
Tristan berlari begitu mendapat telepon bahwa Marsya pingsan di kamar rawatnya. Pikirannya kalang kabut, sudah tiga hari ini Qania memblokir kontaknya dan Marsya yang seharusnya sudah bisa pulang kini justru mendadak pingsan.
“Ya Tuhan, ada apa lagi ini,” gumamnya sambil membuka pintu ruang rawat Marsya.
Tristan mendekat, disana ada dokter dan suster yang tengah memeriksa keadaan Marsya. Begitu selesai pemeriksaan, Tristan pun bertanya pada dokter yang berasal dari Indonesia itu.
“Apa yang terjadi dengannya Dok?” tanya Tristan.
“Stres. Dia mengalami stres. Apa kamu tidak tahu apa penyebabnya?” Dokter tersebut balik bertanya. “Besok seharusnya dia sudah bisa pulang. Tapi tubuhnya sekarang memprihatinkan. Apa ada masalah besar yang membuatnya seperti ini?” lanjutnya.
Tristan terdiam dalam hati ia merutuki Marsya yang kembali drop.
Yang stres itu harusnya gue Sya!
“Entahlah Dok, dia belum memberitahukannya. Sore tadi dia bilang ingin segera pulang dan saya ke hotel untuk berkemas tapi mendadak dapat telepon kalau dia pingsan,” jelas Tristan.
Dokter tersebut mengangguk. “Jangan Bebani pikirannya, jika besok kondisinya baik-baik saja maka lusa bisa kembali ke negara kalian,” ucap dokter tersebut kemudian ia pamit bersama susternya.
Tristan mengusap kasar wajahnya, belum habis masalah bersama Qania dan kini Marsya pun membuat masalah baru dengan menunda kepulangan mereka. Tristan tak tahu harus berkata apa, ia hanya bisa menatap kosong pada Marsya yang terbaring lemah tak sadarkan diri.
Tristan pun mengatur napasnya kemudian ia duduk di bangku di sebelah ranjang Marsya. Ia genggam tangan itu dan mulai bertanya pelan.
“Sya, sebenarnya ada apa ini?” lirih Tristan.
Tangan halus itu bergerak membuat Tristan melirik ke arah genggaman tangannya kemudian menatap wajah Marsya yang mana matanya mulai bergerak perlahan dan akhirnya terbuka dengan sempurna.
“Sya?” panggil Tristan pelan.
Marsya menengok ke arah asal suara. Setelah matanya menangkap sosok Tristan, ia pun terisak.
“Tris, apa benar yang aku lihat? Apa benar diam-diam dibelakang ku kau masih menjalin hubungan dengan Qania?” tanya Marsya dengan isakan dan air mata pun lolos dari kedua sudut matanya.
Tristan terbelalak. Mungkinkah ini penyebab Marsya drop? Apakah ada yang melihatnya jalan dengan Qania lalu melaporkan pada Marsya?
“Jawab saja Tris,” imbuhnya.
Tristan menarik napas lalu menghembuskannya dengan perlahan.
“Katakan apa saja yang kamu ketahui agar bisa aku jawab semua yang ingin kamu tanyakan,” ucap Tristan berusaha santai.
Marsya mencoba meredakan tangisnya namun justru ia semakin tersedu-sedu. Rasanya air matanya cukup mewakili semua kata yang ingin ia ucapkan.
__ADS_1
“Bicaralah, semua akan lebih jelas jika kau bicara,” ucap Tristan masih mempertahankan kelembutannya.
“Ak-aku mendapatkan kiriman foto. Banyak foto dimana kamu jalan sama Qania. Foto beberapa hari saat kamu pulang dan aku masih berada disini. Banyak teman-teman aku yang melihat dan menanyaiku. Awalnya aku biasa saja sampai mereka mengirim foto itu dan itu jelas kamu dan Qania. Jawab Tris, apa kau menjalin hubungan dengannya?” cerita Marsya kemudian kembali terisak, kedua mata yang digenangi air itu terus menatap penuh harap pada Tristan bahwa itu semua tidak benar.
“Sya, apa kamu tahu siapa korban Pak Handoko yang membuatnya mendekam di penjara?” tanya Tristan membalas tatapan Marsya.
Marsya menggeleng lemah, “Tris tolong jangan mengalihkan pembicaraan,” ucapnya agak kesal.
“Aku tidak mengalihkan pembicaraan. Asal kamu tahu, korbannya itu adalah Qania,” jawab Tristan.
Ya Tuhan, apa aku sebodoh ini? Kenapa tinggal bilang aku mencintai Qania di depan Marsya itu sangat sulit? Mengapa hatiku ini masih bisa merasa iba pada Marsya sementara nasib cintaku saja berada di ujung tanduk?
Marsya terkejut, “Jangan bercanda Tris.”
“Nggak Sya. Aku nggak bercanda. Makanya aku mencari tahu lewat Qania dan ternyata benar. Bahkan Qania dan mertuanya sudah berhasil memenjarakan Pak Handoko,” ucap Tristan.
“Appaa?!”
Tristan menjawab dengan anggukan sementara Marsya terdiam seperti sedang merenungkan sesuatu.
Bego ya, gue bego banget. Pantas Qania senang sekali menarik ulur perasaanku karena gue memang plin-plan. Oh Tristan, lo semakin berada dalam masalah. Lo semakin masuk terlalu dalam ke dalam kebohongan yang lo ciptakan. Baiklah, tenang dulu. Biarkan Marsya merasa lebih baik dan setelah kami kembali ke Indonesia, maka gue akan membicarakan tentang hubunganku dengan Qania padanya. Ah tidak, gue akan menemui Qania lebih dulu dan sekali lagi akan gue perjuangin rasa ini pada Qania.
“Tris, kamu melamun?” tanya Marsya membuat Tristan menoleh padanya.
“Appa?! Tris, tolong jangan bercanda terus!” jerit Marysa.
“Aku tidak bercanda Sya. Tapi mengenai Papa kamu yang kemungkinan terseret itu baru asumsiku saja. Makanya kamu jangan lemah dan harus segera sehat agar kita bisa segera kembali dan bisa mengetahui lebih jelas tentang perkara ini. Dari yang aku dengar sidang ini berlangsung tertutup sehingga tidak ada berita-berita yang pasti kecuali asumsi-asumsi masyarakat,” ucap Tristan yang juga sebenarnya terus mencari tahu masalah ini namun pihak kepolisian pun turut menutupi masalahnya dari publik karena permintaan kedua belah pihak yang tidak ingin mengumbar masalah ke luar.
“Tris, pesan tiket. Malam ini juga kita pulang,” ucap Marsya gelisah.
“Sya ini sudah malam dan jadwal penerbangan adanya nanti besok pagi. Dan besok pagi dokter belum tentu izinin kamu pulang. Makanya kamu harus berpikir positif dan ubah suasana hatimu. Mungkin saja besok dokter mengizinkan dan kita akan pulang dengan penerbangan malam,” ucap Tristan, dalam hati ia begitu bersemangat melebihi semangat Marsya untuk segera pulang.
“Baiklah. Aku sekarang mau tidur dan kamu tidurlah di sofa ya. Besok pagi bantu yakinkan dokter agar kita bisa pulang,” ucap Marsya.
“Ya, semua tergantung kondisi kamu Dua.”
Marsya hanya mengangguk kemudian ia memejamkan kedua matanya berusaha untuk tidur dan Tristan pun berjalan ke sofa lalu membaringkan tubuhnya.
Tristan POV
__ADS_1
Mata ini terpejam tapi pikiran kemana-mana. Pikiran gue melintas jauh pada sosok wanita yang entah dia mikirin gue atau enggak. Wanita itu udah sukses bikin gue makan tak enak, tidur tak nyenyak bahkan ngapa-ngapain pun nggak ada yang asyik. Dia udah berhasil merebut semua perhatian dan pikiran gue. Semua ini tertuju padanya dan entah apakah daya tariknya yang terlalu kuat atau memang dia memiliki magnet yang terus menarikku agar menempel padanya.
Gila! Bahkan air mata gue begitu mudah lolos kerena memikirkannya. Entah apakah gue yang udah berubah jadi pria bucin bin mellow setelah dekat dengannya. Gue merasa bukan diri gue yang kemarin-kemarin saat belum mengenalnya.
Wajah itu, wajah yang buat gue nggak bisa mengalihkan pandangan pada objek lain. Mata ini sudah terkunci hanya untuk menatapnya saja. Entah itu sihir darinya atau emang gue baru nemu yang bisa buat mata ini terpana dan hati ini bergetar.
Resonansi?
Apakah ini yang dikatakan resonansi?
Hahaha, gila. Gue lebih puitis dari para pujangga di luar sana. Semua karena Qania. Dia yang udah buat gue jadi kayak gini dan sialnya dia nggak mau tanggung jawab dan malah memblokir satu-satunya akses gue buat dekat dengannya.
Gue bingung, kenapa wanita sebaik Marsya tidak bisa membuat gue luluh? Dia bahkan cantik, dewasa dan lemah lembut pula. Apa yang salah? Kenapa justru wanita galak, judes, jutek, ketus, datar dan dingin kayak kulkas itu yang bikin gue bergetar? Yang kalau ngomong nyelekit banget. Suka buat gue kicep dan bahkan suka bikin gue sport jantung. Yang salah gue, atau emang nggak ada resonansi antara gue sama Marsya.
Resonansi, resonansi, resonansi.
Bahasa gue dalam banget ya. Sampai mengistilahkan ini dengan bahasa fisika. Tinggal bilang aja kalau antara gue dan Marsya sama sekali tidak menimbulkan getaran apapun. Beda sama Qania, yang tiap lihat wajah datarnya saja sudah buat gue bergetar.
Sekali lagi, sekali lagi gue bakalan berjuang buat meluluhkan hatinya. Jika nanti pun dia tidak luluh maka gue bakalan mundur. Jika pun dia minta gue buat jadi Arkana, itu sudah resiko gue yang berani mencintai wanita yang tidak akan pernah bisa selesai dengan masa lalunya. Berat memang harus menjadi orang lain, tapi demi cinta gue rela deh. Toh gue yakin dengan pepatah ‘ala bisa karena biasa’ ataupun ‘witing tresno jalaran soko kulino’.
Pelan-pelan gue buat dia berpaling dan sadar betul kalau gue ini Tristan, bukan Arkana. Ada kata yang pernah gue dengar, ‘Mengalah untuk menang’ gue ngalah dulu baru pelan tapi pasti gue bakalan jadi pemenang di hatinya.
Marsya, maafin gue. Cinta memang nggak bisa dipaksain. Gue nggak bisa maksain hati gue buat cinta sama Lo. Seperti yang gue alami sekarang, gue nggak bisa maksain Qania buat cinta sama gue. Kita dalam posisi yang sama Sya. Gue tahu kok rasanya jadi elo gimana. Lo berjuang buat gue sementara gue berjuang buat Qania. Pengen gue kasih semangat sama Lo, tapi masalahnya gue yang nggak mau di kejar sama Lo. Dan jika nanti pun kita sama-sama gagal maka kita harus yakin bahwa puncak tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan. Lo ikhlasin gue dan gue ikhlasin Qania.
Kalau nanti pun kita sama-sama hancur, semoga ada jalan Tuhan buat bikin kita bahagia. Mungkin saja kelak gue yang bakalan ngejar-ngejar elo, Sya. Maafin gue ya. Maaf gue nggak bisa balas rasa Lo. Dulu mungkin ia, tapi semenjak pandangan gue teralih pada wanita itu, semua yang ada di diri gue pun ikut beralih.
Gue emang bajingan Sya, tapi gue harap Lo paham dengan kata cinta itu tidak harus memiliki. Sebesar cinta Lo ke gue, sebesar itu pula Lo harus ikhlasin gue. Begitu juga gue ke Qania. Walaupun jujur gue nggak tahu apakah gue mampu untuk menjalankan ucapan gue sendiri.
Ikhlas
Satu kata yang sangat mudah diucap namun berat untuk diterapkan. Bahkan gue nggak tahu besar mana rasa cinta gue ke Qania atau rasa ikhlas itu nanti mengingat gue bahkan udah punya niat nekat buat ngerubah identitas gue sendiri demi dia.
Gue pusing.
Gue ngantuk.
Gue pingin tidur dan melepaskan sejenak beban hati dan pikiran ini. Semoga aja besok saat mata ini terbuka kabar baiklah yang menyambut gue pertama kali.
__ADS_1
Tristan POV end