
Satu jam telah beranjak sejak Zeeta menyelam ke dalam danau yang memisahkan istana dan perkotaan. Suara bising nan lantang dari amukan tertahan akar raksasa membuat seluruh kerajaan bangun dari lelap dan menerka-nerka apa yang terjadi di istana. Entah itu sesuatu yang buruk, atau sesuatu yang bagus, mereka tetap percaya jika Zeeta ada di sekitarnya dan tidak akan membuat mereka terluka. Mereka hanya bisa memandangi sihir yang membatasi gerakan tak terkendali si akar dari jendela atau halaman kediaman mereka. Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Danny, Gerda, Arthur, dan warga desa Lazuli lain. Arthur mengumpulkan semua warga desa. Ada sesuatu yang ingin dia katakan.
"Ini saatnya kita benar-benar mengucapkan salam perpisahan pada Zeeta," kata Arthur lirih.
Semua warga desa bingung. Apa maksudnya?
"Apa yang ingin kaukatakan, Paman Arthur?" tanya Gerda.
"Ini semua sudah jelas. Ratu Alicia akan kembali bersama Raja Hazell dengan Zeeta sebagai Tuan Putri. Dia akan tinggal di istana, dan di sanalah rumahnya...."
Semua warga seketika murung. Ya, ini adalah waktunya mereka mengucapkan salam perpisahan.
"Kita sudah melakukan peran kita sebagai keluarga, tetapi kita tidak akan pernah bisa menggantikan peran keluarga kandungnya. Mereka istimewa.
"Desa ini selamat karena Zeeta. Dia adalah pahlawan kecil yang mengorbankan seluruh jiwa dan raganya untuk kerajaan. Ini adalah waktu baginya untuk menjadi keluarga utuh yang bahagia, tanpa memikirkan nyawa banyak orang ada di tangannya."
Gerda mencengkeram tangannya, begitu pula dengan Danny.
"Aku yang sekarang bukanlah aku yang kemarin!" pekik Gerda, mengejutkan warga desa, terutama orang tuanya. "Meskipun Zeeta akan tinggal di istana, dia tetaplah bagian dari keluarga Lazuli! Hanya karena alasan itu saja, sudah cukup bagiku untuk tetap ingin di sisinya dan terus melindunginya!"
Danny menyeringai, kemudian menepuk bahu kiri adiknya. "Gerda benar. Zeeta adalah teman kami. Apapun yang terjadi kami akan ada untuknya. Bukankah selama ini kita selalu melakukan itu? Kalau itu diubah hanya karena dia kembali ke istana, dialah yang akan menangis."
"Gerda... Danny...." Arthur tak mengira anak sepantaran Zeeta dapat mengucapkan kalimat itu. Ia pun tersenyum. "Heh, selama lima bulan ini, kalian sudah mengalami banyak hal, ya."
"Mereka berdua benar, Arthur." Recko menimbrung, "lakukan dan bersikaplah seperti biasanya. Zeeta pasti akan sering datang ke sini. Salam perpisahan hanyalah sesuatu yang sia-sia."
Warga Lazuli mengangguk dan tersenyum. Ini adalah kebiasaan mereka setelah tinggal bersama seorang tuan putri selama delapan tahun. Sebuah kehangatan kekeluargaan tidak patut dipertanyakan lagi.
Lantas, apakah kepulangan Ratu Alicia dan Raja Hazell memberi senyum untuk semua orang?
Sementara itu, para bangsawan utama yang telah mengambil alih peran Azure dan Melly, mulai menunjukkan tanda kelelahan mereka. Tidak sampai setengah jam lagi, mau tidak mau mereka harus melepas sihirnya, karena perbedaan kekuatan yang terlalu signifikan.
Lalu, mengapa satu keluarga kerajaan itu tidak kunjung keluar meski satu jam sudah berlalu?
......................
"Ibu, kenapa kita tidak segera keluar? Bukankah sihir ibu seharusnya sudah kupatahkan?" tanya Zeeta. Ia kini duduk berdampingan dengan ibunya.
"Itu karena sihirku masih merasakan bahaya yang ada di dekatnya. Ibu membuatnya untuk melindungiku dan ayahmu agar kami bisa kembali untukmu, apapun yang terjadi.
"Itu berarti, dengan sendirinya sihir dimensi ini merasakan bahaya yang mengancam kami."
"Heh...? Bukankah Ibu dan ayah kuat? Kenapa harus khawatir begini?"
"Kau dan aku dalam posisi sangat sangat sangat lemah. Aku bisa membawamu melihat masa lalu, bukan karena sihir tapi karena kekuatan antingnya.
"Lalu, kondisi ayahmu juga sama sepertiku. Kami sama-sama sudah mengeluarkan sihir skala besar ini selama delapan tahun."
"Hmmm.... Bukankah ayah bilang kalau Ibu dan nenek bisa menggunakan mana alam?"
__ADS_1
"Uhm, itu benar."
"Lalu kenapa...?"
Alicia ingin segera menjawab, tapi ia terhenti. Ia terpikirkan sesuatu.
"Zeeta, ini akan jadi pengalamanmu untuk menjadi tuan putri yang baik. Seorang tuan putri, memang, harus selalu ada di pihak rakyatnya dan melindungi mereka. Tetapi, tidak selalu saat-saat seperti itu datang. Ada kalanya, sebagai tuan putri, atau sebagai bangsawan, kita harus memilih jalan yang berat.
"Aku memberimu pertanyaan. Jika kau harus memilih, apakah kau akan melenyapkan Peri atau melenyapkan Roh Yggdrasil, jika itu akan membuat rakyatmu aman?"
"Eh...? Apa maksu—"
"Roh Yggdrasil itu kuat dan bukanlah hal yang salah jika berasumsi mereka akan mengancam nyawa kita. Pun dengan Peri.
"Tetapi, masing-masing dari mereka memiliki tujuan yang berbeda, sebab saat ini, bisa dikatakan Roh Yggdrasil merupakan 'ras baru' yang mampu mewujudkan eksistensinya usai memilih seorang Wadah."
Zeeta memikirkan dengan dalam, apa maksud ibunya. Satu-satunya yang terlintas di pikirannya adalah Siren si Roh, dan Morgan si Peri. Ia ingat, bahwa dia merasakan mana yang mirip dikeduanya. Tanpa pikir panjang, dia memberi jawaban.
"Aku akan mengancam keduanya, tetapi aku tidak akan melenyapkan mereka, jika mereka tidak melukai kita duluan."
Alicia sedikit terkejut dengan jawaban cepatnya.
"Ayah Arthur sering mengingatkanku, kebencian dibalas kebencian hanya akan menimbulkan perang. Aku tidak akan membiarkan ramalan Ratu Peri terjadi."
Alicia tersenyum. "Kalau begitu, lakukanlah dengan mana alammu."
"Hweh?! A-aku?!"
"Gghhh.... Baiklah! Aku akan menunjukkan pada Ibu bagaimana caraku menyihir!"
"Uhm. Berjuanglah."
......................
"Apa yang kaukatakan, Siren?!" bentak Klutzie, "kauingin melenyapkan Zeeta? Apa kau masih waras?!"
"Aku mendapatkan penglihatan jika Zeeta benar-benar akan menghancurkan dunia! Sebelum dia jadi masalah, ada baiknya jika kita menyingkirkannya lebih cepat!" balas Siren.
"Tidak tidak tidak. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau begitu takut dengannya?"
"Hah? Takut...?"
"Kau tidak seperti biasanya! Kau adalah Roh yang akan memikirkan bagaimana cara kita bisa menghadapi masalah dari depan, bukan dengan cara pengecut seperti ini!
"Ya, aku tahu kak Suzy adalah ancaman untuk kita, dan kita mau tidak mau harus lari darinya, tapi Zeeta sama sekali tidak berbuat salah pada kita. Kalau kita melakukan apa yang kaukatakan, itu hanya akan membuat kita jadi penjahat yang akan diburu kerajaan lain!"
"Itu tidak benar!" teriak Siren, "aku melakukan ini untukmu, agar kau bisa selamat dari masa depan itu!"
Mereka terus menerus berdebat, sampai seekor Peri tersenyum puas melihat "kejenakaan" ini.
__ADS_1
"Fufuhahaha! Hanya dengan sedikit sentuhan saja, Roh itu bisa kupermainkan sejauh ini?! Kalau begitu melenyapkan Zeeta dari kerajaan bukanlah lagi suatu angan-angan.... Teruskanlah ... Roh yang—"
'BWOOMMMM!!'
Ledakan begitu dahsyat mengejutkan seisi kerajaan. Ledakan itu terjadi di dua tempat disaat yang bersamaan. Yang satu di kediaman Ashley, yang satu di dekat Hutan Peri, yang tentu saja menggetarkan pelindung sihir. Mereka yang ada di desa, segera panik dan berwaspada. "Apa yang terjadi?!" pekik mereka.
Bahkan Gerda dan Danny mengeluarkan Buku Sihir mereka.
Sementara itu, Ashley tidak menduga sama sekali akan terjadi ledakan di kediamannya.
"Apa yang—?! Rumahku...?!"
Siren di kediaman Ashley, bersama Klutzie, tak sadarkan diri dengan beberapa luka lecet. Meski begitu, tidak ada bangunan atap yang menimpa mereka, padahal atapnya hancur berantakan. Begitu juga dengan Morgan. Ia terkena langsung ledakan yang meletus dari dalam tanah.
......................
"Zeeta?!" bentak Alicia.
"Ehehehe, aku berlebihan...." Zeeta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan 'ehehe'-kan aku! Mana alam sangat berbahaya, lho! Kau harus lebih banyak latihan lagi!"
Zeeta menundukkan kepala. "U-uhmm.... Aku mengerti.... Aku merasa kontrol kekuatanku jadi sulit begitu saja...."
"Tapi... bukannya aku dan Ibu jadi manusia biasa yang tidak bisa menggunakan sihir apapun...? Kalau begitu... kenapa kita masih bisa menggunakan mana alam...?"
Kemudian, pelindung yang melapisi istana secara perlahan lenyap dari atas. Beberapa saat kemudian Hazell datang dengan berjalan santai. "Ibumu benar. Kau masih harus banyak berlatih mengukur seberapa besar mana yang harus kaugunakan."
"Ah, Suamiku...." Alicia segera berdiri dan menyambut Hazell.
Tak ingin kalah dari ibunya, Zeeta segera berlari meski terpeleset beberapa kali, melompat pada dua orang tuanya untuk memeluk mereka.
Tidak lama setelah itu, akar raksasanya tenang, lalu terus mengalami penyusutan seiring waktu berjalan.
"Apa yang terjadi sebenarnya...?" gumam Hellenia. Ia melepas sihirnya.
"Ledakan apa barusan...?" sambung Willmurd yang sama-sama kebingungan.
Seluruh mata penduduk kerajaan memusatkan pandangan pada satu arah, istana. Selama delapan tahun, akar raksasa yang melilit istana akhirnya hilang dari pandangan.
Melihatnya dari dalam Bengkel Axel, Myra tersenyum. "Selamat datang kembali, Ratu Alicia."
Sementara itu, orang-orang yang ada di sekitar istana, terutama para bangsawan utama dan Azure serta Mellynda, mereka disuguhkan tiga lambaian tangan. Satu dari Alicia, satu dari Hazell, dan satu lagi dari Zeeta. Mereka semua tersenyum.
"Ra... Ra...."
Para bangsawan utama, menjatuhkan mulut mereka. Apalagi Ashley, ia segera menangis seaat setelah melihat lambaian tangan ketiganya. Sementara Azure dan Mellynda hanya bisa tersenyum bahagia, melihat teman mereka dapat bersatu kembali dengan orang tuanya. Tetapi, Azure tetap tak bisa membohongi hatinya. Ia akhirnya menjatuhkan air matanya dengan deras.
"Syukurlah... syukurlah Zeeta...," gumamnya. "Ah.... Aku jadi rindu ayah dan ibuku... sialan...."
__ADS_1
"Ratu Aliciaaaa!!! Raja Hazell!!"
Seluruh kerajaan digemparkan dengan sambutan tak diduga oleh mereka ini. Ada yang bersorak ria, juga ada yang menangis lega. Akhirnya... kepastian tentang "hidup atau mati" sang Ratu dan Raja terjawab di dini hari ini.