Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Kedatangan Fero


__ADS_3

Hampir lima belas menit mereka menunggu, akhirnya Arkana datang dengan menaiki motor sportnya. Lagi-lagi Qania dan teman-teman perempuannya terpesona.


Arkana dengan gaya coolnya membuka helm dan berjalan kearah Qania. Dia terpesona melihat gaya Qania yang tengah duduk menantinya.


“So cool man” gumam Qania menatap Arkana yang tersenyum padanya.


“Hai semua” sapa Arkana.


“Hai juga” balas mereka.


“Loh kok, katanya mau pulang bareng Qan. Tapi kamu dijemputnya pakai motor, emang gue mau ditaruh dimana?” Tanya Cika kebingungan.


“Iya Qan, lo ngerjain Cika ya?” tuduh Risty.


“Gue nggak mau nih ya jadi orang ketiga di motor kalian” tolak Cika.


“Hahaha, ya elah Cik..Cik. Emang siapa juga yang mau boncengan bertiga” Qania tertawa melihat raut wajah bingung bercampur kesal Cika.


“Nah tuh yang mau jemput kamu datang” ucap Qania saat melihat motor Fero memasuki area himpunan dan juga dibelakangnya ada Rizal dan Gea.


“Siapa Qan?” selidik Cika.


“Kamu juga akan tahu dengan sendirinya” jawab Qania menyeringai.


Fero memarkirkan motornya disebelah motor Arkana begitu pun dengan Rizal. Rizal dan Gea turun lebih dulu dan membuka helm mereka. Saat Fero membuka helmnya, Cika dibuat terkejut bukan main hingga ia menutupi mulutnya.


“Qan.. elo…” Cika bingung harus mengatakan apa pada Qania.


Qania melambaikan tangan pertanda memanggil mereka mendekat.


“Hai semua, perkenalkan gue Gea” ucap Gea ketika mereka sampai di tempat Qania dan teman-temannya berkumpul.


“Gue Rizal” ikutan berkenalan.


“Qan, elo kok bisa?” bisik Cika yang sudah kembali ke alam sadarnya, Fero terus saja menatapnya.


“Guys kita pulang dulu ya” pamit Qania tanpa memperdulikan Cika.


“Terus Cika sama siapa Qan?” Tanya Baron.


“Sama pacarnya lah” celetuk Qania membuat Cika merona malu begitu pun dengan Fero.


“Wah demi apa?” Tanya Risty kaget.


“Demi elo dan Abdi yang pacarannya awet” jawab Qania asal membuat Risty tersipu malu.


“Setahu gue Cika nggak pernah kelihatan pacaran” ucap Rey merasa curiga.


“Iya lah nggak pernah kelihatan, mereka pacarnnya diam-diam” Cika memelototi Qania yang dengan gampangnya mengarang bebas, sementara yang ditatap merasa tak berdosa.


“Emang iya Cik? Sejak kapan?” Tanya Yani


“Ya ampun udah tujuh tahunan lah, Abdi sama Risty aja kalah” celetuk Qania.


“Kok dari tadi lo mulu yang jawab Qan, si Cika aja diam kita tanyain. Gue curiga nih…” ucap Risty yang makin penasaran.


“Aku mewakili doang Ris, kalian nggak lihat Cika malu-malu gitu?” tukas Qania.


“Ya ampun Qan, lo hebat banget sih mengarang bebas kayak gini. Gue mah bukan malu-malu, tapi emang malu. Bisa-bisanya sih elo bawa Fero kesini dan langsung kenalin sebagai pacar gue. Hati gue nih ajep-ajep lihat mukanya. Nah si Qania malah terlihat polos seolah makhluk tanpa dosa dia, udah ngarang cerita eh nambahi lagi bilang gue pacarannya udah tujuh tahunan. Emang sih kalau dihitung-hitung udah selama itu, tapi kalau memang dia masih nganggap gue” batin Cika, ia menatap Qania yang cengar-cengir tanpa dosa dan rasa bersalah.


“Hahaha, rasain kamu Cik aku kerjain. Malu malu deh, hehehe” Qania tertawa geli dalam hati.


“Kok Cika diam aja ya? Apa dia marah? Atau dia malu-malu seperti yang Qania bilang. Ahh jantung gue dag dig dug ser nih, tolong kondisiin dong. Gue tahu lo udah ketemu sama hati elo tapi please jantung, jangan bikin malu gue” batin Fero.

__ADS_1


“Udah puas pandang-pandangan? Udah puas ngebatin?” Tanya Qania menyadari Fero dan Cika diam saling bertatapan.


“Eh…” keduanya tersadar.


“Kalau masih betah pandang-pandangan ya silahkan. Yuk sayang kita pulang” ucap Qania menggandeng tangan Arkana kemudian melenggang pergi.


“Emang lo beneran pacarnya Cika?” Tanya Risty, jiwa keponya meronta-ronta guys.


Fero tergagap, ia menatap Cika yang juga menatapnya.


“Iya” jawab Fero mantap diiringi senyum manis yang buat jantung Cika ajep-ajep.


“Emang benar yang dibilang Qania tadi?” Tanya Rey kepo.


“Iyaa. Eh kenalin gue Fero” ucap Fero yang baru sadar kalau dia belum berkenalan.


“Hai Feroo…” sapa mereka.


“Hai juga” balas Fero canggung.


“Eh dia lucu loh Cik, wajahnya kok cute banget ya apalagi kalau lagi malu gini” goda Risty yang akhirnya mendapat sikut di lengannya dari Abdi.


“Upss, maaf, hehe” kekeh Risty.


“Ya udah kalian pulang aja. Qania udah balik, Rizal dan Gea juga udah balik, kalian nyusul aja” ucap Abdi.


“Eh iya, gue pamit ya” ucap Cika masih gugup.


“Pamit dulu ya” ucap Fero.


“Titip Cika ya Fero, dijagain” celetuk Risty.


“Pasti” jawab Fero sambil mengangguk.


🌸


🌸


Fero POV


Dari tadi gue nggak tenang begitu tahu rencana Gea disetujui oleh Qania. Gue udah nggak sabar buat ketemu sama Cika untuk yang pertama kalinya setelah sekian tahun. Apakah wajahnya msih seimut dulu? Apakah dia masih memiliki perasaan ke gue?


Arghh…


Rasanya gue nggak bakalan tenang sampai waktu itu datang, gue degdegan.


Gue mulai memilih dan merangakai kata-kata yang bakalan gue gunain saat nanti ketemu sama Cika. Gue nggak mau kelihatan grogi, dan arghh sial gue masih disini aja udah grogi gimana nanti.


Waktu yang gu etunggu pun tiba, Arkana mendapat pesan dari Qania dan kita langsung menuju ke tempat mereka.


“Santai bro, rileks aja” ucap Rizal yang gue tahu itu adalah ejekan dari dia.


“Hmm” gue hanya menjawab seperti itu sambil berusaha menepis rasa gugup gue.


Arkana yang mimpin jalan karena Cuma dia yang tahu lokasinya, sementara Rizal yang membonceng Gea berada di belakang Arkana. Dan gue, gue rasa orang naik sepeda lebih cepat dibandingkan motor sport gue ini.


“Arrghh..” gue berteriak kaget bukan main saat hampir menabrak kucing yang tiba-tiba saja melintas di jalan yang masih gelap karena saat ini baru pukul tiga subuh.


“Ya ampun gue harus cepat sebelum kehilangan jejak mereka” gue memacu motor gue dengan kencang melawan rasa gugup gue, toh gue gak bakalan mati juga kalau hanya berhadapan dengan Cika.


Gue memasuki area yang mereka sebut himpuan itu dan ikut memarkirkan motor bersama Rizal. Gue melihat Arkana yang sudah bergabung dan terlihat akrab dengan mereka yang gue pernah lihat di acara pertunangan Arkana dan Qania tapi gue nggak kenal yang lainnya.


Deg….

__ADS_1


Gue nggak tahu bagaimana caranya mengondisikan jantung ini ketika tanpa sengaja mata gue melihatnya.


“Cika” gumam Gue yang tersadar kalau Rizal dan Cika sedang berjalan kearah Arkana.


Gue ikut aja namun gue udah mengunci pandangan gue ke gadis yang teramat gue rindukan. Rasanya ingin langsung memeluknya saat jarak kami begitu dekat.


“Sama pacarnya lah”.


Sumpah demi apapun gue sangat degdegan dan malu saat Qania mengucapkan kalimat itu. Dari tadi gue diam aja dan hanya mendengar mereka membicarakan kami.


Gue malu-malu berkenalan, namun ternyata mereka begitu ramah tidak seperti yang gue pikirkan karena teringat aksi demo mereka gue kira mereka akan sangat menekan gue dan nyatanya itu sama sekali tidak terjadi.


Dan betapa bahagianya gue saat Cika sama sekali tidak protes ketika gue mengiyakan hubungan kami, ya setidaknya masih ada setitik harapan.


Dan setelah ba bi bu dengan teman-temannya gue pulang bareng Cika dan ya, kita ditinggalkan oleh Arkana dan Qania serta Rizal dan Gea.


Kalau dulu gue mungkin bakalan mengumpati dan memberikan sumpah serapah pada dua pasangan itu, tapi tidak kali ini. Sepertinya mereka memberikan gue kesempatan untuk berdua dan menyelesaikan hubunganku dan Cika.


“Terima kasih Qania” gumam Gue ketika gue dan Cika sudah melaju di atas aspal meninggalkan himpunan itu.


Fero POV end…


🌺


🌺


Fero menghentikan motornya di taman tak jauh dari kafe Arkana. Mereka turun dan duduk di bangku taman itu dalam diam.


“Cik..”


“Ro..”


“Lo duluan..”


“Lo aja”


“Ladies first”


“Gender banget sih” kekeh Cika membuat Fero terpesona.


“Aku kangen..” ucap keduanya bersamaan, akhirnya tawa menemani mereka di taman yang tadinya sepi itu.


“Kemana aja, hemm?” Tanya Fero memulai percakapan dengan serius.


“Aku disini, sama kamu. Tadi dari himpunan” jawab Cika bercanda.


“Aku serius sayaaang” ucap Fero membuat Cika merona.


“Oh jantung tolong kondisiin” pekik Cika dalam hati.


“Gue pindah sekolah ke luar pulau dan ketika lulus orang tua gue balik lagi kesini karena kembali ditugaskan” jawab Cika menatap lurus ke depan.


“Kenapa nggak ngabarin? Kenapa ngilang gitu aja? Mau buat gue mati karena merindukan lo? Mau buat gue gila karen nggak bisa menemukan elo? Mau buat rumor gue yang nggak suka cewek padahal gue udah ngunci hati gue buat satu nama? Lo nggak tahu gimana gue tanpa elo Cik. Lo nggak tahu gimana paniknya gue hari itu di sekolah saat tahu lo udah nggak sekolah disana. Dan lo nggak tahu betapa kalutnya gue saat gue tahu kita nggak berada di kota yang sama, lo nggak tahu Cik” akhirnya Fero mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.


Cika terisak mendengar semua ungkapan Fero.


“Bukan hanya elo yang ngerasain kayak gitu Ro, gue juga tersiksa. Lo nggak tahu gimana kalutnya gue saat pulang sekolah barang-barang gue semua udah di kemas dan langsung berangkat gitu aja saat gue selesai ganti baju” pekik Cika dengan air mata yang berlinang mengenang hari itu.


 Tidak ada percakapan lagi, hanya isak tangis yang terdengar. Fero merengkuh tubuh Cika dan menyandarkan kepala Cika di dadanya dengan sayang sambiol mengusap air matanya sendiri.


...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...


 

__ADS_1


__ADS_2