
Mobil Julius berhenti di parkiran rumah sakit bersamaan dengan sampainya Raka disana. Julius turun lalu membuka pintu jok belakang untuk mengeluarkan Qania. Julius berlari dengan cepat sambil menggendong Qania yang pingsan bersama Raka. Raka dengan tak sabarnya berteriak memanggil petugas rumah sakit.
Beberapa perawat berlari-lari sambil menarik brankar. Julius langsung meletakkan tubuh Qania ke atas brankar dan perawat langsung mendorong brankar tersebut.
Begitu dokter masuk ke ruang UGD, Raka dan Julius ditahan dan tidak diperbolehkan untuk masuk. Keduanya pun duduk menunggu dengan penuh kecemasan. Tak hanya duduk, keduanya kadang berdiri, mondar-mandir, dan juga bersandar di dinding untuk menghilangkan kecemasan mereka.
Di dalam ruang UGD, dokter sedang memeriksa kondisi Qania yang belum kunjung sadar juga. Perawat membersihkan sisa darah yang sudah mengering di wajah ayu itu.
Dokter wanita yang berusia tiga puluhan tahun itu meringis begitu suster mengganti pakaian Qania dan rupanya masih ada luka lebam di tubuhnya yang tak terlihat. Itu adalah luka karena cambukan tadi.
Entah apa yang terjadi pada gadis cantik ini. Tubuhnya penuh luka.
Di luar, Julius memutuskan untuk kembali ke mobil untuk mengambil tas Qania karena bagian administrasi meminta data pasien. Julius yakin di tas Qania ada dompet yang berisikan KTPnya.
Begitu Julius membuka pintu mobilnya, ponsel Qania ternyata sedang berdering.
“Syaquile?”
Julius tak langsung menjawab, ia harus segera sampai ke bagian administrasi agar pengobatan Qania cepat di proses.
Julius memberikan KTP Qania dan juga ia memberikan kartunya untuk membayar tagihan biaya rumah sakit Qania. Setelah itu ia kembali lagi ke UGD dan mendapati Raka tengah duduk menunduk.
“Dokter masih belum keluar?” tanya Julius saat ia sudah duduk di samping Raka.
Raka mengangkat kepalanya kemudian menatap Julius. “Belum. Lo, ceritain ke gue kenapa Qania bisa sampai seperti ini,” pinta Raka dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Julius sedikit gugup saat melihat tatapan membunuh Raka.
“Ini semua rencana Qania. Gue udah larang dia buat nggak ngelakuin ini. Tapi Lo tahu sendiri dia keras kepala. Gue cuma bisa bantuin dia sesuai dengan apa yang dia minta. Gue udah peringatkan kalau ini tuh terlalu berisiko, tapi dia nggak mau dengerin gue. Dan tadi harusnya sebelum itu semua terjadi, di rencana kita itu gue sama dia harus terus terhubung lewat telepon supaya gue bisa tahu bagaimana situasi di gudang. Tapi udah gue coba telepon berkali-kali tapi tetap aja nomornya nggak bisa dihubungi,” cerita Julius.
“Hmm, itu karena gue masih dalam sambungan telepon sama Qania,” gumam Raka lirih.
Julius menatap penuh tanya pada Raka.
“Tadi gue dapat kiriman dari ojol katanya dari Qania. Gue penasaran, kenapa Qania ngirim kardus dan itu nggak biasanya. Jadi gue telepon dia buat mastiin. Namun justru percakapan yang tak sengaja gue dengar itu bikin gue marah. Gue dengar semua apa yang lelaki brengsek itu katakan dan lakukan pada Qania. Urgghh, brengsek! Brengsek! Brengsek!” Raka menjambak rambutnya sendiri karena terlambat datang menolong Qania.
“Lo dengar apa Rak? Qania diapain sama Pak Handoko?” tanya Julius geram.
“Gue nggak bisa gambarin, Lo ngerti aja situasi dengan lihat kondisi Qania tadi. Dia itu kena kekerasan fisik dan juga ia hampir di lecehkan. Lo tadi lihat kan boss tempat Lo magang udah tinggal pakai celana pendek sama kemejanya udah kebuka kancingnya. Qania itu punya trauma sama kekerasan fisik dan sekseual. Dulu waktu kita KKN dia juga pernah ngalamin hal ini,” cerita Raka.
“KKN?” beo Julius.
“Emang Qania nggak cerita kalau dia itu lulusan S1 Teknik Sipil?”
Julius menggeleng.
“Oh ya ampun! Qania itu bahkan mahasiswi terbaik, putri kampus dan juga paling cerdas di kampus di angkatan kami,” cerita Raka membanggakan Qania.
“Terus kenapa dia kuliah lagi disini?”
“Ya buat nerusin pekerjaan mertuanya yang seorang pengacara hebat itu. Sama banyak bisnis yang harus Qania kelola. Masa sih Qania nggak pernah cerita?” tanya Raka.
“Mungkin pernah, gue kali yang nggak ingat. Kita udah dua tahun nggak sekelas,” jawab Julius.
Kemudian keduanya sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga ponsel Qania berdering lagi. Julius segera mengeluarkan ponsel Qania dari dalam tas.
“Siapa?” tanya Raka.
“Syaquile.”
“Ya ampun gue sampai lupa ngabarin keluarga Qania. Ya udah angkat aja, itu adiknya,” ucap Raka menepuk jidatnya.
“Assalamu’alaikum Kak.”
“Wa’alaikum salam Dek, ini kak Raka,” jawab Raka, Julius tadi sudah mengaktifkan loud speakernya.
“Oh kak Raka. Kakak mana ya? Ada yang ingin aku bahas dengannya.”
“Syaq, kakakmu. Dia masuk rumah sakit dan sekarang masih ditangani oleh dokter di ruang UGD,” jawab Raka sambil memijat pelipisnya.
“Astagfirullah! Bagaimana bisa Kak?”
“Kakakmu mengalami kekerasan fisik dan juga hampir dilecehkan oleh pemilik perusahaan tempatnya magang,” cerita Raka.
Hening.
__ADS_1
Tanpa bicara apapun Syaquile langsung memutuskan sambungan telepon.
Raka mendengus, “Gue yakin sebentar lagi tuh anak bakalan nyampe disini.”
Di rumah, Syaquile yang mendengar kabar tersebut tak kuasa berkata-kata. Saking geramnya ia bahkan langsung mematikan sambungan telepon dan segera mencari tasnya. Ia langsung mengisi beberapa potong pakaian kemudian ia mengecek penerbangan ke kota tempat kakaknya berada. Ia mendapatkan penerbangan jam lima sore sementara sekarang masih pukul dua.
“Siapapun yang sudah membuat kakak seperti ini, maka aku bersumpah tidak akan membiarkannya hidup tenang.”
Setelah mempersiapkan semuanya, Syaquile keluar dari kamarnya. Ia berniat mencari Arqasa lebih dulu. Ia membuka kamar Qania namun tak menemukan bocah itu disana. Ia keluar lagi dan berpapasan dengan Mama dan Papanya.
“Mau kemana Dek?” tanya Mama Alisha.
“Cari Ar, Ma,” jawab Syaquile.
“Dia baru aja tidur di kamar Mama,” ucap Mama Alisha.
“Oh baiklah Ma. Papa mau kemana? Bawa koper?” tanya Syaquile.
“Keluar kota. Ada urusan dinas,” jawab Papa Zafran.
Aku kasih tahu sama Papa Mama nggak ya? Tapi kalau nggak dikasih tahu ntar kalau kakak sampai kenapa-kenapa aku juga yang salah.
“Emm Ma, Pa, ada yang pingin aku katakan,” ucap Syaquile ragu-ragu.
Melihat gelagat Syaquile membuat Papa Zafran yakin ada hal penting yang ingin disampaikan oleh anaknya.
“Kalau begitu ayo duduk dulu,” ajak Papa Zafran.
Mereka pun berjalan ke arah sofa tempat Qania dan Syaquile belajar dulu. Letaknya tepat di depan pintu kamar Syaquile dan Qania.
“Ada apa?” tanya Papa Zafran.
“Tadi aku telepon Kakak ... Tapi yang jawab bukan kakak, temannya yang angkat telepon dari aku. Katanya ... Katanyanya kakak sekarang di rawat di rumah sakit dan masih ditangani oleh dokter di ruang UGD—“
“Apa katamu?!!”
Belum selesai Syaquile menjelaskan Papa Zafran langsung berteriak lantang memotonh ucapannya. Sementara Mama Alisha sudah terisak.
“Apa yang terjadi dengan kakakmu, Dek?” tanya Mama Alisha sambil terisak.
Papa Zafran tersentak sementara Mama Alisha langsung berteriak histeris. Bagaimana pun keduanya sama-sama tahu kalau Qania memiliki trauma akan kedua hal tersebut.
Papa Zafran membawa istrinya itu kedalam pelukannya. Sebelah tangannya merangkul dan sebelah tangannya lagi terkepal kuat.
Tidak ada ampun bagi mereka yang sudah menyakiti puteriku!
“Pa, Qania Pa, hikss.”
“Iya Ma, kita doakan semoga Qania bisa segera sembuh Ma,” hibur Papa Zafran namun dalam hatinya ia sedang merutuki orang yang sudah membuat puterinya itu masuk rumah sakit.
Andaikan kamu masih ada Arka, gumam papa Zafran dalam hati.
“Ma, Pa, nanti sore aku akan menyusul kesana. Aku sudah berkemas dan juga sudah memesan tiket,” ucap Syaquile yang baru berani mengangkat kepalanya.
“Ma-mama ikut Dek,” ucap Mama Alisha tersedu-sedu.
“Nggak usah Ma, biar aku saja. Mama sama Ar di rumah aja. Ntar aku kabarin. Kalau memang kakak belum melewati masa kritisnya, nanti aku akan meminta kalian untuk datang. Jangan sampai Ar tahu, Ma. Kasihan dia,” pinta Syaquile.
“Adek benar Ma. Tunggu sebentar, Papa mau menelepon seseorang,” ucap Papa Zafran kemudian melepaskan rangkulannya dari istrinya lalu mengambil ponselnya di saku.
“Dimana sekarang?” tanya Papa Zafran tanpa basa-basi.
“Ck, Assalamu’alaikum kek, selamat siang kek. Dasar besan tiada akhlak.”
Ya, Papa Zafran segera menelepon Papa Setya
“Gue nggak sedang dalam keadaan bercanda ya,” gerutu Papa Zafran.
“Ck, Bupati kami ini sangat serius ya. Gue udah nyampe di kota kita dan masih di jalan, bentar lagi sampai di rumah Lo.”
“Gue tunggu di rumah sekarang.”
Tanpa basa-basi Papa Zafran langsung memutus sambungan telepon membuat Papa Setya mendengus.
“Untung besan plus sahabat,” gerutu Papa Setya.
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi Papa Setya yang disupiri oleh Pak . Ia pun keluar sambil menenteng beberapa paper bag yang isinya pakaian untuk Syaquile dan juga untuk Arqasa.
“Assalamu’alaikum,” ucap Papa Setya yang langsung masuk tanpa menunggu dibukakan pintu.
Ruang tamu sepi, ruang keluarga dan ruang makan pun tak ada orang. Papa Setya menengok ke lantai atas dan bisa ia lihat disana tengah duduk Mama Alisha yang dipeluk Papa Zafran dan juga Syaquile yang sedang duduk menunduk.
“Ada apa ini? Kenapa Alisha terlihat sedih?” gumam Papa Setya kemudian ia lansung bergegas menuju ke lantai dua.
“Ada apa?” tanya Papa Setya masih dengan menenteng paper bag di kedua tangannya.
Mendengar suara Papa Setya, sontak saja Papa Zafran berdiri dan langsung menarik kerah baju Papa Setya. Kedua paper bag tersebut langsung terlepas dari tangannya.
“Semua ini gara-gara elu ya,” ucap geram Papa Zafran.
“Pa, sabar Pa. Ini bukan salah om Setya,” lerai Syaquile dengan cepat.
“Pa, jangan gegabah. Ini bukan salah mas Setya juga,” timpal Alisha.
Papa Zafran mendengus sambil melepaskan cengkeramannya. “Bukan salah dia apa sih, dia itu pengacara hebat, kenapa dia tidak meminta Qania untuk magang di kantornya saja,” gerutu Papa Zafran kemudian langsung kembali duduk.
“Duduk Mas,” ucap Mama Alisha. Papa Setya pun duduk bersama dengan Syaquile.
“Jelasin, ini ada apa?” tanya Papa Setya yang memang sangat bingung.
“Qania, dia masuk rumah sakit dan sekarang masih dalam kondisi kritis,” ucap Papa Zafran dingin.
“Appaaa??!!!” Sontak saja Papa Setya berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya. “Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Papa Setya.
“Dia mengalami kekerasan fisik dan juga hampir dilecehkan oleh pemilik perusahaan tempat Qania magang,” jawab Papa Zafran dengan raut wajah yang sangat menyeramkan.
“Kurang ajar! Sekarang ayo kita kesana. Siapapun tidak akan kubuat hidup tenang jika sudah berani menyentuh Puteri kesayanganku,” ucap geram Papa Setya. Wajahnya terlihat begitu menakutkan hingga Syaquile saja terkejut karena tak pernah melihat ekspresi ini sebelumnya dari sosok yang ia kagumi selain Papanya sendiri.
“Tapi penerbangannya masih jam lima nanti Om,” ucap Syaquile.
“Dan aku masih harus pergi urusan dinas. Makanya Lo gue minta untuk menemani Syaquile kesana,” ucap Papa Zafran.
“Sial! Arqasa dimana? Dia tahu ini?” tanya Papa Setya cemas.
“Dia belum tahu,” ucap Mama Alisha lirih.
“Syukurlah.”
Keempat orang dewasa itu pun terdiam. Tanpa mereka ketahui bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi tengah memperhatikan mereka dari pintu yang hanya dibuka setengahnya saja. Ia pun kembali masuk dan mencari ponselnya.
“Hiks, Daddy jahat. Kenapa dia tidak menjaga Mami dengan baik. Hiks, Mami semoga Mami cepat sembuh Mi, hiks.”
Tadi, begitu mendengar suara ribut-ribut antara Papa Setya dan Papa Zafran, Arqasa terbangun. Ia bangun karena teringat akan janji kakek Setya yang akan membawakannya mainan yang ia pesan, makanya ia langsung bangun. Baru saja ia membuka pintu, ia langsung mendengar berita yang sangat menyakitkan hatinya. Ia menangis dalam diam membayangkan Maminya yang kini terbaring di rumah sakit.
Ar berdiri cemas menunggu teleponnya tersambung dengan Tristan. Untung saja di akhir nada panggilan itu, Tristan segera menjawab teleponnya.
“Assalamu’alaikum anak Daddy.”
“Hikss, Daddy jahat. Daddy nggak bisa jagain Mami. Mulai sekarang Ar nggak mau lagi minta Mami buat jadiin Daddy sebagai Daddynya Ar, hiks. Jahat,” tangis Ar.
Sementara Tristan disana menjadi bingung. Ar meneleponnya sambil menangis dan mengatakan dirinya tak bisa menjaga Qania dengan baik.
“Ada apa dengan Qania?” gumam Tristan cemas.
“Ar, Mami kenapa Ar? Daddy nggak lagi sama Mami soalnya. Daddy ada pekerjaan diluar negeri,” tanya Tristan cemas.
“Nggak usah tanya-tanya. Kamu bukan Daddy Ar lagi!!”
Panggilan terputus dan semakin bertambahlah kecemasan Tristan. Ia meremas ponselnya lalu menatap ruang operasi yang lampunya masih menyala.
Tristan pun memutuskan untuk menghubungi nomor telepon Qania namun sayangnya panggilan tersebut hanya mendapat jawaban dari operator saja.
“Sial! Siapa yang bisa gue hubungi untuk mencari tahu keadaan Qania?” erang Tristan.
Ia menjambak rambutnya sendiri, merasa gagal menjadi pria pilihan Qania. Entah mengapa air matanya mengalir dengan sendirinya. Hatinya terasa begitu pilu.
Di rumah sakit tempat Qania di rawat, dokter menggeleng karena Qania tak menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
“Sepertinya pasien mengalami koma,” gumam dokter tersebut.
Dokter pun keluar, namun sebelum ia pergi suster memanggilnya dan berkata jika jantung pasien berhenti berdetak.
__ADS_1