Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Klutzie dan Siren


__ADS_3

Senja yang menyilaukan sinar cemerlangnya, beberapa saat lagi akan beristirahat dalam lelapnya. Disaat yang sama, Zeeta juga sudah terbuka dengan teman-temannya. Ia memulai ceritanya dari kekuatan antingnya yang membuatnya mampu melihat leluhur-leluhurnya di masa lampau.


Namun, ada beberapa hal yang tetap tidak ia ceritakan, seperti apa yang dikatakan Velvet padanya ketika dia "bermimpi", yaitu cara untuk terbebas dari rantai tanggung jawab atas dunia sihir ini. Ia masih takut untuk memikirkannya lebih jauh lagi.


"Tidak kusangka...," celetuk Gerda, "aku tidak tahu kalau kau mengemban beban berat seperti ini.... Maafkan aku, ya, Zee, karena tidak bisa ada di sisimu ketika kausedih." Ia perlahan menitikkan air matanya.


"Paman Arthur pernah bilang kalau dunia sihir ini kejam. Kukira kejam itu hanya karena perlakuan bangsawan terhadap rakyat jelata, tapi jika tanggung jawab sebesar itu harus kauemban sendiri... aku tidak tahu apa lagi jika itu tidak disebut 'kejam'...," sambung Danny.


"Tidak ada kewajiban baginya untuk mengemban semuanya sendirian. Haaaah.... Haruskah aku bilang ini sampai mulutku berbusa agar kalian mengerti? DIA. TIDAK. SENDIRI!" sahut Azure.


Zeeta sempat tersenyum mendengarnya dari Azure, tetapi ia segera murung. "Tapi, Kak... dengar aku. Makhluk-makhluk sihir itu berbahaya, aku tidak mau kalian terluka karenaku."


"Lalu?" tanya Mellynda. "Kalau itu alasanmu, berarti alasan kami juga sama. Kami tidak ingin kau terluka! Ingat ketika kau nyaris mati kalau tidak ditolong Dryad? Kami semua panik! Aku dan Kak Azure sampai ditahan oleh kristal ayah karena ingin keluar dari Labirin Cremlyn!"


"Benar kata Melly, Zee. Jika kau tak ingin kami terluka, maka kau hanya perlu membuat kami terbiasa dengan apa yang selalu kauhadapi." Azure mengatakannya dengan penuh percaya diri. "Singkatnya, kami akan berlatih, sekaligus menjadi pengawalmu! Kau pun punya jadwal untuk membuat medan pelindung bersama Grand Duchess selama tiga hari tiga malam, 'kan? Lihatlah hasil latihan kami. Kau akan terkejut."


"Berlatih?!" pekik Gerda dan Danny bersamaan. "Kami hanya rakyat jelata, apa yang bisa kami perbuat?"


"Aku pun rakyat jelata," jawab Azure cepat, "ada banyak cara untuk meningkatkan kapasitas mana dan kemahiran kalian, selain dengan terbiasa berimajinasi."


Mellynda, Danny, dan Gerda saling menatap dalam bingung.


"Yah, tunggu saja. Kalau kukatakan sekarang, Zeeta pasti semakin tidak ingin pulang, dan kita jadi korban amuk Grand Duchess."


Semuanya segera tersadar dengan waktu. "Ah, ya ampun!" teriak mereka.


"Te-tenang saja! Aku bisa segera pulang dengan teleportasi. Maaf aku tidak bisa bantu kalian membereskan ini, tapi aku tidak ingin buat Guru semakin marah jadi.... Kalian segera pulang, ya!" Zeeta segera angkat kaki dengan teleportasinya.


Mellynda melelehkan setiap kristal merah muda buatannya hingga benar-benar lenyap dari tanah, sambil memikirkan cara yang disebut Azure tadi. "Apa memangnya? Buku Sihir? Pengalaman? Apa yang bisa segera meningkatkan kapasitas mana dan kemahiran...?" batinnya.


......................

__ADS_1


Sementara itu, di tempat lain jauh dari kerajaan Aurora, terbentang perbukitan yang dilengkapi jalan yang terjal dan sulit dilintasi. Di bukit itu, terdapat air jernih yang mengalir jauh sampai antah berantah. Untuk dua orang yang melintasi bukit ini, jalan terjalnya bukanlah suatu hambatan. Perlu ditandatanya apa tujuan dua orang ini.


"Apa Anda yakin Tuan Muda, jika arahnya ke sini?" tanya si pria tua.


"Tentu saja. Kau tidak perlu meragukan penciumanku. Oh, meskipun kau haus, jangan minum airnya, ya, soalnya itu beracun," jawab Tuan Muda, yang ternyata adalah Klutzie.


"Eh? Kenapa...?"


"Ada Naga yang mati."


"Na-Naga?! Benarkah, Tuan Muda? Bukankah Naga itu...."


"Ya, Sebas, aku tahu. Naga hanya ada beberapa puluh jumlahnya di zaman ini, salah satunya yang ada di kerajaan Aurora."


"Kalau saya boleh tahu, kenapa Naga itu bisa mati?"


"Tentu saja karena Phantasmal, Sebas. Yang dihadapi Zeeta hanyalah tingkat terendah dan belum ada apa-apanya dengan Phantasmal atau pun Hollow yang mulai bergerak mengancam dunia.


"Dan kita—tiidak, aku akan menghabisi Phantasmal yang sudah membunuh Naga itu."


Sebas sang pelayan terdiam beberapa saat, lalu bertanya kembali. "Apa Tuan Muda baik-baik saja?"


"Hmm? Soal apa?"


"Tanggung jawab Tuan sudah bukan sebagai Pangeran lagi, tapi untuk melindungi dunia ini... saya sudah melayani Tuan sejak Anda masih bayi, jadi saya pikir ini...."


"Ahahahaha, jangan samakan aku dengan Zeeta, dong, Sebas! Aku bukanlah tipe orang yang mudah terpengaruh oleh masalah tanggung jawab atau apapun.


"Kau juga yang paling tahu, Sebas, tujuanku melihat Zeeta dari dekat, atau mengapa aku bisa menjadi Benih Yggdrasil.


"Ini semua karena keinginanku menguak semua rahasia dunia sihir ini dan menjadi nomor satu!"

__ADS_1


"Tuan Muda...." Sebas memandangi dengan tatapan khawatir.


Beberapa saat kemudian, mereka menemukan bangkai Naga yang kepalanya sudah terkikis oleh air dan menjadi tengkorak, sementara bagian tubuh di bawahnya masih utuh, namun sudah mulai membusuk. Di dekatnya, terdapat Phantasmal berukuran raksasa, yang memiliki wujud ular berkepala tiga, mata merah, dan bersisik kelabu-putih.


"Hehe, ini mudah," kata Klutzie. Ia berkuda-kuda untuk mengumpulkan tenaga di kaki kanannya. Kemudian, mana di sekitarnya ikut terkumpul di kaki itu dan menjadikannya bersinar merah gelap. Ia lantas berlari tanpa menimbulkan suara ke dekat Phantasmal itu, melompat roll samping, lalu menendangnya dengan kaki kanannya di bagian tengkuk.


Phantasmal-nya, tanpa menunggu waktu, segera lenyap begitu saja. Klutzie tidak butuh rapalan, tidak butuh benda suci, untuk mengalahkan sosok seperti ini. Sangat berbeda dengan apa yang harus dilakukan Zeeta.


"Aku juga harus melenyapkan Naga itu agar airnya bisa kembali normal. Kali ini kuserahkan padamu, Siren."


"Okee~y." Sebuah portal muncul dan keluar sesosok manusia berekor putih panjang, telinga runcing, rambut biru tergerai sepunggung, dan mata berwarna kuning yang sangat memukau. Namun pakaiannya, adalah pakaian yang sering dipakai seorang idola atau penyanyi, gaun manis dan cantik yang bergelombang dengan paduan warna biru muda, putih, dan kuning.


Sosok itu, Siren, mulai bernyanyi, yang perlahan membuat jasad Naga itu menjadi butiran mana dan kembali pada alam. Tidak berhenti sampai di situ, Siren juga memurnikan kembali air yang sudah beracun itu hanya dengan celupan jari telunjuknya.


"Bagaimana penampilanku? Memukau, bukan?" tanya Siren pada Klutzie.


"Ya, tentu saja. Kalau kakakku melihatmu, pasti dia segera menjadi penggemarmu," jawab Klutzie.


"Eeeeeh...? Jadi kau bukan penggemarkuuu?" Siren bertingkah sok manja.


"Hentikan itu! Kau itu Roh Yggdrasil, Siren, aku hanya belum terbiasa saja!"


"Hehehe~ meskipun hatimu kadang jahat, kau juga bisa manis seperti ini, ya. Iya, 'kan, Sebas?"


"Y-ya...," balas Sebas, yang tidak bisa banyak bicara.


"Selain itu, Lutz, Roh Yggdrasil yang ada bersama anak bernama Zeeta itu, kupikir cukup membuat rencanamu akan sulit dikerjakan, lho."


"Apa maksudmu?"


"Yah, tapi, setelah kupikir lagi, biarkan saja. Lagi pula mereka bukanlah tandingan kita."

__ADS_1


"Hahaha, bahkan Roh Yggdrasil pun mengakui kekuatanku, ya? Fufuhahahaha!"


__ADS_2