Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Surat Kaleng


__ADS_3

Fero menatap kesal pada Qania begitu pun dengan Cika, karena Cika sama sekali tidak tertarik dengan hal yang berbau pacaran, katanya ia masih ingin bebas sendirian.


“Apaan sih Qan” ketus Cika.


“Kenalan doang kok, please” ucap Qania yang langsung menyerahkan ponselnya pada Fero.


Dengan malas Fero mengambil ponsel Qania dan menatap ke arah ponsel itu.


“Fero..”


“Cika..”


Hening…..


"Kalian saling kenal?" tanya Qania tak kalah panik.


"Qan, gue pinjam ponsel lo" ucap Fero terburu-buru pergi meninggalkan Qania dan Arkana yang menatap aneh padanya.


Di taman depan kafe..


"Cika, lo kemana aja?"


"Gu..gue.. gue nggak kemana-mana kok" jawab Cika gugup.


"Bukannya lo udah pindah keluar kota beberapa tahun yang lalu?"


"Iya, gue pindah karena gue harus menemani nenek gue dan sekarang gue balik lagi karena nenek gue udah meninggal tiga tahun yang lalu" cerita Cika.


"Kenapa?"


"Kenapa?" tanya Cika bingung.


"Iya, kenapa lo nggak nyari gue?"


"Itu karena gue nggak tahu lo dimana"


"Hahaha, alasan murahan" Fero tertawa getir.


"Ro, gue.."


"Lo mutusin gue tepat sebulan kita pacaran dan lo ninggalin gue tanpa jejak bahkan lo balik lagi tapi seolah-olah lo nggak ingat disini ada gue yang dengan bodohnya masih setia sama hubungan kita yang singkay itu" teriak Fero.


"Ro gue.."


"Lo mau nertawain gue Cik, silahkan. Emang gue yang bodoh karena masih menganggap lo itu ada dan hubungan kita masih bertahan. Tapi dengan melihat lo sekarang dan gue tahu lo teman Qania, gue jadi yakin kalau lo udah lupain gue"


"Ro nggak gitu, gue nggak lupain elo. Gue memang benar-benar nggak tahu lo dimana" bantah Cika.


"Emang elo nggak ada niat buat nyari gue?" sindir Fero.


"Gue sibuk kuliah Ro, kalau lo nggak percaya lo boleh tanha sama Qania" bentak Cika.


"Hahaha, Qania aja masih bisa tuh sibuk pacaran. Atau emang lo nggak nyari gue karena elo udah punya pacar baru, selamat Cik selamat" Fero menatap Cika dengan penuh amarah.


"Terserah elo mau ngomong apa Ro, yang jelas tuduhan lo itu nggak benar" teriak Cika kesal.


"Lo nggak tahu Cik gimana rasanya jadi gue yang masih setia nungguin elo balik, lo nggak tahu rasanya rindu sama seseorang yang elo nggak tahu dia dimana dan lo juga nggak bisa ngapa-ngapain buat nyari dia atau sekedar dengar suaranya, tahu kabarnya. Lo nggak tahu..."


"STOP.. Gue tahu rasanya gimana Ro, gue tahu" bantah Cika yang sudah berderai air mata.


"Lo nggak tahu Cik.."


tut...


tut...


tut...


"Sial, dia matiin. Gue bakalan ambil nomornya dari ponsel Qania" geram Fero.


Fero kembali duduk dengan wajah masam dan juga ada aura kesal terpancar di wajahnya. Fero mengembalikan ponsel Qania yang menatapnya dengan tatapan beribu pertanyaan.


"Thanks Qan" ucap Fero.


"Lo kenal Cika?" tanya Qania penasaran.


"Gue nggak maksud buat kepo, cuma gue kaget aja sama tindakan lo tadi" sambung Qania.


"Iya Ro, lo kenapa?" tanya Arkana.


"Hahh, gue kenal Cika. Teman sekolah dulu" jawab Fero sambil meremas rambutnya.


"Gue yakin lebih dari itu" Arkana menatap Fero dengan tatapan menyelidik.


"Gue kerja dulu, ada pesanan tadi masuk dan gue mau nganterin" ucap Fero yang langsung berjalan ke dapur.

__ADS_1


"Dia kenapa?" tanya Qania pada Arkana.


"Entah. Kamu coba tanya Cika deh, kali aja ada masalah sama mereka" usul Arkana.


"Kamu benar sayang, nanti aku coba tanya. Oh iya Rizal belum selesai nelpon nih?"tanya Qania karena sampai sekarang Rizal belum kembali.


"Ya biasa sayang, dia lagi LDRan sama Gea. Ya gitu deh pacaran sama hp mulu" jawab Arkana diakhiri tawa.


"Huss.. Jangan ngeledek, kamu juga bakalan LDRan dua bulan sama aku. Jadi kamu siap-siap aja" ucap Qania meledek Arkana.


"Oh no... aku lupa" Arkana menepuk jidatnya.


"Tuh makanya"


"Pokoknya sebelum kamu berangkat KKN, aku mau kita jalan setiap hari" tegas Arkana.


"Ya udah kamu nginap aja di rumah" ajak Qania.


"Emang boleh?" tanya Arkana girang.


"Ya nggak boleh lah, hahaha" Qania tertawa melihat ekspresi Arkana yang sangat senang tadi.


"Oh ngerjain ya.. awas kamu.."


"Haa.. ampun.. sayang.. hahaha.. sayang ampun" teriak Qania sambil tertawa karena Arkana menggelitikinya.


"Itu balasan buat kamu" Arkana memberi peringatan.


"Sayang udah malam, pulang yuk" ajak Qania.


"Bentar, aku pamit ke Rizal dulu soalnya Fero kan keluar nganter pesanan" ucap Arkana.


"Oke"


..............


💐 FERO POV


Gue malas banget eh ralat, gue kesal saat Qania mencoba mengenalkan gue sama temannya. Selama ini gue menghindari cewek hanya untuk menunggu kepastian dari pacar gue yang hilang entah kemana.


Karena gue menghargai Arkana dan Qania sebagai sahabat gue, dengan terpaksa gue nurut ntar gue dikatai penyuka batangan, ya kali.


Dengan malas gue menatap layar ponsel itu dan...


Entah gue telah melakukan kebaikan apa hari ini sehingga gue mendapatkannya, eh mendapat kabarnya tanpa gue duga.


Gue masih belum lupa wajah itu, meskipun udah nggak seimut waktu remaja dulu. Gue mana bisa lupa sama orang yang selalu gue bayangin tiap saat.


Gue padahal ingin nanya kabarnya, tapi gue keburu emosi saat gue ingat kalau dia teman kuliah Qania dan itu artinya dia udah lama di kota ini dan dia nggak nyari gue.


Gue lihat wajahnya yang sedih dan takut karena gue bentak-bentak, tapi gue nggak bisa nahan perasaan sakit karena merindukannya tapi kenyataan yang gue dapat malah dia nggak ngerasa apa yang gue rasain.


Gue semakin kesal saat dia matiin sepihak video call itu, dan gue langsung ngambil nomornya di hp Qania. Gue tadinya niat mau tanya-tanya Qania, karena gue yakin sedikit banyak Qania pasti tahu tentang Cika.


Saat gue mau masuk ke kafe, ponsel gue bunyi dan ada yang mesan makanan dari kafe dan gue mau tidak mau harus nganterin pesanan itu dulu baru gue nanya ke Qania.


Gue dengan buru-buru balik ke kafe setelah nganter pesanan dan menerima bayarannya tentu saja. Tapi gue jadi lesu saat sampai di kafe hanya ada Rizal di sofa yang biasa kami gunain saat ngumpul bareng. Rupanya Qania sudah pulang setelah gue pergi nganter pesanan.


Gue semakin galau, tapi gue udah senang karena sempat save nomor Cika. Besok pasti Qania datang lagi, dan gue bakalan tanyain ke dia soal Cika.


Gue balik kerja karena mendapat pesanan lagi, jangan pikir gue nggak punya uang sampai jadi kurir di kafe Arkana. Gue sama Rizal juga sama kayak Arkana, kita mahasiswa tingkat akhir yang lagi nunggu yudisium terus wisudah.


Orang tua gue ASN yang gajinya lumayan, tapi gue maunya mandiri sama kayak Arkana dan Rizal yang juga mandiri padahal Arkana bisa ongkang-ongkak kaki di rumah eh duit masuk begitu saja di rekeningnya. Tapi dia malah jadi pembalap yang siap bertaruh nyawa.


.............


Di kamar Qania sedang berbaring bersiap untuk tidur lebih awal karena lelah belajar mengendarai motor tadi.


Hening..


Beberapa menit kemudian...


"Astaga aku lupa ngirim email proposal sama bu Lira. Dia pasti dia udah nungguin, kok aku bisa lupa gini sih" Qania merutuki kebodohannya, bisa-bisanya ia lupa hal penting dan menyangkut bu Lira.


Send...


"Akhirnya.." Qania bersorak setelah ia mengirim email proposalnya pada bu Lira. Ia segera menaruh kembali laptopnya di meja belajarnya.


Drrtt...


Qania melirik ponselnya, Arkana meneleponnya. Tanpa membuang waktu, Qania langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo sayang....."


Terjadilah obrolan panjang sampai Qania tertidur dengan ponsel yang berada di bantalnya.

__ADS_1


"Sayang..."


"Sayang..."


Arkana terus memanggil Qania namun tidak ada jawaban, yang ada hanya bunyi napas teratur dan dengkuran kecil.


"Hah sudah tidur rupanya" ucap Arkana sambil tersenyum bahagia.


"Selamat tidur my world, I love you" ucap Arkana sebelum memutus panggilan tersebut.


Arkana baru saja akan menutup matanya, namun suara pecahan beling terdengar sampai di kamarnya. Arkana tersentak, ia langsung berjalan dengan cepat keluar dari kamarnya menuju kamar papanya.


"Pa.. papa.." panggil Arkana, namun papanya tidak berada di kamar.


"Sial, siapa yang mengusik ketenangan rumah gue. Papa kemana lagi, sudah malam gini kok belum pulang" umpat Arkana yang langsung berjalan ke luar menuruni anak tangga.


"Bi, apa apa?" tanya Arkana yang mendapati ARTnya tengah berdiri gemetar di dekat jendela ruang keluarga.


"I..ini... nak, ta..tadi ada yang le..lempar ba..tu ke kaca ruangan ini" jawab bi Ochi dengan gemetar.


Arkana berjalan mendekati bi Ochi, ia memeriksa kaca yang pecah. Di sana terlihat ada batu yang diikat dengan kertas.


"Surat kaleng rupanya" gumam Arkana dengan kesal sambil melepaskan kertas itu dari batu.


"Bangsaat..." Arkana meremas kertas tersebut setelah membaca isinya.


"Ada apa nak?" tanya bi Ochi yang ketakutan melihat aura yang terpancar dari tubuh Arkana.


"Mereka culik papa dan suami bibi" jawab Arkana dengan geram.


"Apaa nak, hiksss.. tolong selamatkan tuan Setya dan suami saya nak" pinta bi Ochi yang sudah menangis.


"Pasti bi, sebaiknya bibi bersiap aku akan antar bibi ke rumah Qania. Di sini nggak aman buat bibi sendirian, aku takut mereka akan datang buat kekacauan dan bibi hanya sendirian" ucap Arkana, kemudian berlari ke lantai atas menuju ke kamarnya untuk menelepon Qania.


Bi Ochi yang masih sesenggukan bergegas masuk ke kamarnya untuk mengisi beberapa lembar pakaiannya untuk di bawah ke rumah Qania.


🌺🌺


"Jadi mereka menculik Setya dan supirnya?" tanya Zafran saat Arkana sudah duduk di ruang tamu bersama bi Ochi.


"Seperti yang tadi udah aku jelasin di telepon pa, aku juga bakalan titip bi Ochi di sini sampai papa dan suami bi Ochi ketemu" jawab Arkana.


Tadi sebelum Arkana ke rumah Qania, ia menelepon Zafran bukan Qania. Ia langsung meminta izin menitipkan bi Ochi dan Zafran langsung menyuruhnya ke rumah tanpa memberitahu Qania dan istrinya.


"Bi Ochi adalah ibu kedua buat Arkana pa, dia dan pak Anwar adalah orang yang bersama papa dan aku sejak aku bayi. Mereka adalah keluarga Arka pa, jadi Arka menitipkan bi Ochi di sini. Arka harap papa bersedia menampung bi Ochi sampai papa ketemu" lanjut Arkana menjelaskan status ARTnya itu.


"Tentu saja nak, nanti bi Eti yang akan menemaninya" ucap Zafran dengan hangat.


"Kamu antar bi Ochi ke kamar tamu Ka, kamu tahu kan letaknya" pinta Zafran.


"Iya pa, terima kasih" jawab Arkana.


"Tapi tuan, kenapa saya di kamar tamu. Saya hanya pembantu tuan" tanya bi Ochi bingung.


"Karena kamu di sini adalah tamu saya. Jadi jangan sungkan" jawab Zafran dengan ramah.


"Ayo bi, Arka antar bibi ke kamar" ajak Arkana.


"Permisi tuan" ucap bi Ochi yang diangguki oleh Zafran.


Setelah mengantar bi Ochi, Arkana kembali lagi ke ruang tamu dimana Zafran menunggunya.


"Jadi ada yang kamu curigai?" tanya Zafran mulai serius.


"Ada pa, sepertinya orang yang tempo hari papa masuki ke penjara" jawab Arkana.


"Apa benar dia?"


"Aku selidiki dulu pa"


"Kamu hati-hati, apa tidak sebaiknya kamu nginap dulu?" usul Zafran.


"Tidak pa, aku harus ketemu sama teman-teman aku dan membuat rencana untuk mencari papa. Orang itu pasti akan menghubungi aku lagi, aku bakalan tinggal di ruamh yang pastinya akan mereka datangi lagi. Kalau aku disini, aku khawatir kalian akan terlibat pa" tolak Arkana dengan alasan keselamatan keluarga Qania.


"Papa akan bantu kamu, kamu harus terus mengabari papa. Jangan gegabah dan harus terus berhati-hati. Papa tidak mau kamu kenapa-napa dan pastinya Qania juga. Papa juga ingin Setya baik-baik saja bersama supirnya. Jangan ragu minta bantuan papa ya nak" ucap Zafran menenangkan Arkana dan juga merasa geram pada penculik Setya itu.


"Pasti pa, Arkana pamit dulu. Teman-teman sudah menunggu" ucap Arkana yang kemudian berdiri untuk menyalami Zafran.


"Kamu hati-hati ya nak, jangan lupa terus kabari papa" pinta Zafran sekali lagi.


"Pasti pa, Arka pergi dulu. Assalamu'alaikum" ucap Arkana berpamitan.


"Wa'alaikum salam" jawab Zafran, dengan berat hati ia melepas Arkana pergi.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...

__ADS_1


__ADS_2