
Qania terus menangis sepanjang hari setelah mengetahui bahwa Arkana tidak bisa pulang dan akan menetap selama dua minggu disana dan besok ia akan berangkat ke tempat KKN dimana lokasinya berada di desa terpencil yang entah disana ada sinyal atau tidak.
Qania sangat frustasi saat ia terbangun tadi pagi dan mendapat pesan permohonan maaf dari Arkana karena tidak bisa pulang.
“Maafkan aku sayang, aku tidak bisa kembali dan menemanimu sebelum berangkat KKN. Aku sangat ingin, tapi aku tidak bisa. Aku harus menetap selama dua minggu disini, maaf mengecewakanmu. Aku sangat merindukanmu, aku mencintaimu”,.
Begitulah isi pesan singkat Arkana yang membuat Qania mengerang frustasi. Sepanjang hari Qania tidak keluar kamar, ia bahkan melewatkan sarapan dan makan siangnya. Kedua orang tuanya sangat cemas namun tidak bisa membujuk anaknya yang keras kepala itu.
Zafran dan Alisha hanya bisa mendesah pasrah, karena sebenarnya mereka tahu bahwa Arkana akan menetap selama dua minggu hanya saja keduanya merahasiakan dari Qania agar anaknya itu tidak kepikiran, namun sayangnya justru membuat sang anak sangat sedih dan meradang.
Karena terlalu lelah menangis, akhirnya Qania tertidur dengan jejak air mata yang beranak sungai dan sudah mengering di pipinya.
Qania merasa seperti sedang memikul beban yang cukup berat sehingga ia kesulitan menggerakkan tubuhnya.
“Apa tadi terjadi gempa bumi dan aku tertimpa puing-puing rumahku?” gumam Qania.
Perlahan Qania membuka kedua matanya, mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi kamarnya.
“Semuanya utuh” gumamnya lagi.
“Lalu apa yang sedang menindih tubuhku ini? Mengapa rasanya sangat berat?” Qania bermonolog.
Qania mencoba menggerakkan salah satu tangannya dan meraba perutnya.
“Eh.. ini seperti tangan seseorang?” pikirnya.
Qania melirik kearah perutnya dan benar saja, ada tangan yang melingkar memeluk tubuhnya.
“Ini tangan siapa? Kenapa bisa memelukku dan berada di kamarku? Tidak mungkin orang jahat kan? Tapi kenapa rasanya begitu nyaman, hangat dan menenangkan?” pikir Qania.
Qania memberanikan diri untuk membalikkan badannya, jika memang orang yang berada di sebelahnya adalah orang jahat maka ia akan langsung berteriak, pikirnya.
Qania menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat tahu siapa sosok yang sedang memeluknya saat ini. Qania terus memukuli pipinya untuk mendapatkan kesadaran, namun tetap sama. Air matanya menetes memandangi sosok yang tengah tidur lelap sambil memeluk tubuhnya.
“Sudah puas menikmati ketampananku?” sindir Arkana yang masih menutup matanya.
Bukannya menjawab atau mendebat perkataan Arkana, Qania malah memeluk erat tubuh Arkana yang masih memeluknya itu. Ia menumpahkan tangisnya di dada bidang kekasihnya itu, ia begitu enggan meninggalkan sandaran kepalanya itu.
“Sayang kenapa menangis, heii?” Tanya Arkana lirih, ia tahu apa yang sedang di rasakan oleh Qania saat ini karena ia juga merasakannya.
“Biarkan seperti ini, jangan bangunkan aku dari mimpi indahku. Karena hanya dalam mimpi aku bisa memelukmu, hikss” isaknya.
Arkana tidak bisa menahan laju air matanya saat Qania mengatakan ini semua adalah mimpinya, padahal ia saat ini sangat nyata sedang memeluk kekasihnya itu.
”Sebegitu rindunya kah kau sayang?” batin Arkana.
Arkana mengeratkan pelukannya pada Qania, keduanya saling mencurahkan rasa rindu yang sudah menggebu. Tiada nafsu birahi dalam pelukan itu, semua murni bahasa tubuh dari keduanya.
“Sayang hei, ini aku” lirih Arkana.
“Nyata kah dirimu yang tengah ku peluk ini?” Tanya Qania sesenggukan.
“Buka matamu dan tatap aku” pinta Arkana dengan suara yang amat lembut.
Qania membuka matanya dan mendongakkan kepalanya untuk menatap sosok yang sedang ia peluk dan memeluknya itu.
“Jahat, hikss..” Qania memukuli punggung Arkana dan kembali menangis.
Arkana menerima pukulan-pukulan Qania tanpa berniat membalasnya. Ia hanya terus menciumi puncak kepala Qania sambil terus meminta maaf.
“Maafkan aku sayang, maafkan aku” lirihnya.
“Kau tahu tidak bagaimana rasanya merindukan seseorang tanpa kau bisa menyentuh dan memeluknya? Rasanya sangat sesak disini” keluh Qania masih memeluk erat tubuh Arkana.
“Maaf sayang, aku tidak bermaksud membuatmu sesak karena merindukanku. Aku pun sama sepertimu, aku tersiksa karena merindukanmu. Tiada waktu yang ku lalui tanpa merindukanmu, maafkan aku” lirih Arkana.
__ADS_1
Keduanya larut dalam tangis masing-masing, saling mendekap seakan keduanya akan berpisah jika saling melepaskan pelukan mereka.
“Aku rindu, aku rindu, aku sangat merindukanmu, hikss” isak Qania.
“Aku tahu sayang” ucap Arkana membelai rambut Qania sayang.
“Aku takut ini hanya halusinasiku saja, aku takut kau menghilang dari pandanganku. Aku tidak suka saat kau jauh dari jarak pandangku, aku, aku,…”
“Aku disini sayang, aku nyata bukan halusinasi” potong Arkana, hatinya begitu sakit mendengar ungkapan kekasihnya itu, sangat sakit.
Arkana membiarkan Qania terus meracau, mengeluarkan isi hatinya dan juga keluh kesahnya. Ia hanya ingin menjadi pendengar yang baik saat kekasihnya itu mengeluarkan uneg-unegnya. Hatinya terasa pilu saat Qania terus mengatakan merindukannya.
Selama ini keduanya tidak pernah berjauhan, Arkana selalu berada di jarak pandang Qania. Kapan pun ia meminta kekasihnya itu datang pasti akan langsung terlihat di depannya. Namun tidak untuk beberapa hari ini. Hal inilah yang membuat Qania sangat sedih ditinggal oleh Arkana. Ia sudah begitu tergantung pada sosok pria ini dan melihat wajahnya setiap hari adalah kebutuhan primer baginya.
Arkana melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Qania dengan kedua tangannya, mengangkatnya hingga sejajar dengan wajahnya.
Cup..
Cup..
Cup..
Arkana mengecup setiap inci di wajah Qania, wajah yang selalu menjadi penyemangatnya selama beberapa hari di tempat kerjanya itu. Wajah yang membuat ia bekerja ekstra agar bisa langsung menatapnya.
Arkana dapat melihat dengan jelas betapa kekasihnya ini sangat tersiksa merindukannya, wajah sembabnya serta mata yang bengkak sudah menjelaskan bahwa kekasihnya ini terus menangis dan juga lingkaran hitam di matanya membuktikan bahwa ia juga kurang tidur. Arkana menyalahkan dirinya sendiri dengan kondisi Qania yang merindukannya itu.
“Aku tahu kamu belum mandi, belum makan juga kan” ucap Arkana penuh perhatian dan dijawab anggukan oleh Qania.
“Mandi dan bersiaplah. Hari ini semua waktuku untukmu” ucap Arkana lalu tersenyum manis pada Qania.
“Janji?” Tanya Qania.
“Iya sayang, cepatlah jangan sia-siakan waktu yang ada” pinta Arkana.
“Apakah hari ini kau akan mengajakku berjalan kaki lagi?” Tanya Qania.
“Tentu saja tidak” jawab Arkana dengan cepat membuat Qania terkekeh.
Dengan cepat Qania bangun dari tempat tidurnya dan bergegas masuk ke kamar mandi sementara Arkana berjalan keluar dari kamar Qania, bergabung dengan kedua calon mertuanya di ruang keluarga.
🍀
🍀
Qania turun dengan wajah segar dan tentu saja senyum kini sudah tergambar di wajah cantiknya itu. Kedua orang tuanya bernapas lega melihat putrinya itu akhirnya keluar kamar juga. Qania ikut bergabung bersama kedua orang tuanya dan Arkana yang tengah asyik mengobrol.
“Udah senang?” Tanya mamanya.
“Iya ma, hehe” kekeh Qania.
“Rindunya udah lunas nih? Udah nggak sedih lagi?” ledek papanya.
“Ih papa, malu tahu” ucap Qania yang wajahnya sudah merona digoda seperti itu oleh papanya.
“Nggak usah malu” ledek Arkana.
“Ih kamu. Oh iya gimana ceritanya kamu bisa tiba-tiba muncul di kamar aku? Bukannya tadi pagi kamu bilang nggak bisa pulang, kamu disana menetap selama dua minggu?” Tanya Qania, ia sudah sangat penasaran kenapa tunangannya itu bisa berada di kamarnya. Jika benar ia meninggalkan pekerjaannya hanya demi menemui dirinya maka ia sangat merasa tersanjung juga bersalah.
“Semua berkat papa Zafran” jawab Arkana sembari tersenyum kearah calon ayah mertuanya itu.
#Flash back on…
“Gimana nih pa, Qania sepertinya sangat sedih begitu tahu Arka nggak bisa pulang? Mana besok dia sudah harus berangkat ke tempat KKNnya” Tanya Alisha yang sangat gelisah saat mendengar tangisan sang putri di dalam kamarnya.
__ADS_1
“Papa akan coba membantu ma” ucap Zafran, kemudian ia melangkah masuk ke kamarnya dan menelepon seseorang.
“Hallo, Seno?”,.
“Iya pak Zafran, ada apa?”,.
“Kamu berada di proyek mana saat ini?”,.
“Di desa Xx pak”,.
“Oh itu lokasinya tidak jauh dari desa Yy?”,.
“Benar pak”,.
“Kamu bersama Pian disana?”,.
“Iya pak”,.
“Saya minta tolong padamu untuk menggantikan seseorang di desa Yy sampai hari senin”,.
“Bisa pak, kapan saya harus ke desa Yy?”,.
“Sekarang”,.
“Baik pak”,.
Setelah mengakhiri panggilannya dengan Seno, salah satu pengawas yang mengurus proyek yang diutus oleh anggota dewan, Zafran segera menghubungi Arkana.
“Assalamu’alaikum pa” sapa Arkana.
“Wa’alaikum salam. Arka papa tidak ingin berlama-lama, cepatlah kembali dan temui Qania. Dia sangat sedih dan sudah beberapa hari ini ia uring-uringan. Jangan pikirkan pekerjaanmu karena papa sudah mengirim orang untuk menggantikanmu sampai hari senin. Sekarang kamu cepat kemari” ucap Zafran tanpa titik koma dan tanpa menunggu jawaban Arkana pun Zafran langsung mengakhiri panggilan tersebut.
Arkana sangat senang tentu saja, ia langsung bergegas kembali ke hotel yang ia gunakan untuk menginap. Dengan tak sabar ia memacu kecepatan motornya, ia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatinya.
Setelah menempuh perjalanan selama enam jam, akhirnya Arkana sampai di rumah kekasihnya. Setelah menyapa kedua orang tua Qania, Arkana langsung diminta naik ke kamar Qania untuk menghibur gadis itu.
Ceklek..
Saat Arkana membuka pintu, pemandangan pertama yang ia lihat adalah sosok gadis yang tengah tertidur dengan jejak air mata yang sudah mongering di wajahnya.
Miris..
Itulah yang Arkana rasakan saat melihat kondisi kekasihnya itu.
Tanpa menunggu lagi, ia langsung ikut berbaring dan memeluk kekasihnya itu. Ia mengecup puncak kepala Qania penuh kerinduan dan memejamkan matanya menunggu sang kekasih bangun dari tidurnya.
#Flash back off..
Qania menghambur memeluk papanya, ia terharu dengan tindakan papanya. Demi menghiburnya yang tengah bersedih sang papa rela meminta kekasihnya pulang dan menyuruh anak buahnya menggantikan tugas kekasihnya itu.
“Makasih pa, papa memang terbaik, hikss” isaknya dalam pelukan papanya.
“Semua untukmu sayang” ucap Zafran lirih, ia mengusap lembut punggung putrinya itu.
“Sudah, jangan sia-siakan waktu. Cepatlah pergi kemana pun yang kalian inginkan dan habiskan waktu kalian sebelum kalian kembali terpisahkan oleh jarak” seru Alisha yang juga ikut terharu.
“Iya ma” jawab Qania kemudian melepas pelukannya dari sang papa.
“Kami pamit dulu ya” ucap Arkana.
Qania menyeka air matanya dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya, begitu pun dengan Arkana. Setelah itu keduanya langsung keluar dan naik ke atas motor, keduanya pergi untuk menghabiskan waktu bersama sebelum jarak kembali menjauhkan keduanya dari jarak pandang masing-masing.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...