Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Aku Mendapatkanmu


__ADS_3

Fandy tersenyum manis kepada Qania. Tatapan matanya begitu teduh melihat gadis yang ia cintai tanpa henti itu yang kini sudah menjadi seorang ibu dari seorang bocah lelaki.


“Aku mau ngomong sama kamu Lin,” ucap Fadly mendekati Elin dan Qania.


“Jangan pegang,” sentak Elin saat Fadly akan meraih tangannya.


“Oh maaf, aku tidak bermaksud menyentuh calon pengantin. Aku bahkan sudah tidak bisa lagi menyentuh tanganmu ya, tangan yang dulu selalu aku genggam,” kekeh Fadly dengan suara lirih.


“Bukan seperti itu. Lihat, tanganku baru saja diriasi dengan hena, kan tidak lucu kalau riasan cantik ini rusak dan menempel di tanganmu,” ucap Elin sambil memperlihatkan telapak tangannya.


Fadly tertawa lucu saat mengetahui alasan Elin mencegahnya untuk menyentuh tangannya. “Benar sekali, aku pun tak ingin tanganku tergambar seperti itu,” ucapnya.


“Ya sudah sih kami nggak bisa lama, katakana apa yang ingin kau katakan pada Elin,” serga Qania. Ia sebenarnya sangat tidak ingin berada di dekat Fandy saat ini. Ia masih merasa tak nyaman berdekatan dengannya.


“Duduk dulu,” ajak Fandy.


Kali ini Qania menurut, ia mengajak Elin untuk duduk di bangku taman namun Elin enggan.


“Qan, aku nggak mau duduk. Berdiri aja sih, aku menjaga perasaan Yoga meskipun dia nggak lihat. Aku harus menjaga jarak dari para lelaki terutama dia,” ucap Elin.


“Baiklah,” desah Qania, namun tak ada yang melihat ia menyeringai tipis.


“Katakan Kak,” ucap Elin terdengan tegas.


“Tak mau dud—“


“Tak perlu berbasa basi,” sela Elin.


“Oke baiklah. Aku sebelum memutuskan untuk kembali ke kota ini dan menemuimu aku pikir aku masih punya sedikit harapan untuk mendapatkan kembali hatimu. Mengingat bagaimana dulu kita saling mencintai, aku merasa masih memiliki setitik harapan untuk kembali bersamamu. Dengan harapanku itu aku memutuskan untuk kembali, aku yakin bisa mendapatkan kesempatan kedua. Tapi sampai disini justru aku mendengar kau akan menikah. Oh, sungguh rasanya aku ingin menertawakan diriku sendiri. Ternyata aku masih saja sama, masih memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Terlebih lagi baru saja kau menolak kusentuh dan tak ingin berlama-lama denganku. Bahkan kau begitu menjaga perasaannya meskipun dia tidak disini. Ternyata aku sudah tidak memiliki kesempatan itu lagi, hahh bodohnya aku,” ucap Fadly panjang lebar.


Elin tersentuh tentu saja dengan penuturan mantannya itu. Namun ia bisa menguasai diri dengan tidak bersikap baper. Bahkan ekspresi di wajahnya datar-datar saja dan itu membuat Fadly tersenyum kecut.


“Benar, sangat benar bahwa aku sudah hilang dari hatimu sayang,” kekeh Fadly namun dengan suara yang terdengar begitu getir.


“Jika kau ingin tahu sejak kapan kau tidak lagi di hatiku, maka akan aku katakana bahwa sejak hari dimana kau berselingkuh. Bukannya dulu pernah kukatakan bahwa jika suatu saat nanti kau berselingkuh, entah aku melihatnya atau tidak, itu artinya mulai hari itu kau sudah tidak lagi berada di hatiku. Dan jika kau ingin tahu sejak kapan aku mengubur namamu di hati dan pikiranku, jawabannya adalah sejak kau menampakkan diri bersama selingkuhanmu itu di hadapanku. Sejak saat itu aku sudah menutup semua akses untukmu, untuk jalanmu kembali pulang padaku sudah kututup,” ucap Elin dengan begitu tegasnya membuat Fadly membatu.


“Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, kami permisi,” lanjutnya.


“Tunggu dulu, aku ingin minta maaf padamu,” cegah Fadly.


“Aku sudah memaafkanmu,” tukas Elin.


“Biarkan aku meminta maaf dengan benar, sayang. Aku minta maaf karena sudah membuatmu kecewa. Aku minta maaf sudah melukai hatimu. Aku bersalah, bahkan aku sudah membuatmu dan keluargamu resah karena ulah saudaraku ini. Aku harap kamu mau memaafkan semuanya dengan hati ikhlas. Dan satu hal lagi, aku sampai detik ini masih mencintaimu Felin,” ucap Fadly dengan lirih di akhir kalimatnya.


“Ya, aku sudah lama memaafkanmu. Dan saranku, sebaiknya bukalah lembaran baru. Jangan mencintai dan berharap pada orang yang tidak mungkin bisa kau miliki meskipun terus kau semogakan. Jangan berharap pada sesuatu yang cukup mustahil untuk kau raih. Karena apa? Karena hanya akan ada dirimu yang tersakiti. Jangan menyakiti dan menyusahkan diri sendiri. Mulailah dengan yang baru, jangan membuat kesalahan yang sama. Ingat, hukum alam dan hukum Tuhan itu berlaku,” ucap Elin bijak kemudian ia melempar senyuman kepada Fadly dengan tulus.


“Terima kasih. Kau sungguh sangat dewasa dengan pemikiranmu itu. Aku semakin menyesal sudah menyia-nyiakanmu dulu. Bisakah aku menculikmu dan menggagalkan pernikahmu besok?” gurau Fadly membuat Elin mendengus.


“Jangan mimpi.”


Suara itu membuat keempat orang yang ada di taman menoleh ke belakang.


“Yoga,” pekik Elin.


“Aku yang menghubunginya sedari kita masih di rumahmu. Saat kau masih teleponan dengan dia aku sudah memberitahukan saudaraku itu.  Jika kau ingin tahu sih kenapa dia bisa ada disini,” ucap Qania sambil mengerlingkan matanya pada Yoga.


Elin membulatkan mulutnya mendengar ucapan Qania. Pantas saja Qania menyetujuinya, rupanya sudah mendapatkan izin dari calon suaminya. Elin menggulum senyuman, Qania memang bisa diandalkan.


Qania dan Yoga melakukan jabat tangan dan tos ala anak Teknik. Kemudian keduanya saling merangkul.


“I miss you brother,” ucap Qania.

__ADS_1


“I miss you too my sista,” balas Yoga.


“Eh, jangan rangkul-rangkulan, entar Elin cemburu,” ledek Qania.


“Apa sih Qan. Sebelum aku sama Yoga juga kalian udah dekat lama kan,” ucap Elin yang memang sama sekali tidak merasa cemburu.


“Oh baguslah.”


Sesaat mereka terdiam. Pandangan Fadly dan Yoga bertemu, tak ada tatapan teduh disana. Keduanya menatap sengit. Hanya Qania dan Fandy yang menyadari aura permusuhan dari keduanya.


“Baiklah, urusan kita sudah selesai bukan. Ayo kembali,” ajak Qania. Ia tidak ingin anatar Yoga dan Fadly terjadi perselisihan.


“Qania, tunggu sebentar, aku ingin berbicara denganmu,” vegat Fandy menarik tangan Qania.


Qania menatap datar tangan Fandy yang sudah memegang tanpa izin lengannya itu. Fandy spontan langsung melepaskannya.


“Maaf,” cicitnya.


“Kalau begitu aku duluan ya, aku nggak bisa lama-lama. Kamu segera pulang kalau sudah selesai, ingat besok hari penting kita,” ucap Prayoga kemudian mengelus kepala Elin.


“Iya,” jawab Elin dengan senyuman manisnya membuat hati Fadly remuk.


Dulu pemilik senyum indah itu adalah gue, batin Fadly.


Prayoga berpamitan pada Qania dan juga kedua saudara kembar itu. Ia pun pergi menaiki motornya diikuti tatapan oleh keempat pasang mata yang masih berada di taman.


“Katakan,” ucap Qania terdengar dingin.


“Kamu apa kabar Qan?” tanya Fandy berbasa-basi, ia tidak bisa mengontrol degub jantungnya.


“Seperti yang kamu lihat,” jawab datar Qania.


“Oh iya. Maaf mengganggu waktumu. Aku hanya ingin melihatmu saja. Dan sekarang aku bisa melihat kalau kamu baik-baik saja. Beberapa waktu yang lalu aku sempat mendengar kabar bahwa kau dan Arkana sudah menikah. Namun aku juga mendengar berita duka tepat di hari pernikahan kalian … aku sempat merasa bahwa ini adalah kesempatanku untuk mendekatimu lagi, mengingat kau sudah tidak bersamanya lagi ….”


Semuanya mendengarkan cerita Fandy tanpa ada yang menyela termasuk Qania yang hanya melipat kedua tangannya di atas perutnya.


“Sampai saat kami kembali ke kota ini. Aku tidak sengaja melihatmu dengannya. Aku tentu saja terkejut melihatmu sednag berpelukan dengan seorang pria. Aku merasa sudah ada orang lain yang mendapatkan posisi pengganti itu. Sampai akhirnya aku melihat dari dekat. Oh ternyata aku saja yang percaya dengan berita hoax tersebut. Ternyata kau sedang bersama suamimu sendiri di bandara. Aku melihat dia begitu menyayangimu. Pelukan dan ciumannya untukmu itu seakan-akan menamparku. Aku ternyata memang sudah lama menjadi pecundang ….”


Elin jelas saja memelototkan matanya mendengar cerita Fandy. Mana mungkin jika Arkana sedang bersama Qania sementara ia menyaksikan sendiri pemakaman suami sahabatnya itu.


“Qan,” panggil Elin lirih.


Qania menggeleng pelan sembari tersenyum tipis pada Elin. Bisa Elin tangkap maksudnya bahwa akan Qania jelaskan nanti. Ia pun memilih diam dan menunggu penjelasan dari Qania nanti.


Oh jadi Fandy melihatku bersama Tristan di bandara. Baguslah, itu bisa membuatnya tidak mendekatiku. Sekarang aku memiliki tugas untuk membujuk Tristan menjadi daddy Arqasa. Sungguh pekerjaan yang mudah tapi tak mudah untuk hatiku, batin Qania.


Tidak mungkin. Fandy pasti salah lihat. Arkana jelas-jelas sudah lama tiada. Ya, dia pasti salah lihat, gumam Elin dalam hati.


“Oh jadi waktu itu kau melihat kami. Ya, dia akan berangkat untuk mengurus bisnisnya. Aku mengantarnya ke bandara. Lain kali cari dulu kebenaran beritanya supaya kau tidak berekspektasi terlalu tinggi. Ingat, kau akan merasa sangat hancur ketika ekspektasimu tak sesuai dengan kenyataan.”


“Ya, kau benar sekali, hehe.” Fandy tertawa namun bisa Qania lihat tatapan nanar dari matanya.


Tak ada niat bagi Qania untuk merasa iba, Fandy sudah lama terhempaskan dari hatinya.


“Kami pamit dulu. Jika ada waktu datanglah besok di acara pernikahan Elin. Permisi,” ucap Qania kemudian mengajak Elin untuk segera kembali.


Fandy dan Fadly hanya bisa menatap punggung kedua wanita yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Keduanya pun memutuskan untuk segera pergi dengan membawa kekecewaan karena harapan keduanya sudah pupus.


Elin dan Qania berjalan masuk ke halaman rumah Elin. Sempat Qania tengok lampu kamarnya sudah redup berganti dengan lampu tidur. Ia sempat mengernyit. Apa yang dilakukan bocah itu, pikirnya. Namun masih ada satu hal lagi yang tengah ia pikirkan, bagaimana memberi penjelasan kepada Elin tentang Tristan. Ia hanya tersenyum mengangguk menanggapi sapaan tetangganya yang berkumpul di halaman rumah Elin. Disana juga masih ada Papa-nya dan juga Papa Elin.


“Udah cari anginnya?” tanya Zafran.

__ADS_1


“Udah Pa.”


“Udah Om.”


Jawab Elin dan Qania serempak.


“Oh ya Nak, tadi Arqasa merengek ingin kau pulang saja. Sepertinya anakmu mimpi buruk. Kau pulanglah, temani dia,” ucap Papa-nya.


Qania melirik Elin yang saat ini jelas sedang cemberut.


“Ya udah pulang aja. Awas besok pagi nggak nongol,” ucap Elin pasrah membuat Qania terkekeh. “Selamat lo ya malam ini. Tapi gue bakalan terus nagih penjelasan dari lo.” Elin berbisik pada Qania serta menatap sengit sahabatnya itu, sementara yang ditatap hanya menampilkan cengirannya.


“Ya udah aku pulang dulu,” ucap Qania berpamitan.


Qania merasa lega karena ia bisa selamat dari Elin. Ia pun melangkah masuk ke kamarnya dan mendapati anaknya itu ternyata sedang bermain game. Ada yang aneh, pikir Qania.


“Sayang, kamu mimpi buruk Nak?” tanya Qania saat ia sudah duduk di atas tempat tidur bersama Arqasa.


“Nggak Mi,” jawab Arqasa yang masih sibuk dengan layar ponselnya.


“Lho kok?”


“Ar sengaja biar Mami pulang. Lagi pula tadi Mami belum jawab pertanyaan Ar,” kesalnya.


“Pertanyaan yang mana?” tanya Qania. Dalam hati ia was-was, jangan sampai pertanyaan yang menjurus kepada Tristan.


“Tentang Daddy baru lah,” jawab Arqasa kemudian melepaskan ponselnya dan menatap penuh binar permohonan kepada Mami-nya.


Sudah kuduga.


“Lalu?”


“Ya gimana menurut Mami?” desak Arqasa.


“Mami mau tanya sama Ar, memangnya Ar mau mengganti posisi Daddy Arkana, hm?” tanya Qania dengan lembut. Ia mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih.


“Sebenarnya enggak Mi. Posisi Daddy kandung Ar akan tetap jadi nomor satu. Ar juga cuma mau Om Tristan, karena dia mirip sama Daddy-nya Ar. Kalau yang lain jelas tidak mau lah Mi. Ar juga mau Mi disayang sama keluarga kayak teman-teman Ar, ada Mami dan Daddy. Boleh ya Mi, mau ya,” bujuknya dengan lirih membuat Qania langsung membawa tubuh anaknya itu kedalam dekapannya.


“Baiklah, Mami akan menuruti keingin Ar. Mami hanya ingin Ar bahagia, karena kebahagiaan Mami itu adalah melihat anak Mami ini bahagia. Mami akan membujuk Om Tristan agar dia mau menjadi Daddy-nya Ar. Gimana, apakah anak Mami senang, hem?” tanya Qania.


Arqasa mendongakkan kepalanya,” Tentu saja Mi. Terima kasih Mi, Ar sayang Mami,” Arqasa memeluk erat tubuh Qania, ia begitu merasa bahagia saat ini.


Qania tak kuasa menahan air matanya. Ia merasakan sesak sekaligus senang karena bisa membuat anaknya merasa sebahagia ini.


“Nah sekarang Ar bobo. Mami bakalan bobo sama Ar malam ini,” ucap Qania seraya melepaskan pelukannya.


Qania membantu Arqasa berbaring sambil membelai rambut anaknya hingga tertidur. Ia duduk bersandar dan terus bersenandung hingga anaknya itu benar-benar terlelap. Bahkan bibirnya terus tersenyum dan itu membuat Qania merasa lucu.


Mungkin aku harus memperbaiki keadaan. Mungkin memang sudah saatnya aku membagi hatiku dan membiarkan orang lain masuk ke dalamnya. Meskipun hatiku ini masih merasa yakin bahwa Tristan itu adalah Arkanaku. Semua demi kebahagiaan anakku, aku melakukannya untukmu Nak.


Qania mengecup kening Arqasa kemudian ia ikut berbaring hingga menyusul ke alam mimpi bersama Arqasa.


Satu hal yang tidak Qania ketahui, sedari tadi ada yang tengah menguping pembicaraan mereka. Orang itu saat ini tengah melompat-lompat kegirangan. Ia terlihat seperti  seorang bocah yang baru saja mendapatkan mainannya. Siapa lagi kalau bukan Tristan Anggara.


Dengan liciknya ia meminta Arqasa berpura-pura meminta Mami-nya untuk pulang dengan alasan mimpi buruk kemudian diam-diam menelepon dirinya agar mendengar apakah Qania setuju atau tidak dengan keinginan Arqasa. Ia mematikan panggilannya begitu tak lagi mendengar suara Arqasa, pikirnya Arqasa pasti sudah tertidur.


Sesuai harapannya, Qania menyetujuinya. Ia tidak bisa lagi mengekspresikan kebahagiaannya saat ini.


“Aku mendapatkanmu Qania, aku mendapatkanmu. Akan kubuat kau menjadi wanita terbahagia di dunia. Akan kubuat semua wanita iri padamu karena terlalu bahagia. Tunggu kedatanganku Qania, aku pasti akan datang untuk memintamu kepada orang tuamu,” ucap Tristan sambil menciumi foto Qania di ponselnya.


 

__ADS_1


...🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳...


__ADS_2