
“Hallo nak” sapa Zafran begitu ia menjawab panggilan dari Qania.
Namun bukannya mendapat jawaban dari Qania, ia malah mendengar suara yang begitu ramai. Ia terus memanggil Qania namun tidak mendapat jawaban sama sekali dari Qania hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri saja panggilannya.
“Mungkin dia sedang ada kelas” ucap Zafran kemudian melepas kacamatanya dan keluar dari ruang kerjanya.
Ia sudah tidak melihat Setya dan Alisha serta Arqasa di ruang keluarga begitu ia menuruni anak tangga. Ia sudah bisa menebak dimana keberadaan istrinya sehingga ia berjalan ke arah pintu samping dan mendapati Alisha disana.
Alisha tersenyum memandangi suaminya, ia sedang asyik menyirami tanamannya sambil mengajak para tumbuhan itu bercerita seolah-olah mereka bisa menanggapi apa yang sedang ia katakana.
Zafran tersenyum, istrinya masih saja seperti dulu selalu bahagia jika sedang bersama tanamannya seolah tanaman itu adalah sahabatnya.
Alisha melepaskan selangnya dan mematikan keran air lalu ia mencuci tangannya sebelum menemui suaminya yang sudah duduk di kursi teras di samping rumah itu.
“Ada apa pa?” tanya Alisha yang sudah ikut duduk.
“Tadi papa ditelepon Qania, tapi nggak sempat ngobrol karena papa panggilin tapi dia nggak nyahut malah terdengar suara yang begitu ramai. Sepertinya dia sedang berada di kelas deh Ma” ucap Zafran sambil menatap istrinya.
“Oh syukurlah kalau kayak gitu Pa. mungkin tadi keburu masuk dosennya jadi Qania nggak sempat bicara” ucap Alisha menimpali dan Zafran pun mengangguk setuju.
“Oh ya Ma, Arqasa dimana?” tanya Zafran karena tidak melihat dan mendengar suara cucunya itu.
“Oh tadi pamit diajak Setya ke mini market Pa, katanya mau beliin Arqa camilan” jawab Alisha terkekeh.
“Itu si Setya ada-ada saja, mau ngemil apa tuh balita. Tiap kali dari belanja pasti selalu membawa banyak makanan yang nggak dimakan” ujar Zafran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hahaha, iya Pa. Mama pernah tuh sekali ikut mereka dan Papa tahu, semua yang Arqasa tunjuk diambil semuanya sama mas Setya. Mulai dari bumbu dapur hingga kosmetik dan juga pembalut pernah ditunjuk Arqasa dan dengan santainya kakeknya itu mengambilnya. Untung saja mama lihat jadi mama balikin lagi” cerita Alisha membuat Zafran tertawa.
“Manjain sih manjain tapi nggak dia kontrol Pa. Barangkali kalau Arqasa itu beli racun bakalan dia beliin juga” sebal Alisha.
Zafran hanya terus tertawa mendengar ocehan istrinya itu. Ia sangat tahu bagaimana sifat Setya Wijaya yang selalu mementingkan kesenangan orang lain terlebih lagi cucunya sendiri sehingga apapun itu asalkan Arqasa senang ia akan menurutinya.
“Papa juga kenapa tertawa terus sih” tegur Alisha dengan wajah cemberutnya.
“Nggak Ma, ya dia mungkin hanya ingin membuat cucunya senang dan merasa tidak kekurangan uang jadi apapun yang ia minta akan selalu Setya turuti hingga tidak menghiraukan barang itu penting atau tidak”,.
“Pernah waktu kuliah dulu juga kita belanja bareng dan beli ini itu yang dipromoin sama penjaga tokonya eh pas sampai di rumah kami berdua saling terbengang karena ada yang lebih banyak tidak kami perlukan bahkan sama sekali tidak beguna bagi kami” kenang Zafran.
“Ya tapi tetap saja ya Pa, Mama nggak mau Setya itu manjain Arqasa. Gimana kalau nanti dia jadi terbiasa minta ini itu?” ucap Alisha masih belum setuju dengan sikap Setya.
“Memangnya Mama lupa siapa Setya?” goda Zafran.
“Ya Mama nggak lupa, hanya saja itu tidak baik. Kita tidak mendidik Qania dan Syaquile menjadi anak yang suka menghamburkan uang loh Pa. Qania dan Syaquile saja tidak meminta jatah jajan bulanan, mereka hanya akan meminta uang jika memiliki kepentingan dan uang jajan buat di kampus dan di sekolah doang. Mereka udah biasa hidup sederhana meskipun memiliki orang tua yang tidak kekurangan uang dan bahkan sangat kelebihan uang” ucap Alisha membuat Zafran diam.
Zafran sangat membenarkan ucapan Alisha, dari kecil Qania dan Syaquile sama sekali tidak mereka ajarkan untuk menghambur-hamburkan uang dan memanjakan mereka dengan menuruti semua keinginan mereka.
“Iya juga ya Ma, dulu Qania sama Syaquile kalau ada yang mereka inginkan nanti mereka meminta ke kita dan kadang kita menyuruh mereka mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan imbalan dan akhirnya setelah mereka bersusah payah menyelesaikan tugas mereka justru mereka nggak jadi jajanin uang itu dan malah di tabung dengan alasan uang hasil keringat sendiri jangan dihamburin” kenang Zafran diakhiri tawa.
“Haha Papa masih ingat saja dengan istilah mereka itu” Alisha pun ikut tertawa.
*
__ADS_1
Lala masih terus duduk sambil memegangi tangan Qania yang masih belum sadar sudah hampir dua jam. Tadi waktu Qania pingsan tiba-tiba itu, panitia seminar langsung membawa Qania ke rumah sakit dan Lala pun ikut di dalam mobil meninggalkan motor mereka di parkiran hotel sementara si Tristan Anggara itu malah kembali melanjutkan seminarnya tanpa peduli dengan keadaan Qania.
Lala mencari-cari ponsel Qania untuk menghubungi Raka, namun ia tidak menemukannya di dalam tas Qania.
“Ya ampun, kan hp kak Qania tadi jatuh ya” pekik Lala menepuk jidatnya.
“Gimana kalau ada yang ambil ponsel kak Qania? Aduh bisa-bisa kak Qania nggak bisa berkomunikasi lagi dengan keluarganya dan aku juga bodoh sih, masa lupa ngambil hp itu” gerutu Lala.
Lala pun mencoba menghubungi nomor Qania namun justru mendengar jawaban dari operator kalau panggilan Qania sedang sibuk.
“Kok sibuk sih? Apa sinyal sedang buruk?” tanya Lala pada dirinya sendiri.
“Ah sekali lagi deh”,.
Lala pun pasrah karena sudah kelima kalinya ia mencoba menelepon tapi masih saja panggilan tersebut dalam keadaan sibuk.
“Apa jangan-jangan… aaa jangan sampai ada yang mengambil ponsel kak Qania” pekik Lala dan untung saja ia berada di ruang rawat VIP jadi tidak ada yang terganggu dengan suara teriakannya.
*
Di kediaman Zafran saat ini, Alisha sedang mengomeli Setya yang lagi-lagi membelanjakan Arqasa yang justru tidak seharusnya dibeli mereka. Seperti saat ini, Arqasa membawa pulang cat kuku dan juga lipstick serta sebotol kecap asin.
“Maaf Al, aku tidak tega melihatnya meminta ini itu jadi ku ambilkan saja daripada dia menangis” jawab Setya membela diri.
“Ya ampun mas Setya tapi ini sudah sering kali dan mas Setya seharusnya ti…”,.
“Mommyy.. mommyy.. huaaa…” ucap Arqasa sambil menangis membuat Alisha menghentikan ucapannya dan langsung menggendong Arqasa yang tengah duduk manis sambil menikmati camilannya.
Setya mengangguk setuju membuat Alisha langsung memelototi kedua kakek yang kini terdiam itu karena mendapat peringatan dari singa betina pemilik rumah.
“Nek, mommy.. epon mommy nek..” ucap Arqasa meminta neneknya untuk menelepon mommynya.
“Eh ini sudah hampir dua jam, mungkin Qania sudah keluar kelas. Papa coba telepon deh” ucap Zafran kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
Sementara itu di ruang aula hotel seminar baru saja berakhir dan Tristan Anggara menyuruh mereka semua keluar saja lebih dulu tanpa menunggu dirinya keluar. Ruangan pun kini sepi karena hanya tinggal dirinya saja yang sedang sibuk dengan tabletnya, sepertinya ia sedang mengurus pekerjaannya melalui smart phonenya itu.
Dering ponsel menghentikan aktivitasnya, ia membuka kacamatanya dan berdiri berusaha mencari sumber suara dering ponsel itu. Ia berjalan kearah kursi peserta seminar karena dering ponsel itu semakin terdengar jelas di arah situ.
Tristan membungkuk memunguti ponsel yang sedang menampilkan panggilan masuk itu.
“Papa?” ia membaca nama pemanggilnya.
Ia pun memutuskan untuk mengangkan telepon tersebut.
Sementara itu Zafran yang kedatangan tamu pun memberikan ponselnya kepada Setya karena Alisha sedang menenangkan Arqasa yang masih sesenggukan.
“Hallo” sapa Tristan.
Deg…
Jantung Setya seakan berhenti berdetak saat mendengar suara dari seberang telepon. Napasnya seolah tercekat di tenggorokannya dan dadanya terasa begitu sesak.
__ADS_1
Kembali, orang tersebut menyapa membuat Setya tersadar.
“Ar..Arkana?” lirihnya dengan air mata yang menetes membuat Alisha terkejut begitu Setya mengucakan nama Arkana.
“Arkana ini kamu nak? Papa tidak sedang bermimpikan?” tanya Setya yang sudah tidak bisa menahan tangisnya.
Raut wajah Alisha berubah menjadi begitu penasaran saat Setya menangis, apa benar itu Arkana, pikir Alisha.
“Maaf, saya Tristan Anggara bukan Arkana” sahut Tristan yang juga sedang kebingungan karena orang diseberang saluran itu tiba-tiba saja menangis.
Alisha yang melihat Setya sepertinya tidak bisa berbicara dengan baik karena menangis pun mengambil alih ponsel tersebut.
“Hallo” sapa Alisha.
“Hallo, maaf saya Tristan Anggara. Saya pengisi seminar dan pemilik ponsel ini tadi pingsan dan sekarang sedang berada di rumah sakit. Saya hanya ingin mengabari kalian, dan saat ini saya akan menuju ke rumah sakit untuk melihatnya serta mengembalikan ponsel tersebut. Dia sedang di rawat di rumah sakit X, datanglah”,.
Tristan mempercepat ucapannya sebelum ia semakin dibuat bingung lagi dan langsung mematikan ponsel tersebut.
“Gadis ini sungguh merepotkan, sudah tidak menghargai gue dengan sibuk bermain ponselnya, eh kemudian dia pingsan lalu orang tuanya menelepon dan mengira gue siapa tadi… gue lupa siapa namanya dan sekarang gue harus ke rumah sakit buat balikin hpnya dan ngurus biaya administrasinya. Haih ini namanya ketiban apes” gerutu Tristan Anggara yang kemudian menyambar tablet dan tas kerjanya kemudian keluar dari ruang aula tersebut.
*
Zafran yang baru saja kembali bergabung setelah melayani tamu yang hanya datang untuk mengantarkan bingkisan pun dibuat terkejut dengan Setya yang sedang menangis dan Alisha yang sedang terlihat syok. Dengan cepat ia duduk di samping Setya untuk memberikan rangkulan pada sahabatnya itu.
“Ma ada apa?” tanya Zafran yang sudah sangat penasaran.
“Suaranya benar-benar mirip Pa” ucap Alisha yang semakin membuat Zafran bingung.
“Suara siapa Ma? Mirip siapa? Dan mana Qania, papa mau bicara?” tanya Setya beruntun membuat Alisha tersadar begitu suaminya menanyakan anak mereka.
“Astagifirullah, Mama sampai lupa Pa. Qania saat ini sedang dirawat di rumah sakit Pa, tadi dia pingsan saat akan mengikuti seminar” jawab Alisha dengan suara parau karena hendak menangis.
“Appaaa?” sentak Zafran dan Setya bersamaan.
“Iya itu tadi yang bicara Tristan Anggara, dan sekarang dia sedang menuju ke rumah sakit untuk mengantarkan ponsel Qania yang tertinggal” ucap Alisha dengan air mata yang sudah menggenangi pipinya.
“Mommy huaa…” tangis Arqasa seolah ia mengerti dan bisa merasakan keadaan mommynya saat ini.
Zafran tahu Alisha saat ini sedang sangat sedih karena tidak bisa melihat keadaan Qania yang berada jauh dari mereka. Ia langsung mengambil Arqasa yang sedang menangis dan menggendongnya sambil menghapus air mata cucunya itu dan memberikan penghiburan.
“Jadi ini maksud dari kesedihan Arqasa selama beberapa hari ini? Hahh bagaimana keadaan Qania sekarang?” tangis Alisha, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Zafran yang tidak tahan melihat istrinya menangis pun kembali duduk di samping istrinya kemudian menyandarkan kepala Alisha ke dadanya dan sebelah tangannya memegangi Arqasa yang sudah tidak menagis lagi dan sedang duduk tenang di atas pangkuannya.
“Sabar ya Ma, kita tunggu dulu kabar dari Tristan Anggara. Siapa tahu saat dia sampai di rumah sakit Qania sudah siuman dan bisa menghubungi kita” hibur Zafran.
Zafran bukannya tidak sedih, ia justru yang paling sedih dan menangis dalam hati mendengar kabar putrinya itu pingsan dan tidak memiliki keluarga disana. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kabar buruk tentang putrinya itu. Namun saat ini ia tidak bisa lemah karena Setya dan Alisha sedang butuh kekuatan dan hanya ia yang mereka miliki.
‘Tristan Anggara? Nama itu kedengarannya sangat familiar di telingaku. Tapi siapa dia? Dan kenapa suaranya begitu sama seperti Arkana? Tapi kalau memang dia Arkana pasti Qania sudah mengatakan pada kami. Hmm, bolehkah hamba berharap ya Allah?’ isak Setya dalam hatinya.
‘Apa Qania pingsan karena mendengar suara pria itu?’ batin Alisha.
__ADS_1
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗