Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Tiga Kali


__ADS_3

“Papa, tangan Arkana bergerak pa, tangan Arkana bergerak” teriak Qania saat merasa tangannya seolah digenggam oleh Arkana.


Setya yang tengah menunduk itu langsung menoleh pada tangan Arkana yang digenggam oleh Qania. Tadinya ada secerca harapan saat mendengar ucapan Qania, namun hati Setya patah lagi karena ia sama sekali tidak melihat pergerakan itu.


“Qania sayang, tabahkan hatimu nak. Arkana sudah meninggalkan kita semua, jangan seperti ini” hibur Setya sambil lalu merangkul Qania.


“Enggak pa, tadi Qania merasakan Arkana genggam tanganku pa, aku tidak berbohong” sanggah Qania.


“Pak berhenti pak, berhenti” teriak Qania sambil menggedor dinding batas antara supir ambulans dengan mereka.


“Sabar nak, sabar. Kamu harus ikhlas agar Arka tenang, ya” isak Setya membuat Qania memecahkan tangisnya.


Qania langsung mendekatkan telinganya di dada Arkana berusaha mencari detak jantung Arkana namun ia kembali memecahkan tangisannya karena ia tidak menemukan detakan yang selalu menghangatkan hatinya itu.


“HIksss, Arkana jangan tinggalin aku. Ku mohooonn” isak tangis Qania terdengar begitu pilu sambil terus menggenggam tangan kekasihnya itu.


Setya hanya bisa menangis tanpa suara sambil memandangi mayat anak satu-satunya itu sekaligus satu-satunya keluarganya. Ia tidak menyangka harus kembali lagi kehilangan anggota keluarganya setelah dua puluh tahun berlalu.


Tanpa terasa ambulans kini sudah memasuki halaman rumah Setya Wijaya yang mana disana sudah -banyak pelayat dari para tetangga dan juga teman-teman Arkana yang terlihat sangat terpukul dengan air mata yang membasahi pipi mereka.


Orang tua Qania dan adiknya serta Rizal dan Fero sudah berada lebih dulu disana. Nampak bi Ochi dan pak Anwar sedang saling merangkul dengan tangis mereka menyambut kedatangan jenazah anak yang sudah mereka besarkan dengan setulus hati meski pun bukan anak kandung mereka itu.


“Pa, kenapa nak Arkana ninggalin kita secepat ini pak, hikss” isak bi Ochi dalam rangkulan suaminya.


“Bapak juga nggak nyangka bu, sungguh bapak berharap ini hanya mimpi” tangis pak Anwar.


Jenazah Arkana kini sudah berada di dalam rumah dengan Qania yang enggan beranjak dari sisinya.


“Sayang aku tahu kamu hanya sedang tidur saja kan, ayolah buka matamu. Aku akan memberikanmu candy favoritmu sangat banyak jika kau membuka mata saat ini. Tolonglah sayang, ini tidak lucu” tutur Qania sambil membelai wajah Arkana yang sudah memucat itu.


Zafran dan Alisha menangis pilu melihat kehancuran putri mereka yang belum bisa merelakan kekasihnya itu. Alisha hanya bisa memberikan pelukan pada anaknya dan juga menguatkannya dengan terus meminta Qania untuk bersabar dan ikhlas.


“Permisi, kami akan memandikan jenazah” ucap pak imam masjid yang ada di sekitaran rumah Setya Wijaya.


“Jangan bawa suami saya pak, kenapa bapak ingin memandikan suami saya yang sedang tidur sih” teriak Qania tak suka.


“Nak tabahkan hatimu, ikhlas nak. Ini sudah menjadi takdir dari Allah, jangan memberatkan langkahnya” ujar pak imam membuat Qania memecahkan tangisnya.


“Biarkan Arkana dimandikan ya nak, kamu harus ikhlas” ucap Zafran kemudian membawa Qania kedalam pelukannya.


Qania menumpahkan tangisnya dalam pelukan papanya saat melihat tubuh Arkana dibawa oleh orang-orang yang bertugas memandikan dan mengkafaninya. Qania berontak saat papanya menahan dirinya untuk melihat Arkana yang sedang dikafani. Zafran sangat tahu kalau anaknya pasti akan mengacau saat orang-orang itu tengah melakukan tugasnya.


“Zal, Ro tolong bantuin aku buat ketemu Arkana. Mereka tidak boleh melakukan itu padanya” teriak Qania pada Rizal dan Fero yang sedang berdiri di dekat Qania sambil terus menangisi kematian Arkana.


Teriakan Qania membuat hati kedua sahabat baik Arkana itu remuk, semakin tidak tahan lagi setelah melihat kehancuran Qania kehilangan Arkana. Mereka hanya bisa menatap iba pada Qania dan Gea berlari memeluk Qania yang sedang ditahan oleh papanya.


“Sabar Qan, kita semua kehilangan dan gue tahu lo yang paling hancur. Sabar Qan, jangan seperti ini, hiksss” tangis Gea saat memeluk tubuh Qania.


“Ge, gimana aku bisa sabar aku nggak bisa Ge, sungguh aku nggak bisa. Arkana, hikss. Dia nggak boleh ninggalin aku kayak gini, aku nggak mau ditinggal dia Ge aku nggak bisa dan aku nggak sanggup” teriak Qania membuat para pelayat ikut terbawa suasana dan turut menangis melihat kesedihan Qania.

__ADS_1


Setya yang sedang duduk di dekat mayat Arkana yang sudah dikafani itu terdiam namun terus menatap putranya yang kini tinggallah nama. Bukan Setya tidak sedih, ia hanya tidak bisa lagi mengeluarkan tangisnya terlebih melihat keadaan Qania yang tiada hentinya menangis dalam dekapan Zafran.


Setelah di sholatkan, tubuh Arkana dimasukkan kedalam keranda membuat Qania semakin histeris. Qania ingin ikut di dalam ambulans menemani Arkana namun tangan papanya yang kuat itu menahan tubuhnya.


“Lepasin pa, lepasin Qania. Qania mau sama Arkana, mereka nggak boleh bawa suami Qania pa. Nggak boleh!” bentak Qania membuat semua yang menyaksikan kepedihannya itu menangis pilu.


Bunyi sirine ambulans semakin membuat perasaan Qania hancur, mobil itu sudah membawa tubuh kekasihnya pergi untuk mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya. Qania memberontak dan berlari terus untuk mengejar mobil ambulans itu tanpa mempedulikan kakinya yang tidak memakai alas berlari di atas aspal.


Papanya sudah mengajak Qania untuk naik di mobil mereka tapi tidak diindahkannya, ia terus saja mengejar sampai akhirnya ia tersandung batu dan terjatuh hingga lututnya berdarah.


“Jangan bawa Arkanaku, ku mohon jangaaaaan” teriak Qania.


“Arkana bangun sayang hei. Apa kau lupa lusa kita akan menikah lagi haah? Cepat bangun dan buat aku kesal untuk melengkapi harimu. Aku janji setelahnya aku akan menghadiahkan setiap inci di wajahmu dengan candy favoritmu” teriak Qania yang tidak mampu berdiri lagi.


Mobil ambulans semakin jauh membawa jenazah kekasihnya membuat hati Qania hancur remuk dan mati rasa.


“ARKANAAAAAAAAAAA”,.


Prangg......


Baru saja Arkana akan memasukkan satu suapan nasi goreng ke mulutnya, ia dibuat terkejut dengan teriakan Qania dari lantai atas. Dengan cepat Arkana berdiri dan berlari menaiki anak tangga menuju ke kamar Qania, begitu pun dengan Syaquile dan kedua orang tuanya.


“Qania” panggil Arkana sambil mengetuk pintu kamar Qania.


Tak ada sahutan dan pintu terkunci karena Arkana lah yang menguncinya semalam. Tanpa menunggu lagi Arkana langsung mendobrak pintu kamar Qania hingga pintu itu terbuka lebar memperlihatkan Qania yang tengah tidur dengan keringat yang membanjiri wajahnya dan raut wajahnya terlihat gelisah.


“Sayang bangun sayang, hei bangun” panggil Arkana cemas.


Mendengar suara yang teramat sangat ia rindukan itu membuat Qania perlahan membuka matanya.


Bughhhh…


Dengan cepat Qania bangun dan memeluk Arkana dengan erat lalu menumpahkan tangisnya dalam dekapan kekasihnya itu.


“Sayang kau kenapa? Mimpi burukkah?” tanya Arkana cemas.


“Hikss, sayang apa benar ini kau? Apakah ini nyata? Apakah kau nyata? Aku takut ini hanya mimpi aku bisa melihatmu dan aku tidak ingin bangun jika memang ini hanya sekedar mimpi. Tolong jangan bangunkan aku” tangis Qania membuat Arkana meradang.


Arkana membelai rambut Qania sambil menengadahkan wajahnya berusaha menahan air mata yang akan turun sebentar lagi. Ia tahu pasti Qania bermimpi buruk lagi tentangnya. Kedua orang tua Qania yang menyaksikan itu turut merasakan kesedihan begitu pun dengan Syaquile. Tidak ingin mengganggu, kedua orang tua Qania dan adiknya pun keluar meninggalkan pasangan yang sebentar lagi akan menikah itu.


“Sayang ini aku Arkana Wijaya, pria menyebalkan yang selalu membuat kamu kesal. Aku pria tampan yang selalu mencintaimu dan yang terpenting aku ini Arkana Wijaya, suamimu” ucap Arkana berusaha melucu agar Qania berhenti menangis.


‘Narsis abis, pasti ini nyata. Arkanaku, pria menyebalkan itu nyata. Kekasihku nyata’ sorak Qania dalam hati.


Qania membuka matanya dan menengadah melihat wajah tampan yang sedang tersenyum padanya. Qania bukannya membalas senyuman itu, bibirnya malah bergetar dan perlahan ia mulai menumpahkan air matanya lagi. Ia membelai wajah Arkana, meyakinkan dirinya bahwa apa yang sedang ia tatap ini nyata.


“Sudah puas menikmati ketampananku, hem?” ledek Arkana membuat Qania mengerucutkan bibirnya.


Cup…

__ADS_1


Dengan cepat Arkana mendaratkan ciuman kilatnya di bibir Qania membuat Qania menatap kesal padanya.


“Morning kiss baby” goda Arkana.


“Ini memang nyata, pria menyebalkan di depanku ini memanglah nyata” gerutu Qania membuat Arkana terkekeh lalu membawa Qania dalam dekapannya dan menghujani puncak kepala Qania dengan ciumannya.


“Mimpi apa, hm?” tanya Arkana dengan lembut.


“Tiga kali Ka, tiga kali aku mimpiin kamu ninggalin aku selamanya. Aku, aku tidak tahu harus apa dan aku sangat takut. Aku takut mimpiku akan menjadi nyata aku takut kau meninggalkanku” isak Qania yang kian mempererat pelukannya.


Tess..


Air mata Arkana tumpah begitu mendengar ucapan Qania, ia sudah menduga bahwa Qania bermimpi buruk lagi tentangnya. Perasaannya semakin berkecamuk, ia juga merasa takut dengan mimpi Qania terlebih lagi beberapa hari ini ia selalu uring-uringan karena merasa sesak seakan-akan ia akan berpisah dengan Qania.


‘Semoga hanya perasaanku saja dan semoga mimpi Qania hanyalah bunga tidur saja. Aaminn ya Allah’jerit Arkana dalam hati.


“Sayang aku disini dan akan bersamamu selamanya hingga kita menua dan menutup mata, aku janji” ucap Arkana setelah menyeka air matanya.


Qania menengadahkan wajahnya, “janji” ucap Qania lirih.


“Aku berjanji, selamanya aku Arkana Wijaya hanya akan menjadi milik Qania Salsabila Sanjaya di dunia ini maupun di akhirat nanti. Jika kita mati dan bereinkarnasi aku janji hanya kaulah satu-satunya yang akan menjadi pendampingku di tujuh kehidupan berikutnya. Bahkan jika nanti terjadi sesuatu denganku aku tidak akan pernah melupakanmu, aku janji. Setiap detik dan setiap detak jantungku dan denyut nadiku aku akan terus mengingatmu, aku Arkana Wijaya berjanji padamu” ucap Arkana dengan sungguh-sungguh membuat hati Qania bergetar.


“Janji tidak akan pernah melupakanku?”,.


“Aku janji my queen” ucap Arkana sembari memperlihatkan senyuman termanisnya dan dibalas oleh Qania.


“Oh ya kenapa sepagi ini sudah di rumah?” tanya Qania ketika Arkana melepaskan pelukannya.


“Pagi katamu? Hei kurang dari sejam acara wisudahmu dimulai sayang. Atau kau sebenarnya tidak ingin lulus karena belum puas berdemo?” ledek Arkana membuat Qania terbelalak.


“Appaaa? Sekarang jam berapa?” pekik Qania.


“Tenang sayang, baru pukul sembilan kurang lima belas menit” kekeh Arkana.


“Tenang katamu, pukul sembilan tiga puluh aku wisudahan, arrghh” teriak Qania kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Arkana yang sedang menertawainya.


Arkana merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


“Hallo, kurang dari sepuluh menit kau sudah harus sampai ke rumah bapak Zafran Sanjaya. Barikan riasan terbaikmu di wajah istriku” ucap Arkana kemudian mematikan ponselnya.


Arkana keluar dari kamar Qania sambil bersenandung, rasa laparnya tadi langsung hilang setelah mendapatkan morning kiss curiannya itu.


“Makan bersama istriku sepertinya lebih nikmat” kekehnya sambil menuruni anak tangga.


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Maaf baru up, keadaan sangat sibuk 😄


Terima kasih sudah membaca 😊🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2