Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Kerja Rodi


__ADS_3

Saat ini meja makan pak kadus yang biasanya hanya ada dua orang yaitu ia dan istrinya kini menjadi ramai dengan adanya sepuluh orang mahasiswa tersebut. Mereka sedang sarapan sambil berbincang tentang pembangunan masjid yang akan dimulai hari ini.


“Begini ya anak-anak, bapak lupa menyampaikan bahwa pekerjaan masjid itu akan dimulai setelah shalat dzuhur karena mayoritas penduduk disini itu kan petani, jadi mereka harus ke ladang perkebunan mereka dan juga ke sawah” ucap pak kadus setelah menegak segelas air.


“Jadi kita nggak jadi kerja sekarang nih pak?” Tanya Elin girang.


“Iya, nanti siang aja” jawab pak kadus tersenyum melihat wajah bahagia Elin.


“Ya nggak bisa gitu dong, kan ada kita yang bisa mengerjakannya dan juga ada pak kadus dan beberapa nelayan yang akan membantu kita. Bukan begitu pak?” sanggah Abdi.


“Astagfirullah bapak sampai lupa, benar kata nak Abdi. Kita sudah membagi jadwal kalau pagi sampai jam dua belas itu para nelayan yang bekerja dan dari pukul setengah satu para petani yang bekerja” ucap pak kadus sambil menepuk jidatnya.


“Yah bapak, aku udah senang juga” Elin menjadi lemas, dan itu membuat teman-temannya termasuk pak kadus dan istrinya tertawa.


“Tenang Felin,ada bang Yoga yang bakalan bantuin kamu. Jadi nggak perlu takut capek, oke” goda Prayoga membuat Elin menatap geram kepadanya.


“Cieeeee…” ledek mereka semua membuat Elin tersipu malu.


‘Gila nih cowok, berani banget ngegombal di depan umum’ batin Elin.


Qania tersenyum melihat Elin yang tersipu malu, sejauh yang ia kenal, sahabatnya ini sangat mudah menyukai seseorang.


‘Jangan gila Lin, tahan hatimu itu. Nggak ingat apa aku yang comblangin kamu sama kak Fadly, masa iya aku jadi perantara kamu sama Yoga lagi’ Qania bermonolog dalam hatinya sambil terus menatap Elin yang duduk di sampingnya itu masih malu-malu dan bahkan pipinya sudah merona.


Merasa ada yang tengah memperhatikannya, Elin menoleh ke samping dan benar saja ia sampai tersentak saat melihat Qania yang tengah menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


Glukk…


Elin kesulitan menelan ludahnya saat melihat sorot mata Qania yang sangat ia hapal itu.


“Qan gue tahu batasan kok” bisiknnya pada Qania.


“Ekhmmm” Qania berdehem dengan cukup keras sehingga pandangan teralih kepadanya.


“Kenapa Qan?” Tanya Witno.


“Nggak” jawab Qania singkat.


‘Mati gue’ .


Elin kembali menatap kearah Qania, seakan mereka saat ini tengah berbicara lewat telepati.


‘Maaf Qan, gue nggak mungkin gila deh’,.


‘Jangan macam-macam Lin, aku botakin kepala kamu’

__ADS_1


‘Baik Qan, aku janji nggak akan macam-macam’ Elin mengangguk.


‘Baguslah’.


Qania memutuskan pandangan dengan Elon kemudian berdiri dan mengumpulkan peralatan makan yang kotor di bantu oleh Raka karena tugas kebersihan dan masak-memasak hari ini adalah tugas mereka berdua setelah membagi jadwal kemarin siang setelah pembahasan program KKN.


Qania dan Raka berjalan kearah dapur sambil membawa peralatan makan yang tadi mereka gunakan. Setelah sampai di sumur yang berada di luar rumah, Qania menunggu Raka menimba air untung di tampung di dalam Loyang dan kemudian ia mencuci piring tersebut.


“Qania, emang lo bisa gitu nyuci piring?” Tanya Raka membuat Qania menatap kesal kepadanya.


“Cuma cuci piring doang, apa susahnya sih. Emang kamu lihatnya aku ini nggak bisa kerja hah?” ketus Qania.


“Ya nggak gitu juga, gue kan Cuma ngira elo anak manja yang nggak biasa kerja. Maaf ya” cicit Raka.


“Iya” jawab Qania singkat sambil menggosok piring dengan spon dan air busa.


Raka bertugas untuk membilas peralatan makan tersebut, dan setelah keduanya selesai mereka kemudian pergi bergabung dengan teman-teman yang lain yang tengah menunggu di teras.


*


*


Beberapa warga bersama pak kadus dan kesepuluh mahasiswa tersebut saat ini tengah bekerja sama untuk membangun masjid. Pak Oge dan Baron yang mengambil alih bagian mencampur material sementara pak Mirad, Abdi dan beberapa warga lainnya tengah menyusun batu kosong untuk pondasi. Sembilan mahasiswa lainnya bertugas untuk mengangkat campuran dan diberikan kepada pak Mirad.


Warga yang ramah membuat mereka dengan mudah berbaur dan saling bercanda sehingga tidak terjadi kecanggungan diantara mereka. Sikap kocak milik Baron, Abdi dan Prayoga mampu membuat para warga harus memegang perut mereka karena terus dibuat tertawa oleh ketiganya.


“Pak kok namanya campuran ya, kayak sayur aja, sayur campur gitu?” Tanya Elin kepada pak kadus.


“Gimana sih kamu bebep Felin, ini namanya campuran karena terdiri dari beberapa beberapa material seperti ai, pasri dan semen yang dicampurkan menjadi satu sehingga dinamakan campuran” ledek Prayoga sambil menjelaskan.


“Kan gue nggak tahu Yoga” ketus Elin.


“Makanya abang Yoga kasih tahu atuh neng” tegasnya.


“Iya iya, lo menang abang” ucap Elin kemudian meninggalkan Yoga dan membawa seember campuran untuk diberikan kepada pak Mirad.


Sementara Witno yang melihat Qania mengangkat dua ember sekaligus langsung berlari menghampirinya dan menyambar salah satu ember yang ada di tangan Qania.


“Eh Witno, kok diambil sih?” Tanya Qania yang masih terkejut.


“Kamu itu cewek Qan, nggak baik ngangkat berat-berat gini” jawab Witno sambil berjalan membawa dua ember meninggalkan Qania yang berdiri diam menatapnya.


“Woy, bengong aja lo. Entar kesambet mau” Raka menyenggol bahu Qania kemudian pergi sambil cekikikan karena mendengar umpatan yang menurutnya menggemaskan.


‘Haaahh gue bisa gilaaa, bisa-bisanya gue senang banget kayak gini setelah menggodanya. Membuatnya kesal kok malah menjadi kesenangan tersendiri ya buat gue’ teriak Raka dalam hati.

__ADS_1


Witno yang melihat Qania berjalan dengan mulut komat-kamit mengumpati Raka yang untuk ketiga kalinya terus mengejutkannya dan membuatnya kesal itu langsung saja ia manfaatkan untuk mendekati Qania.


“Kamu kenapa Qan?” Tanya Witno sambil menyambut ember milik Qania dan memberikannya kepada pak Mirad yang tengah menyusun batu pondasi.


“Nggak, lagi kesel aja sama..”,.


“Sama gue ya” celetuk Raka yang datang dengan membawa dua ember campuran.


“Tahu ah, gelap” kesal Qania kemudian mengambil kembali embernya dari Witno dan kembali mengambil campuran.


Ikhlas yang melihat kekesalan Qania yang disebabkan oleh sahabatnya itu langsung berjalan mendekati Raka yang saat ini sedang berusaha mendekati Qania lagi.


“Ka, sini lo” tarik Ikhlas menjauh sedikit dari lokasi masjid.


“Kenapa sih As?” Tanya Raka sedikit kesal karena gagal membuat Qania kesal lagi.


“Gue Cuma mau memperingati elo karena elo sahabat gue. Gue tahu nih gerak-gerik lo yang kalau udahh membuat cewek kesal berarti lo mulai ada rasa sama tuh cewek. Gue mohon lo hentikan kegilaan ini, dia itu udah punya pacar” ucap Ikhlas kemudian pergi meninggalkan Raka yang baru saja ingin berbicara.


“Ih rese banget lo kartu As” umpat Raka namun masih di dengar jelas oleh Ikhlas hanya saja ia tidak berniat untuk menanggapi.


‘Apa iya gue ada rasa sama Qania? Ah nggak mungkin, gue Cuma suka aja lihat wajah kesalnya yang menggemaskan. Ternyata orangnya mudah sekali kesal, tapi menarik dan menggemaskan’ batin Raka sambil menatap Qania yang tengah bercanda dengan Elin sambil membawa campuran.


Manda tersenyum kecut saat mendengar pembicaraan Raka dan Ikhlas, ia tadi tidak sengaja melihat Ikhlas menyeret Raka dan itu membuat jiwa kekepoannya meronta-ronta untuk segera menguping.


“Sial, lagi-lagi gue kalah sama si Qania. Udah pacarnya cakep dan gue udah tergila-gila sama Arkana itu, di tambah lagi mantan terindah gue si Witno lagi mendekatinya dan sekarang pangeran tampan yang cuek itu pun menyukainya. Sial sial sial” umpat Manda sambil mengepalkan sebelah tangannya, karena tangan yang satunya sedang memegangi ember.


Pekerjaan kembali berjalan dengan baik meskipun sesekali terdengar Elin yang tengah berteriak frustasi karena mendapat gombalan receh dari Prayoga yang sialnya ia menyukainya. Sementara Qania harus terus menyapu dada karena Raka dan Witno terus merecokinya.


Sementara Banyu, ia hanya berjalan apa adanya tanpa ada niatan berbuat ulah. Hanya ikut tertawa jika menurutnya lucu dan menjawab jika ditanyai.


“Ya sudah, ini sudah pukul sebelas lewat sepuluh menit, kita selesai sampai disini dulu karena harus bersih-bersih untuk melaksanakan sholat dzuhur. Setelah ini juga aka nada pergantian pemain, tapi tidak dengan kesepuluh mahasiswa ini. Saya merasa mereka adalah tenaga suka rela yang dikirim untuk kita” ucap pak kadus diselingi canda membuat mereka tertawa bersama.


“Oke semua, kami pamit dulu. Kami harus mengisi tenaga agar bisa bekerja rodi lagi” celetuk Raka yang mendapat geplakan dari Ikhlas.


Gelak tawa terdengar diarea tersebut akibat perkataan Raka yang mengatakan kerja rodi.


“Lo ikhlas nggak sih kerjanya?” Tanya Ikhlas menatap kesal kearah Raka.


“Hei lo amnesia ya, kan gue Raka bukan Ikhlas. Lo kan yang namanya Ikhlas bukan gue” ceplos Raka membuat Ikhlas mendengus kesal.


“Sabar Ikh, dia emang gitu, ngeselin” celetuk Qania sambil menatap kesal ke arah Raka yang sedang melongo karena mendapat sindiran dari Qania.


“Cieee Qania, udah hapal aja sama sifat gue” godanya membuat Qania mendengus kesal.


“Sudah bubar-bubar” ucap pak kadus melerai jangan sampai ada perdebatan panjang meski pun ia tahu itu hanyalah candaan semata.

__ADS_1


... ...


...***...


__ADS_2