
“Oke guys, karena kita sudah pada sarapan dan sudah mandi, gimana kalau kita keliling dusun ini dan mengamati kira-kira apa yang akan kita lakukan selama dua bulan disini. Oh ya, kalau bisa lita membuat kenang-kenangan untuk dusun ini agar mereka tetap mengingat kita meskipun kita sudah meninggalkan dusun ini” ucap Abdi membuka rapat kelompok mereka di ruang tamu.
“Gue sih setuju aja, selain itu kita juga bisa melakukan pengabdian kepada masyarakat. Jadi gimana kita pantau aja langsung nih?” sahut Raka.
Raka merupakan mahasiswa fakultas pertanian, wajahnya tampan namun terkesan cuek karena yang ada di dalam kehidupannya hanya game, game dan game. Namun kalau berteman dia orangnya welcome selagi tidak rese menurutnya.
“Kalau gue sih oke-oke aja” sahut Ikhlas.
“Di, gimana kalau kita buat jadwal kerja aja, sejenis time schedule gitu. Apa-apa saja yang bakalan kita lakukan, berapa lama dan kira-kira kita menggunakan dana atau tidak. Supaya lebih terperinci, tapi setelah kita balik dari berkeliling” ujar Qania membuat yang lainnya mengangguk antara setuju dan tidak paham dengan ucapan Qania.
“Gue setuju Qan sama usul lo, oh iya gimana kalau kita bagi kelompok aja siapa yang kearah barat dan siapa yang kearah selatan dusun ini. Gue Tanya sama pak Oge katanya dusun ini cukup luas makanya gue saranin buat bagi kelompok, takut kita kelamaan menyusuri seluruh wilayah di dusun ini” ucap Prayoga mengusulkan.
“Gue setuju sama Yoga, kita bagi kelompok aja biar cepat dan setelah itu kita diskusikan apa saja yang kita lihat di dusun ini yang bisa kita jadikan target KKN kita” kali ini Banyu yang lebih sering menyimak pun turut menimbrungi pembicaraan mereka.
“Gue satu kelompok sama Qania ya” ceplos Manda.
“Ini belum disetujui kali” sungut Elin yang duduk di samping kiri Qania sedangkan Manda duduk di samping kanan Qania.
Qania hanya tersenyum kecut saat mendengar ucapan Manda, dalam hati ia memikirkan rencana apa lagi yang tengah dipikirkan oleh Manda.
“Gimana Baron, Witno, apa kalaian ada usul tambahan?” Tanya Abdi menatap dua orang itu bergantian.
“Gue sih setuju aja, mana baiknya” sahut Baron.
“Gue juga setuju, sebaiknya untuk memanfaatkan waktu dengan baik kita bagi kelompok aja” ucap Witno sambil melirik sekilas kearah Qania membuat Baron yang duduk berhadapan dengannya berdecih pelan tanpa diketahui oleh Witno.
“Oke, karena semuanya sudah setuju kita langsung bagi kelompok aja. Gima supaya adil kita berhitung aja satu dua satu dua. Yang satu itu ke barat dan yang dua ke selatan dan dimulai dari gue berputar kearah jarum jam ya berhitungnya” ucap Abdi kemudian langsung berhitung.
“Satu” Abdi.
“Dua” Prayoga.
“Satu” Witno.
“Dua” Ikhlas.
“Satu” Baron.
__ADS_1
“Dua” Raka.
“Satu” hitung manda dengan kesal karena ia tidak jadi sekelompok dengan Qania.
“Dua” Qania.
“Satu” Elin.
“Dua” Banyu.
“Oke, jadi yang ikut gue ke bagian barat itu Witno, Baron, Manda dan Elin ya. Dan yang ikut Yoga ke selatan itu Ikhlas, Raka, Qania dan Banyu” ucap Abdi memperjelas pembagian dan anggota kelompok bagian masing-masing.
“Kok nggak ada yang ke utara atau ke timur sih?” Tanya Elin dengan polosnya.
“Silahkan aja kalau lo mau ke utara, lo bisa ketemu sama teman-teman lo sejenis serigala, harimau dan binatang buas lainnya” ledek Prayoga.
“Loh ko?” beo Elin.
“Kalau kita kearah utara itu nggak bisa karena disana kawasan hutan, masih termasuk hutan lindung dan kalau kita nggak ke timur karena disana itu kita kearah laut yang kata pak Oge lautannya termasuk lautan lepas karena nggak ada pulau kecil satu pun yang berada di laut itu” jelas Prayoga.
“Oke, udah nggak ada pertanyaan lagi kan. Kalau udah nggak ada kita sebaiknya pergi saja” Abdi langsung berdiri dan bersiap untuk keluar rumah.
*
*
Qania, Prayoga, Ikhlas, Raka dan Banyu sedang berjalan menyusuri arah selatan dusun Suka Asri tersebut, sesekali Qania memotret objek yang menurutnya menarik menggunakan kameranya. Setelah hampir sekilo berjalan, mereka menemukan sebuah bangunan using namun cukup ramai dengan anak-anak, yaitu sekolah. Mereka pun masuk ke area sekolah tersebut dan menemui kepala sekolahnya.
Setelah dua puluh menit lebih mereka berbincang dengan kepala sekolah, mereka pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dan kali ini mereka disuguhkan dengan pemandangan hamparan sawah yang hijau dan ada juga tanaman padi yang sudah mulai menguning.
“Wooaah, take a picture please” Qania begitu takjub melihat hamparan hijau tersebut dan dengan cepat memberikan kameranya pada Prayoga.
“Ya elah Qan, gue kan juga mau difotoin” keluh Prayoga sambil meraih kamera yang disodorkan oleh Qania.
“Aku dulu, baru kalian satu-satu aku fotoin terus nanti kita foto bareng-bareng” tegas Qania yang sudah siap untuk berpose.
Dengan malas Prayoga memenuhi keinginan ratu fakultas mereka itu, memotretnya dengan berbagai pose lucu serta harus sabar saat Qania menariknya kesana kemari untuk mendapat view yang bagus menurutnya.
__ADS_1
Sementara Banyu, Ikhlas dan Raka hanya tertawa melihat Prayoga yang ingin berteriak frustasi karena Qania yang menyuruhnya kesana kemari.
“Gue kira si putrid kampus itu orangnya kalem dan jaga image banget, nyatanya bawel dan terkesan bar-bar gitu” ucap Raka sambil menatap Qania dan Prayoga yang tengah kesana-kemari mencari tempat untuk mengambil gambar.
“Sama, gue kira juga si Qania itu kayak gitu. Gue malah ngira orangnya sombong dan arogan, nyatanya orangnya sederhana dan menyenangkan gitu” timpal Ikhlas.
“Emang kalian nggak nonton aksi demo mereka waktu itu, Qania loh yang mimpin demonya. Bahkan demo itu live di social media” ujar Banyu sambil menatap kedua teman di sebelahnya itu.
“Bisa-bisa gue jatuh cinta sama tuh anak” gumam Raka.
“Gue kira lo Cuma sama game aja Raka, ternyata lo bisa jatuh cinta sama manusia juga ya” ledek Ikhlas, teman SMA Raka, namun ia mengambil jurusan Ekonomi di kampus.
“Hati-hati, dia udah ada yang punya. Mana waktu itu cowoknya minta maaf di kampus sampai heboh dan jadi trending topic di kampus” ucap Banyu memperingatkan kedua temannya itu.
“Iya, itu si Arkana yang suka balapan motor dan sering juara itu pacarnya kan?” Tanya Ikhlas.
“Iya, yang semalam datang itu” jawab Banyu.
“Tenang aja, gue tahu batasan kok. Lagian gue Cuma mau berteman, dan kalau pun kita cinlok itu adalah bonus dari Tuhan” ucap Raka sembari terkekeh.
Ikhlas menabok bahu Raka karena ucapan sahabatnya itu.
“Hei kalian kok Cuma bergosip disana sih, ayo kemari kita foto bareng” teriak Qania yang kini berada di tengah sawah.
Dengan semangat ketiga pria itu berjalan kearah Qania, bagi mereka ajakan Qania seperti kode untuk memulai pendekatan. Sementara Prayoga sudah lelah menuruti keinginan Qania itu.
“Kalian aku fotoin satu-satu ya, tadi Yoga udah” ucap Qania sembari mengarahkan kameranya kepada ketiga pria yang baru datang itu.
Setelah puas berfoto ria, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali pulang ke rumah pak kadus, karena ujung perjalanan mereka hanya sampai di persawahan tersebut.
“Pak, bu kita balik dulu ya. Terima kasih sudah menyediakan padi dan sawahnya buat saya dan teman-teman saya berfoto” teriak Qania pada petani di sawah tersebut.
Bukan hanya para petani itu, teman-temannya ikut tercengan mendengar perkataan Qania. Apa-apaan gadis ini, menyediakan padi dan sawah untuk mereka berfoto? Ya ampun Qania, itu mah tempat mereka mencari rejeki, bukan disediakan untukmu berfoto. Begitu lah yang dipikirkan teman-temannya.
...***...
__ADS_1