Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Mengambil Keputusan


__ADS_3

Tanpa terasa waktu sudah setahun berlalu dan kini bayi Arqasa itu baru saja selesai merayakan ulang tahun yang ke satu. Para tamu sudah kembali ke rumah mereka masing-masing dan di kediaman Zafran Sanjaya saat ini tinggallah Qania, kedua orang tuanya, Setya, Rizal dan Gea serta Fero tanpa Cika.


“Selamat ulang tahun ponakan aunty Gea yang ganteng” ucap Gea sekali lagi sebelum pulang sambil mencium pipi Arqasa yang berada dalam gendongan Rizal.


“Makacih aunty. Makanya cepat nikah bial aku ada temennya” ucap Qania menirukan bahasa balita.


“Sabar ya Arqasa, paman lagi ngumpulin uang buat nikahan. In syaa Allah tahun depan deh” ujar Rizal yang terus menciumi pipi gembul Arqasa bergantian dengan Gea.


“Ah lihat lo berdua kayak gini gue jadi mau punya baby. Gue mau cari Cika dulu, on the way buat baby gue” celetuk Fero yang langsung dihadiahi cubitan oleh Qania.


“Nikahin dulu” tandas Qania.


Gea dan Rizal tertawa melihan Fero yang tengah mengaduh kesakitan serta mendapat ceramah panjang kali lebar kali tinggi dari Qania karena ucapannya tadi.


“Sayang, kamu lihat deh Qania. Semenjak Arkana nggak ada, dia jadi semakin dewasa dan jiwanya sudah keibuan banget. Kita sering mendapat teguran dan nasihat dari dia, kadang aku merasa menjadi anaknya” ucap Gea sambil memperhatikan Qania yang sedang memarahi Fero.


“Kamu benar sayang, ternyata semua masalah yang dia alami menjadikan dia semakin dewasa dan menjadi pribadi yang bijaksana”  ucap Rizal membenarkan.


“Menurutmu apa Qania nggak bakalan nikah lagi? Dia masih sangat muda sayang. Dua puluh satu tahun loh dia” tanya Gea.


“Aku sih nggak tahu sayang. Mungkin dia akan menikah lagi tapi dalam waktu yang mungkin cukup lama. Aku tshu dibalik sikap cerianya dan dibalik amarahnya tersimpan kepedihan dan kerinduan yang selalu dia sembunyikan dari kita semua” ujar Rizal.


Gea hanya menganggu membenarkan ucapan Rizal barusan.  Selama ini Qania tidak pernah mengeluhkan tentang perasaan sedih ataupun rindunya pada Arkana. Dia bahkan jarang sekali membicarakan soal Arkana bersama teman-temannya. Itulah yang membuat Gea salut padanya yang mampu bertahan ditengah badai yang entah kapan akan berlalu.


“Ma..mamii..miii”,.


“Woah baby Arqasa udah pintar ngomong” pekik Gea kegirangan.


“Dadd..dy..”,.


Gea dan Rizal saling berpandangan ketika bayi Arqasa itu mengucapkan kata daddy. Air mata Gea tiba-tiba menetes namun dengan cepat ia menghapusnya dan langsung menciumi pipi gembul bayi Arqasa.


 “Qania pasti selalu mengenalkan sosok Arka  pada anak mereka sehingga baby Arqasa menyebut daddynya” gumam Gea.


Tak lama kemudian Qania datang dengan wajah yang ditekuk setelah puas memarahi Fero hanya karena ucapannya tadi yang hanya sebuah candaan namun Qania begitu serius menanggapinya.


Rizal memberikan bayi Arqasa kepada Qania dan mereka bertiga pun berpamitan pulang karena hari sudah menjelang magrib.


*


*


Di ruang keluarga kini seluruh anggota keluarga Zafran bersama Setya sedang berbincang setelah mereka makan malam.  Terkecuali Syaquile yang kini sudah duduk di bangku kuliah dan mengambil jurusan Teknik Informatika di kota M. bayi Arqasa yang sangat aktif itu saat ini sedang tertidur dalam pangkuan Qania.


“Qania, sekarang pewaris papa hanya tinggal kamu dan Arqasa. Hotel, kafe dan kantor papa akan jatuh ke tangan Arqasa tapi tentu saja dirimu dulu lah yang akan mengelolanya bersama papa menunggu cucuku itu dewasa” ucap Setya tiba-tiba mengalihkan candaan mereka.


“Iya pa, Qania akan bantuin papa. Lagian Arqasa udah bisa ditinggal karena udah nggak ASI ekslusif juga” sahut Qania.


“Tapi gelarmu tidak sesuai dengan pekerjaanmu nanti Qania” ucap Setya.


“Maksud papa?” tanya Qania bingung.


“Maksud papa, mau kah kau kuliah lagi dan mengambil jurusan hokum dan ekonomi?” tanya Setya mengutarakan maksudnya.


“Kuliah lagi pa?” beo Qania.


“Hei Setya anak gue udah sarjana dan harusnya dia itu ngambil S dua bukan ngulang S satu lagi” celetuk Zafran membuat Alisha menyikutnya.


“Gue tahu, tapi jurusannya dulu nggak sesuai sama pekerjaan yang akan gue kasih ke dia Zaf” ujar Setya.


“Papa Setya benar juga” gumam Qania.


“Jadi kau mau kuliah lagi Qania?” tanya Setya penuh harap.


“Mau sih pa, tapi kalau kuliah nanti dosen-dosen di kampus kan udah tahu Qania udah sarjana. Apa kata dosen dari fakultas Teknik nanti pa?” ucap Qania menimbang-nimbang.


“Ya papa nggak bilang kalau kamu itu kuliah lagi di kampus lama kamu. Kamu bisa kuliah di luar kota” ucap Setya membuat Qania terbelalak.


“Oh kalau yang ini Qania nggak setuju pa, Arqasa sama siapa kalau Qania pergi?” tolak Qania.

__ADS_1


“Ada papa kamu, ada papa sama mama kamu yang bakal jagain Arqasa. Kamu nggak usah khawatir”  ujar Setya namun Qania belum menanggapinya.


“Papa ngelakuin ini bukan Cuma karena papa ingin kamu kuliah dan menjadi penerus papa. Papa melakukan ini karena papa tahu kamu pasti masih belum bisa keluar dari lingkaran kesedihanmu kan? Papa tahu kamu selama ini selalu diam-diam menangisi Arkana, kan? Ucapan papa benar kan, Qania?” tanya Setya menekankan setiap pertanyaannya.


Qania tertohok, semua yang dikatakan oleh mertuanya memanglah benar. Alisha dan Zafran yang merupakan orang tua kandung Qania sampai tidak mengetahui kesedihan anak mereka jika memang benar begitu. Sejauh ini yang mereka lihat hanyalah Qania yang terus tertawa bersama anaknya dan mereka. Pandangan mereka kini tertuju pada Qania yang masih bungkam.


“Benar begitu nak?” tanya Alisha menahan gemuruh di dalam dadanya.


Qania menunduk dan air matanya menetes membuat Alisha mendesah penuh penyesalan selama ini tidak mengetahui keadaan hati anaknya itu begitu pun dengan Zafran.


Alisha bergeser sedikit dari tempat duduknya dan langsung memeluk Qania, memberinya banyak ciuman.


“Maaf” cicit Qania.


Alisha menggeleng, “mama yang minta maaf nak, mama tidak mengetahui kesedihanmu”.


“Qania hanya tidak ingin kalian memikirkan kesedihanku saja, mari kita fokus memikirkan masa depan. Dan tentang Qania yang masih memikirkan Arkana itu tidak akan pernah berhenti ma, maaf Qania akan selalu memikirkannya” ucap Qania menegaskan.


“Papa tidak melarangmu memikirkannya nak, itu hakmu dan dia juga adalah suamimu” sahut Zafran membuat Qania melirik papanya sembari tersenyum tipis.


“Sekarang gimana keputusanmu Qania?” tanya Setya.


“Qania setuju Pa. tapi Qania ngambil jurusan apa nantinya?” bingung Qania.


“Hukum”,.


“Ekonomi”,.


Ucap Setya dan Zafran bersamaan.


“Eh yang mana nih, jangan buat anak aku pusing ya” protes Alisha.


“Dua-duanya sebenarnya harus sih” ucap Zafran sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Lalu Qania harus kuliah di dua jurusan dan dua kampus sekaligus gitu Pa?” tanya Qania dengan raut wajah penuh penolakan.


Setya dan Zafran saling berpandangan kemudian menyeringai.


“Oh no.. kalian jangan gila ya. Ini sama saja kalian menambah beban Qania” tolak Alisha.


“Hmm, gini aja deh. Qania bakalan ambil jurusan Hukum karena jurusan itu memang harus di tempuh dengan pendidikan di bangku kuliah. Kalau masalah kuliah di jurusan Ekonomi kayaknya nggak usah deh. Nantikan Qania bakalan kuliah di kota besar di Negara kita, pasti banyak tuh seminar-seminar tentang bisnis. Nanti Qania bakalan ikut seminar saat Qania ada kesempatan dan juga kalau ada kursusnya Qania bakalan masuk saat libur semester atau saat jadwal kuliah nggak padat. Atau Qania ikut pelatihan dan masih banyak alternative lain, gimana?” papar Qania kemudian menatap satu per satu orang tuanya.


“Cerdas” ucap ketiganya bersamaan.


Qania tersenyum malu mendapat pujian dari ketiga orang tuanya itu.


“Da..dadd.dy..”,.


Semua mata tertuju pada bayi Arqasa yang tiba-tiba saja bangun.


“Daddy? Kenapa mama selalu mendengar Arqasa menyebut daddy?” tanya Alisha menatap Qania penuh tanya.


“Maaf ma, itu karena Qania selalu menceritakan padanya tentang Arkana meskipun dia nggak ngerti. Arqasa juga tiap tidur selalu aku perdengarkan rekaman suara Arkana, aku perlihatkan fotonya dan aku bilang ini daddymu” cerita Qania dengan bersemangat padahal dalam hati ia sangat meradang.


“Oh pantas, anakmu sangat cerdas sama seperti maminya” puji Alisha.


“Siapa dulu dong kakeknya” ucap Zafran dan Setya kompak.


“Makin kompak ya” sindir Alisha.


“Oh jelas” sahut keduanya bersamaan lagi membuat Alisha mendengus.


“Ya sudah ma, pa, Qania mau nidurin Arqasa dulu di kamar, dia akan tidur kalau sudah dengan nyanyian dari daddynya. Selamat malam semua, selamat tidur kakek dan nenek. Arqasa macuk duyu ya, Assalamu’alaikum” ucap Qania berpamitan.


“Selamat tidur juga cucu nenek, ummaahh” Alisha mengecup kedua pipi gembul Arqasa.


“Selamat tidur cucu kakek yang tampan” ucap Setya bergantian dengan Zafran menciumi pipi Arqasa.


Setelah mengucapkan selamat tidur, Qania membawa Arqasa ke kamarnya di lantai dua, lalu Setya berpamitan pulang.

__ADS_1


 


*


*


 


Qania POV


 


Sungguh berat melewati malam ini, malam dimana terakhir kali aku tidur bersama Arqasa anakku satu-satunya. Besok aku akan berangkat ke kota Y untuk melakukan tes masuk perguruan tinggi dan tidak akan pulang dalam waktu setengah tahun bahkan lebih. Sebulan yang lalu papa Setya sudah mendaftarkanku ke salah satu Universitas ternama di Negara ini dan aku tidak bisa menolak setelah ku setujui malam itu.


Aku terus memandangi anakku yang sedang terlelap dalam tidurnya.


Arghh rasanya sangat sesak akan melalui malamku tanpanya besok.


Bagaimana dengannya? Apakah dia bisa tidur tanpaku?


Aku belum terbiasa berjauhan dengan anakku dan bahkan belum pernah. Aku takut dia akan sakit karena merindukanku dan aku juga begitu.


Rindu itu terlalu menyiksa. Hahh apa yang sudah aku lakukan?


Benarkah keputusanku ini?


Belum habis aku menanggung rindu pada Arkana dan mulai besok rinduku akan ditambah lagi kepada anakku.


Mengapa aku jadi bingung sendiri?


Ku seka air mata yang terus saja jatuh membasahi pipiku, tak habis-habis ciumanku mendarat di setiap inci wajah tampan anakku ini. Aku sudah merindukannya sebelum berpisah.


Tapi kembali lagi ini demi masa depan anakku dan diriku sendiri.


Ah baiklah akan kutanggung rindu selama empat tahun atau aku akan menyelesaikannya tiga tahun setengah seperti dulu aku menyelesaikan kuliahku di fakultas Teknik. Toh Hukum tidak sesulit rumus-rumus Fisika turunan dan Mekanika Teknik yang membuatku pusing kepala dan tak tidur hanya untuk menurunkan rumusnya.


Ya, aku pasti bisa menyelesaikan kuliahku ini dengan cepat dan dengan hasil yang memuaskan. Tidak ada tugas besar yang akan membuatku tidak pulang ke rumah selama seminggu. Dan yang pasti tidak aka nada rumus-rumus kali kali bikin kurus alias Kalkulus.


Lagi pula aku bisa belajar dari buku-buku papa dan papa Setya, mereka kan lulusan fakultas Hukum. Setidaknya ilmu mereka sudah sedikit ku pelajari sebulan ini. Rasanya tidak akan sesulit menanggung rindu.


Aku juga akan menyibukkan diriku mencari seminar tentang bisnis dan perekonomian untuk membunuh waktu hingga aku berkata “wah tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan sudah waktunya aku kembali bersama gelarku Sarjana Hukum”.


Aku terkikik, lucu saja aku baru akan tes namun khayalanku sudah sampai sarjana.


Waktu semakin larut dan penerbanganku besok pagi pukul sepuluh, sekarang sudah pukul sebelas malam. Aku harus tidur, aku ingin tidur bersama anakku yang tampan ini yang selalu mampu menghiburku dengan wajah yang teramat sangat ku rindukan di malam terakhir ini. Ya, wajahnya sama persis seperti Arkanaku, senyumnya pun sama hanya saja dia masih balita dan belum bisa tersenyum maut pada kaum hawa.


Ah rasanya aku takut jatuh cinta pada putraku saat dia remaja. Hah, mikir apa aku ini.


Aku memeluk erat anakku dan perlahan memejamkan mataku untuk mengantarkanku ke petualangan mimpiku.


 


Qania POV end


 


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗


Kalau boleh tinggalkan jejak, like, komen, rate. Tenang author nggak minta divote🤣🤣 Tapi kalau mau author sangat berterima kasih 😊😊😊


🥀Cari author di social media


_Fb : Vicka Villya Ramadhani


_IG : Vivillya


 

__ADS_1


 


__ADS_2