Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Selembar Kertas


__ADS_3

Setelah sidang hari ini, Qania benar-benar tidak dibuat istirahat dengan nyaman karena hari Kamis nanti  ia akan melangsungkan sidang skripsinya. Ia harus mengurus semua keperluan dan juga harus menyiapkan mentalnya.


Papa Setya dan timnya yaitu keluarga Pak Erlangga pun sama sibuknya mengumpulkan bukti mereka agar semakin memperkuat tuntutan mereka. Pak Herman dan asisten Revan pun turut serta.


Pak Jayadi dan Aarav diamankan di kediaman Pak Erlangga agar lebih leluasa mereka awasi. Aarav yang awalnya disandera oleh asisten Revan pun akhirnya dipertemukan dengan kakek dan juga mereka mengunjungi Papanya yaitu Pak Nizar di lapas.


Asisten Revan meminta maaf karena dirinya lah yang sudah menyekap mereka. Namun ia tidak tahu tujuan mereka yang sebenarnya. Ia melakukan itu semata-mata karena dedikasinya terhadap Pak Handoko dan perusahaan itu yang sudah menopang hidupnya.


Pak Nizar pun turut meminta maaf karena hampir berkhianat, begitu pun dengan Pak Jayadi. Kalau bukan karena dibawah ancaman tuan Alvindo, mereka tidak akan mau melakukannya. Akan tetapi nyawa Aarav lah yang menjadi taruhannya sehingga mereka tidak mampu melawan.


Tuan Alvindo, ia benar-benar kehilangan keberaniannya begitu surat penangkapannya sampai di tangannya tak lama setelah ia sampai di rumah. Pengadilan meminta agar ia ditahan agar bisa dimintai keterangan lebih lanjut dan mencegah kemungkinan beliau melarikan diri. Melihat dari bukti kejahatan mereka maka pengadilan tidak ingin mengambil resiko.


Lain dengan mereka, Tristan dan Marsya baru saja mendaratkan kaki di kota tempat mereka tinggal setelah berbagai hambatan penerbangan. Keduanya pulang dengan menggunakan taksi. Tristan mengantar Marsya hingga masuk ke dalam rumah lalu ia berpamitan pulang ke rumahnya sendiri. Hanya ada satu tujuannya saat ini, mencari Qania.


Haruskah gue datang ke kotanya? Atau apakah dia udah balik kesini? Gue nggak bisa kesana kalau gue nggak tahu pasti dia masih disana atau sudah disini, batin Tristan.


Tristan disambut Pak Yotar dan Bi Ria begitu ia turun dari taksi. Ia hanya balas menyapa dan mengatakan bahwa ia sudah makan siang dan ingin beristirahat di dalam kamar. Sampai di kamar Tristan meletakkan kopernya sembarangan dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Uh. Akhirnya bisa rebahan,” ucap Tristan sambil memejamkan matanya.


Hampir saja ia tertidur kalau saja ponselnya tidak berdering. Tristan melihatnya dan ia pun segera menjawab panggilan tersebut.


“Selamat siang Pak.”


“Selamat siang. Apakah ada berita terbaru?” tanya Tristan, ia sudah hafal jika orang suruhannya ini menelepon tentu saja ada kabar terbaru.


“Ya benar sekali Pak. Saya mendapatkan berita bahwa sidang kedua untuk Pak Handoko tadi pagi sudah dilaksanakan.”

__ADS_1


“Apa?! Sidang kedua? Bukannya Pak Handoko sudah mendapatkan putusan pengadilan?” tanya Tristan heran.


“Benar Pak. Tapi kali ini kasusnya berbeda dan dari informasi yang saya dapatkan kasus ini bukan hanya melibatkan Pak Handoko melainkan ada tuan Alvindo.”


“Hah? Om Alvin? Cepat katakan, kenapa bisa ada keterlibatan mereka? Kasus apa lagi?” tanya Tristan mendesak.


“Saya hanya mendapat sedikit info Pak. Sidang ini sangat tertutup dan hanya menghadirkan pihak penuntut dan juga pihak yang dituntut. Tak boleh ada awak media atau yang lainnya. Saya hanya mendapat info bahwa pihak pengacara Qania kembali menambahkan tuntutan mereka atas beberapa kasus kejahatan yang dilakukan tuan Alvindo dan Pak Handoko bersamaan dan bisa dibilang ini adalah kasus bersama. Ada beberapa nyawa melayang karena mereka berdua dan kini para keluarga korban menuntut pertanggungjawaban. Dan dari yang saya dengar, kasus ini sudah berlangsung lima tahun yang lalu namun karena mereka pandai bermain dengan kekuasaan maka ada beberapa pihak yang harus menjadi kambing hitam.”


Tristan menghela napas, ia menekan tulang hidungnya. Masih tidak percaya bahwa orang yang begitu dia kagumi seperti tuan Alvindo dan sangat ia hormati seperti Pak Handoko adalah dua orang yang memiliki kasus kejahatan hingga melayangkan nyawa banyak orang dan membuat orang lain menderita.


“Apakah semua ini benar?” tanya Tristan. Ia kembali teringat akan pertanyaan Qania tentang keberpihakannya. Qania sempat menyebutkan tentang tuan Alvindo dan tidak memberi penjelasan lebih lanjut.


Oh ya ampun, apa ini maksud Qania? Tanya Tristan dalam hatinya.


“Saya menjamin berita ini sangat akurat Pak. Saya pun melihat sendiri bagaimana tuan Alvindo dijemput oleh polisi di rumahnya setelah satu jam selesai sidang. Dan untuk sidang selanjutnya akan dilaksanakan pada hari Jum’at.”


“Baik, terima kasih untuk semua informasinya. Saya akan langsung mentransfer ke rekeningku,” ucap Tristan agak lemas.


“Baik Pak, terima kasih. Saya akan terus memantau keadaan.”


Tristan hanya menjawab dengan deheman dan orang suruhannya langsung berpamitan untuk melakukan pekerjaannya.


Tristan teringat akan Marsya. Bagaimanapun ini kabar tak baik dan ia tidak ingin kondisi Marsya menjadi drop jika mengetahuinya.


"Uh. Sial! Satu perkara belum selesai, perkara lain bermunculan. Kalau kayak gini, gimana gue bisa ngurus hubungan gue sama Qania?!"


 

__ADS_1


Di rumahnya, Marsya baru saja terbangun dan melihat waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Ia sedikit terkekeh karena tidur yang kebablasan.


“Sepertinya ini efek kecapaian di pesawat. Dan juga karena aku begitu merindukan kenyamanan kamarku ini,” ucap Marsya. Ia pun bergegas masuk ke kamar mandi.


Marsya telah menghabiskan makan malamnya seorang diri. Dari tadi ia terus bertanya pada pelayannya tentang keberadaan sang Papa namun mereka terus menghindar dan itu semakin membuat Marsya curiga.


Tak ingin terabaikan, Marsya pun memutuskan untuk menelepon nomor Papanya namun sayang tak bisa dihubungi.


Para pelayan sudah berjanji untuk tidak memberitahukan ini kepada Marsya lelah tuan Alvindo.


Merasa begitu merindukan sosok Papanya, Marsya pun bergegas keluar dan berjalan menuju ke kamar Papanya.


Nihil.


Papanya tidak berada disana dan Marsya pun hanya bisa tersenyum memandang fotonya dan Papanya yang berada di atas lemari kecil di dekat tempat tidur.


“Papa kemana sih? Anaknya baru pulang tapi nggak disambut,” ucap sebal Marsya kemudian ia keluar dari kamar Papanya dan memilih masuk ke ruang kerja Papanya


Ruangan yang sangat rapih dan banyak lemari berisi buku di ruangan tersebut. Marsya memang selalu mengagumi ruangan ini. Ia merasakan aroma parfum sang Papa masih tertinggal di ruangan ini. Ia hirup dalam-dalam sebagai pelepas rindunya.


Marsya duduk di kursi sang Papa, ia mencoba menjernihkan pikirannya dan mengatakan bahwa sang Papa pasti sedang bekerja mengingat Pak Handoko yang masuk penjara dan Tristan yang bersamanya.


"Ya, Papa pasti tengah sibuk sendiri," gumam Marsya.


Ia tersenyum kecil kemudian ia beranjak dari duduknya namun ia tak sengaja menyenggol asbak kaca milik Papanya hingga asbak itu jatuh dan pecah. Marsya pun panik dan langsung membersihkannya. Mencari setiap pecahan belingnya. Ia hendak memasukkannya ke dalam tempat sampah di ruangan itu, namun selembar kertas menarik perhatiannya.


Marsya membuang beling tersebut lalu mengambil kertasnya. Membacanya dengan saksama hingga akhirnya tangisnya pecah.

__ADS_1


"Nggak! Nggak mungkin! Papa nggak mungkin ditangkap polisi. Ini pasti nggak benar!" isak Marsya masih memegangi kertas tersebut.


__ADS_2