
Setya, Zafran dan Alisha kini terduduk lemas di sofa setelah mendengar cerita Syaquile. Entah harus marah, kecewa atau lega dengan kenyataan sebenarnya. Mereka kembali menatap Qania yang masih sesenggukan sambil memegangi perutnya yang masih rata itu.
“Kenapa tidak bilang kalau kalian sudah menikah?” akhirnya kata itu terucap dari mulut Zafran yang kemudian mendesah pasrah.
“Itu karena kakak dan kak Arka tidak ingin mengecewakan papa dan mama serta om Setya” sahut Syaquile.
“Tapi itu sama saja dengan kami yang bersalah karena sudah memisahkan pasangan suami istri” timpal Setya.
“Mereka tiap malam tidur bersama kok pa, kak Arkana manjat balkon kamar kakak” sahut Syaquile yang langsung mendapat cubitan dari Qania.
‘Bisa-bisanya ya dek kamu buka-buka rahasia dalam keadaan seperti ini. Entahlah aku harus tertawa atau marah. Tapi membayangkan kenangan manis bersama suamiku itu membuatku tidak bisa menghalau senyuman yang terbit dari bibirku’ batin Qania.
“APPAAA?” sentak ketiga orang tua itu beserta Rizal dan Fero.
“Hah mama nggak tahu harus berkata apa. Mama kasihan juga pada Arkana yang harus berjuang seperti itu untuk tidur bersama istrinya tanpa harus mengecewakan orang lain”ucap Alisha mendesah sambil memijat pelipisnya.
Lain dengan mereka, Setya kini berjalan mendekati Qania yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur pasien itu sambil menatap iba pada menantunya itu.
Setya langsung mendekap erat tubuh Qania dan menumpahkan tangisnya. Qania yang masih sesenggukan kini kembali menangis lagi karena turut merasakan pedihnya kehilangan orang yang teramat kita cintai.
“Kamu yang sabar nak, Arka sudah tidak bersama kita lagi dan dia tidak bisa menemanimu selama kamu mengandung anaknya. Tapi papa janji akan memberikan semua yang terbaik untuk cucu papa, amanat dari Arkana dan merupakan pengganti dirinya” ucap Setya yang masih memeluk Qania dengan tangisnya.
Qania yang tadi sempat merasa sedikit lega kini kembali memecahkan tangisnya lebih dari tangisan Setya. Hal yang membuat ia menangis sampai seperti ini karena ia tersadar Arkananya kini sudah tiada dan dia akan membesarkan anaknya hanya seorang diri. Suasana ruang rawat Qania menjadi haru, dimana semua yang ada di ruangan itu ikut menangis merasakan sesak yang Setya dan Qania rasakan.
*
*
Qania menatap lekat nisan yang bertuliskan nama Arkana Wijaya yang ada di sampingnya itu. air matanya yang sudah beranak sungai di wajahnya belum juga berhenti mengalir. Ia mengelus penuh sayang pada nisan yang menjadi peristirahatan terakhir Arkananya.
“Sayang hei aku sekarang tengah mengandung anak kita, buah cinta kita. Aku yakin dimana pun kini kamu berada kamu pasti senang mendengarnya” ucap Qania diiringi air mata namun senyum tersungging di wajahnya.
“Sayang terima kasih karena kau tidak membiarkanku sendiri di dunia ini. Aku berjanji akan merawat anak kita dengan penuh kasih sayang dan tidak kekurangan apapun kecuali sosok seorang ayah. Aku bersumpah di depan pusaramu tidak akan mencari penggantimu sampai aku menua dan menutup mata. Aku hidup hanya sekali maka aku akan menikah hanya sekali juga dan hanya dirimu yang selamanya akan menjadi suamiku meskipun kita kini berada di dunia berbeda”,.
“Kau tahu sayang, anak kita kini sudah berusia enam bulan dan perutku sudah semakin buncit saja. Hmmm dan aku yakin dia akan menurunkan sifat menyebalkanmu dan juga hobi balapmu” Qania terkekeh saat mengingat dimana ia memaksa Fero dan Rizal untuk mengikuti balapan motor.
Sebulan yang lalu Qania yang memilih tinggal di rumah Setya Wijaya tepatnya di kamar Arkana itu pada sore hari merasa bosan dan entah ngidam nyeleneh apa sehingga ia ingin sekali mengikuti balapan motor dengan perutnya yang sudah mulai membesar. Ia terus meneror Fero dan Rizal dan mengancam keduanya akan di pecat jika tidak membawanya ikut balapan.
__ADS_1
Dengan susah payah Rizal dan Fero membujuk Qania agar tidak mengikuti balapan karena perutnya yang semakin membesar dan resikonya sangat berbahaya. Mereka bahkan melapor pada kedua orang tua Qania dan juga kepada papa mertuanya.
Semuanya turut membujuk Qania tapi yang ada dia malah menangis dan tidak ingin menegur siapapun dan mengancam tidak akan melahirkan anaknya disini bahkan ia berniat kabur agar Setya tidak bisa melihat cucunya yang sangat ia nantikan itu.
Dengan berat hati mereka menyetujui keinginan ibu hamil itu dan Rizal pun menyiapkan balapannya.
“Qan, lo gue boncengin dan kita bakalan balapan melawan Fero sama Cika” ucap Rizal pada waktu itu.
“Ih nggak gitu Zal, gue itu maunya gue yang naik motor terus balapan sama Galih” bantah Qania.
“Galih?” pekik Fero dan Rizal bersamaan.
“Qan lo jangan gila dong. Jangan buat kita mati berdiri dengan keinginan elo, Galih itu bahaya dan lo juga nggak bisa bawa motor sport karena lo bisanya kan matic doang dan baru belajar pula” ujar Rizal tanpa sadar sudah mengejek Qania.
“Apa lo bilang?” teriak Qania, emosinya selama hamil ini selalu naik membuat mereka yang berada di sekitarnya hanya bisa bersabar menghadapi mood ibu hamil dengan sejuta keinginan yang nyeleneh.
“Sorry Qan, gue gak maksud..”,.
“Lo lupa anak yang gue kandung ini anak dari Arkana Wijaya, pembalap liar yang terbaik yang ada di kota kita bahkan provinsi kita, gue ingetin kalau lo lupa” sungut Qania membuat Rizal dan Fero mendesah pasrah.
“Ya sudah atur saja, biar kita urus keamanannya” ucap Zafran mengakhiri perdebatan.
“Bawaan bayi mungkin” desah Alisha yang juga turut berada disana.
Galih yang sudah tahu tentang keinginan mendiang rivalnya itu turut tersenyum saat Qania bersorak atas kemenangannya.
“Bagaimana nggak menang, gue aja bawa motor lebih cepat siput” kekeh Galih yang tengah tersenyum melihat Qania tertawa lepas.
“Gila, lama dipandang bisa-bisa gue jatuh cinta sama tu ibu hamil. Kira-kira kalau gue suka sama Qania, Arkana nggak bakalan hantuin gue kan?” gumam Galih kemudian berjalan untuk bergabung bersama rombongan Qania dan memberinya selamat.
Hari semakin sore, Qania masih terus mengusap dan memeluk nisan Arkana namun tangisnya sudah mereda karena ia teringat akan pesan dokter yang memperingatinya agar tidak gampang stress dan kelelahan.
“Sayang, daddy, kami pulang dulu ya. Daddy baik-baik ya disini” pamit Qania seraya menciumi nisan bertuliskan Arkana Wijaya itu.
*
__ADS_1
*
Qania POV
Tidak ada yang tahu dalam diam di sepertiga malam aku selalu terbangun karena merindukannya. Aku bisa membohongi mereka dengan berperan seolah aku bisa melewati hidupku dengan bahagia tanpanya. Aku terus terjaga di sepertiga malam hanya untuk berdoa semoga Arkana ku kembali lagi. Aku tahu ini sesuatu yang mustahil dan kadang aku mengejek diriku yang dengan gilanya menuntut Tuhan untuk mengembalikan Arkanaku.
Tak hanya aku, papa Setya pun sama. Dia diam-diam menangisi Arkana disetiap malam dan itulah yang menjadi alasanku mengapa beberapa bulan ini aku menetap di rumahnya. Awalnya aku ingin tidur di kamar ini karena sangat merindukan Arkanaku dan biasa diistilahkan bawaan bayi yang ingin aku melakukan ini dan itu dan keinginan bayiku adalah tidur di kamar milik suamiku ini.
Awal aku datang dan tidur di rumah ini papa Setya sangat senang menyambutku. Dan seperti yang ku bilang tadi, aku selalu terjaga di sepertiga malamku hanya untuk membujuk dan merayu sang pencipta agar Arkanaku kembali, aku tahu aku gila. Samar-samar aku mendengar suara tangis dan saat aku memberanikan diri keluar ternyata suara itu datang dari ruang kerja papa Setya yang terbuka sedikit. Aku mengintip dan melihat papa Setya sedang menangis sambil memeluk foto milik Arkanaku dan kemudian ia ciumi. Saat itu aku tersadar kamilah dua orang yang paling terluka setelah kepergian Arkanaku.
Yang aku pikirkan memang benar, setelah aku memutuskan untuk tinggal disini meskipun sebelumnya sempat bersitegang dengan mama dan papaku yang juga ingin merawatku di rumah selama aku hamil, pelan-pelan papa Setya melupakan kesedihannya dan bahkan ia sangat bersemangat menunggu kelahiran bayiku, cucunya.
Aku kadang pulang ke rumah kedua orang tuaku jika papa Setya kerja di luar kota dan ia akan menjemputku kembali sepulangnya dari sana. Kadang papaku iri dengan kedekatanku dengan papa Setya, untung saja ada mama yang selalu membujuk papa agar mengerti dengan keadaan kami.
Seperti biasa, setelah aku menuntut Tuhan di sepertiga malam dengan dua rakaat itu dan juga dengan permintaan nyelenehku, aku berdiri masih dengan mukenah sebagai mahar dari Arkana dan menatap lukisan yang masih berada disana yang menampilkan wajahku dengan tulisan malaikat tak bersayap. Senyumku mengembang terlebih lagi ketika aku menatap dinding dimana sangat banyak fotoku yang tergantung disana.
Tidak ada yang berbeda dari pertama aku masuk ke kamar ini dulu waktu aku berpacaran dengannya saat dia meminta maaf di kampusku karena masalah Syeril waktu itu. Ah aku jadi teringat Syeril, bagaimana jadinya dia yang mengaku kekasih Arkana saat masuk ke kamar ini. Aku terkikik saat membayangkan hal itu. Hanya ada tambahan foto kami berdua yang kami pasang waktu itu, jika aku mengingat kenangan manis itu, aku rasanya ingin mencari doraemon dan memintanya membawaku ke mesin waktu dan pergi ke waktu dimana aku bersama Arkana melewati hari-hari kami dulu dengan bahagia tanpa ada hari dimana dia meninggalkanku untuk selamanya. Hahaha aku sudah semakin gila setelah menuntut Tuhan tadi.
Setelah puas memandangi foto-foto kami, aku kembali ke tempat tidur dan memutar video dimana Arkanaku sedang bernyanyi sambil memainkan gitar, sangat manis.
Saat rasa kantuk mulai menyerang pertahanan mataku, aku memutar rekaman suara Arkanaku yang bernyanyi dengan suara merdunya hingga aku terlelap. Hanya ini saja yang menjadi pengobat rinduku, aku masih beruntung karena Arkanaku meninggalkan ini semua untukku.
Sumpah demi apapun aku sangat merindukannya, sangat-sangat merindukannya.
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗
Kalau boleh tinggalkan jejak, like, komen, rate. Tenang author nggak minta divote🤣🤣 Tapi kalau mau author sangat berterima kasih 😊😊😊
🥀Cari author di social media
_Fb : Vicka Villya Ramadhani
_IG : Vivillya
__ADS_1