
“Gue akan mengambilnya, merebutnya dari lo. Gue nggak peduli apa kata dunia dan bagaimana perasaannya ke gue, yang gue tahu dia hanya boleh dimiliki oleh gue” teriak Fandy setelah membuat Arkana babak belur.
“Brengsek lo. Sampai gue mati gue nggak akan pernah membiarkan Qania jatuh ke tangan lo bangsat” bentak Arkana sambil berusaha berdiri.
“Hahaha.. Masih tinggi juga nyali lo, nggak sadar lo kalau ini akhir dari hidup lo. Setelah itu gue yang bakalan dampingin Qania.. Hahahaha” Fandy tertawa mengejek Arkana yang kini sudah berdiri namun begitu lemah.
“Meskipun gue mati, gue yakin Qania nggak bakalan mau sama lo, cih” Arkana berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak.
“Oh ya? Gimana kalau gue ngelakuin sesuatu yang membuat Qania mau tidak mau tetap bakalan milih gue?” Fandy mencoba memanasi Arkana.
“Keparat, apa maksud lo hah?” teriak Arkana emosi.
“Arkana, Arkana. Lo bodoh atau pura-pura dungu hah. Gue bisa saja hamilin Qania dan dengan begitu dia bakalan jatuh ke pelukan gue dan lo hanya akan menangis di alam baka, hahahaha” tawa Fandy berhasil membuat hati Arkana sakit dan hancur.
“Bangsat lo” maki Arkana kemudian berjalan dengan cepat ke arah Fandy.
Dengan sisa tenaga yang ia punya, Arkana berusaha melawan Fandy meskipun beberapa kali ia harus terjatuh namun ia berusaha bangkit.
“Meskipun gue bakalan mati, gue senang karena di berikan kesempatan telah mengenal dan memilikimu Qania. Maaf kalau gue hanya bisa mendampingi lo sampai di sini saja. Gue sayang banget sama lo, maaf gue nggak bisa jagain lo” lirih Arkana, kemudian ia berusaha berdiri dengan sisa tenaganya.
Uhukk..uhukk..
Arkana terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya, Fandy yang juga sudah mulai lemah kini tertawa melihat keadaan Arkana.
Arkana berlari ke arah Fandy dan berusaha untuk memukul leher Fandy dan berhasil, namun sesuatu yang tidak ia sadari terjadi padanya.
Jleebb..
Tanpa Arkana sadari ternyata Fandy sudah memegang belati entah sedari kapan.
“Arrgghhh…” Arkana dan Fandy sama-sama mengerang kesakitan.
“Bangsat lo” ucapan Arkana terdengar lirih, sementara Fandy yang kini terbaring di tanah masih bisa tertawa meskipun dalam keadaan sekarat.
“Gu..gue u..dah bil..lang ka..kal..lau gue ng..gak bisa m..mil..liki Qania lo ju..ga nggak bak..kalan bi..bisa mil..lik..i di..dia” ucapan Fandy terbata, kemudian ia menghembuskan napas terakhirnya.
Bersamaan dengan itu, Qania datang bersama Rizal dan teman-teman Arkana yang lainnya.
“Arkanaaaa….” Teriak Qania histeris begitu melihat Arkana terbaring dengan berlumuran darah.
“Sial kita terlambat” umpat Rizal.
Mereka bergegas mendekati Arkana yang sedang sekarat. Qania duduk dan memangku kepala Arkana.
“Arkana hikss…” Qania terus menangis sambil membersihkan darah di wajah Arkana.
“Sayang, kamu datang” ucap Arkana sembari tersenyum manis.
“Jangan banyak bicara, kamu harus di bawa ke rumah sakit, kamu pasti kuat” ucap Qania dengan air mata yang terus berjatuhan di wajah Arkana.
“Maaf nggak bisa jagain kamu lagi dan maaf karena akan membuatmu menangis lagi. Maaf karena ak..”
__ADS_1
“Shuutt, jangan banyak bicara. Kamu harus kuat. Ayo Zal bantuin bawa Arkana ke rumah sakit” Qania histeris.
“Sudah sayang, nggak perlu. Aku hanya mau bilang kalau aku beruntung pernah bersama kamu, jaga diri baik-baik. Aku sayang ka..mu” setelah mengucapkan hal tersebut, mata Arkana terpejam dan tangannya yang tadi membelai wajah Qania langsung terjatuh.
“Tidak.. sayang bangun ayo bangung hiksss..” tangis Qania sambil menggoyangkan tubuh Arkana.
“ARKANAAAAA……”
…….
“Qaniaa…”
“Kakakk..”
Kedua orang tua Qania mencoba membangunkan Qania yang tertidur di sofa ruang keluarga.
“Mama, papa, Arkana hiksss…” Qania memeluk mamanya.
“Tenang sayang kamu Cuma mimpi” hibur Alisha sambil membelai punggung Qania.
“Mimpii?” tanya Qania kemudian ia melepaskan pelukannya.
Qania mengedarkan pandangannya, melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa ia berada di rumahnya membuatnya menghembuskan napas lega.
“Emang kamu mimpiin apa sayang” tanya papanya.
“Qania mimpi Arkana, dia.. dia meninggalkan Qania selama-lamanya pa” isak Qania.
Alisha kembali memeluk putrinya yang terlihat gemetar itu.
“Sayang, mimpi itu hanya bunga tidur. Kamu doakan saja semoga Arkana baik-baik saja ya sayang” hibur Alisha.
"Tapi Qania takut ma, Qania udah dua kali loh ini mimpiin Arkana yang nggak baik. Qania takut kalau ini ternyata pertanda, Qania takut kehilangan dia ma" Qania menangis tersedu-sedu, semakin mempererat pelukannya.
"Sekarang coba hubungi Arkana, biar kamu lebih tenang. Kalau perlu minta dia datang kemari" ucap papanya mencoba menghibur.
"Papa kamu benar sayang, supaya kamu lega" sambung mamanya.
"Baik ma".
Qania meraih ponselnya yang ada di atas meja, ia segera menghubungi Arkana.
📱📞My Beloved.....
"Hallo sayang"
"Arka, kamu dimana?" tanya Qania masih sesenggukan.
__ADS_1
"Aku di rumah, baru mau ke kafe. Ada apa sayang?".
"Enggak.." Qania menggantung ucapannya, ia masih menguat-nguatkan hatinya untuk berbicara.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Arkana karena merasa ada yang aneh dan suara Qania terdengar habis menangis.
"Aku baik" jawab Qania singkat.
"Kamu nangis? Hei ada apa? Aku kesana sekarang ya. Aku tutup dulu" kata Arkana langsung mematikan panggilan tersebut dan bergegas ke rumah Qania.
...
"Gimana sayang?" tanya mamanya.
"Dia mau kemari ma, tanpa Qania minta" jawab Qania kemudian menghembuskan napasnya.
"Kak Arkana pengertian banget sih" goda Syaquile.
"Kalau jadi laki-laki memang harus peka, biar orang tersayang nggak kesal dan pastinya makin sayang" sahut papanya bangga.
"Emamg papa gitu?" tanya Syaquile.
"Jelas dong, iya kan ma" Zafran menatap Alisha sembari tersenyum menggoda.
"Iya deh, iya in aja lah" jawab Alisha membuat semuanya tertawa.
"Kan Arkana sebentar lagi sampai, kamu sebaiknya mandi dulu ini udah sore loh" pinta mamanya.
"Baik ma" turut Qania, dengan cepat ia berjalan ke kamarnya yang berada di lantai dua.
"Aku kok jadi kepikiran mimpinya kak Qania ya pa, mav ucap Syaquile sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
"Emang adek mikirin apa?" tanya Alisha sambil menatap Syaquile.
"Ya kepikiran aja ma, kan nggak mungkin bisa mimpiin hal buruk yang sama sampai dua kali" kata Syaquile, ia tidak ingin menceritakan tentang kejadian yang menimpa Arkana dan Qania, baginya itu hak dari Arkana dan Qania untuk menceritakannya.
"Kalau pun itu pertanda, kita kan bisa mencegahnya. Mungkin juga kakakmu terlalu sayang dan takut kehilangan Arkana, jadi dia sampai kebawa mimpi" ujar papanya.
Hening..
Semua larut dengan pikiran masing-masing. Syaquile yang sudah tahu bahaya pada kedua kakaknya itu terus berpikir hal yang sama mungkin akan terjadi lagi. Sementara Zafran merasa bahwa kemungkinan mimpi Qania adalah pertanda buruk, namun ia enggan mengutarakannya.
^^^"*Mungkin hanya bunga tidur, semoga saja tidak akan terjadi apa-apa pada kedua anak itu. Ya Allah, lindungilah mereka" batin Zafran.^^^
"Kak Arkana, semoga saja kakak selalu dalam lindungan Allah. Semoga orang jahat itu tidak kembali mencelakai kakak dan kak Qania" batin Syaquile.
"Semoga saja mimpi Qania hanya karena dia terlalu sayang dan takut kehilangan Arkana" batin Alisha*.
Ketiganya memikirkan hal yang sama namun tidak ingin mengutarakannya karena takut akan menjadi beban pikiran terlebih lagi Qania.
...............................
__ADS_1