Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Wajahmu Ingatkanku


__ADS_3

Di dalam ruangannya, ternyata benar Tristan Anggara sedang berada di kafe tersebut dan kemungkinan besar ia akan memarahi Qania lagi karena sudah berani menyentuh piano kesayangannya namun jika ia tahu kalau gadis yang menyentuh pianonya itu adalah orang yang sama dengan orang yang sudah membuatnya marah di rumah sakit itu, bagaimanakah responnya dan apa yang akan terjadi pada Qania selanjutnya.


Wajahmu ingtakan aku


Dengan dia yang telah tiada


Tak bermaksud ku samakan kau dengan dia


Aku tak tahu mengapa Tuha


Mempertemukan aku denganmu


Aku cinta dia tapi takdir memisahkan


Kau datang diwaktu yang tepat


Kau mengisi sakit jiwaku


Walau mungkin kau pun terluka


Wajahmu ingatkanku


 


Raka dibuat tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar Qania bernyanyi dengan begitu merdu dan membuatnya hanyut dalam melodi lagu yang dibawakan oleh wanita pujaannya itu.


‘Dari sekian banyak lagu indah, mengapa lo milih buat nyanyiin lagu ini Qan? Eh tunggu, kalau Qania menyanyikan lagu ini dan ini merupakan curahan hatinya itu artinya dia sudah bertemu dengan pria yang berwajah sama dengan Arkana itu. Jika benar, bagaimana tanggapan Qania dan orang itu? Dan yang terpenting, bagaimana dengan diriku?’ gumam Raka dalam hati.


Raka menjadi semakin takut, takut kehilangan Qania ketika ia tahu kenyataan yang sebenarnya kalau Qania sudah bertemu dengan pria itu dan yang paling menyakitkan jika memang pria itu adalah Arkana.


‘Jika benar dia adalah Arkana, maka gue tahu dimana posisi gue. Gue pasti harus mundur, ya gue bakalan mundur teratur karena kalian adalah suami istri dan gue bukan pria perebut ataupun perusak hubungan orang lain’ batin Raka, ia berusaha berdamai dengan takdir meskipun ia sangat tahu saat ini ada luka yang menganga di hatinya.


Lain halnya dengan Raka, Tristan yang tadinya ingin menegur bahkan ia sudah sangat marah karena ada yang menyentuh pianonya lagi setelah terakhir kali ia memarahi Qania pun dibuat bungkam juga. Ia mengurungkan niatnya setelah mendengar suara orang yang tengah bernyanyi dengan memainkan piano kesayangannya itu.


“Gadis piano, kau kah itu?” gumam Tristan.


“Ya itu dia, suara yang sama dan dengan lagu-lagu melankolisnya. Entah apa tujuannya dan yang pasti setiap kali gue dengar dia bernyanyi pasti lagu mellow yang ia bawakan. Entah kepedihan seperti apa yang sedang ia rasakan”,.


Tristan yang tadinya sedang sibuk membaca pembukuan kafenya pun menghentikan kegiatannya itu dan memilih untuk mendengarkan Qania bernyanyi. Manegernya yang memang sudah tahu dengan Qania yang sudah dua kali membuat bossnya marah itu hendak menegur, ia datang memberitahukan kepada Tristan namun Tristan tidak mempermasalahkannya dan membiarkan saja Qania memainkan pianonya sesuka hati.


“Baiklah pak saya permisi” ucap manegernya yang diangguki oleh Tristan.


“Gadis piano yang sudah membuat Marsya tersentuh sampai menangis karena nyanyian dan suaranya yang merdu, gue penasaran bagaimana rupanya” gumam Tristan sambil mengusap-usap dagunya setelah maneger itu pergi.


Tanpa kedua pria itu tahu, Qania yang mereka dengar tengah bernyanyi dengan sangat indah itu memang tengah menghayati lagunya dengan deraian air mata yang sudah membasahi pipinya. Kilas balik tentang kenangannya bersama Arkana terus saja berputar bak film di kepalanya dan bergantian dengan pertemuannya dengan Tristan Anggara yang membuatnya terguncang karena setelah sekian lama barulah ia melihat wajah yang teramat ia rindukan itu namun dalam wujud pribadi yang jauh berbeda dan lebih menyakitinya daripada kepergiannya untuk selama-lamanya itu.


Aku sampai tak bisa bedakan


Rasa bahagia dan rasa sedih


Sejak aku anggap dia


Takkan tergantikan


Kau datang diwaktu yang tepat


Kau mengisi sakit jiwaku


Walau mungkin kau pun terluka


Wajahmu ingatkanku


Kau datang diwaktu yang tepat


Kau mengisi sakit jiwaku


Walau mungkin kau pun terluka


Salahkan aku yang tak yang berdaya


Wajahmu ingatkanku


 


Qania menyelesaikan lagunya yang diakhiri dengan tepuk tangan meriah oleh pengunjung, terlebih lagi ada satu wanita yang membelakangi Qania yang punggungnya nampak naik turun seperti tengah menangis.


“Wah akhirnya dia datang lagi buat nyanyi”,.


“Mbak lagu lain dong”,.


“Sekali lagi mbak”,.

__ADS_1


“Lagu cinta mbak”,.


“Lagu romantis mbak”,.


Qania terkekeh mendengar suara-suara pengunjung kafe. Namun ia merasa sedih karena ternyata pemilik kafe yang ia harapkan ada di tempat ini nyatanya tidak ada karena Qania berpendapat kalau seandainya pria angkuh itu ada maka sudah dari tadi ia diusir dan dipermalukan. Namun nyatanya tidak dan ia bahkan sudah menyelesaikan lagunya, hal itu membuat Qania sedikit banyak merasakan kecewa.


Suara para pengunjung kafe yang meminta Qania untuk bernyanyi lagi membuatnya tidak bisa menolak.


“Baiklah Qania, untuk menghibur mereka dan juga dirimu sendiri serta memuaskan diri untuk memainkan piano ini tanpa drama dari sang pemilik” ucap Qania pada dirinya sendiri.


Baru saja Qania akan memainkan piano tersebut, bahunya dipegang oleh seseorang.


“Raka?” kaget Qania.


“Qan, gue nggak bisa main piano tapi gue pengen nyanyi, lo bisa kan iringin gue?” tanya Raka dengan lembut dan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.


“Boleh, lagu apa Ka?” tanya Qania sembari tersenyum membalas senyuman Raka.


“Dewi, Alexa”,.


“Oke, kamu tahukan waktu masuk lagunya?” tanya Qania dengan wajah sedikit meledek.


“Tentu lah gue tahu, lo mau ngejekin gue?” sungut Raka.


Qania tertawa kemudian ia menghembuskan napas dan mulai menyentuh piano tersebut dan Raka mulai bernyanyi diiringi oleh Qania.


Ku tanamkan hatiku tumbuh bersamamu


Takkan ku petik hingga akhir masa hidupku


Dengarlah kau dengar


Selama bumi berputar


Ku tetap milikmu


Dewi bukalah kedua matamu


Pandanglah ruang di hatiku


Dewi berikan napasmu untukku


Agar ku hidup bersamamu


Terus bersamamu


Qania tersenyum sambil memainkan piano tersebut, dia tidak bodoh mengartikan lagu yang dinyanyikan Raka ini sedang tertuju padanya namun ia berusaha bersikap senormal mungkin dan terus mengiringi Raka bernyanyi.


Sementara Raka, lelaki itu terus menatap penuh cinta pada Qania yang sedang memainkan piano dengan lihai yang sesekali menatap kepadanya sembari tersenyum.


Saat Raka dan Qania tengah melangsungkan duet mereka, di dalam ruangan pemilik kafe itu nampak Tristan sedang dibuat kesal karena justru bukan suara Qania yang ia dengar melainkan suara orang lain dan itu juga merupakan suara laki-laki.


Tristan tadi mendengar suara pengunjung yang meminta Qania untuk terus bernyanyi dan ia pun turut menunggunya namun yang terjadi justru malah suara lelaki yang ia dengar.


“Kenapa bisa orang lain yang bernyanyi? Bukannya mereka meminta gadis piano itu yang bernyanyi?” gumam Tristan.


Tristan mengambil telepon di depannya dan langsung menekan nomor menghubungi manegernya dan tak lama setelah ia meletakkan kembali telepon tersebut, pintu ruangnnya terbuka dan manegernya pun masuk.


“Siapa yang sedang memainkan pianoku?” tanya Tristan dingin.


“Masih gadis yang sama pak, namun yang bernyanyi orang lain. Dari yang saya perhatikan mereka memang datang bersama dan makan bersama, mungkin mereka adalah pasangan kekasih” jawab manegernya.


“Ya sudah kamu silahkan keluar” ucapnya.


“Baik pak” maneger tersebut pun langsung undur diri.


“Pasangan kekasih ya? Kenapa gue kurang senang mendengar kata itu? Nggak, nggak mungkin juga gue suka sama si gadis piano yang gue nggak pernah lihat orangnya langsung. Lagian Marsya gue lebih cantik dan paling cantik menurut gue” tukasnya membantah apa yang mulai ia rasakan.


‘Tapi apa iya, seperti itu pendapat gue tentang Marsya?’,.


Suara tepuk tangan dan ucapan-ucapan yang mengatakan bahwa kedua orang itu sangat serasi membuat dada Tristan seolah sedang bergemuruh. Ia meremas kertas yang ada di depannya dengan keras kemudian bergegas berdiri dan dengan kasar ia membuka pintu lalu membantingnya kembali.


“Beraninya kalian menyentuh pianoku” teriaknya lantang dari pintu ruangannya yang menghadap langsung ke arah piano.


Raka terkejut namun tidak dengan Qania yang tersenyum tipis, kemudian ia merubah kembali raut wajahnya menjadi datar.


Raka yang sudah panik langsung menarik tangan Qania untuk berdiri namun Qania hanya berdiri saja enggan untuk melangkah.


“Qan, yuk balik. Yang punya kafe udah negur tuh” ajak Raka.


Qania menggeleng, “biarkan dia datang Ka”.

__ADS_1


Raka menatap heran pada Qania yang sepertinya sudah tahu apa yang akan terjadi padanya. Raka kembali mengingat cerita Qania tadi kalau dia pernah diusir, ia pun semakin panik.


“Qan sebelum elo mendapat masalah lagi dengan pemilik kafe ini, sebaiknya kita pergi dari sini” ajak Raka yang khawatir pada Qania.


Qania menatap Raka dengan senyuman, Raka sedikit terpana namun sesaat kemudian ia tersadar dengan teguran yang datang dari depan mereka.


“Beraninya kalian menggunakan piano kesayanganku untuk bermesraan” geram Tristan membuat keduanya menoleh padanya.


“Arkana” kaget Raka dengan matanya yang terbelalak.


“Saya bukan Arkana” teriak nya dengan lantang dan tatapannya begitu tajam.


“Dan kamu..” menunjuk Qania, Tristan mengernyit saat melihat wajah Qania yang tidak asing baginya.


“Kamu gadis gila di rumah sakit tadi kan  yang mengaku-mengaku sebagai istriku, ternyata kamu menguntitku sampai ke sini. Dasar tidak waras” umpat Tristan yang membuat Raka semakin heran dan Qania, dia hanya bersikap biasa saja.


“Tunggu, sebenarnya ini ada apa Qan? Dia bukan Arkana?” tanya Raka yang sudah tidak bisa berpikir.


Qania hanya melirik Raka, kemudian ia menatap tajam kepada Tristan.


“Iya, kalau saya menguntitmu memangnya kenapa? Toh kamu suamiku, aku berhak” jawab Qania lantang, namun dalam hati ia harap-harap cemas memikirkan tindakan apa yang akan Tristan lakukan padanya setelah ia berucap seperti itu.


“Cih, siapa yang Sudi menjadi suami dari wanita menjijikan sepertiku. Aku akan menyesal jika sampai itu terjadi. Kau sengaja kan menjeratku dengan datang ke seminarku lalu berpura-pura pingsan untuk menarik perhatianku. Setelah itu apa? Kau akan menghasut dan merayuku agar bisa tidur denganku atau apa? Kau menginginkan uang, katakan berapa yang kau inginkan” Tristan mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu lalu melemparnya ke wajah Qania.


Raka terkejut bukan main melihat perlakuan kasar Tristan kepada Qania, begitu pun dengan para pengunjung kafe.


Qania tidak bersuara ataupun menangis, ia memunguti lembaran uang yang berserakan di lantai itu.


Plakkk..


Qania melempar uang tersebut ke wajah Tristan tak kalah kuatnya sehingga wajah Tristan merah padam karena amarah.


“Wanita kurang ajar” teriak Tristan sembari mengayunkan tangannya ke udara untuk menampar Qania.


Tangan Tristan terhenti di udara, ia melirik tajam kepada Raka yang tengah menggenggam erat pergelangan tangannya.


“Kau tahu, aku sempat takut saat melihatmu tadi karena aku mengira kau adalah Arkana Wijaya suami dari sahabatku ini karena wajah kalian sama dan aku takut kau akan kembali merebut Qania. Tapi aku bersyukur karena kau bukan dia karena meskipun wajah kalian sama tetapi sifat kalian begitu jauh berbeda”,.


“Aku tidak tahu apakah kau memang Arkana atau orang yang hanya berwajah sama saja dengannya. Tapi satu hal, suatu saat nanti jika ternyata kau adalah Arkana, jangan pernah kau menyesali hari ini karena aku tidak akan membiarkan Qania kembali bersamamu, aku tidak akan membiarkanmu menyentuh seinci pun kulit Qani. Camkan itu”,.


Raka menghempaskan tangan Tristan dengan kasar diiringi tatapan tajam kepada pria berjas itu.


Tristan terdiam sesaat, kemudian ia tersenyum mengejek.


“Aku Tristan Anggara bukan Arkana Wijaya, aku tidak akan pernah menyesali hari ini dan aku pun tidak akan pernah sudi menyentuh wanita yang kau akui sebagai sahabatmu itu. Pergi dari tempatku sekarang” tegasnya dengan suara yang begitu lantang menggelegar di seluruh ruangan di kafe tersebut.


“Hahaha, suatu saat keangkuhanmu akan kau sesali Tristan Anggara” kekeh Raka kemudian menarik tangan Qania.


“Ayo kita pulang, dia bukan suamimu Arkana Wijaya. Arkana bukan orang yang angkuh dan kasar, jangan berharap dari orang seperti dia karena kau akan terluka Qania” ucap Raka dingin sambil melirik tajam kepada Tristan yang juga masih menatap marah kepada mereka.


Qania menggeleng, air matanya sudah membasahi pipinya. Bukan karena ia kecewa pria angkuh itu ternyata bukan Arkana, akan tetapi kata-katanya yang sangat menohok Qania. Seandainya pria ini memang benar Arkana, maka Qania semakin merasa terluka.


Byurrr....


Semua mata tertuju pada sosok wanita cantik yang baru saja menyiram kepala Qania dengan jus.


Qania yang tidak siap akan hal itu membuatnya tidak bisa menghindar karena ia disiram dari belakang.


“Marsya” gumam Qania dan Tristan bersamaan.


“Iya ini aku Marsya, tunangan Tristan Anggara. Sungguh Qania, aku nggak nyangka kamu yang udah aku anggap sebagai temanku dengan teganya kamu ingin merebut tunangan ku. Dasar wanita tidak tahu malu”,.


Plakkk...


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Qania, meninggalkan bekas merah disana.


“Ini hanya peringatan kecil, jika kau sampai mendekati Tristan lagi maka aku pastikan kau akan mendapatkan hal yang lebih besar dari ini. Ingat Qania, aku Marsya Alvindo. Aku bisa melakukan apa yang aku mau hanya dengan menjentikkan jariku. Jadi kamu berhati-hatilah jika ingin berurusan denganku” ancam Marsya dengan tubuh yang bergetar hebat.


Qania tersenyum, “dia Tristan mu, aku tidak akan merebutnya darimu. Tidak usah memasang tampang sok berani padahal matamu saja menunjukkan hal sebaliknya” sindir Qania.


“A..apa maksud kamu Qania, hahh? Jangan macam-macam denganku jika masih ingin hidup tenang” ancam Masrya.


Qania hanya tersenyum kemudian menarik tangan Raka untuk pergi dari kafe tersebut.


Raka pun menurut dan keduanya sudah berjalan meninggalkan dua orang itu dan banyaknya pasang mata yang menyaksikan kejadian tersebut.


 


 


...❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 💕💕💕


__ADS_2