
Lima tahun berlalu ....
Hari ini hari ulang tahun Queenza Al-Khanza Wijaya yang kelima. Pesta perayaan ulang tahun yang setiap tahun selalu meriah dan juga sangat berkesan karena Kakek Setya siap menghamburkan uangnya hanya untuk merayakan ulang tahun cucu tercintanya.
Jika orang-orang berpikir bahwa pesta ulang tahun cucu dari Setya Wijaya dan Zafran Sanjaya akan melibatkan orang-orang terkemuka di kota mereka, maka mereka salah besar.
Yang hadir di ulang tahun Queenza setiap tahun adalah anak-anak dari beberapa panti asuhan. Sebagian anak tetangga dan keluarga dan sebagian lagi adalah teman Queenza di sekolah TKnya.
Semua adalah keputusan mereka bersama karena Qania dan Arkana menanamkan rasa belas kasih dan ramah serta tidak memandang seseorang dari kastanya. Mereka justru ingin kalau Arqasa dan Queenza tumbuh menjadi anak-anak yang sederhana dan tidak memilih-milih teman.
“Nek, Queen udah cantik kayak ratu. Tapi Mami mana? Katanya pulang hari ini?” tanya Queenza setengah protes.
“Sabar sayang. Cucu nenek yang paling cantik, Mami pasti pulang kok. Dia nggak pernah lupa sama ulang tahun Queenza,” hibur nenek Alisha.
Queenza hanya bisa menghela napas. Baru kali ini ia berulang tahun namun sang Mami masih terjebak di luar kota dengan pekerjaannya. Daddynya saja ada di rumah ini, mengapa Maminya tidak ada?
“Nek,” panggil Queenza.
“Iya sayang?”
“Nggak jadi. Ayo kita turun Nek,” ajak Queenza.
Nenek Alisha hanya bisa menggeleng kepalanya. Kali ini ia harus dihadapkan dengan cucu perempuan yang sangat bawel, narsis dan sangat berbanding terbalik dengan Qania meskipun sifat dan sikapnya sopan dan sangat sederhana.
Nenek Alisha sangat paham bahwa sifat cucunya ini menurun dari sang Daddy yang bicaranya kadang tidak bisa di kontrol, suka ceplas-ceplos dan sangat narsis. Sementara Arqasa, anak itu cukup dingin dan hanya menunjukkan kasih sayang serta sikap manja pada keluarga dekatnya saja. Bocah tampan yang kini sudah hampir berusi sebelas tahun itu banyak mewarisi sifat Qania yang diam-diam menghanyutkan.
“Ya ampun ponakan Tante cantik banget,” puji Tante Lala yang sedang menggendong Rendra, anaknya yang berusia dua tahun lebih.
“Iya dong Tante. Aku ini satu-satunya ponakan Tante yang paling cantik. Jangan sampai ada lagi ponakan Tante yang cantik selain aku,” jawab Queenza.
“Kalau Maminya hamil lagi gimana?” goda Paman Syaquile yang baru saja bergabung dan langsung mengambil Rendra dari gendongan Lala.
“Ya kalau hamil lagi harus adik cowok lah. Queenza nggak mau ada saingan. Dan kalau bisa nggak usah ada adik lagi, ih. Kan udah lengkap ada kak Ar yang tampan meskipun nggak ganteng-ganteng amat dan ada aku Queenza Al-Khanza Wijaya yang sangat cantik, imut dan manisnya luar biasa,” ucapnya yang seperti biasa selalu narsis dan percaya diri tinggi.
Tante Lala dan nenek Alisha tertawa mendengar ucapan Queenza yang sudah tidak asing di telinga mereka sementara Paman Syaquile hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Huuhh, untung ponakan cewek satu-satunya. Narsismu itu lho Nak, melebihi Daddymu. Tapi ya mau gimana lagi, bibit unggul sih,” ucap Paman Syaquile menyerah.
“Nah itu baru benar, Paman. Lagian nanti adik Rendra kalau mau punya adik yang jangan adik cewek ya, Paman, Tante. Ntar dia nangis nggak bisa nyaingin kecantikan Queenza. Atau bisa-bisa aku yang galau kalau adik Rendra nanti lebih cantik dari Queen. Tante Lala please ya, nanti kalau mau buat adik usahain biar adik cowok. Supaya Queen jadi satu-satunya yang paling cantik,” ucapnya yang lagi-lagi membuat Pamannya geleng-geleng kepala.
“Terserah Queenza aja. Paman Syaquile speechless,” ucap Syaquile kemudian pergi.
Tak lama kemudian Daddy Arkana datang sambil menggandeng tangan mungil seusia Queenza.
“Yaya!! Ya ampun aku senang banget kamu datang,” teriak Queenza yang langsung berlari memeluk Zayana.
“Selamat ulang tahun ya, Queenza. Yaya pasti datang kok, kita kan sahabat,” ucap Zayana.
“Ya udah ayo turun. Acaranya udah mau dimulai,” ucap Daddy Arkana kemudian ia menggandeng dua tangan bocah cantik itu.
“Ka, Qania udah sampai dimana?” tanya Nenek Alisha sambil menuruni tangga di belakang Arkana.
__ADS_1
“Udah sampai kok, Ma. Lagi ganti baju di kamar bawah,” jawab Arkana.
“Oh jadi Mami udah sampai. Queen pikir Mami lupa,” ucapnya lagi.
Bisik-bisik para tamu undangan terdengar di telinga Queenza. Meskipun kebanyakan masih bocah-bocah, namun pikirannya sudah jauh.
“Queenza cantik ya. Apalagi temenan sama Yaya, sama-sama cantik.”
“Aku suka lihat Queenza. Seperti Barbie.”
Dan masih banyak lagi yang membuat Queenza tersenyum bangga.
Di sudut berbeda ada kelompok kecil yang terdiri dari Arqasa, Dirga dan Ibnu. Dirga adalah anak dari pasangan Rizal dan Ghea yang usianya sembilan tahun, sementara Ibnu adalah anak dari pasangan Fero dan Chika yang mana usianya baru enam tahun lebih.
Dari ketiga orang tua mereka memang sudah mengatur agar mereka bersahabat sejak kecil agar sampai dewasa nanti mereka tetap bersama dan saling membantu.
“Ar, itu Queenza cantik sekali,” ucap Digta yang matanya tak lepas dari Queenza yang sedang menuruni tangga.
“Ibnu lebih suka lihat Yaya,” ucap Ibnu yang memang akrab dengan Yaya.
“Kalian itu masih pada bocah. Jangan lirik-lirik dulu. Lagian ingat apa kata bokap kita, Queenza dan Yaya itu harus kita jaga,” ucap Arqasa yang memang bicaranya sudah seperti orang dewasa.
“Nanti kalau Ibnu udah gede, Ibnu mau nikah sama Yaya,” celetuk Ibnu.
“Ya nggak bisa gitu dong!”
“Memang kenapa, Ar?” tanya Ibnu heran.
. . .
Qania keluar dari kamar tamu dan begitu ia berbalik setelah menutup pintu, ia langsung dibuat terkejut melihat penampilan Queenza.
“Nggak mungkin,” gumam Qania.
Syaquile yang kebetulan berada di dekat sang Kakak pun mendekatinya karena heran melihat ekspresi Qania.
“Kak kenapa? Kenapa ngelihatin Queenza yang narsis abis itu kayak gitu? Dia emang cantik Kak, seperti yang selalu dia umumkan,” ucap Syaquile sembari terkekeh.
“Itu beneran Queenza, Syaq?” tanya Qania masih belum sepenuhnya sadar dari keterpanaanya.
“Iya lah Kak.”
“Syaq, ngelihat penampilan Queen yang kayak gitu kakak jadi ingat gadis kecil yang nolongin kakak waktu dalam mimpi saat kita di pesawat,” ucap Qania merinding.
Syaquile terkejut kemudian ia kembali melirik Queenza.
“Itu artinya yang kakak lihat ....”
__ADS_1
“Ya, itu artinya mimpi waktu itu adalah mimpi yang menghadirkan masa depan. Kakak nggak nyangka bisa bertemu dengan anak Kakak di dalam mimpi bahkan sebelumnya kakak nggak tahu Arkana bakalan kembali dan kakak sampai punya anak secantik itu,” ucap Qania.
“Luar biasa. Kakak seperti cenayang saja,” ucap Syaquile.
“Hahaha. Ya udah ayo kita kesana,” ajak Qania.
Qania pun menghampiri keluarganya yang sedang menemani Queenza di dekat kue ulang tahunnya. Disana sudah ada Arqasa dan Yaya yang terus menemani Queenza. Setiap kali melihat wajah polos Zayana, Qania selalu saja tak bisa menahan rasa sedihnya.
“Queenza, selamat ulang tahun sayang. Maaf ya Mami nggak bisa ikut siapin ini semua,” ucap Mami Qania kemudian ia memeluk Queenza penuh sayang.
“Makasih Mi. Tidak apa-apa yang penting ada Mami,” balas Queenza.
“Mi, tolong peluk Yaya juga. Queen nggak suka kalau Mami peluk Queen di depan Yaya kayak gini. Nanti Yaya sedih karena nggak punya Mami. Dia sahabat baik Queen, jadi Mami juga harus sayang sama Yaya seperti Mami sayang sama Queen,” bisik Queenza.
Qania pun mengurai pelukannya kemudian ia balik menyapa Zayana.
“Halo Yaya ponakan Mami Qania yang cantik. Sini sayang, Mami Qania rindu,” ucap Qania merentangkan tangannya agar Zayana memeluknya.
“Yaya juga rindu sama Mami Qania,” ucapnya lirih.
“Kalau gitu nanti malam Yaya harus nginap disini biar nanti tidur bareng Mami dan Queenza,” ucap Qania yang membuat ekspresi Zayana senang kemudian sedih.
“Tapi Ayah gimana Mami?” tanya Zayana.
“Tenang, nanti Mami telepon Ayah Raka. Dia pasti izinin Yaya bobo disini. Kan udah biasa bobo disini,” ucap Qania meyakinkan.
“Horee. Makasih Mami Qania. Yaya sayang banget sama Mami Qania,” ucap Zayana sangat senang.
“Mami Qania juga sayang banget sama Yaya,” balas Qania kemudian kembali memeluk bocah itu.
Arkana, Mama Alisha, Papa Zafran, Tante Lala, Syaquile dan Papa Setya turut menitikkan air mata. Tak terkecuali Queenza yang memang paling sayang terhadap Zayana.
Mereka sangat tahu bagaimana bocah itu tidak pernah mengenal wajah sang Ibu karena setelah sebulan melahirkan Zayana, Marsya menghilang entah kemana. Raka sangat frustrasi mencarinya namun kabar yang datang malah mengatakan bahwa Marsya menjadi korban penculikan sekaligus pembunuhan oleh oknum yang membenci tuan Alvindo dan menjadikan Marsya sebagai sasaran mereka.
Akhirnya Zayana diasuh oleh kedua orang tua Raka di kampungnya sementara Raka sesekali saja pulang ke rumah karena ia memilih kerja di luar kota demi menyembuhkan hatinya yang begitu hancur karena kehilangan sang istri yang ia cintai di malam pertama mereka itu.
Zayana hanya mengenal bunda Vania yaitu kakak Raka dan Mami Qania yang selalu menyayanginya. Mereka hanya menceritakan yang baik-baik tentang Ibunya ketika Zayana tiba-tiba membahasnya.
Qania dan Arkana sepakat mengangkat Zayana sebagai Puteri mereka walaupun tidak tinggal bersama mereka dan itu hanya diketahui oleh keluarga Raka dan keluarga Qania Arkana saja.
Acara ulang tahun pun dimulai dengan suka cita. Terlihat senyum dan tawa bahagia dari para tamu undangan khususnya anak-anak dari panti asuhan.
Ditengah kemeriahan pesta, Arqasa menarik pergelangan Zayana lembut kemudian ia menautkan jari-jari mereka.
“Yaya, Abang Ar janji bakalan jagain Yaya dan sayangin Yaya kayak yang Abang Ar lakuin sama Queenza. Yaya harus ingat kalau ada apa-apa langsung katakan sama Abang ya,” ucap Arqasa yang membuat Zayana bingung karena pikirannya belum sampai kearah sana mengingat baru Minggu depan ia akan mencapai usia lima tahun.
Hanya kakek Setya lah yang melihat sikap Arqasa barusan dan ia tersenyum misterius sambil melirik tangan keduanya yang saling bertautan.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1