
“He-hei, cahaya apa itu?”
Rakyat mulai panik ketika mendapati cahaya yang timbul dari lingkaran sihir Maisie yang telah dibentuk. Cahaya itu bahkan bisa dilihat hingga ke dalam istana, yang juga menimbulkan pertanyaan bagi orang-orang yang sedang berdiskusi di dalamnya.
“Apa ini?! Apa yang terjadi?!” seru Hazell yang kebingungan.
Beberapa saat kemudian Alicia melihat sosok Maise dari kekuatan antingnya, lalu melihat Grimm yang melesat ke arahnya. “Oh tidak!” pekiknya, “Phantasmal itu sedang menuju ke sini!”
Ucapan itu lantas semakin memanaskan suasana.
“Ta-tapi, aku lihat ada ... Dryad yang mencoba menghadangnya. Cahaya ini adalah cahaya lingkaran sihirnya!” sambung Alicia.
“D-Dryad?!” semua orang terkejut, kecuali Ashley.
“Jadi begitu,” ujar Grand Duchess. “Mereka memainkan strategi serangan kejutan. Mereka ingin kita kewalahan, disaat mereka tahu kita sudah mengetahui jangka waktu mereka tiba ke sini....
"Eclipse, Zacht, kuingin kalian datang ke sana, bukan untuk membantu tapi untuk mengawasi.
“Dryad itu memiliki kekuatan yang berbeda level dengan kita, dan kita masih butuh kekuatan inti ini di kerajaan.” Ashley melihat Alicia, Hazell, dan Luna “Laporkan apapun yang terjadi dan pulanglah hidup-hidup!” sambung Ashley.
Eclipse dan Zacht mengangguk.
“Siap!” teriak Zacht.
“Baiklah-baiklah. Lagi pula aku sudah bertemu seseorang yang berharga bagiku di sini, jadi tak bisa kutinggalkan sendirian lagi,” jawab Eclipse.
"Ayah ... berhati-hati dan pulanglah dengan selamat!" batin Novalius. Ia memandangi kepergian ayahnya.
Tak lama kemudian mereka segera pergi dengan sihir teleportasi.
......................
Langit masih dalam kondisi perkasanya. Meskipun demikian, terik menyengat sang mentari tak memengaruhi dua makhluk sihir yang akan saling berhadapan—Grimm dan Maisie. Selama Grimm dalam perjalanannya, ia merasakan aliran tenang mana namun besar yang membuatnya merasa tidak nyaman. Ia ingin secepat mungkin menghancurkan apapun yang menjadi bentuk aliran tenang mana itu, sehingga dia memutuskan untuk melancarkan serangan saat itu juga. Ia menggunakan tangan kanan atasnya untuk membentuk piringan api biru besar lalu melemparnya begitu saja. Meski terlihat seperti asal-asalan, piringan itu tetap menuju target sang tuan.
Maisie yang berada ratusan kilometer di depannya, merasakan kedatangan serangan itu. Ia tidak tinggal diam dan menyambutnya dengan mengangkat telunjuk kirinya. Akar-akar panjang yang terbentang di bawah piringan api milik Grimm yang sedang dalam kecepatan tingginya, menyatukan diri dan meruncingkan bentuk. Akar-akar itu kemudian menusuk bagian tengah piringan hingga menghancurkannya berkeping-keping.
Grimm yang melihatnya dari belakang terhenti sesaat. “A-apa?! Dari mana sebenarnya pengguna mana ini berada? Keberadaannya pun tersebar di segala arah!” gerutunya. Urat kepala tak lama muncul, lalu ia memutuskan untuk menyerang dengan skala lebih besar. Ia memakai panah api yang digenggamnya di tangan kiri atas, setelah itu membentuk enam anak panah sekaligus di tangan kanan atas, lalu menembaknya berkal-kali dengan jumlah yang sama—yang ketika melayang, ukurannya berubah menjadi raksasa. Ia ingin dampak kehancurannya lebih besar.
“Serangan itu saja takkan bisa melampauiku!” pekik Maisie. Rasa percaya dirinya ada jauh di atas Grimm.
Tanpa mengubah dimana ia berdiri dan masih dalam posisi mengaktifkan lingkaran sihir dengan tongkat di tangan kanannya, ia mengepalkan tangan kirinya. Dari gerakan tangan itu, alam merespon kehendaknya. Semua anak panah yang ditembak itu, ditangkap oleh akar-akar yang membentuk wujudnya menjadi tangan—yang muncul dari tanah tiba-tiba—dengan ukuran yang tak kalah besar dari anak panahnya.
Kedatangan akar-akar tangan itu tentu saja membuat Grimm terkejut. “A-apa-apaan sebenarnya yang sedang kulawan ini?!” gumamnya. Tetapi, kemunculan akar itu tak membuatnya gentar. “Cih...! Tersebarlah!” pekiknya. Api anak panah itu segera menjalar ke akar-akar yang mencengkeramnya. “Fufuhahaha!” gelak tawa Grimm terdengar penuh percaya diri.
“Jangan berbesar kepala!” suara Maisie terdengar menggema oleh Grimm.
“APA?!”
Akar-akar berwujud tangan itu menyatukan diri. Api yang masih berkobar di akarnya tampak tak memberi pengaruh apapun. Proses penyatuan diri itu justru melenyapkan apinya yang kemudian menjadi wujud raksasa berkepala naga. Setelah pembentukan itu selesai, ia menyerang Grimm dengan gigitannya yang amat keras dan kuat, hingga membuat lubang di beberapa bagian tubuhnya.
“Guaakkhh!” erang Grimm. “Sialaaan! Takkan kubiarkan diriku ini langsung dikalahkan begitu saja! Aku adalah ... aku adalah Phantasmal!” Ia lalu menggunakan tombaknya untuk membakar isi mulut akar berkepala naga itu sampai setubuh-tubuhnya, meski ia juga ikut menjadi korbannya.
Maisie melepaskan cengkeraman tangan kirinya yang kini menimbulkan asap. “Cih. Tidak bisa, kah?” gumamnya. Tak lama kemudian, Zacht dan Eclipse muncul.
“Maisie, biarkan aku yang menangani ini,” kata Eclipse. Ia langsung mengeluarkan ekor dan sayapnya.
“Baiklah. Inti jiwanya ada di bagian bawah dada kirinya. Hancurkan itu lima kali lagi,” jawab Maisie.
“Lima?!”
“Dia sedang terluka. Cepatlah.”
“Kau memang luar biasa, Maisie!” Eclipse segera melesat dengan sayapnya. “Dengan waktu sesingkat ini, dia berhasil menghancurkan inti sebuah Phantasmal.... Pengawas Hutan memang
__ADS_1
benar-benar kuat!” batin Eclipse.
“Manusia!” panggil Maisie.
“I-iya?!” tanya Zacht.
“Kabarkan ke Aurora. Perintahkan Myra untuk buka segelnya. Phantasmal yang sedang kita hadapi tidak bisa menunggu sampai Zeeta datang.”
Zacht terkejut mendengarnya, tetapi ia segera melaksanakannya. Ia bertelepati dengan Ashley dan mengatakan apa yang diminta Maisie.
......................
Setelah menerima pesan dari Zacht, Ashley langsung menyampaikannya pada semua yang ada di istana.
“Segel? Apa maksudnya?” tanya Alicia, “memangnya kaupunya hal semacam itu?”
“Dengar itu, Axel?” tanya Myra, mengabaikan sang Ratu.
“Cih. Sudah ratusan tahun sejak aku serius,” jawab Axel, “jadi ingat masa-masa krisis itu.”
“Bukankah ini juga krisis? Kuharap kau siap dengan apa yang akan kautempa.”
“Yah, selama kau ada di sisiku, aku percaya dengan kemampuanku.”
Myra sedikit merona mendengarnya.
“Hei ... Myra...?” Alicia mengharapkan jawaban.
“Tidak. Kau tidak perlu tahu," jawab Myra, "Roh yang Agung, ayo ikut kami."
Luna dan Siren mengikuti Myra yang mengangkat kaki dari istana.
“Kalian juga, Bocah Tengik!” seru Axel pada Crescent Void.
“E-eh? Disaat seperti ini, mau kemana kita?” tanya Gerda.
Para Crescent Void saling bertatapan, lalu melihat ke arah Ratu. Ratu mengangguk, kemudian mereka mengekori Axel, Myra, Siren, dan Luna.
“Nah, Pangeran Klutzie, lanjutkan informasi yang terputus tadi,” pinta Ashley. “Kita tidak boleh membuang-buang waktu.”
“Aku tahu,” jawab Klutzie. Ia lanjut memberikan informasi tentang Suzy.
......................
Sementara itu di Hutan Sihir Agung, Hugo mengumpulkan para Elf di satu tempat, ditemani Reina yang mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menunduk.
“A-ada apa ini…?” tanya para Elf penasaran. “Apa ada kejadian penting lagi? Apa kita akan ikut turun melawan musuhnya Manusia?”
“Tidak ... aku takut....”
“Padahal kita baru bisa menikmati kedamaian untuk belasan tahun saja....”
“Anak-anakku!” pekik Hugo, yang langsung mengheningkan semua Elf di hadapannya.
“Selama ratusan tahun ini, kita selalu berlari dan terus berlari dari kejaran para Manusia dan makhluk sihir yang ingin membinasakan kita. Kita adalah makhluk yang terbentuk dari bersatunya mana Manusia dan Peri, sehingga membuat beberapa diantara kita kuatnya tak masuk akal.
“Ada yang kuat karena jenius, kerja keras, juga bawaan lahir.
“Hal itu terus diasah karena kita terus berada dalam pelarian. Tetapi, sejak Ratu Aurora Kesembilan Belas turun tangan untuk menyelesaikan semua masalah yang menghalangi kita untuk bebas dan justru membuat kita seolah berhutang pada Manusia, padahal selama ini kita terus diburu oleh makhluk yang sama.
“Tidakkah ini membuat kalian kesal?!”
Para Elf saling berbisik, yang rata-rata suaranya setuju. Sementara Aria, ia mengerutkan keningnya. Ia mengendus bau amis dengan pidato mendadak ini.
__ADS_1
“Aku telah memutuskan dan ini tidak boleh dibantah; para Elf tidak akan membantu Manusia-Manusia itu.
“Ya, memang kita sedang menaungi seorang Manusia di sini, tetapi aku ragu dia sanggup berhasil.
“Bahkan jika dia mati bersama Ozy, dunia ini akan segera damai, apapun masalah yang akan datang ke depannya.”
Ucapan itu memantik emosi Aria, tetapi ia masih menahannya.
“Latihan yang sedang ia jalani dengan Raksasa itu tidak mungkin dicapainya. Nyawanya sendiri adalah taruhannya, dan aku tahu dia pasti gagal.
“Aku tidak ingin keluargaku—kalian semua tewas karena pertikaian antar Manusia yang tidak ada hubungannya dengan kalian. Aku tidak ingin kehilangan kalian, sama seperti aku kehilangan Lucy dan Jewel.”
Para Elf hening. Mereka tak sanggup bicara jika Hugo sudah menyebut dua nama itu.
"Hei," bisik Jourgan pada dua saudarinya, "ada yang aneh dari Tetua."
"Aku tahu," jawab Mintia.
"Aliran mana-nya tidak stabil. Dia menyembunyikan sesuatu," jawab Serina.
"Sebaiknya kita diam saja terlebih dahulu," saran Jourgan. Kedua saudarinya mengangguk.
“Aku membawa Reina karena aku ingin kalian tahu, bahwa saat ini, dialah yang paling berpengaruh bagi Grandtopia, dan aku hendak menjadikannya calon Tetua!" seru Hugo dengan penuh gelegar.
“A-apa?!” semua Elf baru terkejut. Tidak terkecuali Aria dan Volten Sisters.
“Aku tidak pernah melepaskan mata dari kalian. Aku selalu menjaga dan memperhatikan kalian.
“Reina adalah Elf yang bisa berkomunikasi—telah banyak mengetahui bagaimana cara Hutan Sihir Agung dan Grandtopia ini melindungi kita—tanpa aku harus membocorkannya.
“Ia adalah kandidat utama dan aku tidak ingin dia terlibat dengan Manusia lebih jauh lagi. Aku akan mengawasinya secara langsung untuk membentuknya menjadi Tetua yang pantas dan ini juga tidak boleh dibantah.”
“Yah, tapi aku ingin membantahnya!” pekik Aria. Hugo segera mengernyitkan matanya tajam pada Aria. Bantahan Aria juga membuat Volten Sisters dan Reina terkejut dan memusatkan mata padanya.
“Apapun yang Anda katakan saat ini berbeda seratus delapan puluh derajat dari apa yang Anda katakan saat aku dan Ozy bersama dengan Zeeta!
“Baru satu setengah jam berlalu sejak saat itu, tetapi apa maksud semua ini?!
“Aku tahu ini sensitif terhadapmu, tetapi Lucy—saudarimu meninggal karena Anda tak mampu melindunginya dan hanya meringkuk ketakutan!
“Apakah kejadian masa lalu itu ingin Anda ulangi lagi,
Tetua?!”
Aura ungu kehitaman muncul di sekeliling Hugo. “Tahu apa kau soal masa laluku…?”
Aria tiba-tiba terangkat dari tanah, napasnya pun sesak. Ia seperti dicekik oleh sesuatu yang tak terlihat.
“Aku ... tahu! Aku tahu ... semuanya! Kalau Anda memang ... tak pernah melepaskan mata ... dari kami ..., seharusnya Anda tahu dari siapa aku me... mengetahui ini!
“Elf tidak boleh ... terus-terusan ketakutan dibalik lindungan Lucy—tidak ... Mary!
"Elf sudah harus bisa berdiri ... dengan kakinya sendiri!
"Tidakkah Anda paham itu?!
“Kesempatan kita untuk membuktikan ... beradaptasi ... dan ... hidup tanpa ketakutan adalah saat ini! Kenapa Anda ... justru membuangnya?!
"Apa itu karena ... Anda ketakutan?!”
Para Elf tak mengerti apa yang Aria katakan dan mereka benar-benar terlihat takut dengan perdebatan yang baru kali pertama terjadi selama ratusan tahun.
Volten Sisters saling menatap lalu mengangguk. Mereka hendak berbuat sesuatu.
__ADS_1
Hugo menghilangkan auranya dan Aria kembali bernapas biasa setelah batuk beberapa kali. “Keputusanku bulat. Para Elf tidak boleh ikut campur.” Hugo meninggalkan kerumunan.
Reina yang jelas mengetahui sesuatu, tak mampu mengucapkan sepatah kata. Ia hanya mampu mengepalkan tangan dan membatin, “ini demi yang terbaik!”