
Tellaura datang menghadap Ratu Peri Feline setelah diantar Morgan. Mereka berdua sampai di singgasana sang ratu yang terbentuk dari akar pohon yang saling melilit satu sama lain. Di akar tersebut—di bagian tengahnya—terdapat semacam jamur bersinar sewarna dengan rambut dan butiran mana yang terjatuh dari kepakan sayapnya—merah muda. Jamur tersebut berguna sebagai kursi singgasananya.
Sementara itu, kedatangan Morgan yang membawa seorang manusia, diberikan respon bermacam-macam dari penduduknya. Ada yang penasaran, benci, bingung, marah, dan lain sebagainya. Mereka menyaksikan dari kejauhan—dari pohon-pohon di sekitaran singgasana sang ratu. Bagaimanapun juga, pohon-pohon tersebut adalah rumah mereka sendiri.
Bereaksi terhadap kedatangan gadis keturunan bulan di hadapannya tersebut, sang ratu menyeringai. “Hutan ini terhubung denganku,” ujarnya, “negosiasi katamu? Memangnya apa yang bisa kautawarkan untukku—tidak—untuk kami semua, Peri yang memiliki kekuatan lebih diatasmu?”
Membalas seringai Feline, Tellaura menunjukkan anting bulan yang sudah memerah. “Kesenangan serta kepuasan kalian ketika melihat Manusia yang kalian usik sengsara, menderita, dan menjerit kesakitan, aku tidak bisa memahaminya, tetapi itulah yang kutawarkan untukmu.”
“Ho? Coba katakanlah lebih rinci.”
“Aku ingin mengubah waskita pohon yang ditunjukkan oleh anting ini.”
“Yggdrasil? Kau pun diberi penglihatan olehnya?”
“Aku sadar diri bahwa aku masihlah baru dalam hal sihir-sihir ini. Melihat rambutku berubah begini, sejujurnya aku panik, tetapi....
“Aku ingin kau membantuku untuk mengubah waskita itu.”
“Contohnya?”
“Aku tidak tahu secara detail bagaimana dulunya Manusia bisa bersihir. Sementara itu, aku tidak memiliki waktu banyak untuk mendengarkanmu mendongeng tentang yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Juga, aku tidak begitu yakin setelah semua yang kaurencanakan pada adikku, kau berkenan untuk memberitahukannya.
“Jadi, aku akan mengutuk dunia ini agar bisa bersihir lagi.”
Feline menunduk. “Fufufu... huhuhahahahaha!
“Kenapa kausebut itu kutukan, Laura? Bukankah sudah pernah kubilang, kalau sihir itu merupakan kekuatan yang bisa mewujudkan segalanya?”
“Ya, kau benar. Tapi sihir tidak bisa mewujudkan kebahagiaan. Setidaknya untukku.
“Dan menurutku, perasaanku terhadap sihir ini, mungkin terbesit juga oleh siapapun leluhurku yang bisa menghapus keberadaan sihir dari umat Manusia. Oleh karena itu, kusebut ini sebagai kutukan.
“Aku akan membawa kesengsaraan yang lebih parah bagi Manusia.”
Feline menyeringai. “Apa kauyakin? Bukankah kau tidak ingin disebut-sebut lagi sebagai monster?”
Tellaura tersenyum lembut. “Aku sudah akan menemui ajalku. Untuk apa aku berisik tentang itu lagi?
“Bersepakatlah denganku, Feline. Dengan tawaranku itu, aku ingin kau membantu adikku menyelesaikan semua masalahnya. Aku pun tak keberatan bila kau menyisipkan lagi kesengsaraan bagi keluarganya.”
“Fuhahahahaha!
“Jenaka sekali kau ini, Laura!”
Seisi Hutan Peri menertawakan gadis keturunan bulan itu.
“Ya, tertawalah selagi kalian bisa. Aku tidak keberatan. Karena aku yakin, seberat apapun rintangan yang kalian coba beri untuk keluarganya, nyala api dariku, takkan pernah padam. Dan pada suatu hari nanti....”
‘BWHAAMM!’
Tellaura membakar sebuah pohon dengan cambuk api yang tercipta dari tangan kirinya, lalu segera menumbangkannya. Beberapa Peri terbang keluar dari sana. “Apa kau sudah gila, Manusia?!” jerit mereka.
“Suatu hari nanti, kalian akan hancur oleh salah satu keturunannya, kemudian kalian akan berubah.” Tellaura melanjutkan ucapannya, sambil melukis seuntai senyuman.
“Dan bagaimana bila kami mengkhianati janji itu? Kau bahkan mengatakan sebentar lagi akan mati. Bagaimana kami bisa terus menepati janji bila kau—“
“Apa kau tidak melihat ini daritadi?” Tellaura menggoyangkan anting bulannya.
“Ja-jangan-jangan...?! Kau menggunakan Seele sebagai saksi, jadi bila kami mengkhianatimu, maka bulan akan—“
Tellaura tersenyum lebar. “Syukurlah kau paham. Begini-begini, meskipun hanya diperlihatkan beberapa hal tentang masa lalu, aku bisa cukup paham tentang hubungan kalian, dan mengapa kalian begitu menakuti Manusia-Manusia yang mewarisi kekuatan bulan.”
Morgan menghampiri Feline, seraya menjerit, “Jangan termakan tipuannya, Feline! Orang ini sudah merencanakan semuanya agar bisa sejalan dengan rencananya saja! Dia sama sekali tidak berniat untuk membuat kita—“
“Diamlah, Morgan. Kau yang belum mekar saat kejadian itu, takkan mengerti rasa marah terhadap mereka yang mewarisi kekuatan bulan. Bila kita memiliki kesempatan lebih besar untuk menghancurkan mereka, maka....
“Baiklah, Tellaura. Kuterima negosiasinya.”
‘FWSSSHH!’
Anting bulan yang memerah itu menghempaskan angin kencang. Perlahan-lahan, warna merah yang berasal dari darah Tellaura, seakan terhisap ke tengah-tengah antingnya, lalu lenyap dan berakhir dengan pecahnya anting tersebut. Bulan “palsu” yang sebelumnya menjadi pemandangan horor bagi banyak orang pun ikut senyap.
__ADS_1
“Sekarang, izinkan aku pergi dari sini, Ratu Peri.” Meski tahu dalang utama yang menyebabkan adiknya mengalami hal mengerikan sebelumnya, Tellaura masih bisa menundukkan kepala sebagai bentuk hormatnya. Sang ratu sendiri, yang tidak mengerti itu bahkan setelah hidup ribuan tahun, memutuskan untuk bertanya.
“Tunggu, sebelum kau pergi, kenapa kau menundukkan kepalamu padaku? Kautahu kalau kami yang merencanakan semua yang terjadi pada adikmu, bukan?”
“Sederhana sekali jawabannya, Ratu.
“Mau bagaimanapun juga, kaulah yang mengajariku sihir. Sehingga, bisa dianggap kesepakatan ini pun takkan terjadi bila kau tidak memutuskan untuk menipuku dan adikku.” Tellaura lalu pergi meninggalkan Feline yang bergidik kesal.
“Morgan, semuanya!” jerit Feline, setelah Tellaura pergi jauh dengan terbang ke tengah-tengah para penduduknya di sana, “sebagai kewaspadaan kita dimana hari hancur yang dikatakannya itu tiba, buatlah cadangan mana yang berguna untuk memulihkan diri kita sendiri. Kumpulkan mana dari alam sekitar, entah seberapa banyak waktu yang dibutuhkan, dan tak peduli seberapa banyak Peri yang mekar.
“Kita harus pintar dalam menghadapi dan mengusik Manusia mulai dari sekarang. Kalian mengerti?!”
“Siap, Ratu!” balas para penduduknya bersamaan.
......................
Sementara itu, Hilma sudah sampai di istana dan Clarissa sedang diberi perawatan total yang lebih dari cukup dari para tabib. Disaat gadis berambut ungu terlelap, sang pembunuh bayaran yang telah berbelok arah menjadi pelayan keluarga kerajaan itu menceritakan apa yang terjadi pada Clarissa.
“APA KATAMU?!” teriak Leon amat sangat lantang, hingga membuat sang pelayan pribadinya itu benar-benar terkejut. Dia tidak pernah melihat tuannya semarah itu sebelumnya. “Sigurd telah melakukan itu pada Clarissa?!
“Tapi, apa Risa baik-baik saja?! Apa dia terluka?!”
“So-soal itu, dia baik-baik saja. Tetapi, sayangnya... aku benci mengatakannya, Pangeran....”
“Apa? Katakanlah padaku, Hilma!”
“Clarissa itu kemungkinan besar akan mengandung salah satu anak dari para lelaki itu.” Amanda, sang ratu kedelapan bersuara.
“A-apa...?” tatapan keputusasaan tampak sekali di wajah sang pangeran. “Ti-tidak bisakah kita lakukan sesuatu pada itu?”
“Tidak mungkin.” Sang raja ikut bersuara. “Kalau begini, kita tidak bisa menaikkan derajatnya sebagai anggota keluarga kerajaan.
“Bahkan jika kita tetap memaksanya menaikkan derajatnya, itu tidak akan berakhir baik untuknya sendiri. Di sekelilingnya hanya akan ada kebencian—takkan ada yang berubah dari hidupnya.”
“SIAL!”
Melihat Leon semarah itu untuk Clarissa, di dalam benak Hilma, dia tidak menyukainya. Iapun mencengkeram erat kedua tangannya untuk menekan emosinya, dan tangis yang sebenarnya ingin tumpah saat itu juga.
“Apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuknya, Paduka Raja, Paduka Ratu?" tanya Leon, "
Amanda dan Gerard menggelengkan kepala.
“Ti-tidak mungkin….”
“Ada, Yang Mulia, hanya saja, ini adalah sesuatu yang tidak boleh diketahui bangsawan lain dan merupakan hal yang terlarang.”
Amanda dan Gerard mengernyitkan kening. “Tabib saja enggan melakukannya, memang kaubisa melakukannya?” tanya Amanda.
“Apa Anda sudah lupa latar belakang saya, Paduka Ratu? Saya adalah anak dari mantan bangsawan yang pernah menangani obat-obatan.”
“Se-sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” tanya Leon.
“Aborsi, Putraku,” jawab Amanda. “Kita akan menggugurkan kandungan Clarissa sebelum terlambat.”
“Bukankah itu adalah hal tabu, Yang Mulia?”
“Jangan banyak mengeluh disaat kita terpojok begini! Jadilah Pangeran yang bisa memutuskan dengan bijaksana meskipun situasinya tidak menguntungkan seperti ini! Aku kecewa padamu!”
“Ma-maafkan aku, Yang Mulia!” Leon segera bertekuk lutut di hadapan kedua orang tuanya.
“Hilma, aku tahu kau lelah, tetapi kuingin kau segera kumpulkan bahan-bahannya.”
“Dimengerti, Yang Mulia.” Hilma kemudian pergi dari ruang takhta.
Amanda dan Gerard memandangi dalam diam Leon yang masih bertekuk lutut.
“Apa lagi yang kauinginkan, Leon?” tanya Amanda.
“Izinkan aku menemui Clarissa, Ibunda.”
“Untuk apa kau meminta izin untuk hal seperti itu? Kaulah yang memutuskan untuk membantu mereka. Pergilah.”
__ADS_1
“Terima kasih, Ibunda!” Leon segera tergesa-gesa keluar dari ruang takhta.
“Haaaahh~” Amanda menghembus napas berat. “Desa itu desa iblis atau apa? Bisa-bisanya mereka tega melakukan hal sekeji itu.”
“Sebelum aku mengetahui Tellaura dan Clarissa,” balas Gerard, “aku memang selalu menganggap rakyat jelata hanyalah orang biasa yang ada hanya untuk diperintah, tetapi... aku harus membenahi diriku lebih banyak.”
“Begitupun denganku.
“Aku tak peduli dengan ucapan bangsawan lain yang menolak perubahan desa itu, pokoknya aku akan mengubah tatanan kerajaan ini supaya lebih bisa diawasi dan rakyatku bisa hidup dengan tenang!”
“Aku akan membantumu.”
“Terima kasih.” Amanda tersenyum. “Aku akan membutuhkannya.”
......................
Sementara Hilma meluangkan waktunya untuk menangis tersedu-sedu dan sekeras-kerasnya di dalam ruang yang isinya herbal-herbal, fajar menyingsing dan Leon masuk ke dalam ruang dimana Clarissa sebelumnya terlelap.
‘Tok tok tok’
Leon mengetuk pintu, jaga-jaga siapa tahu di dalam Clarissa sudah siuman. Tapi tak ada jawaban dari dalam, sehingga ia bilang, “Risa, ini aku. Aku masuk, ya.”
Leon mendapati Clarissa yang tengah memandangi pintu-jendela dengan tatapan yang sedih, sambil duduk di ujung kasur. “Aku lagi-lagi membuat kakakku menderita,” kata Clarissa tiba-tiba. “Kupikir, aku akan menyusulnya saja setelah ini.”
“A-apa yang kaubicarakan?! Kenapa mendadak—“
“Aku tahu apa yang dipikirkan kakak. Dia ingin aku hidup, sementara dia ingin mengakhiri hidupnya dengan alasan sudah lelah dengan dunia ini.
“Apa dia kira hanya dia yang lelah? Aku pun sama!
“Bila kakak tidak ada, bagaimana bisa aku melanjutkan hidup?! Terlebih, aku sudah... sudah ternodai!”
‘bruk’
Leon memeluk Clarissa dari belakang. “Kumohon, jangan katakan itu, Risa. Apakah aku dan Hilma tidak bisa kaupercayai? Aku ingin kau hidup. Kuyakin, Hilma pun begitu. Bila kakakmu adalah alasanmu hidup, maka alasanku hidup adalah dirimu.”
“E-eh?! A-apa yang Anda katakan disaat seperti ini?!”
“Disaat pertama kali kumelihatmu, aku merasa hatiku sesak. Wajahku panas. Tanganku pun bergemetar. Aku tak sanggup melawan keinginanku untuk terus menatap matamu yang indah bagaikan bunga lavender yang kucintai.
“Aku ingin melindungimu. Aku sudah tahu kejadian apa yang menimpamu, tetapi itu tidak mengubah perasaan ini padamu.”
Tanpa bisa dilihat Leon, wajah Clarissa merona. Mulutnya bergemetar, tidak bisa mengatakan kata-kata sebagaimana mestinya.
Namun, disaat itu, dari depan mata dimana terlihat fajar sedang naik perlahan untuk menghangatkan Bumi, kilauan merah memancing perhatian keduanya. Tepat setelah itu, terdengar suara Tellaura. “Dengarlah, wahai penduduk Bumi!”
“I-ini suara kakak?!” Clarissa segera terbangun dari duduknya, lalu membuka jendela. Dari kejauhan, dia seakan melihat kakaknya terbang di udara. “Kakak... apa yang ingin kaulakukan...?” gumamnya.
Leon menyusul Clarissa. “Aku juga mendengar suara Laura. Apa ini juga sihirnya...?”
“Mungkin....”
“Kuyakin kalian telah melihat bulan merah yang menyinari malam nyaris semalaman. Jika kalian ketakutan, maka itu adalah jawaban yang benar.
“Sebab itu adalah... ritualku untuk mengutuk kalian!”
“Me-mengutuk?!” Leon dan Clarissa terkejut. Rakyat di belahan dunia lain juga ikut terkejut.
“Aku adalah seorang Penyihir yang selalu bersabar dan menyembunyikan diri dari kalian, para Manusia! Namun, kesabaranku mencapai puncaknya ketika kalian merusak kedamaianku.
“Aku tidak peduli jika kalian merasa tidak ada sangkut pautnya dengan amarahku ini, namun kalian adalah sesama Manusia. Meskipun kalian berbeda orang, akar kalian adalah sama. Mau kapan itu zamannya, kalian selalu membenci, merusak, dan berperang.
“Aku akan mengutuk kalian agar bisa bersihir.
“Kutukan ini akan membuat hidup biasa kalian menjadi terbalik tiga ratus enam puluh derajat dan ketahuilah bahwa sihir ini bisa membuat kalian mati.
“Suka atau tidak, kalian akan selalu hidup bersama dengan sihir. Mendekatlah pada kehancuran, sebrangilah kebahagiaan.”
‘PWOOMM!’
Sinar merah tampak berkilauan dari arah matahari. Semua makhluk yang ada di Bumi menyaksikannya. Manusia-manusia yang mendengar semua itu panik dan ketakutan, namun banyak juga yang pasrah.
__ADS_1
Sementara itu, Tellaura sendiri yang sedang mengutuk dunia, seperti katanya yang akan mengganti nyawanya sendiri, dimulai dari kaki menuju kepala, lenyap menjadi butiran-butiran mana. Butiran-butiran tersebut tersebar oleh angin ke segala penjuru dunia.
Begitulah, awal dari legenda kutukan Penyihir yang terus diceritakan turun temurun....