
Satu hari usai Morgan menceritakan tentang masa lalu Barghest pada Scarlet, gadis tujuh belas tahun berambut merah itu sedang menjalani kesehariannya seperti biasa, sebagai seorang Tuan Putri. Hanya saja, wajahnya selalu menggambarkan perasaannya saat ini, yaitu risau. Oleh sebab itu, sahabatnya yang sama-sama sedang melakoni perannya sebagai putri dari Grand Duke, sedang memandanginya dalam bisu.
Hari ini keduanya memiliki acara penting sebagai lulusan Akademi Dormant, serta sebagai cermin dan inspirasi bagi siswa-siswi agar mampu menjadi bangsawan yang patut untuk negeri. Keberadaan dua gadis itu di negeri ini, menjadi "masa mentari pagi" untuk masyarakat, sebab kontribusi mereka yang selalu berhasil memikat hati dan mata. Baik itu untuk melindungi kerajaan dengan menumpas Hollow dan lain sebagainya, serta kegiatan lain seputar membantu rakyat, meskipun itu adalah hal kecil seperti membantu orang sepuh menyebrang jalan sekalipun.
Namun hari ini, tidak seperti biasanya seorang putri dari Jenderal yang dikagumi banyak orang itu mendapati Tuan Putri yang selalu berapi-api di sebelahnya risau. Untung saja, mereka belum naik ke atas panggung untuk memberi sepatah atau dua patah motivasi.
"Apa yang menggagumu, Scarlet?" tanya Ashley, "apa sejak semalam kau masih mengkhawatirkan Barghest?"
Scarlet melirik sesaat Ashley, lalu matanya pindah menatap langit. "Morgan menceritakan beberapa hal padaku tentangnya, tetapi itu sama sekali bukan berita yang bagus."
Ashley terdiam sebentar, mencoba mengerti maksud dari kalimatnya. "Oh," katanya tersenyum kecil, "sesuatu yang tidak bisa kuketahui, ya."
"Maaf."
"Jangan katakan itu padaku. Daripada meminta maaf, jangan sampai kautunjukkan wajah itu di depan adik-adik kelas kita.
"Aku tahu kau bukan tipe orang yang mengutamakan citra, tetapi kau akan membuat rakyatmu khawatir jika tidak berbenah."
"Uhm. Aku tahu. Terima kasih." Scarlet tersenyum.
......................
[Sementara itu di belantaranya hutan....]
Barghest sedang menyantap daging rusa buruannya dengan membakarnya di atas api unggun. Ia tidak peduli asapnya menjadi tanda kehidupan Manusia di tengah-tengah hutan, sebab tak akan ada pula Manusia yang bisa mendekatinya.
Ditengah-tengah dirinya menikmati makanan yang tidak memiliki rasa sedap itu, seekor burung hantu hinggap di bahunya.
"Maisie, kah?" tanya Barghest.
"Kuu, kuu!"
"Jangan goda aku. Sudah kukatakan aku tidak mengerti bahasa hewan. Tunjukkan dirimu yang sebenarnya jika ingin bicara."
Maisie berubah ke mode "manusia"-nya. "Kau juga jangan bercanda. Aku tahu kemampuanmu, Barghest. Kau hanya tidak ingin mengakuinya, bukan?"
Barghest tersentak. "Berisik. Kau membuatku enggan makan lagi." Barghest melempar daging yang ditusuk di sepotong kayu. "Apa yang membuatmu repot-repot menemuiku? Sudah sejak hari itu kau menjaga jarak denganku."
"Hei. Itu terdengar seperti aku sudah menelantarkanmu. Kautahu aku ini Penjaga Hutan, 'kan? Aku selalu mengawasimu walau tak ada di dekatmu."
Barghest menatap Maisie. "Biar kutebak. Alasanmu menemuiku secara langsung adalah ... kauingin aku MEMBERESKAN makhluk hitam yang sudah mulai mengganggu hutan, 'kan?"
"Tidak hanya hutan, melainkan sebuah kerajaan juga."
"Kerajaan? Hmph. Aku tidak mau."
Maisie paham mengapa lelaki itu menolak. Tapi....
"Dengar. Aku tidak bermaksud memaksamu, tetapi akhirnya aku tahu akar sebab-musabab kaubisa menjadi dirimu yang saat ini."
Ucapan Maisie mengundang perhatian telinga dan mata Barghest. "Kauingin bilang aku ada kaitannya dengan kerajaan yang ingin diserang itu?"
"Tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak salah."
Barghest mengernyit. "Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Ikut aku. Kita akan berkunjung ke sebuah negeri tersembunyi yang sebenarnya sangat dekat denganmu, tetapi kautak pernah melihatnya."
Walau dalam kondisi bertanya-tanya, Barghest tetap mengekori Maisie dalam bentuk burung hantunya.
......................
Maisie mengajak Barghest ke Grandtopia. Di sana, mereka tidak berbasa-basi pada satu pun Elf di sana. Para Elf telah diperintahkan oleh Hugo untuk membiarkan tamu mereka bertatap wajah dengannya seorang, untuk masalah yang telah dikatakan Maisie pada Barghest. Usai bertemu, Hugo segera mengundang mereka ke kediamannya.
"Ini pertama kalinya kita bertemu," ujar Hugo, "tapi kita sama-sama sadar akan batasan kita dan aku menghargainya. Sebelum memulai, izinkan aku, Tetua para Elf, Hugo, mengucapkan terima kasih padamu, Barghest."
"Aku tidak begitu mengerti mengapa aku pantas mendapatkan ucapan itu, tetapi tatapan kalian padaku kapanpun kita bertemu, sudah memberiku cukup petunjuk tentang kebencian kalian pada Manusia.
"Aku mengerti. Aku pun merasakannya, meskipun tidak sedalam kalian."
"Kalau begitu, ayo masuk ke bahasannya." Hugo mulai serius. "Kita semua yang berada di ruang ini tahu bahwa dua puluh tahun yang lalu, kau yang masih bayi ditelantarkan ke hutan dan penduduknya-lah yang membesarkanmu.
"Grandtopia memiliki pohon berkemampuan unik yang hanya satu diantara Elf yang bisa mengendalikannya. Pohon ini disebut Chronos. Pohon-pohon besar yang tersebar di luar dan di hutan, itulah Chronos. Tidak ada Manusia yang bisa menghancurkannya walau mereka SANGAT kuat dalam sihirnya.
"Pohon ini mampu mengetahui waktu, baik ke depan atau belakang. Dan diantara Elf, hanya aku yang bisa melihatnya. Kita tidak akan bicara tentang mengapa hanya aku yang bisa melihatnya, tapi kita akan bicara mengapa asal-usul tentangmu baru kita ketahui setelah dua puluh tahun.
"Aku tahu kau tidak ingin mengingat ini, tetapi kejadian di malam purnama kala kau berusia dua belas tahun, menjadi pemantik awal Chronos melihat sejarahmu, dan entah ini takdir atau bukan, sosok hitam yang kau, Maisie, dan Elf lihat, memiliki hubungannya denganmu."
Barghest semakin dibuat pusing. "Teruskan. Walau aku sedikit takut, sudah lama kuingin mengetahuinya! Aku ingin tahu siapa aku sebenarnya dan mengapa aku bisa ... sebengis itu...."
"Kau adalah putra dari pasangan dari kerajaan Gala. Tidak, kau bukanlah seorang bangsawan. Kaubisa ada di hutan ini bukan untuk ditelantarkan, melainkan untuk dibunuh."
"Di-dibunuh...?"
"Di dalam tubuhmu itu ... terdapat sebuah kutukan seekor Naga. Naga ini pun bukan sembarang Naga. Ia memiliki dendam yang sangat kuat pada dua keturunan tertentu.
Barghest tidak menyangka kebenaran yang baru saja didengarnya, ia juga sadar kejanggalan ucapan Hugo. "Hah? Kalian? Apa maksudnya?"
"Sudah kukatakan, Naga itu memberikan kutukan pada dua keturunan. Itu berarti, ada orang lain yang nasibnya serupa denganmu."
"Apa orang itu ... berasal dari Aurora atau Gala?"
"Tidak, dia berasal dari Southern Flare—sebuah kerajaan yang menjadi tempat Naga itu dibunuh."
"Aku tidak mengerti...." Barghest menyilangkan tangan. "Apa keturunan yang kausebut ini tersebar luas? Kenapa aku juga bisa jadi keturunan itu?"
"Soal itu aku tidak bisa menjabarkannya, sebab itu berkaitan dengan sejarah yang saaaangat lampau, bahkan ribuan tahun yang lalu. Tidak mungkin kusampaikan hal itu dalam kata-kata untuk waktu yang singkat.
"Keturunan yang kumaksud hanya ada di tiga kerajaan spesifik. Aurora, Southern Flare, dan Gala.
"Aku tahu kau masih memiliki banyak pertanyaan, tetapi Chronos hanya melihat itu saja. Sebagai jawaban tentang sosok hitam itu, ia adalah Hollow yang tercipta atas emosi kalian sendiri."
"Hollow...." Barghest terlihat lesu. Ia seperti galau tentang sesuatu.
'BHWAK!'
Maisie memukul kepala Barghest.
"Aduh!" erangnya, "apa yang kaulakukan tiba-tiba?!"
"Kami pun tahu kalau Hollow itu tidak sebanding dengan yang biasa kaukalahkan! Aku bicara padamu juga bukan untuk memintamu SEORANG DIRI untuk mengatasinya. Aku tahu kautak percaya diri dengan kemampuanmu, sebab setelah kau melihat wujudnya dari kejauhan, kau bergemetar ketakutan, bukan?"
__ADS_1
Barghest menghela napas. "Itu benar...."
"Astaga...." Dryad itu menggeleng kepala. "Aku juga tidak tahu apakah ini takdir atau bukan, kau masih bisa mengandalkan seseorang untuk membantumu, bukan?"
"Hah...? Siapa? Kau...?"
"Ahahaha jangan bercanda! Aku takkan mungkin menunjukkan diri di hadapan Manusia jika akhir dunia belum muncul."
"Lalu siapa?"
"Gadis yang kemarin mengunjungimu. Siapa namanya?"
"Entah. Aku tidak peduli nama."
"Haahh~
"Tolonglah kami, Barghest. Kami juga akan membantu bila kaubutuh sesuatu. Kita sudah bukan orang asing lagi!"
"Argh!" Barghest mengacak-acak rambut. "Aku tahu, aku tahu! Aku tidak menolaknya juga, bukan!?
"Hanya saja ... aku ragu.
"Aku pun takut kejadian itu terulang lagi. Aku tidak ingin menyakiti siapapun."
Maisie merangkul Barghest. "Hei. Aku tahu beberapa penduduk hutan memberikanmu julukan yang ekstrem, tetapi itu tidak berarti mereka membencimu. Sudah kuberitahu tentang ini sejak lama."
"AKU TAHU ITU!" meski tidak berniat, Barghest menjerit. "Ma-maaf. Aku—"
"Barghest," tukas Hugo, "bicaralah dengan gadis itu. Masalah seorang Manusia mungkin hanya bisa selesai oleh Manusia. Dia juga pasti akan membantumu lebih dari yang kaukira."
"Kenapa kaubisa terlihat seyakin itu?"
"Hei. Aku ini sudah hidup ratusan tahun. Jangan ragukan kebijakanku, ataupun Maisie."
"Hmm. Masuk akal.... Baiklah. Aku akan menemuinya sekarang juga! Terima kasih atas semua informasinya, Hugo, Maisie."
......................
[Beberapa belas menit kemudian....]
"Haaaahh...." Scarlet menghela napas panjang, sementara camilan siang ada di tangannya. Ia baru saja membeli beberapa tusuk sosis panggang saus barbeque dari salah satu stand di pasar dirinya berada sekarang. "Aku sama sekali tidak bisa mengeluarkannya dari isi kepalaku!
"Morgan itu ... bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu...."
Scarlet menunduk lesu.
"Ah, itu dia!"
"Urghh... bahkan suaranya mendengung di kepalaku!"
"Kebetulan sekali, aku ingin bertemu denganmu!"
Scarlet terbelalak saat dirinya tiba-tiba diputar tiga ratus enam puluh derajat oleh seseorang.
"Hai!"
__ADS_1
Scarlet segera merona semerah tomat. "Ka-ka-kau...?! Kenapa bisa ada di siniiii?!" ia menjerit, tak peduli ia berada di tengah keramaian.