Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Jadian


__ADS_3

Qania mendengus kesal setelah berbicara panjang lebar dengan Arkana dan kekasihnya itu hanya sibuk menceramahinya dengan alasan Ken ingin menikung Qania darinya. Kecemburuan Arkana dan keposesifannya akan bertambah jika sedang berada jauh dari Qania. Tadi setelah Qania selesai mengurus mata kuliah dan surat izin KPnya, Arkana langsung meneleponnya.


Qania memijat pelipisnya kemudian keluar dari ruang kelasnya untuk mencari keberadaan Ken yang sudah merusak moodnya hari ini.


“Kemana tu bocah, entah apa yang sudah dia katakana pada Arkana sampai aku harus mendapat siraman rohani disiang bolong gini” gerutu Qania membuat Yani dan Rey hanya bisa diam melihatnya.


“Guys kantin yuk, udah jam makan siang nih” ajak Rey, tidak ada satu pun dari teman Qania di jurusannya yang tidak tahu kalau emosi Qania bisa mereda kalau sudah makan.


“Kamu lapar kali Qan, makanya kamu marah-marah” imbuh Yani.


“Eh?” Qania menoleh ke perutnya kemudian tersenyum, “Iya kali ya. Yuk ke kantin” ujar Qania bersemangat yang membuat Rey dan Yani bernapas lega.


Ketiga mahasiswa itu pun berjalan ke kantin sambil mengobrol. Baru saja mereka memasuki kantin, suasana disana sangatlah ramai, gaduh seperti di pasar saja.


“Tumben libur gini rame” celetuk Rey.


“Ya iyalah dodol, kan banyak calon mahasiswa baru” ujar Yani membuat Rey terkekeh.


“Lah itu ada ribut-ribut apa di kantin pojokan?” Tanya Rey yang melihat ada beberapa orang yang berkerumun.


“Biasalah, namanya juga masih anak-anak yang baru lulus SMA. Hal itu biasa terjadi, cari sensasi” ujar Qania kemudian berjalan mencari posisi nyaman untuk duduk dan menyantap pesanannya.


Rey dan Qania sedang menunggu Yani yang pergi memesankan makanan mereka, namun Rey semakin tertarik saja mengamati perdebatan yang samar-samar ia dengar itu, sedangkan Qania malah cuek-cuek saja sambil berbalasan pesan dengan Arkana yang masih saja terus memberinya peringatan.


“Qan itu kok dari tadi nggak selesai-selesai ya perdebatannya?” Tanya Rey membuat Qania mkengalihkan pandangannya dari ponsel.


“Ya sudah kamu samperin gih sana, aku mau makan” sahut Qania.


“Lo gimana sih Qan, lo harusnya peduli dong secara elo putri kampus” protes Rey.


“tapi Qania sedang lapar Rey” rengeknya.


“Hmm, siapa tahu ada yang sedang di bully Qan. Lo yakin nggak mau nolongin?” bujuk Rey.


Qania menghela napas panjang kemudian berdiri, ia juga tidak ingin apa yang dikatakan Rey itu terjadi. Mau tidak mau gelarya sebagai putri kampus dan juga mahasiswa teladan dan kebanggaan kampus itu harus ia gunakan untuk melerai pertengkaran di dekat mereka itu.


Qania dan Rey berjalan mendekati kerumunan yang dari tadi semakin banyak saja yang berkumpul.


“Permisi, putri kampus mau lewat” ucap Rey agar mereka member jalan dan benar saja mereka langsung member jalan untuk Qania dan Rey lewat.


Qania menyilangkan kedua tangannya di atas dada melihat siapa yang menjadi pusat perhatian saat ini. Ia membuang napas frustasi karena harus menghadapi bocah yang sudah membuat moodnya buruk hari ini. Namun Qania belum tertarik untuk melerai mereka, ia ingin melihat dulu sebenarnya apa inti dari masalah mereka.


“Kalau udah jelek ya jelek aja nggak usah sok kecakepan pakai make up segala” cibir Ken.


“Lo mau apa sih sebenarnya Ken? Nggak bosan lo ngisengin gue? Lo lihat bedak gue lo pecahin dan lipstick gue lo buang entah kemana, emang lo nggak ada kerjaan lain apa hah?” bentak Nisha menahan tangis.


“Ya karena lo itu nggak usah make begituan karena lo udah jelek. Yang dasarnya udah jelek ya jelek aja nggak usah ditambahin apapun biar nggak makin menor. Ntar lo kelihatan kayak ondel-ondel di kampus ini” cibir Ken.


“Bukan urusan lo Ken, gue cantik gue jelek, gue kayak ondel-ondel sekali pun itu bukan urusan elo. Ini hidup gue, lo nggak berhak ngelarang gue bahkan lo nggak berhak bully gue kayak gini. Dari SMP Ken, dari SMP lo udah ngehantuin hidup gue, gue nggak nyaman tahu nggak lo giniin. Masih banyak yang lain yang bisa lo bully jangan Cuma gue” bentak Nisha dengan suara serak.


“Ya itu karena Cuma elo yang jel…”,.


“Udah ngedramanya, hemm?”,.


“Awww sakit bidadari, eh kakak Qania, eh putri kampus, tolongg” ringis Ken yang telinganya di sedang di jewer Qania.


Semua mata yang ada di kampus tertuju pada Qania yang notabennya mereka adalah para calon mahasiswa baru. Banyak yang berdecak kagum dengan kecantikan dan keanggunan Qania yang tampil alami tanpa polesan make up dan terkesan masih sangat muda itu.

__ADS_1


“Kamu kalau mau cari sensasi jangan di kampus, noh di tengah lapangan atau sekalian di depan ruang rektorat biar viral” tambah Qania masih menjewer telinga Ken.


“Maaf bidadariku” cicit Ken.


“Saya ini sebenarnya sedang marah banget ke kamu, apa yang kamu bicarakan sama Arkana hem?” Tanya Qania kemudian melepaskan tangannya dari telinga Ken.


“Hehehe, ada deh” kekeh Ken sambil mengusap-usap telingannya yang memerah.


“Hmm, sekarang bukan waktunya membahas urusan pribadi kita” ucap Qania.


“Kamu, kenapa kamu menangis?” Tanya Qania pada Nisha yang sedang mengusap air matanya.


“Ken menghancurkan bedakku kak, dia juga buang lipstikku. Dia nggak tahu aku nabung udah lama Cuma buat beli itu semua, dia nggak tahu rasa susahnya mengumpulkan uang dari keringat sendiri untuk mencari uang memenuhi kebutuhan kak, karena dia anak orang kaya. Beda kayak saya, saya hanya anak panti asuhan yang mendapat kebaikan Tuhan sehingga bisa melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi dengan modal bea siswa. Dari SMP kak, dari SMP Ken selalu usilin Nisha. Bahkan Ken juga ada di SMA yang sama dengan Nisha dan setiap hari dia juga usilin Nisha dan sekarang dia juga ada di kampus yang sama. Nisha ingin berhenti saja tapi sayang bea siswanya kak, ini juga demi masa depan Nisha. Nisha ingin buktikan bahwa anak dari panti asuhan juga pantas memiliki masa depan cerah” cerita Nisha dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya.


Hati Qania terenyuh begitu pun dengan Rey yang memang berhati lembut, ternyata gadis yang sedang diusili Ken ini adalah anak yatim piatu yang bernasib malang karena tidak memiliki orang tua namun juga beruntung karena Tuhan menganugerahkannya otak yang cerdas.


Qania melirik Ken yang berada di sampingnya. Anak itu tengah diam membisu sambil menundukkan kepalanya.


“Ken, lihat kakak” panggil Qania membuat Ken menoleh padanya.


“Kenapa?” Tanya Qania dengan penuh maksud.


“Itu karena gu..”,.


“Itu karena Ken dari SMP sudah jatuh cinta sama kamu Nisha. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan isi hatinya padamu makanya dia selalu mengusilimu dan melarangmu ini itu. dia sangat pintar bukan menyembunyikan perasaannya tapi sangat bodoh karena tidak menyadari tindakannya selama ini justru menyiksamu. Apa kau tidak sadar kenapa dia selalu ada di tempat yang sama denganmu? Atau apa harus kakak yang kasih tahu kenapa dia merusak peralatan make up mu itu? Dia itu nggak mau kamu kelihatan cantik, dia cemburu dan dia takut ada orang lain yang akan mendekatimu dan merebutmu darinya. Bukan begitu Kenzie Rafanza Alatas?”,.


Dengan cepat Kenzie mengangguk entah sadar dengan tidak sadar tapi gerakan reflex itu selalu menunjukkan hal sebenarnya. Anggukan Ken itu juga tidak lepas dari pandangan Nisha yang kini tengah syok dengan apa yang baru saja Qania jabarkan dan dibenarkan oleh Ken. Sementara Qania menyeringai puas, mangsanya sudah memakan umpan.


“Nah kan benar apa kata kakak. Sekarang kamu resmikan deh si Nisha jadi kekasihmu. Kakak beri tahu satu hal, Nisha itu sangat cantik dan manis, banyak yang mengincarnya terutama teman kakak yang ini” ucap Qania mengerjai Ken sambil merangkul Rey.


Ken tersentak, ia tidak ingin Nisha nya diambil orang sehingga ia langsung berjalan mendekati Nisha dan berlutut di depannya.


“Nisha Khumairah, lo mau nggak jadi pacar gue?”,.


Nisha sangat syok dengan ungkapan Ken, ia begitu terkejut dan juga terharu sampai air matanya kembali menetes.


“Terima”,.


“Terima”,.


“Terima”,.


“Cieee musuh bebuyutan mau jadian nih”,.


“Duh Ken lo so sweet banget sih”,.


“Patah hati gue”,.


“Bengek gila bengek”,.


“Nisha lo mau nggak, sumpah lutut gue pegal nih” Tanya Ken sambil mengeluh.


Nisha tersenyum mendengar keluhan Ken, ia pun mengangguk dan memberikan senyum termanis untuk Ken. Ken yang melihat jawaban tersebut langsung berdiri dan memeluk Nisha tanpa memperdulikan banyaknya pasang mata yang melihat mereka dan juga kamera yang turut mengabadikan momen pentingnya itu.


“Makasih putri kampus, bidadarinya kak Arkana” ucap Ken tulus kemudian memeluk Qania singkat.


“Jaga baik-baik Nisha ya, karena mulai sekarang Nisha adalah adikku. Nisha, sebentar kamu ikut kakak pulang ya. Kemarikan ponselmu, kakak ingin menyimpan nomor ponsel kakak. Kamu hubungi kakak ya kalau urusan kamu di kampus sudah selesai” ucap Qania sambil menerima ponsel yang disodorkan oleh Nisha.

__ADS_1


“Terima kasih kak, Nisha senang punya kakak yang cantik dan baik hati” lirihnya.


Qania berjalan mendekati Nisha dan langsung memeluknya.


“Bilang padaku jika ada yang menyakitimu, oke” bisik Qania.


“Iya kak, tentu” sahut Nisha juga berbisik pada Qania.


“Kakak ke sana dulu, mau makan. Sekalian gabung aja yuk, Ken yang traktir” ucap Qania kemudian menggandeng tangan Nisha diikuti oleh Rey dan Ken yang tidak berhenti tersenyum.


 


*


*


 


Elin dan Qania tengah menikmati jajanan di taman pagi ini sambil terus berbincang dan bergosip ria tentu saja. Seperti biasa, setiap hari minggu pagi kedua gadis itu akan menghabiskan waktu di taman yang ada di dekat rumah mereka untuk mengisi perut dengan makanan ringan.


“Qan, minggu depan SMA kita akan mengadakan reuni lo” ucap Elin disela-sela makannya.


“Oh ya? Kok aku nggak tahu ya?” Tanya Qania sambil menikmati pentolannya.


“Kemarin aku ketemu sama Deo, mantan ketua osis kita itu loh. Dia yang ngadain acaranya, paling juga sebentar atau besok ada info di grup sekolah” jawab Elin kemudian menegukminumannya.


“Oh bagus dong, biar kita bisa kumpul-kumpul lagi” seru Qania.


“Iya. Yuk pulang, udah mulai siang nih, aku juga udah kenyang” ajak Elin.


Keduanya pun berdiri dan bergegas meninggalkan taman sambil bercanda menyusuri jalan menuju ke rumah mereka masing-masing.


 


*


*


 


“Gimana Deo, jadi kan acara reuni SMA lo?” Tanya seorang pria yang sedang menghisap rokoknya.


“Jadi kak. Kalau boleh tahu kenapa kakak mau mengeluarkan dana sebesar ini untuk mendanai acara itu?” Tanya Deo.


“Sebaiknya lo tidak usah bertanya, kakak hanya ingin menemukan seseorang yang sudah lama menghilang dan dia teman sekolahmu. Kakak sangat merindukannya dan kakak berharap dia akan datang di acara reuni nanti” jawabnya.


“Siapa kak? Siapa tahu gue kenal orangnya, secara gue ketua osis waktu itu” Tanya Deo penasaran.


“Sebaiknya lo diam dan jangan bertanya lagi jika masih ingin menikmati udara di bumi ini” tandasnya membuat Deo menjadi ciut.


“Em kalau begitu gue pamit dulu kak, gue mau persiapin semua yang dibutuhkan untuk acara minggu depan” pamit Deo yang sudah ketakutan.


Setelah Deo pergi meninggalkan kamar itu, pria yang berbicara dengannya itu langsung menyeringai.


“Tunggu saja balasan untukmu Qania Salsabila Sanjaya, priamu itu saat ini dan saat kegiatan itu nanti dilaksanakan tidak akan berada di sampingmu”,.


......🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀......

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 😊😊


__ADS_2