Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Seiryuu dan Penyangganya


__ADS_3

Ini adalah kisah ketika Vanadust telah ditembakkan dan dunia sedang dalam persiapannya. Sementara itu, di belahan dunia sebelah timur....


[Kekaisaran Seiryuu....]


Kekaisaran ini telah kacau balau sejak serangan Zeeta Alter. Tidak hanya kehilangan korban jiwa yang sangat besar, mereka pun kehilangan kaisar mereka, Zero Akihiro. Seorang kaisar yang telah berkuasa selama puluhan tahun dan telah membimbing kekaisarannya menjadi amat sangat kuat dari segi kekuatan.


Setidaknya demikian, sampai mereka berhadapan dengan Aurora....


Kekaisaran ini sekarang harus berhadapan dengan amat sangat banyak masalah. Rakyat yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan keluarga, pekerjaan, hingga datangnya krisis kelaparan. Hamparan bunga dari Vanadust memang mempercantik dan memperkuat Bumi, tetapi itu tidak mengenyangkan perut banyak orang di kekaisaran ini.


Dengan demikian, sebagai penerus sah dan satu-satunya calon kaisar, Arata Akihiro mau tak mau harus bisa menyelesaikan semua masalah ini secara tuntas.


.


.


.


.


"Cepat buka istananya!" jerit Rakyat A.


"Kalian pasti masih memiliki sisa makanan, bukan?!" jerit Rakyat B, "maka daripada bersembunyi sejak hari itu, berikan makanannya pada kami!"


Nyaris ratusan rakyat Seiryuu mengerumuni istana yang dipenuhi ornamen Naga di berbagai sudut. Wajah mereka kusut, tubuh mereka kurus, matanya pun memerah. Mereka sudah di ambang batas.


"Sudah kukatakan, aku bisa melakukan sesuatu untuk situasi ini jika kalian buka kerangkeng ini." Arata bersuara. Dirinya sedang dalam kondisi terbalik tiga ratus enam luluh derajat di dalam kerangkeng manusia yang digantung di atas salah satu sudut langit-langit istana.


"Tutup mulutmu!" seru Rakyat C, "gara-gara kau, kekaisaran jadi seperti ini!"


"Ayo kita buka paksa istananya!" sahut Rakyat D.


"YAAA!!" jawab yang lain serentak.


Dengan kekuatan ki, mereka segera mendobrak paksa pintu raksasa yang terkunci rapat di depannya.


"Haah.... Percuma saja...."


'DRAKKK!'


Pintu istana berhasil didobrak, namun yang didapati mereka adalah....


"Ko-kosong?! Bagaimana bisa...?!" para rakyat terkejut bukan main.


"Selama ini Seiryuu hanya digerakkan oleh Kaisar dan Carlou seorang. Sejak ibuku meninggal, kalian sungguh tidak tahu apa-apa, ya?


"Aku tak menyalahkan kalian yang ingin menyalahkanku, tapi aku masih bisa melakukan sesuatu dan memperbaiki semua ini.


"Kekuatan monster yang begitu kalian takuti ini ... sekarang adalah waktunya untuk dimanfaatkan. Begitukan?"


"Mustahil!" Rakyat C masih denial. "Kau bukanlah penyihir seperti mereka yang berasal dari kerajaan Nebula dan Aurora. Mana mungkin kaubisa melakukan sesuatu—"

__ADS_1


"Ah, sudah cukup. Bunuhlah saja aku sekarang, lalu pergi mengungsi tempat lain. Itu, 'kan yang kalian inginkan?


"Kalau bisa, bunuhlah saja aku, Nona Riruko."


Rakyat C—Riruko—tersentak.


"Kalian semua yang hadir di sini juga pasti merasakannya. Kalian yang telah dilatih keras oleh Carlou dan antek-anteknya pasti bisa mengetahuinya.


"Tentang ki milikku di hamparan bunga itu."


Rakyat segera termenung.


"Antek-antek Carlou kini sudah dihabisi oleh adikku, namun dia sekarang justru pergi ke belahan dunia lain dan meninggalkanku sendirian di sini. Jika dia, tuan putri yang sudah kalian percayai selama belasan tahun, sangat yakin bahwa aku tidak mampu menghadapi situasi ini, sudah pasti dia menyeretku bersamanya."


"Memangnya apa yang kaubisa lakukan di kondisimu seperti ini?" tanya Riruko, "padahal kaubisa dengan mudahnya ditangkap dan dikerangkeng begitu.... Jangan bicara sok hebat!"


"Oh? Apa itu berarti kau meminta bukti dariku? Baiklah."


'BRANGG!!'


Arata berhasil dengan mudah melepaskan diri dari kerangkeng besi. Ia lalu berdiri di atas runtuhan pintu raksasa. "Jumlah penyintas sejak bencana beberapa hari yang lalu ada sekitar tiga ratus kepala keluarga. Secara logika, mengatasi kelaparan untuk perut sebanyak itu adalah mustahil.


"Jika ladang, peternakan, perkebunan, dan sumber air kita tidak hancur karena pertempuran yang lalu, kita semua tahu meskipun hati teriris oleh keluarga yang telah meninggalkan kita, kita masih bisa melaluinya.


"Namun, bahkan jika kalian mencari hingga lantai bawah tanah istana, kalian tetap takkan menemukan makanan. Mengetahui Carlou dan ayahku tewas, antek-antek mereka segera membelot dan menghancurkan semua persediaan yang istana miliki. Maka dari itulah adikku tidak bisa mengendalikan emosinya lagi dan membunuh mereka hingga tak bersisa."


"A-apa...?"


"Ingatlah. Kita semua memiliki ki. Mengatasi bangunan runtuh bukanlah masalah besar bagi kita. Kita masih memiliki generasi penerus yang harus diperjuangkan agar kelak tidak mengalami ini.


"Aku memang bilang bisa melakukan sesuatu untuk situasi ini, tetapi mustahil kulakukan sendirian. Aku bukanlah ayahku yang tirani dan ingin semuanya dilakukan atas perintahnya.


"Aku butuh bantuan kalian, tidak untuk diriku sendiri, tetapi juga masa depan kita semua. Maukah kalian membantuku?"


Arata membungkukkan punggungnya sembilan puluh derajat. Rakyat masih diselimuti oleh keraguan yang tebal. Arata adalah seorang putra mahkota, namun mereka tahu bahwa kaisar, ayahnya, telah memakainya sebagai subjek percobaan paling pertama dan paling menerima banyak percobaan. Dari banyaknya percobaan, delapan puluh persen darinya selalu sukses. Tidak ada pula efek samping yang mempengaruhi usia, kesehatan, ataupun penampilan. Maka dari itu, dia ditakuti oleh rakyatnya sendiri dan dijuluki sebagai monster.


Mereka yang hadir bersamanya saat ini adalah mereka yang tidak hadir di halaman istana kala acara eksekusi Zeeta Alter, sebagai bentuk kesombongan pada kekuatan yang dimiliki. Sayangnya, acara tersebut justru berakhir pada kejadian nahas. Mereka memang tidak menyaksikan seperti apa yang sebenarnya terjadi, tetapi mereka yakin bahwa itu semua ada kaitannya dengan Arata. Arata pun memaklumi dan ini bukanlah sesuatu yang baru baginya.


Tidak ada yang mau menyambut permintaan tulus dari seorang putra mahkota itu, sampai....


"Permisi, tolong biarkan aku lewat." Suara seorang lelaki terdengar dari balik kerumunan. Ketika ia berhasil keluar, ia langsung mengatakan, "Aku akan membantumu dengan senang hati, Arata!"


Arata tersenyum dan segera melihat siapa identitas suara tersebut. Ia segera terbelalak tanpa menanggalkan senyumnya. "Pa-Pak Guru Saitou!?"


"Ya ampun, kau masih mengingatku?" sang pemilik suara tersenyum lebar.


"Tentu saja! Kaca mata itu, rambut botak setengahmu, juga kumismu! Senang bertemu denganmu lagi, Pak Guru!"


"Ya, aku juga, Arata."


Mereka berdua lantas bersalaman. Riruko yang melihatnya tidak bisa percaya. Tentu saja ia tahu siapa Saitou. Demikian pula dengan rakyat lain. Walau penampilannya hanya seperti om-om paruh baya yang sama sekali tidak populer di kalangan wanita, justru sebenarnya adalah kebalikan.

__ADS_1


Saitou—Kirisaki Saitou—adalah master bela diri yang menjadi acuan semua pemilik kekuatan ki. Orang itu kini memakai kaus putih berlapiskan kemeja bertema Hawaii dan celana pendek yang serupa.


"E-ehem." Saitou berdeham. "Ini memalukan bagiku, namun di hari itu aku tak mampu melakukan apapun. Seperti yang kalian lihat sendiri, kakiku seperti ini." Semuanya dapat melihat kaki kirinya diperban hingga lututnya. "Kakiku tergerus oleh reruntuhan yang terbawa oleh arus air yang datang secara mendadak dan menyapu kami—para korban jiwa dan selamat—hingga berakhir seperti itu." Saitou menunjuk ke tumpukan reruntuhan di belakang mereka yang menyerupai gunung.


"Berada di tengah-tengah mayat, yang berada di tengah-tengah reruntuhan, adalah pengalaman pertama bagiku. Jujur saja, aku sudah tenggelam dalam keputusasaan. Namun, dengan mata ini aku melihatnya sendiri. Bagaimana seorang Arata Akihiro, Putra Mahkota Seiryuu, berusaha semaksimalnya agar bisa menyelamatkan kita.


"Aku pun menyaksikan bagaimana dia sempat te—"


"Pak Guru," tukas Arata, "maafkan aku, kita tidak memiliki waktu untuk itu. Mereka semua sedang kelaparan dan anak-anak sedang menunggu mereka. Kalau kita tidak segera...."


"A-ah, baik. Kau benar sekali. Aku juga minta maaf.


"Semuanya, intinya, yang ingin kukatakan adalah....


"KITA ADALAH SEIRYUU YANG KUAT! HAL BEGINI SAJA TIDAK BISA MEMBUAT KITA HANCUR!


"AKU, AKAN BERSAMA ARATA AKIHIRO DAN MEMBANGUN KEMBALI KEKAISARAN INI JADI LEBIH BAIK LAGI!"


Arata tersenyum lalu kembali menundukkan punggungnya sembilan puluh derajat. "Terima kasih banyak, Pak Guru!" ia lalu kembali tegak. "Aku mohon, bahkan jika kalian tidak ingin membantu kami sekalipun, tetapi setidaknya buatlah halaman istana ini jadi tempat istirahat kalian untuk sementara.


"Aku akan ke tempat yang kutahu itu bersama Pak Guru Saitou dan membawakan sebanyak mungkin persediaan makanan kita untuk sementara."


Mereka lalu masuk ke dalam istana. Saitou sendiri tidak berjalan pincang, namun ia memakai ki-nya agar bisa melayang sedikit di atas tanah.


Rakyat saling tatap satu sama lain, sementara Riruko sendiri sebal karena sesuatu. Ia menggertak giginya.


.


.


.


.


"Maafkan aku memotong ucapanmu tadi, Pak Guru," ucap Arata kala mereka terus berjalan ke kedalaman istana.


"Uhm. Aku juga yang kikuk karena tidak menyadari situasimu."


"Kau mengetahuinya?"


"Ya, seperti yang kukatakan. Seekor Naga dari ribuan tahun yang lalu membantumu, bukan?"


"Uhm." Arata mengangguk. "Tempat yang akan kita tuju ini ada hubungannya dengan dia, jadi kuingin kaurahasiakan tentang ini apapun yang terjadi. Manusia ... adalah makhluk yang bodoh, soalnya."


"Ya, aku pa—"


"TUNGGU DULU!"


Kedua lelaki itu terhenti, lalu menengok ke sumber suara. "Ri-Riruko?" Arata kaget. "Ada apa?"


Dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan, Riruko menghampiri Arata. "Kau mengingat namaku, tapi kau tidak meminta bantuanku?! Kau benar-benar lupa denganku, bukan, Acchan!?"

__ADS_1


__ADS_2