
Pagi ini Qania sudah merapikan diri karena semalam ia sudah mendapatkan kabar dari teman-temannya kalau hari ini hasil ujian akan keluar, sehingga ia bangun pagi dan bergegas mandi.
Ia juga sudah menghubungi Arkana, karena ia tidak mau jika tunangannya itu akan protes dan mengomelinya jika tidak diberi tahu aktifitas di luar rumahnya. Namun bagi Qania itu juga merupakan keberuntungannya.
"Lumayan, tukang ojek gratis"
Seperti itu lah ucapannya setiap kali Arkana memaksa mengantar jemputnya. Ia sama sekali tidak bermaksud memanfaatkan kekasihnya, hanya saja si pria pemaksa itulah yang menjadikan dirinya bagai tukang ojek dan bodyguard sekaligus untuk Qania.
Semalam setelah makan malam Arkana sudah memutuskan untuk mengawal Qania keluar rumah, karena takut akan terjadi hal-hal buruk lagi.
🌺 Di Kampus
"Sayang, kamu sebaiknya jangan nunggui aku deh. Ini bakalan lama, nanti kamu bosan" ucap Qania saat mereka sampai di parkiran kampus.
"Kamu yakin?" tanya Arkana memastikan.
"Iya sayangku, cintaku, pujaan hatiku, pelipur laraku" jawab Qania semanis mungkin.
"Ah sepertinya aku suka dengan semua sebutanmu itu. Mulai sekarang kalau mau manggil atau jawab aku harus seperti itu" ucap Arkana dengan smirk di wajahnya.
"Gila kamu" ucap Qania sambil memukul pelan helm Arkana, namun Arkana hanya tertawa.
Keduanya masih betah berada di atas motor.
"Sayang, kamu sebaiknya pulang gih. Aku akan hubungi kamu lagi kalau udah selesai, janji" pinta Qania dengam semanis mungkin.
"Kamu ngusir aku?" tanya Arkana.
"Enggak sayang, aku hanya nggak mau kamu bosan nungguin aku" jawab Qania.
"Aku nggak bakalan bosan. Lagian kalau nanti aku pergi terus kamu kenapa-napa, gimana hemm?".
"Nggak akan. Lagian kamu tahu sendiri teman-teman aku hampir semua laki-laki" jawab Qania memelas.
"Iya juga ya. Ya sudah, kamu hati-hati dan jangan lupa hubungi aku" akhirnya Arkana mengalah.
"Oke sayangku" jawab Qania bersemangat.
"Ya sudah, kamu masih mau di sini atau turun terus masuk?" tanya Arkana yang sebenarnya meledek Qania yang masih betah duduk di atas motor, padahal sedari tadi dia terus meminta Arkana pulang.
"Upss, hehe. Aku nggak sadar" kata Qania terkekeh.
"Bilang aja nggak mau aku pergi" ledek Arkana.
"Ah tau ah. Kalau terus ladenin kamu yang ada aku nggak masuk-masuk" ketus Qania.
"Tau aja" Arkana terkekeh.
"Ya sudah hati-hati di jalan" kata Qania sebal.
"Hei aku belum pamit loh ini" protes Arkana.
Namun Qania malah melenggang pergi sambil tertawa, Arkana kesal namun sedetik kemudian ikut tertawa.
"Dia memang gadisku" gumamnya kemudian melajukan motornya meninggalkan area kampus.
...................
__ADS_1
"Gue nggak terima" bentak Qania sambil melemparkan tasnya di atas meja kantin.
"Sabar Qan, ini masih bisa di perbaiki kok" hibur Yani.
"Mbak es jeruk satu sama baksonya ya, cepat" teriak Qania memesan makanannya.
"Hei gue kira lo marah sama mbak kantin" ucap Rey yang sempat tercengang.
"Aku tuh kalau marah dan kesal ya harus makan" jelas Qania namun masih memancarkan aura kesalnya.
"Bisa bisanya ya" kata Baron masih terus menggelengkan kepalanya.
"Ya bisa" jawab Qania galak.
"Oke tenang dulu, mending neng Qania makan deh" kata pak Ilon, suami mbak Pipit pemilik kantin.
"Benar pak, makasih ya" jawab Qania sembari tersenyum senang.
"Makan...hmmmm" Qania dengan semangat membuat Rey, Yani dan Baron menggeleng tak percaya.
"Amarahnya bisa berubah hanya dengan diberi makan" ucap Baron tak percaya.
"Benar lo Ron" sambung Rey.
"Ya sudah kita makan" ajak Yani.
Sementara di sudut kantin, seorang gadis yang sedari tadi memantau Qania terus tersenyum penuh kemenangan.
"Rasain lo, makanya jangan berani sama Larasati" gumamnya.
Uhuk..uhukk..
Cepat-cepat Yani memberikan Qania minuman karena tersedak kuah bakso akibat Imran berteriak mengagetkannya.
"Imraaan... kalau aku tersedak bakso gimana? Untung cuma kuahnya" omel Qania sambil mengusap air matanya.
"Maaf Qan, gue nggak lihat kalau lo lagi makan" cicitnya.
"Hmm, ada apa sih?" tanya Rey.
"Itu, Qania di panggil bu Lira" jawabnya sambil menegak minuman Qania.
"Eh itu punya aku" ucap Qania kesal.
"Sorry Qan, gue haus nyariin lo kemana-mana" jawab Imran.
"Emang ada apa? Kenapa bu Lira nyari Qania?" tanya Baron.
"Kayaknya masalah nilai lo yang kosong deh Qan" tebak Imran.
"Astaga, Qan. Bu Lira itu dosen wali lo, cepat lo samperin" sergah Baron.
"Iya, gawat nih. Aku duluan ya. Mbak Pipit ntar aku bayar ya, aku buru-buru nih" teriak Qania sambil merapikan dirinya dan mengambil tas ranselnya.
"Oke neng" jawab mbak Pipit dari dalam.
"Tungguin disini" pesan Qania pada teman-temannya.
__ADS_1
Semua mengangguk, masih dengan wajah tegang dan masing-masing dari mereka memikirkan apa yang membuat Qania di panggil dosen walinya itu.
🌺 Di Ruangan Bu Lira
tok,tok,tok..
"Masuk" sahut bu Lira dari dalam.
Qania membuka pintu tersebut dengan jantung berdebar tak karuan, ia berusaha tenang namun sulit.
Qania menatap bu Lira yang sedang serius di depan layar komputernya, dosen yang berumur sekitar empat puluh tahun itu sedang mengerjakan sesuatu. Meskipun terkenal dengan sikap dinginnya, bu Lira adalah salah satu dosen yang baik dan juga pintar. Cantik, meskipun sudah memiliki dua orang anak namun ia tetap terlihat canrik dan segar.
"Permisi bu, ibu memanggil saya?" tanya Qania selembut mungkin.
"Duduk" titahnya.
Setelah Qania duduk, bu Lira menatap lekat padanya.
"Bagaimana bisa Qania?"
"Iya bu..?" tanya Qania bingung.
"Kenapa nilai mata kuliah dari bu Intan kamu kosong? Kamu ini mahasiswa saya yang terbaik dan saya sudah promosikan kamu akan lulus tiga tahun setengah. Kenapa bisa begini?" tanya bu Lira dengan raut wajah kesal.
"Saya tidak tahu bu, saya tadi sudah menghadap bu Intan tapi katanya saya nggak ngumpulin kertas ujian saya. Padahal saya loh bu yang pertama kali ngumpulin. Tapi bu Intan bilang kalau kertas saya nggak ada" cerita Qania, ia begitu kesal namun juga ingin menangis.
"Terus?"
"Dia nggak mau ngasih saya perbaikan bu, katanya saya harus program lagi tahun depan" jawab Qania lemas.
"Dia tidak memberi kamu alternativ?" selidik bu Lira.
"Itu yang buat saya bingung bu, bu Intan sama sekali nggak ngasih saya kesempatan buat ngulang ataupun tugas yang lainnya" curhat Qania sambil memijat pelipisnya.
Bu Lira diam sambil menatap Qania, ia juga pusing dengan kejadian ini.
"Ya sudah, kamu boleh pergi" katanya dengan lemas.
"Baik bu" jawab Qania tak kalah lemasnya.
Qania berjalan gontai, ia rasanya ingin berteriak namun malu karena masih di kampus.
Sebuah pesan singkat masuk di ponsel Qania.
✉ Dosen Wali Aqoeee
"Saya akan selidiki, sepertinya ada yang tidak beres. Nanti saya hubungi kamu lagi. Tetaplah bersikap seolah kamu sedih, saya tahu ini kesengajaan. Jangan lemah, saya mendukungmu"
...
Seakan angin segar menerpa Qania, ia langsung merubah raut wajahnya dengan tersenyum senang. Namun sedetik kemudian ia kembali memasang wajah sedih karena teringat pesan bu Lira.
Sementara di ruangan bu Lira sedang geram, karena ia tahu bahwa bu Intan sengaja menjatuhkan Qania. Ia tanpa sengaja melihat bu Intan sedang mengintip dari jendela saat ia sedang bersama Qania, sehingga ia harua berpura-pura memarahi dan seolah tidak mendukung Qania.
"Saya tidak akan mengampunimu Intan" geram bu Lira.
........................
__ADS_1