itu.


Qania menghela napas panjang setelah telepon mereka berakhir. Ia memijat pelipisnya karena ia merasa pusing dengan keadaan saat ini.


“Yang aku perlukan sekarang adalah ketenangan sebelum aku mencari tahu tentang dia yang berwajah sama dengan Arkanaku. Apakah benar dia adalah Arkanaku atau hanya wajahnya saja yang sama dengan Arkana?”,.


“Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku seperti akan meledak. Aku tidak ingin berharap lebih, entah mengapa hatiku menginginkan bahwa ia adalah Arkanaku namun disisi lain aku juga tidak ingin mengetahui bahwa ia adalah Arkanaku karena suamiku tidak akan pernah berkata sekasar itu padaku”,.


Qania mengacak-acak rambutnya, kenyataan yang baru saja  dilihatnya membuat ia tidak bisa berpikir jernih. Rasa kantuk pun tak juga datang menghampirinya hingga ia merasa bosan sendiri.


“Aku butuh hiburan. Aku ingin menelepon Raka dan memintanya untuk mengajakku berjalan-jalan” gumam Qania kemudian meraih ponsel yang tadi ia letakkan di atas bantalnya.


“Assalamu’alaikum Ka”,.


“Wa’alaikum salam Qan, ada apa?”,.


“Ka, kamu sibuk nggak?”,.


“Nggak, gue baru aja kelar mata kuliah. Kamu mau aku kesana?”,.


Lengkungan terbit di bibir Qania, entah mengapa perasaannya seperti tergelitik setelah mendengar ucapan Raka yang langsung mengerti keinginannya tanpa perlu ia utarakan.


“Iya Ka, bisa?” Qania menggigit bibir bawahnya.


“Kurang dari sejam aku sampai disana”,.


“Kamu hati-hati”,.


Terdengar gumaman dari seberang telepon sebelum Qania menutup panggilan tersebut.


Qania memutuskan untuk mandi sambil menunggu kedatangan Raka. Entah mengapa menunggu kedatangan Raka seperti menunggu kedatangan seseorang yang sangat ia nantikan. Sambil bersenandung Qania mengguyur tubuhnya dengan air.

__ADS_1


...❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️...


Terima kasih sudah membaca 💕💕💕


__ADS_2