
"Assalamu'alaikum" salam Rizal di rumah Qania.
Kebetulan pada saat itu mama dan papa Qania sedang duduk di ruang keluarga tengah menonton acara tv, sehingga keduanya mendengar seseorang memberi salam dan mama Qania bergegas ke depan untuk melihat tamunya.
"Wa'alaikum salam. Cari siapa dek?" tanya mama Qania ramah.
"Qania ada tante, saya Rizal teman Arkana dan Qania" ucap Rizal.
"Oh Qania lagi ke kampus, mari masuk dulu" ajak mama Qania.
"Oh iya tante" turut Rizal.
Keduanya pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu, tak lama setelahnya papa Qania juga menyusul.
"Siapa ma?" tanya papa Qania sambil mendudukkan dirinya disamping sang istri.
"Teman Qania pa" jawab istrinya.
"Iya om" sambung Rizal.
"Oh ada perlu apa ya dek? Qania sedang tidak di rumah" tanya papa Qania.
"Tadinya mau jemput Qania om, hari ini Arkana sudah di perbolehkan pulang oleh dokter" ucap Rizal beralasan.
"Hah? Memangnya Arkana kenapa?" tanya mama Qania terkejut.
"Syukurlah, sepertinya mereka belum tahu" batin Rizal.
"Oh Qania belum cerita ya om, tante. Arkana beberapa hari yang lalu kecelakaan dan di rawat di rumah sakit, Qania juga sudah dari menjenguk. Maka dari itu saya kemari diminta oleh Arkana untuk menjemput Qania" jelas Rizal.
"Astagfirullah. Apakah nak Arkana sudah baik-baik saja?" kali ini giliran papa Qania yang bertanya.
"Alhamdulillah sudah baikan om" jawab Rizal.
"Sayangnya Qania sedang berada di kampus saat ini. Begini saja, mintalah pada Arkana untuk menghubunginya nanti sejam dari sekarang. Katakan saja om sama tante izinin dia keluar untuk bertemu Arkana hari ini" saran papa Qania.
"Baiklah om, kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus kembali lagi ke rumah sakit" pamit Rizal.
"Iya nak, hati-hati. Sampaikan salam kami pada nak Arkana" tutur mama Qania.
"Pasti tante, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum" pamit Rizal sambil menyalami kedua orang tua Qania bergantian.
"Wa'alaikum salam" jawab keduanya bersamaan.
****
__ADS_1
Rizal memarkirkan mobilnya di halaman rumah Arkana setelah sebelumnya mendapat pesan dari Arkana bahwa ia sudah berada di rumah. Rizal keluar dari mobil dan bergegas menuju ke kamar Arkana.
"Sepertinya keberuntungan masih ada dipihak lo" ucap Rizal yang berdiri di ambang pintu kamar Arkana yang tidak tertutup itu.
"Ngagetin aja sih lo" kesal Arkana yang baru saja akan terlelap setelah meminum obat dari dokter.
"ck..ck..ck.. Emosi lo gampang amat naiknya" ledek Rizal sambil berjalan kearah Arkana kemudian duduk diatas tempat tidur bersama Arkana.
"Ya iyalah, gue ngantuk banget habis minum obat" ketus Arkana.
"Ya sudah lo tidur aja, gue balik dulu" sinis Rizal namun sebenarnya ia hanya ingin bercanda.
"Wih jangan gitu dong, sorry deh" serga Arkana.
"Kan lagi kesal" sanggah Rizal.
"Alaah, ya udah cepat kasih tahu gue info yang lo dapat dari rumah Qania" ucap Arkana tak sabar.
"Ya seperti yang gue bilang tadi, keberuntungan masih berpihak pada elo" jawab Rizal cuek.
"Coba lo jelasin dengan baik, jangan kayak gini. Gantung tahu" kesal Arkana.
"Oke oke. Jadi gini, Qania sama sekali nggak ngasih tahu sama orang tuanya tentang lo kecelakaan dan soal kejadian di rumah sakit. Jadi sejauh ini lo masih aman sama orang tua Qania, tapi belum tentu sama Qanianya loh" ungkap Rizal.
"Oh iya lo dapat salam dari mereka dan katanya hari ini Qania dapat izin buat ketemu sama lo" sambung Rizal.
"Kalau gitu ayo kita ke kampus Qania" ajak Arkana yang bergegas turun dari tempat tidur.
"Sekarang?" tanya Rizal tidak yakin.
"Iya" jawab Arkana.
"Sejam lagi kali" ketus Rizal.
"Pokoknya sekarang, gue udah ada rencana" paksa Arkana yang sedang mengambil jaket di lemarinya.
"Baiklah" Rizal pasrah.
_______
"Baiklah saudara-saudara sekalian, kuliah kita hari ini cukup sekian, sampai bertemu minggu depan" ucap dosen yang bernama pak Anshar.
Ketika pak Anshar sudah keluar, Qania dan Yani langsung merapikan alat tulis mereka sambil ngobrol tentu saja.
"Permisi" sapa seseorang di ambang pintu kelas Qania.
__ADS_1
"Iya, cari siapa?" tanya Baron yang kebetulan berada di dekat pintu.
"Saya mencari Qania Salsabila Wijaya ada?" ucap mahasiswa tersebut.
"Emang sejak kapan namaku pakai Wijaya?" tanya Qania pada Yani.
"Nggak tahu juga" jawab Yani sambil memandangi mahasiswa tersebut.
"Saya Qania Salsabila, tapi tidak pakai Wijaya. Nama papa saya Zafran Sanjaya" sahut Qania masih duduk di bangkunya.
"Maaf saya tidak salah orang, memang benar bunga yang saya bawa ini untuk kamu" ucapnya sambil berjalan mendekati Qania.
"Tapi.." baru saja Qania ingin menolak namun mahasiswa tersebut langsung menyodorkan setangkai bunga mawar putih tersebut.
"Ambillah, gue nggak bisa lama masih ada kelas. Permisi" ucapnya kemudian pergi.
"Hei tungguu..." teriak Qania namun tidak di pedulikannya.
"Hei Qan, ada kartu noh. Coba kamu buka dan baca, siapa tahu emang buat kamu" ucap Yani.
Qania membuka kartu ucapan yang tergantung di tangkai bunga tersebut.
"I Love You"
Itulah tulisan yang tertulis pada kartu tersebut, membuat Qania semakin bingung saja.
"Apa tulisannya Qan?" tanya Yani penasaran.
Qania tidak menjawab, ia justru langsung memberikan kartu ucapan tersebut.
"Wah jangan-jangan fans kamu lagi Qan, so sweet banget sih" terka Yani.
"Ini mah nggak so sweet, gimana kalau orangnya psikopat, atau fanatik. Aku takut ah" Qania bergidik ngeri.
"Iya juga sih. Tapi kamu beruntung ada yang ngefans" timpal Yani.
Qania tidak menghiraukan ocehan Yani, ia sibuk menerka-nerka siapa kira-kira yang mengirimkan bunga tersebut.
"Jangan-jangan dia" ucap Qania sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia siapa Qan?" tanya Yani penasaran.
"Apa Arkana Wijaya ya? Kan dia tuh yang namanya pakai Wijaya. Ah tapi nggak mungkin, dia pasti lagi sama Syeril" batin Qania.
_________
__ADS_1