
[POV Klutzie.]
"Kerajaan Nebula hanyalah kerajaan yang tidak terlalu besar atau kecil dibanding dengan kerajaan lain. Setelah lahirnya Nebula dari bergabungnya kerajaan Southern Flare dan kerajaan Gala, Raja Eizen Gustav de Gala XXX dan Ratunya Maayaford Southern Flare XXVII—ayah dan ibuku—selalu berjuang demi rakyat mereka.
"Ibuku adalah orang yang penyayang terhadap keluarganya dan selalu bijak pada rakyatnya. Meski pada akhirnya dia jatuh sakit setelah kakakku Suzy meledakkan Laboratorium Demolish. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya sakit... hingga beberapa saat yang lalu....
"Sejak kejadian itu, ayahku yang sebelumnya selalu menyisihkan waktu setidaknya satu jam untuk keluarga, semakin jauh dari kami. Hanya tinggal kakak dan diriku seorang yang erat dan tidak pernah pergi jauh.
"Jika... sejak kejadian ledakan itu Jewel sudah merasuki tubuh kakakku, berarti semua yang terjadi sejak saat itu—bahkan kematian ibuku... semua karenanya...? Karena alasan seperti itu dia merebut satu per satu orang yang berharga untukku?
"Tidak ada gunanya dipikirkan. Rasa amarah yang telah meluap ini tak bisa terpuaskan jika aku tidak membuatnya babak belur seperti enam setengah tahun lalu.
"Kak Suzy... bertahanlah!"
......................
Ledakan pilar biru menyusut, menampakkan Suzy— yang menurut Klutzie telah dirasuki oleh Jewel—seorang Elf, saudari tertua dari Hugo, anak dari Mariana. Ia menyipitkan matanya ketika melihat Klutzie yang tubuhnya terlapisi oleh semacam aura berbentuk api biru hingga bagian telinga kiri dan merambat ke mata kirinya. Mata kiri itu bersinar hijau, rambutnya melawan gravitasi dan sedikit memantulkan cahaya biru dari aura itu. Klutzie menarik pedangnya. Bilahnya yang keluar dari sarung telah terlapisi oleh aura yang sama. Melihat ini, Jewel menyeringai.
Terowongan bawah tanah sudah bukan terowongan lagi. Langit gelap berbadai api dan petir menyambut keduanya. Namun, mereka tetap fokus pada masing-masing, mengabaikan situasi di sekitar yang dapat dibilang sangat berbahaya.
"Sudah kukatakan, kau tak mungkin mau melukai tubuh kakakmu ini! Apapun yang kaulakukan dengan wujud itu, tak akan ada gunanya jika kau tak mengenai tubuh ini!" seru Jewel, ketika dirinya melihat Klutzie.
Tanpa membalas kata-katanya, Klutzie berjalan mendekatinya. Dia memegang posisi gagang pedangnya untuk menebas sosok di hadapannya. "Aku adalah Pangeran Nebula pertama. Demi keberlangsungan kerajaan—orang-orangku—setelah enam setengah tahun ini... aku akan menebasmu!"
Melihat dari tatapan matanya, Jewel tahu Klutzie serius. Iapun meladeninya. Ia mengambil jarak beberapa langkah ke belakang, kemudian memunculkan suatu bola bersinar yang berwarna merah, hijau, biru, kuning, dan hitam yang berkumpul layaknya lingkaran di belakang tubuhnya.
Menyadari apa bola-bola itu, Klutzie mengambil langkah pertama menyerang. Dengan kecepatannya yang menimbulkan api menjalar di tanah....
'ZRRSHT!''
Pedang berselimutkan aura api biru itu menembus perut Jewel. Darah menciprat dari depan dan belakang lukanya. "Brghk!" mulutnya juga sama. Tubuh dan pipi Klutzie sedikit terkena cipratannya.
__ADS_1
Kala itu, Klutzie mendengar suara Suzy yang mengucapkan, "Selamatkanlah aku dengan membunuhku, Klutzie!" yang membuat dirinya terbelalak.
Namun, Jewel tidak diam saja setelah menerima serangan Klutzie. Ia mencengkeram tangan yang memegang pedang, kemudian menyerang Klutzie dengan bola-bola merah dan biru. Dari depan dua bola tersebut, muncul icicle yang berputar cepat layaknya bor. Putaran itu menimbulkan asap, lalu ia menembakkannya pada Klutzie.
"Grgh!" erang Klutzie, yang terluka bolong di kedua bahunya. Icicle itu berubah sangat panas hingga mamu melubangi bahunya. Klutzie menjatuhkan pedangnya. Tangannya tak memiliki tenaga untuk digerakkan. Tapi... ia menunduk, membiarkan luka itu memandikan tangannya dengan darah. "Kaukira aku akan berhenti hanya dengan luka seperti ini?"
Klutzie mengangkat pedangnya dengan kaki yang menginjak gagangnya. Ia menangkap gagang itu dengan giginya.
Jewel merasa diremehkan. Ia memakai bola hijau ke depan perutnya untuk menutup lukanya, kemudian kembali menggunakan bola merah dan birunya. Sambil menyipitkan mata, ia mengatakan, "Kau juga. Apa kaukira aku AKAN berhenti?"
Klutzie dengan cepat menyihir kakinya untuk diberi dorongan sihir angin, lalu mendorongnya lagi dengan sihir sama di tubuh bagian kiri. Ia hendak menebas kepala Jewel.
Melihat tindakan Klutzie, Jewel menggertak gigi. Ia menyingkir ke kanan sambil mengarahkan bola biru ke wajah Klutzie. Sedikit lagi pedangnya menyentuh leher Jewel, Klutzie mendadak terhenti. "Grk!"
Jewel menyeringai, berhasil menghindari serangan mematikan Klutzie. Ia melakukan roll depan setelahnya.
Sebuah gelembung yang dipenuhi air mengurung kepala Klutzie bersama dengan pedangnya. Perlahan-lahan gelembung kecil yang berasal dari kegagalan napas Klutzie semakin membanyak dan hal itu membuat Jewel semakin senang dengan senyumnya yang semakin lebar. "Kuhahaha! Matilah dengan perlahan tanpa memakai seluruh kekuatanmu!" serunya.
"Oh? Kau sudah menyerah? Baguslah. Lebih cepat kau mati, lebih mudah bagiku untuk—"
Pedang itu berputar 360 derajat di atas kepala Klutzie—menebas gelembungnya. "Ughuk ughuk!" Klutzie mengatur ulang napasnya.
"Cih! Dasar manusia biadab! Aku sudah memberimu jalan agar kau tidak perlu kesusahan di hidup ini.... Takkan kumaafkan!"
Sekali lagi, Jewel memakai bola biru dan merah. Keduanya bersinar bersamaan dan mengeluarkan sesuatu yang bersamaan pula.
Air bah tumpah dari bola segenggaman tangan itu dan bola merah membuat air itu memanas dengan suhunya yang tinggi. Menangkal air membalik pada tubuhnya sendiri, Jewel melayang di langit.
Dalam kondisinya yang masih tak bisa bergerak banyak. Klutzie menancapkan pedangnya di tanah. "Apa kau tahu pedang ini ditempa oleh siapa?!" jeritnya, sementara air dengan suhu amat tinggi mendatanginya. "Pedang ini dibuat oleh Naga dan Dwarf yang telah mengandalkan kami untuk melindungi kehidupan!
"Apa kau tak mengerti apa maksudnya, dasar Phantasmal bodoh?!"
__ADS_1
Pedang berselimut aura api itu bersinar terang, lalu itu menggetarkan tanah. Tanah yang bergetar kemudian retak, membelah pulau layang itu untuk sekali lagi. Air bah panasnya jatuh, Klutzie pun selamat.
Menerima pemandangan itu sama sekali tak membuat Jewel senang. "Manusia ... manusiamanusiamanusiamanusiamanusiamanusia sialan!" Jewel mencakar pipinya sendiri. "Aku pasti akan menghabisi kalian semua! Demi dendamku, demi saudara-saudaraku, dan demi kesedihan ibuku!"
Tak lama kemudian, erangan-erangan misterius melolong di sekitar mereka. Lolongan erangan itu tidak hanya satu, mungkin saja puluhan, mungkin saja ratusan.
"Apa-apaan lolongan yang terdengar jahat ini...?" gumam Klutzie. Ia berhasil menutup luka bahunya. Ia kemudian menarik pedangnya, bersiap untuk sesuatu yang buruk.
Lolongan demi lolongan terdengar, Klutzie semakin waspada dengan sekitar. Tak lama kemudian....
Klutzie melotot. Ia melihat bola api raksasa berwarna ungu melayang ke arah Jewel. Kecepatannya bagaikan kilat menyambar. Dirinya yang berbalut kekuatan Roh Yggdrasil mampu melihatnya.
'BWAMMM!'
Ledakan besar berasap hitam menyelimuti Jewel. Klutzie menganga melihatnya. "Kak Suzy!" ia berlari meski jurang menjadi halangannya.
Jewel jatuh perlahan dengan tubuh yang hangus berserta asap hitam.
"Kak Suzy!" Klutzie dibuat panik. Bagaimana jika kakaknya tak bisa diselamatkan lagi? Ia pun kemudian menangkap Suzy ke dekapan tangannya. Sambil menggendong Suzy—Jewel—yang tak sadarkan diri, Klutzie sekali lagi dibuat menganga.
"Kau kan...?"
Kepala dan tanduk banteng, tubuh layaknya manusia berotot, bulu yang menutupi tubuh....
"Kau kan... Minos...?! Apa yang kaulakukan di sini?!"
"Tidak hanya Minos si Minotaurus, manusia!"
Klutzie menoleh ke arah kiri, dimana sumber suara berasal.
"E-Elf...?!"
__ADS_1