
Rumah sakit Guinerva, rumah sakit pusat yang sebelumnya hanya melayani bangsawan, menjadi rumah sementara untuk yang terluka oleh serangan dadakan Azure. Mereka yang terluka parah dikumpulkan di satu ruangan, termasuk Marcus yang kini tengah tak sadarkan diri dan sedang didampingi Colette, serta Danny yang berkondisi serupa dengan sang kapten, didampingi oleh Gerda yang setia di sisinya.
Azure tidak memberitahu siapapun bahwa dalam kondisi mereka yang tak sadarkan diri karena terluka parah, dialah yang menyembuhkan mereka dengan sihir kegelapannya. Ia men-summon slime gelap ke masing-masing orang, yang kemudian melahap mereka dan segera memuntahkannya lagi dalam kondisi sedia kala. Semua itu hanya disaksikan oleh sang Ratu, Alicia Aurora XX, dan sang Grand Duchess Ashley Alexandrita XIX yang berlangsung dalam waktu tidak lebih dari lima menit dari keseluruhan korban berjumlah seratus dua puluh orang. Alicia sendiri bahkan tak percaya kemampuan Azure yang sekarang mampu membuatnya menganga, sementara Ashley menanggapinya hanya dengan menyilang tangan dan memejamkan mata, seolah ia tidak begitu terkejut.
......................
Waktu pun tak terasa telah melayang, Hazell memanggil para bangsawan utama, Crescent Void yang terdiri dari Mellynda dan Novalius, termasuk sang istri tercintanya, dan Azure yang tidak ingin menunjukkan dirinya di depan salah satu temannya, Mellynda. Azure mendengarkan pembicaraan mereka dengan alat sadap sihir buatannya sendiri. Tempat mereka dipanggil adalah kediaman Levant yang berada di pulau layang.
Setelah mempersilakan duduk para tamunya di ruang tamu kediaman, bukan Hazell yang bicara setelah memanggil semua orang itu, namun Lowèn Levant sebagai kepala keluarga, menggantikan Hazell yang secara teknis bukan lagi seorang Levant. Ia mengungkap alasan mengapa selama kejadian besar yang terjadi beberapa tahun terakhir, Levant tidak pernah turun tangan, kecuali ketika istana kerajaan dililit oleh sihir gabungan Hazell dan Alicia.
"Aku mengecualikan Grand Duchess Ashley yang dari wajahnya tampak sudah mengetahui maksud Kakakku memanggil kalian, juga Kakak Iparku Alicia, tetapi ini adalah hal yang sangat penting. Kuingin kalian mendengarkanku baik-baik.
"Ini berkenaan dengan asal mula terbentuknya Aurora."
Semua mata bangsawan menyipit ketika mendengarnya.
"Ayahku memutuskan untuk melanggar sumpahnya sebagai seorang Levant, yang berisi tentang larangan memberi bantuan perlindungan dalam bentuk apapun terhadap kerajaan, karena sihir kami yang bersifat kebalikannya."
Masing-masing dari bangsawan yang tidak mengetahui apa maksud panggilan Hazell pun mengingat kembali seperti apa sihir dari garis keturunan Levant itu. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk berkeringat.
"Tampaknya kalian sudah paham. Kulanjutkan, hasil dari pelanggaran itu membuat ayahku tidak bisa lagi menggunakan sihirnya sama sekali.
"Dengan kata lain....
"Membuatnya jadi manusia biasa."
"Apa?! Bagaimana bisa...?" tanya Hellenia yang kaget.
Lowèn bangun dari duduknya lalu menunjukkan punggungnya. "Aku akan menunjukkan kalian sesuatu," ujarnya, yang kemudian melepas mantel ber-emblem matahari tersebut, dilanjutkan dengan kemejanya. Ketika dirinya telah melepas dan menunjukkan apa yang ada di balik kemejanya, para bangsawan dan Crescent Void dibuat terkejut sekali lagi.
"Apa-apaan tanda itu, Tuan Lowèn...?" tanya Porte, yang berpeluh di keningnya.
Lowèn menunjukkan tanda kehitaman yang melapisi keseluruhan punggungnya yang berotot. Tanda itu berbentuk seperti matahari hitam dengan sinar cahayanya yang berpola seperti duri tajam. "Ini adalah tanda kutukan," jawabnya.
"Kutukan?!" semua orang kecuali Ashley dan Alicia kaget.
"Lowèn! Jangan ungkapkannya seperti itu!" sanggah Hazell.
"Pada akhirnya, kau merasakan hal yang sama denganku, Kak. Mau disebut tanda pengikat atau kutukan, kami jadi tidak bisa melindungi orang-orang yang berharga untuk kami.
"Yah, tidak perlu ditutup-tutupi lagi, orang berharga itu adalah Zeeta."
Lowèn memakai pakaiannya kembali. "Tanda ini akan muncul pada keturunan Levant saat usia mereka menginjak dua belas tahun. Di usia itu, senang atau tidak, kami mendapatkannya begitu saja.
"Kesenangan anak-anakku berlatih dengan kakek dan neneknya, atau Zeeta sendiri, semua itu tak akan begitu berguna setelah mereka sudah bisa menguasai kekuatan masing-masing."
"Eh...?" Zacht tampak tidak mengerti akan suatu hal. "Jika begitu, kenapa Yang Mulia Raja tidak kehilangan kekuatan sihirnya? Apa itu karena Anda bukan bagian dari Levant lagi?"
"Kau benar," jawab Hazell, "tanda itu hilang begitu aku mewarisi nama Aurora."
"Lalu, Tuan Lowèn," kata Hellenia, "apa hubungan Levant dengan asal mula Aurora?"
"Soal itu...." Lowèn kemudian menjelaskannya hingga matahari terbenam....
......................
Azure yang selama nyaris tiga jam duduk di atap rumah, turun dengan langkah sunyi dibantu sihir kegelapannya pada kaki.
__ADS_1
"Siapa yang menyangka semua fakta itu...," batin Azure memejamkan mata dan meregangkan tubuhnya.
Tiba-tiba....
Deru angin dingin meniup kencang tubuh Azure, dengan kebetulan "membawakan pesan" jika mana Zeeta mendadak turun dengan cepat. Azure terbelalak dan bergemetar hebat. Bersamaan dengan gemetarnya Azure, kondisi di dalam rumah pun heboh.
"HEI, APA KALIAN MERASAKANNYA?" tanya Lowèn sambil membanting meja, membuat panik seisi ruangan.
"Kaupikir kami tidak peka? Yang kita bicarakan adalah putriku," timpal Hazell. Ia menggoyangkan kaki kanannya, menandakan ia sama sekali tidak tenang.
Bungkam terjadi sesaat, mereka perlahan merasakan bahwa penurunan jumlah mana Zeeta tidak menunjukkan adanya tanda akan berhenti. Hal itu lantas membuat semua orang semakin dibuat panik.
"Hei hei hei, apa yang terjadi sebenarnya...?! Kita harus segera—" Lowèn ditahan tangannya oleh Hazell.
"Tidak. Kau harus tetap di sini! Apapun yang kaukatakan, kau tetap penting bagi kerajaan. Kau adalah Levant!
"Hellenia, Porte, Nyonya Ashley, bisakah kali—"
'BRAKKK!'
Azure mendobrak jendela. "Jangan pergi!" teriaknya.
"Eh, Kak Azure?! Kenapa kau ada di sini?!" Mellynda terkejut bukan main.
Mengacangi rasa kaget Mellynda, Azure melanjutkan kalimatnya. "Biar aku yang menyusulnya! Jika... jika Zeeta masih bisa diselamatkan dan dia melihat salah satu dari kalian...." Dia tidak bisa melanjutkan kata-kata khusus itu. "Siapa yang bisa tahu apa yang terjadi selanjutnya padanya... apa aku benar?"
Lowèn tahu tentang masalah Azure dan Karim, tetapi ia berwajah polos. Ia menyerahkan segala keputusan pada sang Raja atau Ratu.
"Alicia, Hazell, aku setuju dengannya," ucap Ashley, "tetapi biarkan aku ikut dengannya."
"Terima kasih, Yang Mulia." Ashley segera menghampiri Azure, yang kemudian memindahkan diri dengan sihir portal.
......................
Sementara itu di Nebula, Luna sang Roh Yggdrasil terus berusaha melindungi Zeeta yang tak sadarkan diri, namun sayangnya, dia justru dalam kondisi bobrok dan terengah dalam mode setengah-manusianya.
"Hentikanlah, Roh Yggdrasil. Kau hanyalah sebuah serpihan pohon. Kau takkan mampu mengalahkanku," ujar Pria Berpakaian Serba Hitam.
Lucy hanya memandangi "aksi hiburan" itu sambil tersenyum, tanpa turun tangan sedikit pun.
"Kenapa...? Kenapa aku bisa kalah...? Aku adalah Roh Yggdrasil! Yggdrasil tidak mungkin kalah dari makhluk apapun!" batin Luna.
'SWISH!'
Si Pria muncul tiba-tiba di hadapan Luna. "Dengarlah jika seseorang berbicara. Kau hanyalah serpihan, jangan sombong hanya karena itu!" ia menjotos wajah Luna hingga membuatnya terpental dan mimisan.
Mengabaikan kondisinya sendiri, Luna lebih mengkhawatirkan Zeeta yang daya hidupnya terus saja melemah. "Jika aku tidak segera melakukan sesuatu, Zeeta bisa....
"Gghh!!"
Luna menggertak gigi. Ia lalu merapatkan kedua telapak tangannya. Muncullah angin tornado yang menjebak Si Pria di tengah-tengahnya. Luna kemudian mengubahnya menjadi angin api.
"Fyuuh, panasnya! Sudah kuduga dari Roh, dia memang hebat!" Lucy terpaksa menjauh dari tornado api itu.
Ia mencengkeram tangan kirinya untuk terus mengaktifkan tornadonya, lalu ia memutar-mutar telunjuk kirinya untuk membuat serpihan salju. Begitu terlihat banyaknya salju, ia melepas tangan kiri, lalu menurunkan telunjuknya—seakan mengarahkan salju itu pada target. Salju-salju itu kemudian berubah menjadi icicle yang tak terhitung jumlahnya, menusuk kemana telunjuk itu mengarah. Tangan kirinya tidak berhenti, ia melambaikannya ke atas, mendatangkan asap dingin bernyawa nitrogen.
Seluruh serangan yang dilancarkan Luna membuat pulau bangsawan ini tidak henti-hentinya bergemuruh dan mendatangkan bunyi dentuman yang akan membuat siapapun terganggu.
__ADS_1
"Haaah.... Haahh.... Haaahh...." Luna mengeluarkan seluruh yang dirinya bisa di kondisinya sekarang. Sambil berjalan gontai, ia menghampiri Zeeta, lalu menyembuhkan luka lubang Zeeta yang ter-pending.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati, Zeeta! Kau adalah harapan dunia ini!"
.
.
.
.
"HARAPAN?!"
Suara lantang menghentikan tangan Luna. "Cih, yang benar saja!"
"Penjahat itu kauanggap sebagai harapan, Roh Yggdrasil?!
"Apakah dunia ini telah terlalu memengaruhimu untuk bersimpati padanya?! Kau seharusnya tahu alasanku menyebutnya penjahat!
"Keadilanku seharusnya kaurasakan jika kau benar-benar Roh Yggdrasil!"
Luna berdiri, membelakangi Zeeta. Ia tiba-tiba mengingat seluruh perjuangan Zeeta dari ia di desa Lazuli hingga ke titik ia berada sekarang.
"Aku sudah mengawasimu sejak lama, Zeeta. Dan aku tahu seberapa keras dan berdarahnya dirimu hingga kau mampu berada di titik dimana kaubisa menggunakan Rune.
"Perjuanganmu sama sekali tidak mudah. Tanggung jawabmu tidaklah sederhana, bebanmu juga tidaklah ringan. Selama ingatanku mampu mengingatnya, tiada Manusia yang bisa sejauh seperti dirimu.
"Aku tahu kau dibantu oleh banyak orang untuk ke titik ini, tetapi itulah nilai berharga mengapa Manusia tidak bisa begitu saja punah dari dunia ini.
"Keberadaanmu adalah titik penting seperti apa nasib dunia ini akan berakhir. Walau nyawaku adalah bayarannya, aku pasti akan...!"
.
.
.
.
"Maaf, ya, Zee... aku harus melindungimu dulu. Setidaknya luka itu telah menutup sedikit.... Tenang saja, aku pasti melindungimu...," bisik Luna.
.
.
.
.
"Hmph!" seru Luna dengan tatapan marah, "apa peduliku terhadap keadilan bodohmu itu?!"
Urat kepala timbul di Pria itu.
'ZRRYAAT!'
Luna terdorong oleh sesuatu hingga tubuhnya melayang. Ia memuntahkan darah di sebuah gundukan runcing, yang perlahan disadarinya bahwa itu telah menembus perutnya. "Hahahah... si... al...."
__ADS_1