Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Agen Asuransi


__ADS_3

"Hah ...."


Tristan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasanya begitu kacau. Qania pun tak urung mengikuti keinginannya. Ia terus menatap ponselnya dimana ada foto Qania di galerinya yang saat ini sedang ia tatap dengan jarinya mengusap wajah tersebut.



"Qania, Qania, Qania. Ohh Qania!!" teriak Tristan kemudian menjambak rambutnya sendiri.


“Sebenarnya lo itu siapa sih Qan? Lo bidadari? Atau lo itu adalah jodoh gue? Apa kita pernah ada hubugan di masa lalu? Apa lo itu reinkarnasi dan gadis di masa lalu gue? Apa kita pernah menjalin hubungan di masa lalu dan kita pernah membuat sumpah untuk terus bersama hingga gue sebegini cintanya sama lo? Tapi gue nggak percaya dengan yang namanya reinkarnasi, gue nggak percaya. Atau … apa elo salah satu gadis yang pernah singgah di hati gue sebelum Marsya? Apa kita punya hubungan dulu bersama Marsya? Apa gue harus nanya ke Marsya soal elo? Tapi nggak mungkinlah gue nanya ke dia. Yang ada gue hanya menambah masalah dengan bertanya tentang perempuan lain padanya.”


Tristan mengerang frustasi. Tidak ada satupun alasan yang bisa meyakinkan dirinya tentang perasaannya yang begitu dalam kepada Qania. Ia seakan ingin menangis saat mengingat bagaimana ia akan bertunangan dengan Marsya sedangkan hatinya terpaut oleh wanita lain. Ingin kabur tapi tidak mungkin. Dia sama saja mempermalukan Marsya dan keluarga gadis itu jika meninggalkannya di tempat pertunangan. Ingin membatalkannya pun tidak mungkin karena rencana pertunangan yang harusnya seminggu lagi itu kini dimajukan karena Marsya harus ke luar negeri untuk urusan bisnisnya dan tuan Alvindo pun mendesak Tristan untuk menjaga dan mengikat Marsya.


“Arrrgggghhhh ….”


“Harusnya tadi gue nggak pergi kesana. Harusnya gue nggak perlu memenuhi undangan makan siang itu,” gerutu Tristan.


Tadi saat ia sedang berada di kafe, tuan Alvindo meneleponnya dengan alasan memintanya untuk datang makan siang bersama. Namun saat Tristan sampai disana rupanya bukan hanya Marsya dan Papanya saja yang sedang menunggu disana melainkan beberapa kerabat serta rekan bisnis tuan Alvindo.


“Maaf terlambat,” ucap Tristan merasa keki dengan melihat banyaknya pasang mata yang kini tengah menatapnya. Senyum paksa ia perlihatkan untuk menepis rasa canggungnya.


Tristan mengedarkan pandangannya dan kursi yang kosong hanya satu yaitu berada di antara Marsya dan tuan Alvindo.


“Nggak kok Tris, ayo sini,” panggil Marsya.


Dengan ragu-ragu Tristan mendekat. Ada urusan apa lagi ini? Kenapa begitu banyak keluarga Marsya disini? Dan kenapa pula perasaanku jadi tidak enak begini. Semoga saja acara makan siang ini tidak akan membawa sesuatu yang buruk untukku, batin Tristan.


“Nah, karena sekarang udah lengkap, ayo kita mulai makan siangnya,” ucap tuan Alvindo.


“Selamat makan ….”


Semuanya terlihat bersuka cita dan hanya Tristan yang merasa bingung sendiri. Bahkan satu suapan sangat sulit ia telan. Ia juga melihat Marsya yang terus tersenyum sambil mengunyah makanannya.


Ada apa?


Hanya dua kata itu yang terus Tristan gumamkan di dalam hatinya. Hingga akhirnya mereka menyelesaikan makan siangnya dan saat semua terlihat serius menatap ke arahnya membuat Tristan kesulitan meneguk air minumnya.


“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanya Tristan bingung.


“Ekhmmm … Tristan, saya dan kerabat saya disini sengaja mengajakmu untuk membahas soal pertunanganmu dengan Marsya,” ucap tuan Alvindo dengan tenang.


Tu-tunangan?


Dengan memaksakan senyuman Tristan menganggukkan kepalanya. “Kurang dari dua minggu lagi kami akan bertunangan. Bukan begitu, Sya?” tanya Tristan menatap Marsya.


Marsya tersenyum kikuk, “Maaf Tris, sepertinya kita tidak bisa melaksanakan pertunangan itu ditanggal yang sudah kita rencanakan,” lirih Marsya.


Maksudnya apa? Apakah kami tidak akan melaksanakan pertunangan? Apakah waktunya kembali ditunda? Ah jika iya alangkah senangnya hatiku, sorak Tristan dalam hati.


“Ada apa?” tanya Tristan berusaha menampilkan ekspresi kaget sekaligus kecewa.


“Hallo nak Tristan, perkenalkan saya Bendelina adik satu-satunya kak Alvindo dan satu-satunya tante milik Marsya. Dan yang ada disebelah saya ini adalah Ricko, suami saya dan disebalah Marsya itu adalah Juliana, sepupu Marsya. Maafkan saya membuat hari spesial kalian berantakan. Sungguh tidak ada maksud tante mendahului keputusan kalian. Akan tetapi seminggu lagi Tante sama Om akan berangkat ke luar negeri dan menetap disana untuk waktu yang cukup lama karena Om kalian harus mengurus perusahaannya yang ada disana. Jadi, karena kami tidak ingin kehilangan momen spesial keponakan tersayang ini, makanya kami sepakat untuk meminta kak Alvin untuk memajukan hari pertunangan kalian. Jika kau tak keberatan biarkan Tante yang mengurusi semua acaranya dan kau beserta Marsya hanya tinggal melakukan prosesi pertunangannya saja. Tante takut tidak bisa menghadiri pesta pernikahan kalian. Jadi izinkan Tante yang mengurus pertunangan ini sebagai pengganti Mama Marsya, ya.”


Ucapan tante Bendelina tersebut sukses membuat Tristan seperti tersambar petir di siang bolong.


Apa? Jadi pertunangannya justru dimajukan? What the f*ck!


Tristan menatap tante Bendelina yang matanya sudah berkaca-kaca dengan suara yang serak di akhir ucapannya tadi yang mana Tristan tahu tante Marsya itu sedang menahan tangisnya. Ingin menolak pun tidak mungkin. Melihat wanita yang berumur sekitar empat puluh lima tahun itu memohon membuat Tristan tidak tega. Tapi bagaimana dengan hatinya?


Harusnya tadi gue nggak datang ke tempat ini. Gue merasa bagai tahanan yang nggak bisa lari kemana-mana. Gila, ini gila! Bagaimana dengan Qania? Gue nggak mau menjalin suatu hubungan yang serius apalagi sangat sakral dengan wanita lain selain Qania.


“Tristan?” panggil om Ricko.


“Eh … ya?”


“Tris, kau melamun ya? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau tidak ingin bertunangan denganku?” cecar Marsya sambil menatap dengan mata yang berkaca-kaca kepada Tristan.


“Oh, maaf. Aku hanya cukup terkejut saja. Ya, aku tadi memang sempat melamun dan berpikir. Jujur saya kaget dengan apa yang barusan tante utarakan. Saya hanya memikirkan rencana yang sudah saya susun untuk pertunangan kami. Em, sebenarnya saya sedikit keberatan karena bagaimana pun saya sudah merencanakan semua ini dari jauh-jauh hari lho tante, hehe. Tapi kalau sudah begini keadaannya ya saya tidak akan menolak,” ucap Tristan dengan lihai berkilah.


Semua yang ada di ruangan tersebut menghembuskan napas lega tanpa terkecuali Marsya yang tadinya sempat panik justru kini kembali berbunga-bunga.


“Syukurlah. Tapi sekali lagi tante minta maaf karena merusak rencanamu ya Tris,” ucap tante Belinda yang terlihat tulus.


“Tidak apa-apa Tante. Tapi masa iya saya hanya menunggu harinya saja. Harusnya saya sebagai pihak laki-laki yang mempersiapkan itu semua,” ucap Tristan merasa tidak enak.


“Itu bukan masalah, Tris. Kalian pergi lah mencari cincin pertunangan dan sisanya serahkan pada kami. Iya kan?” tanya tante Bendelina kepada yang lainnya.


Semuanya mengiyakan. Selain Marsya, wajah tuan Alvindo pun terlihat sangat bahagia. Melihat putrinya bahagia membuatnya lebih bahagia lagi.


“Ayah pihak perempuan tidak ada yang ingin disampaikan?” tanya salah satu kerabat mereka.


Tuan Alvindo tersenyum, “Saya tidak bisa berkata-kata setelah melihat putriku tersenyum bahagia. Terima kasih Tristan. Jagalah putriku dan tolong temani dia untuk pergi ke luar negeri nanti. Saya hanya percaya kepadamu saja.”


“Pasti Om,” jawab Tristan yang terlihat begitu tegas dan meyakinkan padahal dalam hati ia begitu lemas.


Mereka pun berbincang-bincang membahas masalah pertunangan. Hanya Tristan yang tidak bahagia namun memaksakan diri untuk terlihat bahagia.

__ADS_1


“Tris, sebaiknya kita mencari cincin tunangan dulu setelah ini,” ucap Marsya dengan suara yang begitu manja.


“Aku sih terse-“ ucapan Tristan terhenti karena ponselnya berdering- “Sebentar Sya, aku mau angkat telepon dulu. Ini dari kafe.”


Meskipun sangat nampak di matanya kalau Marsya tidak senang namun bibirnya terus tersenyum dan mengiyakannya. Tristan pun tidak peduli soal itu.


“Selamat siang, kami dari agen asuransi ingin menawarkan—“


“Apa? Ada pelanggan yang mengamuk di kafe? Bagaimana bisa? Apa kalian tidak bekerja dengan baik?” bentak Tristan dengan sengaja agar semua yang ada di ruangan tersebut mendengarnya,


“Maaf, apa yang anda bicarakan?”tanya petugas agen asuransi itu dengan bingung.


“Tolonglah, tangani dulu sebentar. Saya sedang tidak bisa diganggu sekarang. Jika orang itu terus membuat masalah di kafe maka laporkan saja kepada polisi!”


“Maaf, sepertinya anda memiliki gangguan pendengaran dan juga kejiwaan. Selamat siang!”


Tristan rasanya tak kuat ingin tertawa ketika panggilan tersebut diputus sepihak. Namun karena masih dalam situasi bersandiwara ia pun terus melanjutkan percakapannya.


“Makin banyak? Sebenarnya mereka itu siapa sih?” tanya Tristan dengan ekor mata yang terus memantau orang-orang yang berada di ruangan itu.


“Sial, mereka itu preman yang cukup terkenal dengan kebengisannya. Kalau begitu kalian jangan gegabah biar aku yang datang untuk menanganinya. Bisakah kau menahan mereka untuk empat puluh menit dari sekarang?”


“Jangan ngaco. Empat puluh menit itu tidak lama. Pokoknya saya tidak mau tahu ya, jika kalian tidak bisa menahannya maka kalian yang akan mendapatkan ganjarannya. Kalian dengar kata-ka—“


“Tristan,” panggil tuan Alvindo memotong obrolan Tristan.


Tristan menurunkan ponselnya dan menyembunyikannya di punggungnya lalu menoleh pada tuan Alvindo.


“Maaf Om, ada sedikit masalah di kafe,” ucap Tristan dengan wajah tegang dan juga terlihat marah. Sungguh pria ini sangat pandai bermain ekspresi.


“Kalau begitu kau pergilah,” ucap tuan Alvindo membuat Marsya menatap penuh tanya kepadanya.


“Tidak perlu Om. Saya masih harus mengurus cincin bersama Marsya. Lagi pula saya mempekerjakan mereka itu untuk mengusu kafe, jadi itu sudah menjadi tugas mereka.” Tristan berpura-pura mematikan sambungan teleponnya kemudian kembali duduk di tempatnya semula.


“Itu bukan masalah Tris. Nanti malam pun kalian bisa mencarinya bersama-sama. Selesaikan dulu masalahmu. Jika itu tidak segera diselesaikan pasti akan berdampak padamu juga. Akan jadi beban pikiranmu juga,” ucap om Ricko.


Tristan menatap Marsya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Gimana Sya?”


“Hmm, ya mau gimana lagi,” jawab Marsya kecewa.


“Gini aja deh Sya, kamu sama Julia setelah ini pergilah ke toko perhiasan. Carilah cincin yang kau inginkan. Jika aku bisa cepat menyelesaikan masalah di kafe maka aku akan datang menyusul. Tapi jika tidak maka kau kirimkan saja foto cincinnya dan biar aku membantumu memilihnya, gimana?” tanya Tristan dengan usul yang ia sendiri pun tidak tahu darimana ia bisa mendapatkan ide itu.


Wajah kecewa itu berubah menjadi bahagia, “Benar juga ya Tris. Kalau begitu kau pergilah mengurus kafemu dan aku akan pergi bersama Julia.”


“Wah lihat, ide calon suamimu membuatmu dan adikmu ini bisa memiliki kesempatan jalan bersama sebelum kalian berpisah,” goda om Ricko.


“Benar Pi. Terima kasih ya kak Tristan,” ucap Julia, gadis yang berumur sekitar tujuh belas tahun.


“Iya,” jawab Tristan. “Kalau begitu aku pamit dulu ya,” ucap Tristan berpamitan.


“Iya ….”


“Kamu hati-hati. Kabarin aku,” ucap Marsya.


Tristan hanya mengangguk kemudian bergegas pergi dengan langkah cepat hingga tak butuh waktu lama ia sudah sampai di dalam mobilnya.


“Haahhh … akhirnya bebas juga. Hufftt, syukur ada petugas asuransi yang meneleponku. Akan kutelepon balik dan kasih dia tip,” ucap Tristan kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelepon nomor yang tadi.


“Maaf tadi aku membuatmu bingung. Jujur saja hari ini kalau kau tidak meneleponku maka aku akan berada dalam masalah besar. Kau jangan bingung, aku bukan orang yang sedang mengalami gangguan pendengaran atau kejiwaan. Dan karena kau sudah menolongku maka berikan aku nomor rekeningmu dan akan kuberikan kau bonus. Sekarang!”


Tanpa basa-basi dan mendengar ucapan dari seberang sana Tristan langsung mematikan panggilannya. Sebuah pesan masuk ke ponsel Tristan dengan isinya berupa nomor rekening. Dengan cepat Tristan mengirimkan sejumlah uang dan tak lama kemudian nomor tersebut meneleponnya dengan mengucapkan banyak terima kasih.


Tristan pun melajukan mobilnya bukan ke kafe melainkan pulang ke rumahnya. Ketika sampai di rumah ia mondar-mandir di kamar. Ia bingung harus apa dan akhirnya dengan segenap kekuatan yang sudah ia kumpulkan, ia memutuskan untuk menelepon Qania. Ia mendapatkan nomor ponsel Qania saat ia memaksakan kehendak untuk mengantarkan Qania bertemu dengan Raka.


Namun ia dibuat kecewa dengan jawaban Qania yang seakan tidak peduli padanya. Dalam hati ia terus berharap agar Qania bisa membantunya, bisa membalas perasaannya dan bisa menjadikan dirinya pria terbahagia di dunia.


.... . ....


“Silahkan kalian rencanakan pertunangan itu. Kalian tentukan tanggalnya, tentukan tempatnya tapi bukan Marsya yang akan bertunangan denganku melainkan Qania Salsabila Wijaya. Hentikan aku jika kalian bisa! Jika Qania tidak datang maka aku yang akan mendatanginya. Aku siap dengan semua konsekuensinya.”


“Tapi satu hal yang terus menjadi kebingunganku, siapa Qania itu? Kenapa gue begitu bertekuk lutut kepadanya? Gue ingin memprovokasi diri sendiri dengan mengatakan kalau gue adalah Arkana Wijaya. Tapi, jika dihitung suami Qania itu meninggal kurang lebih lima tahunan sementara gue kecelakaan dan mengalami koma di rumah sakit lebih lama dari itu. Atau … atau jangan-jangan karena arwah Arkana masih penasaran karena meninggal di hari pernikahan mereka. Terus karena arwahnya masih ingin menyelesaikan pernikahannya dengan Qania makanya nyasar padaku? Itu tidak menutup kemungkinan sih, gue banyak mendengar dan membaca tentang itu, mengingat wajah kami pun sama. Kata Marsya pun waktu itu gue tidak ada harapan untuk hidup lagi mengingat luka-luka dan dahsyatnya kecelakaan yang gue alami. Dengan tiba-tiba gue terbangun dari koma maka sudah pasti ada mukjizat dan campur tangan dari arwah Arkana. Ini bisa jadi salah satu kemungkinan termungkin.”


Tristan seolah mendapat angin segar dengan pemikiran yang baru saja tercetus di otaknya. Ia tidak percaya dengan adanya reinkarnasi tapi percaya dengan arwah penasaran.


“Gila! Kenapa gue baru sadar sekarang sih? Dengan alasan ini maka Qania akan mau menjadi kekasihku. Dia pasti tidak akan menolak keinginan suaminya itu. Dan gue wajib mengucapkan terima kasih padamu Arkana Wijaya. Gue juga bangga padamu karena lo memiliki selera wanita yang luar biasa. Gue janji bakalan ngejaga Qania dengan segenap jiwa raga gue. Dan setelah gue nikah sama Qania, gue harap lo tenang di alam sana ya bro ….”


Tristan pun segera menelepon Qania lagi, ia begitu tidak sabar menunggu Qania menjawab teleponnya.


“Ada apa?”


Selalu saja ketus, batin Tristan.


“Qania, kamu lagi ngapain?”


“Aku baru saja selesai mandi dan ingin berganti pakaian.”

__ADS_1


Glukk …


Tristan kesulitan menelan salivanya, otak berfantasi membayangkan tubuh Qania yang tengah berganti pakaian.


“Jangan coba-coba berfantasi liar terhadapku. Atau akau akan mengeluarkan otakmu dari dalam kepalamu itu. Dasar pria mesum!”


“Ka-kau tahu dari mana kalau aku sedang melakukan itu, upss?” Tristan segera menutup mulutnya dengan tangannya karena kecoplosan.


Terdengan helaan napas yang cukup kasar dari seberang saluran.


“Aku hanya memancingmu dan kau sudah mengakuinya.”


“Kau menjebakku Qania,” kesal Tristan.


“Salahkan saja dirimu yang begitu mudah dijebak.”


Kan, ketus lagi. Coba bicara yang lembut Qania, aku ini adalah Arkana Wijaya eh bukan maksudnya di dalam diriku ada arwah Arkana.


“Tidak usah terus mengeluh dalam hati. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan. Aku tidak punya banyak waktu!”


“Oke-oke. Begitu saja sudah marah. Aku ini ingin membahas hal penting denganmu,” ucap Tristan mencebikkan bibirnya.


“Ya sudah katakan, tidak usah berbelit-belit.”


“Begini, apa kau percaya dengan arwah penasaran?”


“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau kerasukan?”


“Iya, eh tidak! Aku kan bertanya padamu, jawab saja dulu baru bertanya lagi.”


“Sedikit sih. Memang ada apa?”


“Ak-aku merasa arwah Arkana itu belum tenang dan masih penasaran karena dia meninggal kan waktu hari pernikahan kalian. Dan kau tahu, aku pernah koma lho dan dinyatakan tidak akan hidup lagi. Tapi tiba-tiba aku tersadar. Dan saat aku bertemu denganmu aku merasa ada yang berbeda. Asal kau tahu saja, aku ini sudah menjadi seorang kriminal karena aku terus menguntitmu semenjak pertama kali kita bertemu di kegiatan seminar itu. Aku bingung kenapa aku bisa memiliki perasaan yang lain denganmu hanya dengan menatap matamu saja Qania. Lama aku berpikir tentang perasaan anehku ini sampai aku mengaitkan kematian suamimu dengan kecelakaanku. Dan kesimpulan yang aku bisa tarik ya kemungkinannya adalah arwah Arkana yang bersemayam di dalam tubuhku ini.”


Tidak ada suara, Qania terdiam dan itu membuat Tristan merasa cemas. Apakah Qania akan marah atau bahkan tidak ingin berbicara lagi dengannya. Memikirkan hal-hal tersebut membuat Tristan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kau pernah koma?”


Tristan menghembuskan napas lega begitu mendengar suara Qania yang terdengan lembut namun ada nada kepanikan.


“Ya, sekitar lima tahun yang lalu juga,” jawab Tristan, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Entah mengapa menunggu suara Qania itu membuat tenaganya terkuras.


“Oh. Ya sudah, aku ingin berganti pakaian.”


What the f*ck! Hanya itu saja? Pekik Tristan dalam hati.


“Qania, tidak bisakah kau menanggapi ucapanku dengan berbasa-basi atau antusias begitu? Aku sangat mengharapkannya Qania,” rengek Tristan.


“Tunggulah, ada saatnya.”


“Maksudnya apa ….”


Tutt … tutt … tutt …


Panggilan tersebut diputus secara sepihak.


“Maksudnya Qania apa? Ada saatnya? Apa yang sedang dipikirkan oleh Qania?” gumam Tristan.


Karena terus penasaran ia pun memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Qania.


Qania, aku menunggu saatnya itu tiba. Tapi tolong jangan buat aku menunggu terlalu lama. Dan kalau bisa tolong hentikan pertunanganku ya. Apa kau ikhlas melihat arwah Arkana yang ada di dalam tubuhku ini bertunangan dengan pria lain?


Tristan hanya bisa memandang pesannya yang ternyata sudah dibaca oleh Qania.


Semenit …


Dua menit …


Lima menit …


Satu jam …


Tidak ada balasan dari Qania membuat Tristan tertawa getir.


“Dasar gadis keras kepala. Dasar gadis arogan. Tapi aku mencintainya. Hahaha, memang benar cinta itu melumpuhkan logika.”


Tristan pun memutuskan untuk mandi karena di tempatnya saat ini waktu sudah menunjukkan pukul lima sore yang artinya di tempat Qania sudah menunjukkan pukul enam sore.


“Positive thinking aja. Dia mungkin lagi sholat Magrib,” ucap Tristan menghibur dirinya sendiri sambil berjalan ke arah kamar mandi.


.... . . ...


Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎


...❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️...

__ADS_1


__ADS_2