Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Unyu-unyu


__ADS_3

Setelah puas bermain di sungai, Qania dan Elin kembali ke rumah pak kadus. Mereka mendapati di depan rumah Manda tengan mondar-mandir seperti orang sedang mencari sesuatu. Saat ia menyadari kedatangan Qania dan Elin, ia langsung berkacak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kalian dari mana saja, hemm?” Tanya Manda sambil menatap intens kepada mereka berdua secara bergantian.


“Kita dari sungai, setelah dua rumah di belakang rumah pak kadus ini ada sungai” jawab Elin seraya menarik Qania msuk ke dalam rumah.


“Heh kenapa kalian malah masuk sementara gue dari tadi nungguin kalian” teriak Manda sambil berlari kecil untuk menyusul Qania dan Elin ynag sudah masuk ke dalam kamar.


“Yang lainnya mana?” Tanya Manda yang kini sudah duduk di atas tempat tidur bersama Qania dan Elin.


“Mana gue tahu, elo kan yang di rumah dari tadi” jawab Elin ketus.


“Lo kok ketus gitu sih?” dengus Manda tak terima, ia memberi tatapan sengit pada Elin yang juga menatapnya.


“Kalian berdua lanjutin aja, aku mau mandi” sela Qania sambil berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian gantinya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah Qania masuk ke dalam kamar mandi, Elin langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tidak memperdulikan Manda yang terus saja mengoceh tidak jelas.


“Sial” umpat Manda ketika mendengar dengkuran halus di sebelahnya.


Karena sudah merasa kesal, Manda memilih untuk keluar dari kamar untuk berjalan-jalan di sekitar rumah pak kadus. Saat ia menutup pintu kamar dan berbali, tak sengaja ia berpapasan dengan Witno yang ingin ke kamar mereka.


“Lo ngapain kesini?” Tanya Manda menyelidik.


“Gue mau manggil kalian, kaasihan bu Karni dia nyiapin sarapan sendiri” jawab Witno datar.


“Oh, ya udah ntar kita kesana. Lagian si Qania lagi mandi dan Elin malah molor. Gu juga mau keluar bentar, lo mau ikut nggak?” Tanya Manda menawarkan.


“Tidak, terima kasih” tolak Witno kemudian pergi berlalu.


“Sok ganteng lo, sok jual mahal. Dulu juga lo yang ngejar-ngejar gue waktu masih SMA” umpat Manda yang sudah tidak terdengar oleh Witno karena orangnya sudah kembali masuk ke kamarnya.


Perasaan Manda yang tadinya kesal kini semakin bertambah kesal karena Witno mengabaikannya, padahal dulu mereka adalah pasangan harmonis selama dua tahun di SMA dan satu tahun selama di kampus. Ya, mereka berpacaran selama tiga tahun dan Witno memutuskannya karena ia ingin mengejar cinta Qania.


Namun meskipun dijuluki pasangan harmonis dulu, Manda sama sekali tidak pernah tahu bahwa Witno sering bermain perempuan di belakangnya. Jika saja ia tahu, mungkin ia sudah menangis darah karena mengetahui kekasih yang ia bangga-banggakan dulu itu ternyata tidak lebih dari seorang penjahat kel*min.


Saat melewati pagar halaman rumah pak kadus, Manda kembali berpapasan dengan Prayoga yang meliriknya dengan lirikan mengejek. Seketika Manda menjadi sangat ingin menelan hidup-hidup semua teman sekelompk KKNnya itu karena berhasil membuatnya kesal di pagi ini.


Manda berjalan menuju kearah sungai seperti yang diberitahu oleh Elin tadi, dan hanya lima menit saja ia sudah sampai di sungai tersebut. Disana sudah ramai para warga yang kebanyakan ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian dan anak-anak kecil berumur dibawah lima tahun sedang mandi.


Manda tidak memperdulikan orang-orang yang ada di sungai itu yang sedang menatapnya. Ia memilih untuk duduk di atas batu besar sambil mencelupkan kakinya ke dalam air.

__ADS_1


“Jadi dia itu yang namanya Arkana, sangat tampan” gumam Manda sambil tersenyum.


“Pantas si Laras sangat tergila-gila sama dia, orang dia manis, tanpan dan unyu-unyu. Arrghh gue bisa gila kalau memikirkan cowok itu” pekik Manda namun tanpa suara karena ia tidak ingin disangka gila oleh warga di sekitarnya itu.


Manda kembali teringat akan pertemuan pertamanya dengan Arkana semalam saat Arkana masuk ke dalam rumah pak kadus sambil membawa sekarung beras.


Flash back 0n…


Manda yang merasa bosan karena terus mendengarkan Zafran dan pak kadus serta teman-temannya yang tengah mengobrol hal-hal yang tidak jelas ingin masuk ke kamarnya.


“Semuanya maaf saya permisi masuk ke kamar dulu, soalnya saya masih sangat lelah” izin Manda.


Baru saja ia berdiri, suara tawa dari arah luar mengalihkan perhatiannya. Terlihat di ambang pintu seorang pria tengah memikul beras sekarung yang beratnya lima puluh kilo gram datang bersama Qania.


‘Siapa cowok unyu itu?’ Tanya Manda dalam hatinya sambil terus menatap Arkana yang sedang dibantu oleh Baron untuk menurunkan beras yang ia pikul.


“Terpesona kah?” sindir Elin yang melihat ekspresi Manda yang tidak berkedip memandangi Arkana yang sedang berjalan ke arah mereka.


Tanpa sadar Manda mengangguk membuat Elin berdecih.


‘Jangan harap lo bisa mendekati Arkana dan merusak hubungan Qania dengannya’ batin Ellin, ia terus mengamati ekspresi Manda.


“Hah, berat juga pa” ucap Arkana sambil mendaratkan bokongnya di kursi di samping Manda yang tengah berdiri menatapnya.


“Lo mau berdiri di situ aja atau mau masuk ke kamar, Manda?” Tanya Raka membuat Manda tersadar dari lamunannya.


“Eh, ma..maaf” cicitnya kemudian duduk kembali.


“Kamu Ka, baru juga mikul beras lima puluh kilo udah ngeluh gitu. Apa kabarnya kalau papa nyuruh kamu gendong Qania dari sini sampai di rumah” ledek Zafran kemudian tertawa kecil.


“Ih papa, apa-apan ini” gerutu Qania, padahal dalam hati ia berteriak ‘mau pa, Qania mau digendong Arkana sampai di rumah’.


“Kalau Arka sih oke-oke aja pa kalau Qania yang di gendong. Jangankan dari sini sampai ke rumah, sampai ke ujung dunia pun Arka sanggup pa” celetuk Arkana yang akhirnya mendapat cubitan di lengannya dari Qania.


“Awwhh sakit sayang” ringis Arkana, tanpa sadar Qania langsung mengelus lengan Arkana yang mungkin saja sudah memerah. Arkana memakai jaket sehingga Qania tidak bisa melihat bekas cubitannya itu.


Yang lainnya tertawa melihat kelakuan pasangan tersebut, kecuali Manda. Gadis itu sibuk memikirkan Arkana saja sedari tadi, ia sama sekali tidak tertarik untuk menimbrungi pembicaraan rekan-rekannya. Hati, mata dan pikirannya saat ini sedang fokus ke satu titik yaitu Arkana.


‘Boleh nggak sih gue cium pipinya? Atau boleh nggak sekedar gue elus, gue penasaran banget. Ya ampun senyumnya buat jantung gue berdisko, udah ajep-ajep aja dia’ Manda terus bermonolog dalam hatinya sambil mengunci pandangannya pada lelaki yang tengah berceloteh, lalu tertawa, tersenyum dan diam sambil mendengarkan itu.


‘Dia diam terlihat sangat cool, dia tertawa terlihat sangat unyu-unyu, dan saat dia senyum ya ampun seakan dia itu makhluk tertampan yang sengaja Tuhan ciptakan buat memanjakan mataku ini’ histeris Manda dalam hati.

__ADS_1


‘Apa kabarnya diri gue saat nanti bisa miliki Arkana itu. Memandangnya saja gue udah kayak gini, gimana kalau gue jadi kekasihnya. Huuaaaaa, gue pingiiin’ teriak Manda, namun Cuma dalam hatinya saja.


“Lo lihat apa Manda?” Tanya Prayoga membuyarkan lamunan fantasi Manda.


Manda menoleh kearah Prayoga yang duduk bersama Baron dan Ikhlas yang saat ini tengah menatapnya membuat ia jadi salah tingkah.


“Nggak kok, gue Cuma lagi capek aja” elak Manda.


“Kalau capek noh masuk kamar, istirahat” celetuk Baron.


“Bentar lagi, disini masih seru, hehe” ucap Manda tertawa dibuat-buat.


‘Gue harus jaga image gue di depan Arkana. Maaf Laras, sepertinya sasaran lo gue harus tikung’ batin Manda sambil bertekad dan mengabaikan perasaan sahabatnya Larasati Devana Bramantio.


“Jaga mata” cibir Elin tak suka, namun saat Manda meliriknya ia langsung menatap ke arah lain.


Manda menebalkan mukanya dan menulikan telinganya, ia hanya ingin memandangi indahnya ciptaan Tuhan yang ada di sampingnya ini.


“Ya sudah kami harus pamit, nanti pas pulang dari kota P kami singgah lagi” ucap Zafran mengakhiri obrolan mereka.


“Papa kok bisa sama Arkana sih pa?” Tanya Qania, ia dari tadi sangat penasaran kenapa Arkana bisa bersama papanya.


“Oh itu, papa Arka tadi nelepon minta dia buat ngurus cabang hotel di kota P dan kebetulan papa juga dapat tugas dinas di kota itu. Jadi kita berangkat bareng” jawab papanya sambil mengelus rambut putrinya sayang.


“Bukannya Arkana harus balik ke proyeknya yang dua minggu itu pa?” Tanya Qania lagi.


“Papanya udah nyuruh orang lain buat gantiin dia karena bagian hotel itu urusan Arkana jadi papanya narik dia dan cari gantinya buat ngurus proyek pertamanya itu. Orang yang papa tempatkan juga tadi sudah melapor dan sudah kembali ke proyek mereka setelah pengganti Arkana datang” jelas papanya.


“Oh gitu, iya deh” ucap Qania lesuh.


“Udah, Cuma dua bulan doang ini. Sabar ya” goda Arkana membuat Qania menjitak kepalanya.


“Ampuun, Qania KDRT pa” adu Arkana membuat mereka tertawa terkecuali Manda.


Ingin sekali rasanya Manda bersalaman dengan Arkana saat pira itu tengah bersalaman dengan pak kadus, pak Oge, pak Mirad serta dengan Abdi, Baron dan Prayoga. Namun ia tidak bisa karena Arkana bahkan tidak meliriknya.


Manda memilih masuk ke dalam kamar setelah yang lainnya turut mengantarkan rombongan Zafran. Ia hanya mendengar pak kadus mengucapkan terima kasih dan hati-hati di jalan sebelum ia tertidur karena memang sudah sangat lelah.


Flash back off…


‘Gue harus bisa dapatin Akana, harus’ tekad Manda dalam hati.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...


__ADS_2