
Qania beserta Arqasa menuruni tangga menuju ke meja makan. Disana sudah ada kedua orang tuanya beserta adiknya. Dan satu lagi orang yang Qania rindukan, Setya Wijaya. Mereka nampak sedang berbincang-bincang namun belum ada satu pun yang memulai makan malamnya.
"Kakeekk ...."
"Papa."
Qania dan Arqasa sama-sama berjalan cepat ke arah Setya Wijaya. Arqasa langsung masuk ke dalam pelukan kakeknya tersebut sementara Qania berdiri sambil tersenyum manis menunggu giliran untuk memeluk mertuanya.
"Kakek, Ar rindu tahu! Mana oleh-oleh buat Ar? Jangan bilang nggak ada ya," tanya Ar sambil menatap kesal kepada kakeknya.
Gelak tawa memenuhi ruang makan saat mendengar si kecil mengatakan rindu namun segera menanyakan buah tangan untuknya.
"Aduh, gimana ya Ar kakek ngomongnya. Sepertinya kakek lupa membawa pesananmu. Kakek meninggalkannya di pesawat."
Sontak Arqasa langsung turun dari pangkuan kakeknya itu. Ia langsung menarik tangan Maminya, membawa sang Mami untuk duduk di kursi yang agak jauh dari kakek Setya.
Mereka semua tertawa melihat wajah Arqasa yang sangat menggemaskan saat merasa kesal.
"Udah, sebaiknya kita makan dulu," ujar Zafran.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan canda tawa karena melihat wajah Arqasa yang tak berhenti merengut hingga mereka menyelesaikan makan malam dan berpindah ke ruang tengah.
"Papa kapan sampainya Pa?" tanya Qania yang tengah memangku Arqasa. Ia sama sekali tidak ingin berjauhan dengan anaknya.
"Tadi, waktu magrib. Kamu gimana kuliahnya, Nak?" tanya Setya balik.
"Alhamdulillah, lancar Pa. Aku dua minggu lagi akan magang. Pinginnya sih magang disini aja di kantor Papa. Tapi dari pihak kampus nggak ngizinin dan sudah merekomendasikan nama Qania ke salah satu kantor advokat terkenal di kota Y," jawab Qania.
"Ya bagus dong Qan, itu supaya kamu nanti lebih memiliki mental yang kuat saat menggantikan Papa. Kalau kamu saja bisa di kota besar itu bagaimana dengan kota kita ini," ucap Setya merasa bangga.
"Aku emang mikirnya gitu, Pa. Tapi aku sangat ingin berada di kampung halamanku ini. Ya, sayangnya nggak sesuai seperti yang aku harapkan," ucap Qania lemas.
"Sayang, dimana pun itu, semua sama saja. Tergantung dari kamunya yang bersikap. Apakah kau merasa nyaman dan mampu berada di lingkungan tersebut atau tidak. Kau hanya perlu melakukan yang terbaik. Buktikan bahwa kau mampu untuk menjadi seorang pengacara dan kau bisa mengemban tugasmu selama magang disana. Lagi pula, menurut Papa justru ini peluang besar untukmu karena bisa magang di tempat yang besar. Memangnya siapa pemilik kantor tersebut?" ucap Zafran menyemangati.
"Papa benar juga. Tapi kalau soal pemilik kantor aku belum tahu Pa," jawab Qania.
"Papamu benar sayang, semua tergantung pada dirimu dan keyakinanmu jika kau mampu atau tidak. Kami sebagai orang tua hanya bisa memberi semangat dan doa untukmu," timpal Alisha.
"Terima kasih untuk dukungannya. Qania janji bakalan ngelakuin semua yang terbaik," ucap Qania bersemangat.
Mereka pun berbincang-bincang mengenai pekerjaan dan juga menanyakan tentang rencana Syaquile setelah menyelesaikan bangku kuliah.
"Gimana Dek?" tanya Zafran.
"Ya mau gimana lagi, Pa. Hanya aku kan yang akan mengurus perusahaan Papa. Kakak udah punya perusahaan sendiri yang bakalan ia kelola. Meskipun nggak sesuai dengan bidangku, tapi aku bisa apa selain menjalaninya," jawab Syaquile pasrah namun justru terdengar sangat mengagumkan.
"Hahaha ... tapi kok kamu kedengarannya seperti terpaksa ya," ledek Zafran.
"Hmm." Syaquile bergumam sambil mengangkat kedua bahunya.
"Begini, kau urus dulu perusahaan Papa sampai Papa pensiun jadi Bupati. Nanti kalau Pa--"
"Mana mungkin Papa pensiun dini. Palingan pemilihan nanti Papa tetap bakalan calonin diri lagi," sela Syaquile. Ia sangat hafal dengan sang Papa yang sangat suka menjadi pemimpin. Meskipun ia tahu kalau Papanya itu adalah tipe pemimpin yang sangat merakyat.
"Ah kamu tahu aja Dek," kekeh Zafran.
"Ini lagi, masih merajuk hem?" goda Setya kepada Arqasa yang terlihat masih merengut.
"Nggak mau ngomong sama Kakek," ketus Arqasa.
__ADS_1
"Maaf deh. Sebenarnya Kakek sengaja nggak bawain apa-apa soalnya mau ngajak kamu sekalian buat belanja apapun yang kamu inginkan. Iya kan Zaf, Al," ucap Setya sambil menatap bergantian kedua besannya.
"Oh iya, kita kan lusa mau berangkat ke kota P," ucap Alisha yang baru teringat akan rencana mereka.
"Besok?" pekik Qania.
"Iya, kebetulan Papa ada kerjaan disana dan Papa Setya pun ada kerjaan juga. Sekalian kan kita pergi bersama. Oh ya, kamu sama Syaquile di rumah aja. Elin kan mau nikahan beberapa hari lagi," timpal Zafran.
Qania dan Syaquile saling memandang dengan tatapan yang hanya keduanya yang paham maksud dari tatapan mereka.
"Berapa lama Pa?" tanya Syaquile.
"Dua atau tiga hari mungkin," jawab Zafran.
Qania dan Syaquile pun saling menatap kembali dengan sorot mata yang menandakan keduanya merasa lega.
"Horeeeee ...."
Arqasa berteriak girang dan langsung turun dari pangkuan Qania dan berlari memeluk kakek Setya.
"Beneran Ar boleh belanja apa aja?" tanya Arqasa sambil menatap binar pada kakek Setya.
"Benar dong," jawab Setya sambil mengacak-acak rambut Arqasa.
"Asal jangan beli pembalut lagi, hihihi," ledek Alisha.
Gelak tawa terdengar di ruangan tersebut, mereka pun berbincang-bincang membahas soal kelucuan Arqasa bersama kakek Setya yang selalu saja membawa pulang beberapa bahan belanjaan yang tidak seharusnya mereka beli.
Tokk ... tok ... tok ...
"Assalamualaikum, spadaaa, selamat malam."
"Wa'alaikum salam," jawab mereka serentak.
Elin sambil tersenyum berjalan ke arah kumpulan keluarg bahagia tersebut. Ia pun langsung duduk di samping Syaquile dengan santainya karena mereka sudah menganggap Elin sebagai bagian dari keluarga sejak lama begitu pun sebaliknya.
"Ada apa nih calon pengantin baru mampir?" tanya Alisha dengan nada sedikit menggoda Elin.
"Hehehe, Tante mah gitu. Ini nih, ada janji sama Qania mau keluar," jawab Elin malu-malu.
"Oh gitu, berangkat gih," ucap Alisha.
"Arqasa nggak mau ikut?" tanya Elin sambil menatap bocah yang sedang bergelayut manja di pangkuan kakek Setya.
"Nggak Aunty. Ar di rumah aja, besok mau pergi jadi mau istirahat," jawab Arqasa.
"Oh gitu ya. Hmm, tapi lain kali kita jalan-jalan ya," ucap Elin, sudah lama sekali ia ingin mengajak bocah tampan itu jalan-jalan namun tidak pernah kesampaian.
"Pasti Aunty," jawab Arqasa sambil mengacungkan jempolnya.
"Tunggu ya, aku ke atas dulu mau ngambil tas," ucap Qania seraya berdiri.
"Jangan lupa bawa uang yang banyak. Kamu kan udah janji mau belanjain aku, secara mantunya Sultan dan anaknya Bupati," teriak Elin saat Qania sudah berjalan menaiki anak tangga.
Qania berbalik dan menatap jengah kepada Elin, "Dasar."
Elin hanya tertawa melihat Qania yang terlihat kesal, begitu pun dengan semua yang ada di ruangan tersebut.
"Nggak berubah ya dia, masih aja cepat kesal," kekeh Elin namun suaranya terdengar lirih.
__ADS_1
"Susah kalau sudah mendarah daging," sahut Syaquile yang masih menatap lirih pada punggung kakaknya.
"Benar sekali," timpal Elin.
"Jangan pulang larut malam ya Lin. Ingat kamu itu calon pengantin. Jangan dulu kelayapan," nasihat Alisha.
"Hehehe, iya Tan. Ini Qania yang tiba-tiba ngajakin aku tadi. Aku mah iyain aja, kapan lagi di belanjain sama mantunya Sultan. Iya kan Om Setya," ucap Elin sambil menaik-turunkan alisnya menatap Setya.
"Hahaha ... kalau perlu kalian borong semua. Tahu tidak, tabungan Qania itu sangat banyak soalnya di jarang pakai uang bulanannya. Terakhir beli motor berapa puluh juta eh motornya hancur hari itu juga. Hanya itu satu-satunya yang Qania beli dengan harga puluhan juta," ucap Setya tak habis pikir dengan Qania yang sama sekali tidak tergiur dengan uang yang nominalnya sangat banyak.
"Waduh, kalau gitu aku harus bantu tuh Om buat ngabisin." Elin berbicara dengan menggebu-gebu membuat Alisha dan Zafran tertawa.
"Kak, aku beliin pizza sama roti bakar ya," ucap Syaquile tiba-tiba.
"Beres. Kamu mau pesan berapa banyak?" tanya Elin.
"Satu porsi aja sih," jawab Syaquile.
"Dikit amat," ucap Elin mencebikkan bibirnya.
"Kan cuma sendiri doang makannya, Kak," ujar Syaquile.
"Iya juga ya."
Tak lama kemudian Qania terlihat turun dari tangga. Setelah berpamitan dan menciumi seluruh wajah Arqasa, Qania dan Elin pun pergi ke mall dengan Qania yang membawa mobil papanya. Tadinya ia ingin menaiki motor saja, namun ia tidak ingin terjadi sesuatu padanya dij jalan nanti terutama pada Elin yang tidak lama lagi akan menikah.
"Udah pintar ya bawa mobilnya," ledek Elin.
"Motor sport pun aku handal," ujar Qania menyombongkan diri.
"Dasar," cebik Elin.
Tak lama kemudian mobil tersebut sudah memasuki kawasan mall yang tentu saja tidak sepi pengunjung. Keduanya turun dari mobil dan bergegas masuk sambil bergandengan tangan. Baik Qania maupun Elin terlihat masih seperti gadis remaja.
Setelah berkeliling dengan membawa banyak paper bag di tangan keduanya, mereka pun memutuskan untuk mencari makan. Padahal mereka pun tadinya sudan makan mam di rumah.
"Makan disana aja yuk," ajak Elin menunjuk salah satu food court.
"Ya udah, kuy deh," ucap Qania menyetujui.
Karena terlalu asyik mengobrol, Qania tanpa sengaja menabrak seseorang sehingga belanjaannya berhamburan di lantai.
"Ya ampun!!" pekik Elin yang melihat belanjaan Qania berserakan di lantai.
"Kalau jalan hati-hati dong Kak," gerutu Elin sambil membantu Qania memunguti belanjaannya.
Qania dan Elin pun berdiri setelah mengumpulkan belanjaan tersebut.
"Dennis?!"
"Qania?!"
.... . . . ...
Maaf banget baru Up, soalnya sinyal di tempatku kurang bagus. Susah banget login ke NT/MT. Entah mungkin pengaruh cuaca atau apa.
In sya Allah besok Next Partnya π€π€
Terima kasih sudah membaca π€π€π€
__ADS_1
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...